Tentang dunia ini |
—>
Mari berbicara tentang situasi dunia.
Ini adalah sebuah planet bernama bumi, dengan kriteria langit biru dan daratan hijau, serta hampir sebagian besar di penuhi oleh air. Namun ini bukan bumi yang kau kenal.
Ini adalah sebuah dunia alternatif dengan sejarah yang sedikit berbeda dari bumi yang kau kenal.
Hidup di dalamnya ada seorang anak lelaki normal berusia 15 tahun yang sedang melakukan perjalanan menuju sekolahnya, di kota Tokyo dalam satu dari sekian banyak negara yang ada di bumi – Jepang.
Saat dia sedang mengambil langkahnya, tiba-tiba saja dia terdiam. Langkahnya dia hentikan saat dirinya dengan heran menatap sebuah Katana hitam legam yang tertanam di tengah-tengah Shibuya Crossing.
Apa yang membuatnya paling bingung adalah tak ada orang lain yang menyadari keberadaan Katana tersebut selain dirinya, walaupun Katana itu sendiri memang mengeluarkan aura 'di sini aku ada!’ yang kuat darinya. Orang-orang di sekitarnya malah hanya mengabaikannya dan berjalan begitu saja melewatinya tanpa sedikitpun menghiraukannya, selayaknya jika Katana tersebut pada awalnya memang tidak pernah ada di tempat itu.
Tentu itu membuatnya merasa takut, namun lebih dari itu, hal tersebut membangunkan rasa penasarannya menjadi sedikit liar. Pandangan seperti plot dalam kisah-kisah heroik dari suatu Manga yang pernah dia baca sebelumnya melambung dalam benaknya, membuatnya berpikir ‘mungkinkah?’ dan membayangkan bermacam-macam hal selayaknya remaja dalam masa puber.
Dia tanpa berpikir panjang lebih jauh mencoba menyentuh Katana tersebut. Dan lalu di saat itu—
—Dunia telah berubah.
Jujur, tanpa berbohong.
Rasa sakit dalam… mimpi? |
—>
“Ugh……… ga… aaaaaAAAAAA!!!!!!!!!!!!”
Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit.
“GraaaaaaaaaaaaaAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!?????????????”
—Apa ini!? Menyakitkan!!
Rasa nyeri dan panas merambat menjalar pada semenanjung seluruh tubuhku sesaat setelah aku menyentuh Katana legam itu.
Maksudku BENAR-BENAR buruk, jujur.
Jika dapat di per umpamakan itu terasa seperti sedang di amputasi secara sadar, atau di tusuk-tusuk dengan pisau di sekujur tubuhmu tanpa berencana kehilangan kesadaran dalam prosesnya.
—Tapi bagaimana!?
Mau tak mau saya menanyakannya. Saat aku pertama kali menatap Katana itu, memang jika rasa penasaranku mengambil alih dan tanpa pikir panjang aku menyentuhnya, walau di luar kenyataan jika kejadian itu sendiri aneh. TAPI—!!
—Bukankah aku hanya menyentuhnya!? Ada apa dengan rasa sakit yang gila ini!!?
Aku mengatupkan gigi dengan frustrasi saat menatap lengan kananku yang memegang gagang Katana sialan itu seperti lem.
Ini di luar kendaliku. Saat aku menyentuhnya rasa sakit ini tiba-tiba saja menyerangku, tentu aku menjauhkan diri dari Katana itu sebagai refleks, namun anehnya Katana itu sendiri yang menghampiri lengan kananku dan melekat padanya.
Dan walau aku mencoba untuk melepaskannya, itu tak pernah akan lepas! Malah aku merasa jika semakin lama aku mencoba melepasnya, rasa sakit ini menjadi semakin lebih menyakitkan!
Jadi di sinilah aku, hanya memegang Katana itu dengan erat sambil mengatupkan gigiku, mencoba menahan rasa sakit gila ini sambil berharap itu akan hilang dengan berlalunya waktu.
—Tapi SIALAN!
Walau aku menunggu dan menunggu, nyatanya rasa sakit ini tak kunjung menghilang! Gawat, jujur ini mulai merenggut kesadaranku…….
Sekarang aku melihatnya, apa dunia seperti sedang berputar, atau mungkin kepalaku yang sedang berputar? TIDAK, itu memang benar-benar sedang berputar, bukan?
Ya. Itu berputar. Berputar-putar dan berputar, lalu dengan – Kacin – itu pecah.
Itu pecah dan jatuh berserakan – dunia itu, berbagai gedung serta kendaraan, bangunan, juga orang-orang di dalamnya. Bagai kaca yang pecah.
Dan itu di sana, hanya menyisakan diriku sendiri serta Katana bodoh di lenganku itu dalam kegelapan pekat.
—Apa ini? Apa aku akhirnya mati…?
Walau saat aku memikirkan kemungkinan tersebut, perasan vertigo yang akrab masih meracuni tubuhku, bagai dunia itu sendiri masih berputar-putar bahkan hingga saat ini.
Sayangnya, di sana sepertinya pikiranku akhirnya lumpuh.
—Ah sial, aku… sudah tak dapat…… menahannya lagi……….
Sudah cukup buruk nyatanya bagi siswa SMA biasa saja sepertiku untuk mati dengan cara yang sangat aneh seperti ini. Rasanya jika kalau ada kemungkinan jasadku di temukan, mau tak mau aku berpikir mungkin saja itu akan muncul dalam TV dan koran, yang sebenarnya aku tak menginginkannya.
Terutama karena aku tak ingin merepotkan adik perempuanku. Oh, aku berharap dia menjadi cukup tabah setelah kepergianku…. Atau sebenarnya aku cukup merasa bersalah karena meninggalkannya seorang diri sekarang bahkan setelah pertengkaran kecil kami.
……Aku berharap jika ia tidak akan pernah menemukan majalah dewasa yang aku sembunyikan di kedalaman lemariku, jika ‘Ya’ sejujurnya aku mungkin akan menangis.
Di sana, saat aku mulai kehilangan kesadaranku, aku melihatnya, dunia ini yang sedang mengalami sebuah perubahan.
Perlahan serpihan dunia yang berserakan dalam lautan gelap di sekitarku mulai kembali mengambil bentuknya semula. Namun tidak dalam posisi yang sama.
Setiap-tiap darinya yang memiliki ukuran serta bentuk yang berbeda-beda mulai di tempatkan secara acak namun akurat, selayaknya puzzle yang cucuk namun dari kepingan yang berbeda. Itu semua membangun kembali gambaran dunia yang walau di satu sisi aku mengenalnya, namun di saat yang sama itu juga terasa sangat asing bagiku.
Pada akhirnya kesadaranku terpotong sampai di sana. Namun hei, ini bukanlah akhir. Melainkan sebuah awal – tidak. Mungkin akan lebih tepat jika aku mengatakannya sebagai sebuah ‘permulaan’.