Sejak malam itu bermimpi,Kiran terus memperhatikan lelaki itu. Namanya Gerald. Lelaki yang entah bagaimana bisa muncul dalam mimpinya.
“Kir,lo suka ya sama Gerald?” Pertanyaan apa itu? Kiran menoleh menatap temannya yang bertanya. Kemudian ia menjawab, “Kalau hanya penasaran saja bagaimana?”
Itu hanyalah jawaban atas pertanyaan konyol milik temannya.
Dasarnya,dialah yang konyol. Bagaikan daun yang jatuh tertiup angin,seringan kapas yang mudah terbang,begitupun ia yang mudah jatuh pada pesonanya.
Gerald,lelaki yang sudah empat tahun ini bertengger namanya dalam kepalanya. Segala pesona yang membuat ia kebingungan. Lelaki yang menyukai sepak bola. Seluruh hidupnya bagaikan hanya perihal sepak bola.
Dan tanpa ia sadari,ternyata Gerald juga memperhatikan Kiran dari jauh. Hingga kemudian,
“Kiran ya?”
Kala itu,Kiran terkejut. Tak pernah terduga bahwa hal ini akan datang. Dia datang sendiri padanya.
“Iya,kenapa Gerald?”
Sejujurnya,hanya Kiran yang mengenal Gerald. Karena bisa dikatakan,Kiran mengalami jatuh cinta pandangan pertama saat sekolah.
“Aku perhatiin,kamu sering banget nontonin aku latihan sepak bola. Padahal cewek lain kesini cuma pada nemenin cowoknya main.” ucap Gerald.
Kiran tertawa,“Gak boleh ya?” tanyanya. Gerald menjawab dengan senyum,“Boleh dong. Cewek secantik kamu masa gak boleh semangatin aku.” kata Gerald memuji.
Hari-hari selanjutnya, selalu seperti itu. Hingga Gerald sendiri mengakui perasaannya.
“Kir, kalau boleh jujur,aku nyaman sama kamu. Dan kayaknya, aku udah naksir deh sama kamu.”
Kiran terkejut, matanya membola, pipinya memerah,“Cepet banget kamu nyamannya.” ucapnya.
Gerald tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal sedikitpun.
“Ya gimana, namanya juga perasaan. Jadi, kamu mau gak jadi pacarku?”
Kiran tak punya jawaban. Perasaan nya diambang resah. Antara bergetar dan diam. Tak pernah dia merasa bahwa dadanya berdebar selama bersama Gerald.
“Coba jalanin aja dulu ya.” jawabnya kemudian.
Gerald tersenyum senang dan lebar, “Yes!!”
Jika begini, tak tega rasany Kiran menyakiti Gerald. Terlebih mata Gerald sangat berbinar.
Waktu terus berjalan,tak terasa sudah tiga bulan. Dan rasanya sudah mulai hambar. Begitupun Gerald yang cepat bosan.
“Kamu memang cuek atau gimana sih Kir? Perasaan kita pacaran gini-gini aja deh.”
Kiran menoleh,kemudian kembali menatap ke depan,“Menurut kamu?”
Gerald terkekeh,“Kamu cuek. Gak asik banget.”
Itu kalimat menyakitkan,tapi itulah kenyataannya. Kiran tau, dia orang yang kaku. Tapi,apa salahnya mencoba meluluhkan dia dengan perlahan.
“Gak kayak mantan aku--”
“Iya Gerald. Aku emang gak bisa kok jadi kayak mantan kamu. Aku tau kamu bosan sama aku. Tapi bisa gak, jangan membandingkan aku dengan mantan kamu itu? Setiap orang berbeda, dan setiap orang ada masanya.”
Setelahnya, hanya berisi debat panjang yang bila dijelaskan sulit untuk mengakhiri.
Jika egois bertemu egois, kebanyakan berujung putus.
Dan baru Kiran sadari,rasa KAGUM sangat sulit berubah menjadi SUKA yang besar.
Dan nyatanya, Gerald masih terjebak dalam masa lalu tak berujung.
“Teruntuk mantan Gerald, you deserve better in live Gerald. Because, Gerald masih sedalam itu mencintai kamu sehingga dia selalu mengingat hal-hal kecil tentang kamu bersama dia.”
“Gerald, terimakasih sudah mau mampir sebentar dalam kisahku. Terimakasih sudah mau membersamai perempuan yang keras kepala ini. Terimakasih atas kagum yang tak berujung selama empat tahun ini.” kata Kiran saat ia bertemu Gerald untuk mengakhiri hubungan mereka.
“Kiran, maaf belum bisa dan belum mau menjadi yang terbaik dalam rasa kagum mu itu. Mungkin,setelah ini,kamu akan mendapatkan yang lebih dari aku. Yang bisa mengembangkan rasa kagummu itu menjadi rasa cintamu.”
Kiran tersenyum, “See you in next life again Gerald Ananta. Terima kasih sudah mau menjadi cinta pandangan pertamaku dalam rasa kagum tak berujungku. Semoga kelak bahagia menemuimu.”