Dulu, aku sangat suka sekali dengan eskrim, terutama rasa Matcha. Aku sering kali pergi ke suatu kedai hanya untuk sekadar membeli eskrim Matcha. Menurutku Matcha enak, tidak seperti rumput yang sering di katakan orang-orang. Jarang sekali aku menemukan seseorang yang suka dengan eskrim, apalagi Matcha.
Tapi, aku tidak akan membahas eskrim Matcha. Aku akan membahas kenangannya. Namaku, Massya, orang-orang sering kali memanggilku Maa atau Sya. Ah, sebenarnya aku dulu tidak begitu menyukai eskrim, terutama rasa Matcha. Seseorang yang mengenalkan rasa itu kepadaku.
Ya, seseorang. Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar kabarnya. Apakah ia masih memiliki hobi yang sama seperti dulu? Cita-citanya apakah sudah tercapai?
Teringat padanya, ternyata rasanya masih sama seperti dulu. Dadaku sesak, ingatan-ingatan yang menyakiti masih terasa begitu nyata. Ternyata aku belum berdamai. Apakah dia disana sudah bahagia?
Bahkan untuk membencinya saja aku tidak mampu, terlalu lemah. Dulu, aku berpikir untuk tidak membencinya, karna ia salah-satu manusia yang pernah membuatku merasa bahagia. Ya, begitu kenyataannya.
“Kamu mau sesuatu? Atau kita nyari sesuatu yang kamu mau, gitu?”
Aku berpikir sebentar lalu mengangguk.”Mau. Memang mau kemana?”
“Membeli eskrim? Kamu suka eskrim?”
“Suka.”
“Ayo. Aku tahu tempat eskrim terenak disini.”
Kilasan-kilasan kenangan itu seketika berputar di benakku. Aku masih ingat tempatnya, aku masih ingat dimana tempat kita duduk, dan aku masih ingat lelucon apa yang kita bicarakan dulu. Semuanya tersimpan rapih, di benakku sampai saat ini.
“Kamu mau rasa apa? Disini ada banyak banget lho rasa eskrimnya.” Ia menatapku sebentar lalu kembali beralih pada daftar menunya, “Mmmm. . . Kayanya eskrim Matcha enak, deh?”
“Aku gak suka Matcha.”
Ia menatapku dengan terkejut. “Oh? Matcha enak lho, Ma.”
“Pahit, menurutku.”
Ia tertawa. “Enggak. . . Rasanya enak, Ma. Kamu harus coba.”
Aku sudah mencoba, memang rasanya enak. Dan sampai saat ini aku tetap memilih opsi Matcha untuk rasa eskrim kesukaanku. Kamu bagaimana?
Aku hari ini berada di sebuah kedai eskrim yang sering kita kunjungi. Aku tidak berharap untuk berpapasan denganmu, aku hanya sedikit merindu saja.
Jika dulu kita tidak berpisah, apakah hari ini kita akan datang bersama kesini? Berbincang-bincang dan tertawa karna leluconmu itu? Ah, aku seharusnya tidak berandai-andai, karna dulu aku yang pergi. Tapi, aku mempunyai alasan.
“Matcha itu bukan pahit, Ma. Memang rasanya seperti itu, tapi enak, kan? Kamu pasti lama-lama akan suka.”
Iya. Sudah 3 tahun aku menyukai Matcha. Selama ini ternyata, ya? Kukira aku hanya menyukai Matcha, ternyata aku menyukai kenangan yang berkaitan dengan Matcha. Dulu, kamu selalu menawarkan hal lain kepadaku selain eskrim Matcha. Tapi, sampai saat ini aku hanya ingat Matcha.
Kamu apa kabar? Bagaimana hari-harimu setelah mengkhianatiku 3 tahun lalu? Kamu masih ingat aku?
Aku sudah bertemu dengan banyaknya orang, termasuk seseorang yang sudah menemaniku selama 1 tahun ini. Seseorang yang menerima diriku, bahkan ketika ia tahu bahwa duniaku masih milikmu. Terdengar jahat, bukan?
Ia meyakinkanku bahwa ia lebih baik darimu, memang, ia jauh lebih baik darimu. Tapi, first time dalam segala hidupku adalah denganmu, kamu yang mengenalkanku pada dunia yang ku anggap gelap, dulu. Lalu aku harus bagaimana?
Ia mengusap kepalaku pelan.”Dunia itu memang jahat, Ma. Jadi, apapun yang kamu miliki di dunia ini, itu bukan milik kamu. Jika sesuatu yang kamu genggam hilang, maka bersiaplah untuk ikhlas. Tidak semua hal yang kamu punya itu milik kamu.”
Iya. Termasuk kamu. Ternyata benar, semakin aku menggenggamnya, semakin sakit pula untuk melepasnya. Andai kejadian itu tidak terjadi, mungkin kita masih bersama? Aku berandai-andai lagi.
“Massya?”
Aku menoleh ketika ada seseorang yang memanggilku. Aku menoleh, dan cukup terkejut ketika melihat seseorang yang aku kenali. Ia kekasihku.
“Massya, aku kira kamu ke kedai eskrim yang mana. Ternyata masih ini, ya?"
“Maaf. . . .”
