.
Si Bungsu
Karya: R. Tri Utami.
Setelah duabelas tahun memiliki dua orang putri, sepasang suami istri bernama: Nur Hidayah dan Dodo kembali akan dikaruniai anak yang ke tiga .
Namun keadaanya tidak seperti ibu hamil pada umumnya.
Badannya kuruskering, selera makan pun tak ada, jalan pun juga tak bisa.
Hingga suatu ketika, dia membuat semua orang panic ketakutan.
Saat itu, Sang Suami tidak ada di rumah, Dia sedang bekerja.
Setiap pagi, Dia harus berangkat menggunakan sepeda kesayangannya, dan pulang pada larut malam.
DUK, “hah, suara apa itu?”
Kata AGus, Salah Satu Adiknya.
Saat itu, Dia sedang menonton televisi di ruang tengah.
Agus pun mencari asal suara tersebut.
Dia pun menemukan Seorang Wanita yang tergeletak di dalam kamarnya.
Wanita itu tidak lain adalah Nur Hidayah, kakaknya.
Mereka pun merasa hawatir akan apa yang dialami Nur waktu itu.
“Lain kali, kalau minta apa-apa panggil saja orang yang ada di luar, jangan banyak bergerak dulu ya mbak Nur”
Kata Agus memberi nasehat dengan penuh hawatir.
Mereka pun mengangkat tubuh Nur yang lemah itu dengan hati-hati, dan membaringkannya ke sebuahkasur yang terhampar.
Ternyata, Dodo pun telah mengetahui kejadian ini.
Dia sering mendapat kabar dari saudara-saudaranya tentang keadaan Nur.
Sejak saat itu, Dodo menjadi lebih perhatian terhadap keadaan Nur.
Dia selalu menemani Nur untuk memeriksa kandungannya ke Bidan atau Dokter spsialis kandungan saat hari libur tiba.
Seorang Dokter pernah mengatakan, bahwa telah terdapat kerusakan pada bagian system syaraf pada janin di dalam perut Nur, akibat benturan keras.
Peristiwa terjatuhnya Nur di kamarnyalah yang menyebabkan kerusakan syaraf tersebut, karena saat itu posisi perutnya tepat menghantam lantai dengan sangat cepat, hingga terjadilah benturan yang sangat keras.
Dari semua derita yang diaalaminya, Nur tetap menghadapinya dengan tegar dan tabah.
Dia tetap terus bermunajat ke Pada Yang Maha Berkehendak agar diberikan jalan terbaik untuknya.
Dia berjanji akan mengasuh dan merawat bayi, hingga tumbuh menjadi dewasa, dan Dia juga telah menaruh banyak harapan besar, jika nanti Di atelah dewasa.
Tak terasa usia kandungannya telah menginjak Sembilan bulan lebih sepuluh hari, dan Nur pun melahirkan Putri cantik dengan kondisi normal yang terlahir sebagai anak bungsu.
Bayi itu diberinama: Ratu, meskipun begitu, kerusakan pada system syarafnya, telah mengakibatkan Ratu terlahir dengan matanya yang buta.
Sudah banyak Dokter yang menangani kebutaan pada mata Ratu.
Salah seorang Dokter pernah mengatakan, bahwa kebutaan pada mata Ratu sudah sama sekali tidak bisa disembuhkan, bahkan dengan operasi sekali pun. Pengobatan alternatinf pun sudah pernah dicobanya, namun tak ada hasil.
Ketika usianya menginjak empat bulan, Ratu mengidap penyakit gastroenteritis.
Dalam masyarakat dikenal dengan istilah muntahber, yang dimana Dia benar-benar membutuhkan banyak cairan sebagai asupannya.
Kekurangan cairan ini disebabkan oleh muntah dan diare yan berkepanjangan.
Sudah sepuluh kantung infuse telah diperolehnya sebagai cairan tubuh.
Hingga suatu ketika, datanglah sebuah keajaiban.
Saat itu, Nur bersama Ratu biasanya tampak berseri menyambut matahari pagi, tapi tidak engan waktu itu.
Takut, resah dan gelisah tengah menghantui diri Nur, sebab Ratu tidak seperti biasanya.
Ratu akan menangis jika sudah bangun, Tapi tidak dengan kali ini, padahal hari sudah semakin siang, bahkan Nur tidak bisa menyusuinya.
Tubuh bayi mungil itu pun telah dipenuhi banyak cairan yang keluar dari mulut dan tinja, bahkan cairan itu sudah memenuhi tempat tidurnya.
Namun Ratu tak kunjung sadar.
Ternyata Ratu mengalami masa kritis.
