Rintik hujan perlahan turun membasahi tanah pemakaman yang kini didatanginya, seakan tau persis seperti apa perasaan Clasy yang sedang runtuh. Dia duduk di sana, memandang gundukan tanah di depannya dengan air mata yang tak kunjung mau mereda. Sekelebat memori penuh kenangan berputar bagai kaset rusak di kepala Rani tanpa henti untuk beberapa saat. Hatinya kian merasa teriris seiring waktu yang semakin petang karena harus meninggalkan seseorang yang dia sayang. Di belakangnya berdiri sesosok lelaki memandangnya dengan tatapan sedih, iba, dan sakit yang mungkin tak dapat tergambarkan dari raut wajahnya.
"Ayo pulang Clas, hari sudah semakin sore, besok kita ke sini lagi ya," nada bicaranya sudah ia buat sangat lembut agar temannya tidak tersinggung.
"Pulang duluan aja Ren, aku masih mau di sini aja." jawabnya dengan lirih, Daren yang berdiri di belakangnya nyaris tak mendengar apa yang dikatakan oleh Clasy, namun akhirnya ia paham apa maksudnya.
"Ini hujan Clas, kamu bisa sakit kalo duduk di sini sampai nanti."
"Udah Ren, gausah peduliin aku, aku juga butuh waktu buat terima semua ini."
"Gue tau Clas, tapi di rumah kamu masih ada yang khawatir karena putri kecilnya belum pulang sedari tadi, lo ga boleh egois buat mentingin apa yang lo mau tanpa mikir akibatnya apa!" Daren yang semula mencoba untuk tidak emosi menaikkan nada bicaranya sedikit tinggi agar Clasy mau diajak untuk pulang.
Sepeninggal para tamu yang datang di acara pemakaman, Clasy tak beranjak sedikitpun dari tempatnya duduk. Ia beralasan kepada kedua orang tua Elang jika ingin berada di makam sedikit lama. Mereka mengiyakan permintaan Clasy karena paham apa yang dirasakan oleh gadis itu, dengan syarat Daren harus menemani selama ia berada di area pemakaman itu.
"Baiklah ayo pulang Ren, aku tak ingin seperti gadis yang kamu sebutkan!" Clasy berjalan lebih dulu meninggalkan Daren.