"Enak kali ya kalau main sama Bu Siska" Ucap Tono teman kelasku.
"Enak kali ya kalau main sama Bu Siska" Ucap Tono teman kelasku.
Candaan kami memang selalu seputar selalu tentang bermain saat kumpul-kumpul dengan geng kami di sekolah.
Panggil saja aku Lucky umur ku 17 tahun, aku duduk di kelas 3 SMA, aku bersekolah di sekolah Swasta yang cukup ternama di daerah jakarta.
Walau aku masih anak SMA, tapi aku tau banyak tentang permainan, karna sering sekali nonton vidio bahkan akupun sudah sering melakukan permainan itu dengan pacarku.
bahkan aku pun sering menyewa untuk bermain, tapi kelakuanku tidak ada satupun yang tahu begitupun teman-temanku tidak ada yang tau.
Aku menjadi anak yang terbilang nakal karna lebih suka bermain daripada belajar,
mungkin karna aku kurang perhatian dari orang tua yang selalu saja sibuk dan sibuk dengan bekerja, jadi pergaulanku sangat bebas, bahkan dunia permainan itu pun sudah cukup paham.
aku sering sekali memakai jasa untuk menyalurkan teman bermainku, aku mampu membayar mereka, ya karna dari segi keuangan aku tidak pernah kekurangan, orangtuaku selalu memberikan cukup bahkan lebih, uang jajanku lebih banyak dari sewajarnya anak-anak seumuranku, jadi dengan mudah aku bisa mengajak wanita untuk kencan.
Di sekolahku ada salah satu guru yang selalu membuatku terpikat kalau melihatnya, nama nya Bu Siska, dia guru bahasa Inggris, umur Bu Siska 45 tahun, dia mempunyai anak dua, dan anak pertama seusia denganku, tapi menurutku dia masih sangat cantik.
aku dan teman-teman selalu saja membahas tentang Bu Siska kalau sedang kumpul2 bahkan sering sekali aku menghayal bisa main dengan Bu Siska
Kebetulan hari ini ada pelajaran Bu Siska, ah hati ku cukup bahagia karna aku akan melihat bu siska saat dia sedang mengajar di depan kelas.
Saat memasuki kelas Bu Siska bertanya..
"Apa PR yang saya minta sudah selesai ?" tanya Bu Siska.
"Mati aku, tugas dari Bu Siska belum sama sekali aku kerjakan." Keluhku.
Satu persatu murid berdiri menaruh buku PR di meja Bu Siska, kecuali aku saja yang tidak melakukan itu.
Bu Siska menyadari kalau aku belum mengerjakan tugas, lalu karna aku belum bisa kumpulkan tugas darinya, Bu Siska menghukumku untuk tidak pulang duluan sebelum tugas darinya selesai.
Aku terpaksa, aku harus mengerjakan tugas itu. walaupun aku sudah ada janji pergi bersama teman-temanku.
Wajar kalau aku dapat hukuman seperti itu karna memang aku tidak pernah mengerjakan tugas setiap kali bu Siska memberikan tugas.
Waktu pulang tiba semua teman kelasku sudah pulang hanya aku yang tertinggal, aku mengerjakan tugasku di depan Bu Siska.
Tapi pikirku, ada untungnya juga aku pulang terlambat karna aku mengerjakan tugasnya di kelas dan hanya dengan di dampingi Bu Siska.
Aku sesekali melirik ke arahnya ya asik fokus dengan handphonenya. aku sangat bingung kenapa bu Siska yang umur 45 tahun sangatlah masih cantik, tidak terlihat seperti umurnya.
"Wah, bu Siska awet muda banget, apa benar umurnya 45 tahun" batinku.
"apa dia selalu perawatan yah?"
"badannya juga sangat bagus, dia tipe cewek-cewek yang kusukai"
Dua jam aku baru selesai mengerjakan hukuman dari Bu Siska. Aku melihat dia terlelap tidur, mungkin karna kelelahan bekerja ditambah harus kerja ekstra gara-gara aku.
Aku merasa kasian dan tak ingin membangunkannya, ku taruh buku tugasku di atas mejanya.
saat aku keluar kelas ternyata tidak ada satupun murid dari kelas yang lain mereka sudah pulang semua, awan pun terlihat sangat mendung seperti akan turun hujan.
"Wah, bu Siska awet muda banget, apa benar umurnya 45 tahun" batinku.
"apa dia selalu perawatan yah?"
"badannya juga sangat bagus, dia tipe cewek-cewek yang kusukai"
Dua jam aku baru selesai mengerjakan hukuman dari Bu Siska. Aku melihat dia terlelap tidur, mungkin karna kelelahan bekerja ditambah harus kerja ekstra gara-gara aku.
