Dinginnya suasana pada malam hari berbaut dengan ketakutan yang mencekam kuat pada si gadis cantik yang masih berusia remaja yaitu amoura veronica. setelah ia selesai menjalankan tugas kelompok yang berada di rumah sang teman, ia terpaksa pulang dengan hanya berjalan kaki di karekan hari yang sudah terlalu larut sehingga mengakibatkan kendaraan umum susah di jumpai di daerah yang jauh dari jangkauan pusat kota.
moura berjalan menyusuri jalan raya yang amat sepi nan sunyi itu, tidak ada satupun kendaraan yang lalu lalang. dikarenakan ketakutan yang menyelimutinya,kini gadis itu memilih jalan singkat yang cepat menuju ke daerah pusat kota,sehingga ia memberanikan diri untuk melintasi
gang-gang yang sempit nan redup itu.
ia mulai berdecak kesal atas kebodohannya
"tck... dasar amoura begok!! bisa-bisanya nolak antar jemput dari abang sendiri" sembari kaki yang menendang bebatuan kecil yang berada tepat di depannya. ia kini begitu frustasi akan kebodohannya dan kebodohan ponselnya yang tidak bisa menyala akibat kehabisan baterai. amoura sekarang hanya bisa pasrah dan berdo'a agar selamat sampai tujuan. tak jauh dari tempat ia berada saat ini, tiba tiba ada jeritan histeris seorang wanita yang meminta tolong agar nyawanya masih bisa terselamatkan.
amoura yang sedang berjalan santai secepat mungkin ia menghentikan langkah kakinya. amoura sangat ketakutan ia lalu bergumam pelan "oh tuhan... siapakah itu?! mengapa di gang sunyi,sepi dan redup ini ada seseorang yang meminta bantuan! aku harus bagaimana?! baiklah langkah pertama harus tenang sebisa mungkin dan langkah kedua mengecek keberadaan suara tadi, apakah itu manusia atau bukan! " sambil bercucuran keringat dingin ia mencoba tenang, perlahan melangkahkan kakinya ke arah sumber suara tersebut. dengan di iringi keberanian dan tenaga yang cukup untuk memastikan suara itu. amoura perlahan semakin mendengar suara jeritan yang tadinya mengecil sekarang mulai membesar,artinya ia hampir mendekati sumber suara tersebut. ia semakin yakin kalau itu suara manusia,alhasil amoura celingak-celinguk ingin cepat-cepat mengobati rasa penasarannya. selang beberapa detik kemudian ia menemukan ada gang yang berbelok mengarah ke sebelah kanan,tak banyak bicara mourapun segera mendekati belokan tersebut. kini suara jeritan wanita itu terdengar sangat jelas di telinga amoura,ia sekarang berada tepat di belokan itu lalu moura memalingkan kepalanya ke sebelah kanan,
betapa terkejutnya ia mendapati seorang wanita yang sedang di sandera oleh seorang pria bertubuh kekar dengan berbekal pisau di tangannya,seorang pria misterius itu langsung mendaratkan pisau ke leher wanita malang itu. amoura seketika langsung membelalakkan mata sembari tubuh yang bergetar hebat karena ketakutan yang sudah mendara daging.
tak berpikir panjang amoura segera beranjak pergi dari tempat itu,dengan langkah yang gemetaran dan nafas yang terengah-engah sebisa mungkin ia meninggalkan tempat itu. namun naas sialnya nasib,amoura tak sengaja menjatuhkan ponsel yang berada di genggamannya saking sang pemilik tubuh sangat gemetaran sehingga ponsel miliknya terjatuh PRAKKH! amoura mendesi kesal "astaga.. gawat!! bgaimana ini?! " ia mendongakkan kepala dan melihat ke arah pria bertubuh kekar itu sambil ketakutan,sang pria yang mendapati ada suara berisikpun menoleh ke belakang,sesaat sesudah melenyapkan nyawa seorang wanita di depannya. dengan pisau di genggamannya dan pakaian yang berlumuran darah sang pria lalu mendekat ke arah amoura,dengan menjulurkan smirk di wajahnya pria itu berkata "hai nona manis... mengapa kau bisa sampai di tempat terpencil ini?! " dengan lembut sang pria menyelipkan rambut amoura ke belakang telinga,pria itu juga sedikit mendongakkan kepala amoura yang sedang menunduk. di sini amoura hanya bisa diam membeku dan tidak bisa berkata apa-apa, bahkanpun pertanyaan pria tadi amoura tidak menjawabnya. pria itu bertanya lagi kepadanya "nona... apakah kau bisu? " dengan terbata-bata amoura menjawab "m-maaf tuan s-saya tidak s-sengaja melihat perbuatan a-anda tadi" pria itu menjawab "wahh... benarkah yang kau ucapkan tadi? baiklah-baiklah hari ini aku akan berbaik hati padamu nona,jika kau tidak mau tubuhmu sama dengan wanita di belakangku,maka jangan laporkan pada polisi!!! kau mengerti?! " sembari mencengkram kuat dagu mungil moura
"b-baik tuan saya j-janji tidak akan melaporkannya pada polisi,t-tolong l-lepaskan saya" ringis amoura kesakitan akibat cengkraman di dagunya amat kuat.