Nur semakin tak berdaya.
Dia bennar-benar sangat kebingungan, Sebab, biaya untuk perawatan dokter pun sudah habis.
“YaAllah, jika Engkau ingin mengambilnya, ambillah dengan cara yang baik, tapi jika Engkau Ingin menyembuhkan penyakitnya, angkatlah penyakitnya.”
Kata Nur seraya berdoa dengan berlinang air mata saat menyaksikan Ratu yang sedang diambang maut.
Kesokan harinya, Ratu pun mulai sadar dan tangisannya pun mulai terdengar kembali.
Nur pun merasa sangat bahagia dan perlahan kondisi Ratu mulai pulih.
Ratu pun mulai tumbuh dan berkembang seperti anak pada umumnya, walau pun mengalami kebutaan.
Diejek dan dikucilkan oleh teman-teman sepermainan pun tak luput darinya, sebab dia terlahir dengan fisik yang tidak sempurna, namun walau bagaimana pun mereka tetaplah teman-temannya, walau terkadang dia juga merasa sedih atas perbuatan teman-temannya itu.
Pendidikannya berawal dari Sekolah Luar biasa.
Dia mulai dapat menulis, membaca, dan melakukan berbagai hal dengan indera perabanya.
Selain itu, Dia memiliki pendengaran yang sangat tajam.
Hal inilah yang menumbuhkan bakatnya dalam bidang seni music dan suara.
Dia juga sudah pernah tampil dalam beberapa acara.
Namun, Dia harus turun melewati dua kelas saat duduk di bangku kelas lima Sekolah dasar, sebab Dia harus beberapa kali pindah Sekolah, karena beberapa hal yang selalu bertentangan dengan dirinya.
Seiring dengan perkembangannya, Ratu mulai tumbuh menjadi gadis remaja.
Dia mulai mencoba untuk terjun dan bergabung, mengenal dan beradaptasi dengan masyarakat luas sejak duduk di Bangku Sekolah Menengah Pertama, yang dimana dia tidak lagi sekolah di Sekolah Luar Biasa, melainkan Dia melanjutkan pendidikanya di salah satu SMp negeri.
Dari sinilah dia mendapatkan banyak hal baru.
Namun saat ini juga, Dia harus menghadapi kenyataan pahit dalam hidupnya, yang dimana Sang Ibu yang selalu memanjakannya, menemaninya dikala sepi, menguatkan hatinya dikala sedih, dan mengajarkannya tentang ari sebuah pencerahan itu, akan pergi untuk selamanya.
Sungguh sangat terpukul hatinya kala itu, terlebih lagi saat dia diajarkan cara merawat jasat atau jenazahnya sebelum akhirnya diSemayamkan dan diantarkan ke liang lahar.
Tak ada yang bisa dilakukan untuk membalas rasa terima kasihnya terhaadap Sang Ibu tercinta, selain mendoakannya agar mendapatkan tempat terbaik di Sisi Tuhan yang Maha Esa.
Kini, Ratu tinggal di sebuah asrama untuk menyelesaikan pendidikannya, karena seluruh keluarganya memiliki kesibukan dalam pekerjaannya masing-masing.
Jadi, tak ada yang membantunya saat mengalami kesulitan dalam belajar.
Selain itu, dia juga harus berjuang sendiri dalam mencari jati dirinya.
Keluarga dan orang-orang hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, meski pun begitu dia memiliki harapan besar di masa depannya nanti.
Kelak dia bercita-cita menjadi Guru bagi anak-anak yang senasip dengannya, karena dia ingin membangun karakter dari keterpurukan akibat keterbatasan.
Topik:
Si Bungsu
Kerangka Cerpen
a. Menceritakan tentang pasangan suami istri yang dikaruniai seorang anak yang terlahir
buta
b. Peristiwa yang terjadi selama mengandung
c. Setelah melahirkan
d. Keajaiban yang terjadi sejak masih bayi..
e. Perkembangan dalam proses belajar.
f. Peristiwa yang terjadi saat remaja..
Si Bungsu
Karya: R. Tri Utami.
Setelah duabelas tahun memiliki dua orang putri, sepasang suami istri bernama: Nur Hidayah dan Dodo kembali akan dikaruniai anak yang ke tiga .
Namun keadaanya tidak seperti ibu hamil pada umumnya.
Badannya kuruskering, selera makan pun tak ada, jalan pun juga tak bisa.
Hingga suatu ketika, dia membuat semua orang panic ketakutan.
Saat itu, Sang Suami tidak ada di rumah, Dia sedang bekerja.
Setiap pagi, Dia harus berangkat menggunakan sepeda kesayangannya, dan pulang pada larut malam.