Aku merasa kasian dan tak ingin membangunkannya, ku taruh buku tugasku di atas mejanya.
saat aku keluar kelas ternyata tidak ada satupun murid dari kelas yang lain mereka sudah pulang semua, awan pun terlihat sangat mendung seperti akan turun hujan.
"Sepertinya sebentar lagi mau hujan, Apa ku bangunkan saja ya bu Siska"
"Nanti saja aku kembali, aku harus isi perut kosongku dulu deh"
Tuh kan benar saja saat kakiku melangkah untuk keluar tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras, dengan terpaksa akhirnya aku putuskan untuk menunggu hujan reda.
Aku kembali ke kelas dan melihat ibu Siska masih tidur, aku duduk di bangku hanya bisa melihat dan terus melihatnya. sampai tiba-tiba kakiku melangkah secara sendirinya mendekati tempat ibu siska tidur.
Aku bisa melihat dengan jelas wajah bu Siska yang sangat cantik, Aku beranikan diri ingin menyentuh wajah itu yang sedari tadi menggodaku, Tapi tiba-tiba wajah bu siska reflek pindah ke arah sebaliknya sebelum aku melakukan itu.
Dengan hati degdegan aku mengurungkan niatku dan kembali duduk di bangku.
Aku yang duduk di bangku, Tiba-tiba melihat Bu Siska bangun dan langsung keluar dari kelas tanpa menyapaku, dia melewatiku yang sedang terduduk di bangku.
"Kenapa bu Siska gak menanyaiku dan malah keluar"
"Jangan-jangan dia sadar aku ingin menyentuh wajahnya barusan"
"Apa dia marah?" aku bertanya-tanya
Aku menghampirinya. Bu Siska sepertinya berniat menerobos hujan dengan menggunakan sebuah plastik hitam yang di tutupi dikepalanya. aku yang melihatnya hanya diam tanpa berucap apalagi untuk melarangnya.
Saat akan menyebrang untuk ke gedung sebelah bu Siska tergelincir, mungkin karna licin dan juga dia menggunakan sepatu hak tinggi, bu Siska terjatuh ke kubangan air hujan yang menggenang di separuh jalan.
Aku segera menghampiri bu siska berniat untuk menolongnya, lalu ku bangunkan dia dari tempatnya jatuh dan bu siska berteriak kalau kakinya sakit, lalu aku papah dia kedalam ruangan kelas.
Aku segera menghampiri bu siska berniat untuk menolongnya, lalu ku bangunkan dia dari tempatnya jatuh dan bu siska berteriak kalau kakinya sakit, Aku sangat berhati-hati papah dia kedalam ruangan kelas.
"Ibuu gak apa-apa?" Tanyaku pada Bu Siska sambil membangunkannya.
"Duh Luck, sepertinya kaki ibu memar deh".. dia memegang kakinya yang memang terlihat membiru.
Aku langsung mendudukannya di kursi siswa, dan aku membuka sepatu bu Siska betul nampak ada warna kebiruan di pergelangan kakinya, lalu aku
mencoba memijit sedikit kaki Bu Siska yang sudah membiru.
"apa udah enakan bu?" tanyaku.
"ahh, masih agak sakit sih"
"Duh, tapi gak usah ini gak parah kok, hanya biru sedikit" Ucap bu Siska.
Aku hanya diam saja tidak menanggapi ucapan guruku, dengan tetap memijatnya.
"Sudah lucky, sudah enakan kaki ibu" bu Siska menurunkan kakinya dari pahaku..
"Lucky maaf ya, karna ibu hukum kamu jadi pulang telat dan baju mu jadi basah gitu karna tadi nolong lbu.."
"Tidak apa-apa Bu memang salah saya kok gak mengerjakan PR dan masalah menolongkan memang sudah kewajiban saya tolong ibu yang sedang kesakitan"
Sebenarnya aku sedang merasakan kedinginan, tapi di balik dingin karna air hujan, Tapi anehnya dada berdenyut kencang melihat Bu Siska yang juga basah sehingga menampilkan lengkuk tubuh yang benar-benar terlihat.
tapi ada sedikit heran kenap Bu Siska cuek dengan penampilannya, padahal terlihat jelas banget dirinya basah dan juga kedinginan, Melihat hal ini membuat aku ingin menyentuhnya, ingin rasanya ku peluk Bu Siska yang kedinginan itu.
Seterusnya...Tak ada pembicaraan aku dan Bu Siska kami hanya diam saja, aku melihat diam-diam bu Siska sedang memeras rambutnya yang hitam yang basah karna air hujan.