pria itu lalu melepaskan cengkraman tangannya,mourapun segera bergegas pergi dari tempat itu,ia berlari ketakutan sesekali melihat ke belakang untuk memastikan apakah pria misterius tadi mengejarnya atau tidak.
sembari berlari amoura berucap syukur kepada tuhan karena sang pria tadi tidak mengejarnya "ya tuhan... syukurlah pria tadi tidak mengejarku! "
selang beberapa menit kemudian ia berhasil menemukan jalan raya yang ramai di penuhi dengan kendaraan yang lalu lalang. tiba-tiba ada suara klakson mobil di hadapannya,iapun terkejut dan mencoba tenang dengan situasi yang menimpanya tadi.
seorang di dalam mobilpun keluar dan orang itu menanggil namanya "amoura - amoura! " sang empuhpun menoleh ke sumber suara "astaga! bang vero! ngagetin moura aja" abang moura sedikit terkejut dengan keadaan moura yang basah kuyub akibat di guyur keringat, "dek? kamu gak papa kan? abang tadi cari di rumah temen-temenmu tapi gak ada,kok malah di sini kamunya" "maaf bang di daerah sini susah nyari angkot makanya moura jalan kaki lewat gang kecil ini" "hufftt... yaudah yang terpenting sekarang kamu udah ketemu,ayo cepet masuk mobil! " "iyah" mourapun segera menaiki mobil dan menetralkan detak jantungnya yang sangat tidak stabil sang abang lalu bertanya lagi "dek kenapa abang tadi kamu telpon gak di angkat? " amoura tiba-tiba teringat akan ponselnya yang terjatuh di gang dan ia lupa mengambilnya "iyah bang tadi batetai hp moura lowbet" bohongnya "ohh.. lain kali bawa powerbank aja" yah begitulah percakapkan hangat antara kakak beradik ini.
Beberapa hari kini telah lewat,sehari setelah kejadian moura bertatap muka dengan pria misterius itu,sebenarnya moura telah melaporkan tindakan kriminal pria tersebut kepada pihak kepolisian dan aksi penyelidikanpun segera di lakukan. moura sempat menyebutkan ciri-ciri pria itu saat kali bertemu dengannya,pria bertubuh besar dengan menggunakan pakaian serba hitam yang menutupi tubuhnya juga mata yang berwarna kecoklatan. namun hasilnya nihil pihak kepolisian tidak menemukan pria yang moura sebutkan ciri-ciri nya,penyelidikanpun kian berlanjut hingga saat ini.