Ia duduk di kursi depanku, lalu mengusap kepalaku pelan. “It’s okay. Aku ada janji disini, kamu kenapa ga ngabarin kalo ke kedai ini? Kan kita bisa bareng.”
“Aku mau sendiri.”
Ia hanya tersenyum dan mengangguk. Aku jahat, kan? Bahkan disaat seperti ini yang aku inginkan adalah seseorang di masa laluku. Mengapa rasanya susah sekali membuka hati untuk seseorang yang lebih baik darimu?
“Sya, dia masih segalanya?”
Aku menatap laki-laki didepanku, lalu mengangguk samar. “Maaf. . .”
“Selama ini?”
“Maaf. . . .”
Aku hanya bisa mengucapkan satu kata Maaf. Aku bahkan tidak berani menatap matanya, sangat menakutkan.
“Aku gak tahu apa yang bikin kamu masih ingat dia sampai selama ini, bahkan setelah hubungan kita satu tahun lebih? Apa kamu tidak pernah lihat aku sedikit saja, Sya?”
Aku selalu berusaha. Entah karena apa, aku juga tidak tahu. Sejak awal aku sudah memberitahunya, bahwa aku belum sepenuhnya berdamai dengan masa laluku. Lalu ia meyakinkan dirinya sendiri dan juga meyakinkanku.
Jika kalian bertanya apa yang ku lakukan selama 1 tahun dengannya, dan mengapa aku tidak bisa menerimanya, karena cintaku sudah hilang bersama dengannya. Mungkin kalian bisa menganggapnya, aku menerimanya karna terpaksa? Ya.
Cintaku habis, tak tersisa bahkan ketika aku mencobanya, rasanya berbeda. Perasaan seseorang memang tidak bisa dipaksakan, bukan?
Mau sebaik apapun orang baru, orang lama tetap akan menjadi pemenangnya. Sampai saat ini.
“Aku kira, aku bakal tahan, Sya. Tapi sakit, ya? Apa gak ada sedikitpun hati kamu buat aku? Apa pernah kamu khawatir ke aku? Apa pernah kamu takut kehilanganku, sya?”
Aku diam. Sejak awal hubunganku dengannya, aku memang tidak begitu peduli. Bahkan tidak di kabaripun aku baik-baik saja, berbeda dengannya dulu. Aku sudah mati rasa, bahkan untuk mencoba saja aku sudah tidak punya energi.
“Maaf. . . .”
“Maaf? Untuk apa, Sya? Untuk perasaan kamu yang ternyata selama ini bukan untuk aku? Untuk rasa kasihan kamu karna udah terima aku? Untuk apa, Sya?”
Aku memberanikan diri menatap laki-laki di depanku “Maaf untuk semua rasa sakit yang udah kamu terima karna aku. Maaf untuk semua yang kamu kasih ke aku, termasuk perasaan kamu. Aku sudah mencoba, tapi gak bisa.”
“Kamu tidak pernah mencoba, kamu hanya tidak bisa menerima keadaan bahwa kamu tidak bisa melepas masa lalu kamu.”
Iya. Semua ucapannya benar, aku memang tidak pernah mencoba, barang sekalipun.
“Aku sakit, Sya. Sakit sekali. Tapi rasa sakitku kalah dengan rasa sayang aku ke kamu. Kenapa? Karna aku sudah berjanji untuk meyakinkan diriku.” Ia berdiam lama lalu menggenggam tanganku, “Aku harus apa, Sya? Harus apa, supaya kamu bisa mencintai aku seperti kamu mencintai masa lalumu?”
Aku terdiam cukup lama, dadaku sesak. Aku tidak ingin menyakiti siapapun, tidak ingin.
“Lepasin, aku.”
“Enggak. . . . Enggak akan. Aku gak mau.”
“Aku gak mau nyakitin kamu.”
“Gapapa, lebih baik sakit bersama kamu. Daripada aku sakit, tapi tidak bersama kamu, Sya.”
“Gak bisa. Lepasin aku, please. . .”
“Sya. . .”
Aku menangis. Bukan karna aku menyesali pertemuanku dengan laki-laki baik ini, aku menangis karna kasihan kepadanya, kasihan karna ia harus bertemu denganku. Maaf.
“Jangan menangis, sya. . . Kamu mau aku apa?”
“Lepasin aku. . . .”
“Iya. . . Aku lepasin kamu ya, Sya? Bahagia, ya? Cari kebahagian kamu, jika bukan aku orangnya. Aku ikhlas, sangat ikhlas. . . Asal kamu bahagia, ya.”
Ia memelukku dengan erat. Mungkin ini pelukan terakhir yang ia berikan padaku.
“Maaf. . .”
“It’s okay. . . Be happy, Sya.”
Aku tidak berkutik. Aku terdiam, ya, memang baiknya begitu. Aku melepasnya dan dia melepasku juga. Aku hanya berjaga-jaga untuk tidak menyakitinya lebih jauh lagi. Aku sadar, aku sudah kehilangan seseorang yang sangat baik, hanya karna aku belum berdamai dengan segala hal di masa laluku.
Memang, ada banyak cerita yang tidak bisa dipaksakan. Ada banyak pula cerita yang memang sudah saatnya berhenti.
Terima kasih. Terima kasih sudah mencintai dan memeluk lukaku dengan erat. Maaf untuk luka yang aku ciptakan. You deserve better.
T A M A T