"Sungguh sangat cantik.." batinku
"Ah kenapa sih jadi bangun gini, seperti ingin keluar dari tempatnya, sihh..tahan lucky, memang dia cantik, tapi dia gurumu" ucapku dalam hati yang kalut.
Bu Siska tiba-tiba senyum sendiri sambil melirik ke arahku, Aku yang heran kenapa bu siska tertawa memberanikan diri bertanya.
"lbu kenapa senyum-senyum sendiri melihatku?, apa ada sesuatu yang aneh" tanyaku.
"Kamu juga sih.. kenapa gak bisa diem gitu duduknya. Mencurigakan sekali tingkah kamu" jawab Bu Siska sembari tersenyum lagi.
"Ah ibu saya engga kenapa2 kok" jawabku gugup
"Jangan sampai bu Siska tau kalau aku bangun..." pikir ku dalam hati.
"Gak usah bohong kamu lagi bangun kan, gara-gara lihat ibu" sambil menunjuk tangannya ke arah itunya...
Aku cukup kaget mendengar ucapan Bu Siska, aku binggung mesti jawab apa, alhasil aku hanya bisa diam menundukan kepala menahan rasa malu pada bu Siska...
"Kenapa dia bisa menebak pikiranku kalau aku lagi gelisah." pikirku lagi.
Melihat aku terus menunduk tiba-tiba bu Siska menghampiriku dan duduk disampingku.
"Udah gak usah takut dan malu wajar kalau anak lelaki seusia kamu melihal hal seperti ini tertarik bahkan mungkin pernah..." Goda bu Siska.
Tiba-tiba Bu Siska mengelus-elus rambutku dengan lembut, lalu memegang tanganku yang dingin. aku masih tidak bergeming sama sekali walau jantung merasakan deg-degan.
kalau dia bukan guruku sudah ku ajak bermain, Aku yang masih menunduk merasakan kehangatan guru seperti melindungi muridnya dari kedinginan.
Tanpaku sadari tanganku diraih ibu siska dan membawaku menyentuh benda kenyal, sontak saja aku sangat kaget ternyata tanganku sudah berada di benda kenyal yang sedari tadi aku lihat.
"Tolong ibu ya, Luck, Ibu kedinginan nih"
Aku yang mendengarnya seperti mendapatkan angin segar, tanpa banyak tanya, ku lakukan apa yang diinginkan guruku itu.
"Ternyata anak murid ibu, pintar ya" ucap bu siska tersenyum.
Tiba-tiba bu siska menyuruh ku berdiri dengan tegak, aku yang diperintahkan langsung menurut saja, hingga hujan sore itu diruang kelas jadi saksi.
"Ibu gak nyangka kamu sejago itu ternyata, kamu sering belajar ya" tanya ibu mega yang terengah-engah.
" Tapi gak sejago suami ibu kan" aku tertawa.
"jagoan kamu, kami masih muda dan kuat main olahraga, gak kaya suami ibu mudah lelah kalau main olahraga" ibu Mega senyum lagi.
"hmm, makasih ya bu, aku jadi malu nih"
"hehe, mungkin kamu sering melakukan itu jadi jago"
"Gak sering jua sih bu" aku tertawa.
"Ahh..boong kamu buktinya sejago ini" goda lagi bu Siska.
Ahh.. sungguh diluar nalar biasanya aku hanya membahayakan saja, tapi kini semua jadi nyata.
Aku dan bu Siska hampir dua jam terjebak di tempat ini, hujan yang deras membuatku tak bisa berpikir lagi, aku mengakhiri permainan itu dengan semprotan air hujan ke dalam ruangan gelap yang berbentuk sarat keindahan.
Ibu siska pun tersenyum dan berterima kasih padaku yang seharusnya aku berterimakasih padanya karna atas semua pelajaran penting hari ini.
Mungkin bagiku ini adalah pelajaran yang tak bisa aku lupakan.
"Luck, terimakasih ya udah mau main sama ibu. ibu sangat suka, kamu sangat pandai belajarnya, dan mungkin saja kamu gak perlu belajar lagi " ucap ibu Siska seraya tersenyum.
Aku yang mendengar pujian dari guruku, cukup senang dan lega bisa berbuat sesuatu yang membuat nya bangga.
"Iya, sama-sama bu, aku juga suka dapat pelajaran dari ibu"
"Nanti kalau ada waktu kita remedial lagi ya"
Siap... kapanpun saya siap bu" Ucap ku bersemangat.
"Ya udah cepat rapikan barang-barang kamu, nanti takut satpam cek ruangan, gawatkan?"
iya bu
Saat hujan reda aku pun pulang, begitu juga dengan bu Siska, dia dijemput suaminya.
Sungguh pengalaman yang sulit dilupakan...
selesai.