SELASA 4 OKTOBER 2011
Bertepatan dengan hari ulang tahun AMOURA VERONICA malam hari setelah moura menyelenggarakan pesta dengan keluarga dan kerabat dekatnya,ia memilih untuk beristirahat di kamarnya sembari membuka hadiah dari orang-orang satu persatu,tibalah di hadiah terakhir yang akan di buka. ia sempat kebingungan karena tidak tertulis nama di hadiahnya,tak ambil pusing moura segera membuka bingkisan tersebut. alangkah terkejutnya ia saat mendapati hadiah di depannya yang berisikan sepotong tangan manusia dan dua pasang bola mata yang berlumuran darah,di dalam bingkisan itu juga terdapat sebuah surat. moura yang penasaran segeralah membuka dan membaca surat tersebut di dalamnya tertulis :
"HAI NONA AMOURA! INI HADIAH DARIKU SEMOGA KAU MENYUKAINYA. SELAMAT BERULANG TAHUN, KU HARAP KAU TIDAK LUPA DENGANKU... HEHE! MENGAPA KAU BEGITU TEGA DENGAN UCAPANMU SENDIRI?! DAN MELAPORKANKU PADA POLISI... BUKANKAH KAU TELAH BERJANJI UNTUK TIDAK MELAPORKANNYA?? TUNGGU PEMBALASAN DARIKU NONA!! INGAT MASALAH KITA BELUM SELESAI AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU SEBELUM AKU PUAS DENGAN PEMBALASANKU... HAHAHAHA!!!" moura reflek langsung melempar ke sembarang arah surat itu. dengan ketakutan ia segera mengambil hadiah lalu membuangnya. keesokan paginya seperti biasa amoura berangkat ke sekolah dengan di antar abangnya,begitupun saat pulang sekolah sang abang yang akan menjemputnya. sebelum pulang abang moura biasa mengajaknya ke markas tongkrongan circle sang abang. di perjalanan sang adik bertanya "bang ver kita mo kemana? " "biasa ke tongkrongan abang bentar dek" sang adik hanya menjawab dengan menganggukkan kepala. sesampainya di tempat tujuan,teman-teman sang abang menyambut hangat kedatangan mereka. di sini moura hanya duduk diam sembari bermain ponsel genggamnya,sesekali ia memperhatikan sekitar dan tak sengaja matanya tertuju pada pria tampan yang duduk bersebelahan dengan abangnya. ia pun bergumam pelan "aihh?? sepertinya dia baru di sini" di kepalanya kini banyak sekali tanda tanya yang belum terjawabkan dan sepertinya moura menyukai pria yang ada di sebelah abangnya itu berkali-kali ia menatap pria itu,dan tatapan yang terakhir entah membuatnya senang atau takut. moura dan pria tersebut saling bertatap-tatapan sehingga tatapan sang pria membuatnya teringat akan satu hal yaitu manik mata almond milik pria yang ia sukai sangat mirip dengan pria misterius yang ia temui di gang satu minggu yang lalu,yah benar seorang pria yang sedang mengancamnya saat ini. di sini moura tidak melupakan manik mata seorang pria yang ada di gang itu,terlebih lagi merek jaket yang di kenakannya saat ini mirip dengan merek jaket yang di gunakan pria misterius di gang,yaitu sama sama bermerek PRADA. moura tidak mengarang hal ini begitu saja,tetapi ia sangat ingat jelas dengan ciri-ciri yang menonjol dari pria tersebut. saat di perjalanan pulang menuju kediamannya moura bertanya pada sang abang
"bang, tadi yang duduk di sebelah abang itu siapa? moura jarang melihatnya deng perasaan" "ohh... raka toh? iya dia emang anak baru di circle abang" "siapa tadi bang namanya? " "nama panggilannya raka kalau nama panjangnya dharaka dirgantara" moura hanya menjawab dengan dua kali anggukan "napa emangnya dek? suka kamunya?! " goda sang abang kepada moura "dih... ogah ye! ngaco aja abang mah" kesal moura.
Sudah beberapa kali moura dan raka bertatap muka secara langsung tak di sangka rakapun merasakan getaran hati yang sama dengan moura yaitu jatuh cinta pada pandangan pertama. pada awalnya mereka begitu cangguh dan sekarang mereka begitu akrab dan saling bertukar nomor bahakanpun sampai bertukar cerita. saat ini mereka berada di lokasi yang sama yaitu di rumah raka,raka akhirnya memberanikan diri untuk bercerita jujur-jujuran mengenai perbuatannya di awal pertemuan mereka,yaitu di gang yang sepi di saat raka membunuh seorang wanita.
moura sangat menduga hal itu ia sangat kecewa dengan raka saat ini,ia berucap "lu tau? gua kecewa bener ama lu ka! " lirih moura yang tidak bisa berpikir panjang,lalu raka menjawab "maaf ra gua ga tau kalau endingnya kek gini,awalnya perasaan gua ke lu tuh antipati sekarang berubah jadi simpati. gua tau gua salah tapi pliss maafin gua yak? yang kali ini aja deh ra..." sembari menggenggam tangan moura lembut "gua masih gak percaya ka! lu ngelakuin hal yang gak lazim ini" ketus moura "maaf benget ra, sebenernya ini taruhan kalau aku gak ngelakuin taruhannya salah satu dari keluargaku akan di bunuh! " sarkas raka pada moura "astaga! kenapa kok bisa kek gitu sih ka raka" pusing moura "itu gimana ceritanya kok bisa kek gitu?! " sambungnya "panjang ra ceritanya" tak lama setelah raka dan moura berbincang tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar,mourapun membuka pintu dan ia terkejut mendapati seorang polisi yang sedang mengintrogasinya. raka yang penasaran akan suara bising di luarpun segera menampakkan diri,betapa terkejutnya raka ketika melihat seorang polisi yang sedang menatapnya curiga.
