Petir menggelegar memekakkan telingaku malam itu, aku bersembunyi dibalik selimut tebal berwarna merah marun. Suara ketukan terdengar beberapa kali di pintu kamar, tapi aku tak berani membukanya. Sebab, aku tahu di rumah tiada orang lain selain diriku.
Semakin gemuruh terdengar begitu kuat, aku semakin menciut ke dalam selimut. Hembusan napasku terdengar kasar oleh telingaku sendiri. Sampai kapan hujan ini akan berlangsung? Batinku dengan teriris.
Ketukan tak lagi terdengar, yang kini kudengar hanyalah suara knop pintu yang terbuka serta suara langkah yang halus mendekat ke arah ranjang tempat tidur. Angin halus merasuk ke dalam selimut, seakan menyapu lembut lenganku disertai bulu kuduk yang berdiri.
Desahan terdengar dari suara lelaki itu, aku terdiam dan tidak ingin berkata apapun. Tidak lama satu kata terdengar dari mulutnya.
"Audzubillahiminasyaitonirojim!" Katanya sembari ikut bersembunyi di balik selimut.