saat ini raka hanya bisa pasrah dan dia akhirnya mulai mengakui kalau dia memang bersalah dan pantas mendapatkan hukuman yang setimpal akibat perbuatannya. dan dia di nyatakan mendapat hukuman sepuluh tahun penjara,moura langsung lemas tidak berdaya dengan sigap raka memompang tubuh mungil moura yang hendak jatuh "maaf ra setelah ini aku berjanji aku akan melindungi dan membahagiakanmu" senyum tulus raka untuk moura "percayalah padaku moura..." di sini moura tidak kuasa menahan air mata yang di bendungnya,air matapun jatuh membasahi pipi merah milik moura. raka mulai berpamitan yang terakhir kalinya dengan moura.
Sepuluh tahun telah berlalu,moura si gadis remaja itu telah tumbuh dewasa. kini ia menjadi pengusaha sukses yang mempunyai perusahaan yang terbilang cukup besar. di musim penerimaan peluang kinerja baru loker milik moura di banjiri dengan surat lamaran kerja karyawan baru. moura yang bertugas untuk mengecek surat satu-persatu,tibalah di surat yang ke delapan ia tercengang melihat ada nama yang bertuliskan (DHARAKA DIRGANTARA)
ia dengan cepat mempelototi surat lamaran itu,berharap yang ia baca hanyalah ilusi namun harapannya salah. lagi dan lagi ia lihat,memang benar itu adalah surat lamaran kerja milik raka. perasaan moura kini bergejolak tak karuan, merasakan ada yang jatuh membasahi pipinya ia segara menghapusnya.
tiba-tiba ada suara langkah kaki yang masuk ke dalam ruangan,yang benar saja itu adalah raka dengan penampilan yang kurus berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu. reflek moura bangun dari tempat duduknya dan berlari ke arah raka melayangkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat pelukan milik raka.
mourapun menangis sejadi-jadinya
"hiks... hiks... akhirnya lu balik juga ka! gua kangen ama lu hiks... " ungkapan moura dengan sesegukan "sstt... iyah moura gua juga kangen ama lu" sembari membelai rambut hitam kecoklatan panjang milik moura lembut. pelukan yang di suguhkan dua insan ini begitu erat seakan tak mau kehilangan salah satunya "raka!! " bentak moura "dalem sayang? " menjawab dengan deep voice nya "ihh! belum juga jadi pasutri" kesal moura yang kini salah tingkah sambil memukul dada raka pelan "iyah apa rara? rara tadi mau bilang apa hmm..? " jawab raka penasaran "tolong janji sama rara dulu, jangan pergi lagi yah? " sembari menatap dua manik mata indah milik raka "iyah rara ngak bakalan pergi lagi" mengecup lembut kening rara,mourapun tersipu malu pipinya merah bak kepiting rebus "pokoknya raka dah janji gaboleh di ingkari! " "iyah rara enggak" jawab raka sambil mencubit gemas pipi milik moura. raka segera melepaskan pelukannya dan dia merongoh kantong celannaya diapun mendapatkan barang yang di maksud,segeralah di keluarkan dan membuka kotak yang berisikan cincin indah dengan di hiasi berlian putih yang mengkilap lalu raka berkata pada moura "kamu sempurna untukku segala ketidak sempurnaanmu begitu indah di mataku because i love you babe... will you marry me? " dengan mata yang berkaca kaca moura menjawab "yes i do raka-! " yah begitulah akhir dari kisah amoura veronica dengan dharaka dirgantara. mereka saling melengkapi satu sama lain, menerima kekurangan satu sama lain tentunya juga saling mencintai.
Pesan moral yang ada di dalam cerita ini adalah : jangan sekali kali membodohi orang dengan ucapan kita sejarahnya mulutmu adalah harimau dan ketika hendak menyampaikankan lisan haraplah di pikir terlebih dahulu jangan asal-asalan.
Juga tetap bersabarlah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kecuali kita mau berusaha. apa yang ALLAH telah takdirkan untuk kita sejatinya tidak akan pernah berubah karena semua telah ALLAH gariskan kita juga tidak bisa mengubahnya tetap bersabar dan berusahalah,masa depan masih panjang dan masih banyak hal hal yang belum pernah kamu coba.
By : alisia j.s