DUK, “hah, suara apa itu?”
Kata AGus, Salah Satu Adiknya.
Saat itu, Dia sedang menonton televisi di ruang tengah.
Agus pun mencari asal suara tersebut.
Dia pun menemukan Seorang Wanita yang tergeletak di dalam kamarnya.
Wanita itu tidak lain adalah Nur Hidayah, kakaknya.
Mereka pun merasa hawatir akan apa yang dialami Nur waktu itu.
“Lain kali, kalau minta apa-apa panggil saja orang yang ada di luar, jangan banyak bergerak dulu ya mbak Nur”
Kata Agus memberi nasehat dengan penuh hawatir.
Mereka pun mengangkat tubuh Nur yang lemah itu dengan hati-hati, dan membaringkannya ke sebuahkasur yang terhampar.
Ternyata, Dodo pun telah mengetahui kejadian ini.
Dia sering mendapat kabar dari saudara-saudaranya tentang keadaan Nur.
Sejak saat itu, Dodo menjadi lebih perhatian terhadap keadaan Nur.
Dia selalu menemani Nur untuk memeriksa kandungannya ke Bidan atau Dokter spsialis kandungan saat hari libur tiba.
Seorang Dokter pernah mengatakan, bahwa telah terdapat kerusakan pada bagian system syaraf pada janin di dalam perut Nur, akibat benturan keras.
Peristiwa terjatuhnya Nur di kamarnyalah yang menyebabkan kerusakan syaraf tersebut, karena saat itu posisi perutnya tepat menghantam lantai dengan sangat cepat, hingga terjadilah benturan yang sangat keras.
Dari semua derita yang diaalaminya, Nur tetap menghadapinya dengan tegar dan tabah.
Dia tetap terus bermunajat ke Pada Yang Maha Berkehendak agar diberikan jalan terbaik untuknya.
Dia berjanji akan mengasuh dan merawat bayi, hingga tumbuh menjadi dewasa, dan Dia juga telah menaruh banyak harapan besar, jika nanti Di atelah dewasa.
Tak terasa usia kandungannya telah menginjak Sembilan bulan lebih sepuluh hari, dan Nur pun melahirkan Putri cantik dengan kondisi normal yang terlahir sebagai anak bungsu.
Bayi itu diberinama: Ratu, meskipun begitu, kerusakan pada system syarafnya, telah mengakibatkan Ratu terlahir dengan matanya yang buta.
Sudah banyak Dokter yang menangani kebutaan pada mata Ratu.
Salah seorang Dokter pernah mengatakan, bahwa kebutaan pada mata Ratu sudah sama sekali tidak bisa disembuhkan, bahkan dengan operasi sekali pun. Pengobatan alternatinf pun sudah pernah dicobanya, namun tak ada hasil.
Ketika usianya menginjak empat bulan, Ratu mengidap penyakit gastroenteritis.
Dalam masyarakat dikenal dengan istilah muntahber, yang dimana Dia benar-benar membutuhkan banyak cairan sebagai asupannya.
Kekurangan cairan ini disebabkan oleh muntah dan diare yan berkepanjangan.
Sudah sepuluh kantung infuse telah diperolehnya sebagai cairan tubuh.
Hingga suatu ketika, datanglah sebuah keajaiban.
Saat itu, Nur bersama Ratu biasanya tampak berseri menyambut matahari pagi, tapi tidak engan waktu itu.
Takut, resah dan gelisah tengah menghantui diri Nur, sebab Ratu tidak seperti biasanya.
Ratu akan menangis jika sudah bangun, Tapi tidak dengan kali ini, padahal hari sudah semakin siang, bahkan Nur tidak bisa menyusuinya.
Tubuh bayi mungil itu pun telah dipenuhi banyak cairan yang keluar dari mulut dan tinja, bahkan cairan itu sudah memenuhi tempat tidurnya.
Namun Ratu tak kunjung sadar.
Ternyata Ratu mengalami masa kritis.
Nur semakin tak berdaya.
Dia bennar-benar sangat kebingungan, Sebab, biaya untuk perawatan dokter pun sudah habis.
“YaAllah, jika Engkau ingin mengambilnya, ambillah dengan cara yang baik, tapi jika Engkau Ingin menyembuhkan penyakitnya, angkatlah penyakitnya.”
Kata Nur seraya berdoa dengan berlinang air mata saat menyaksikan Ratu yang sedang diambang maut.
Kesokan harinya, Ratu pun mulai sadar dan tangisannya pun mulai terdengar kembali.
Nur pun merasa sangat bahagia dan perlahan kondisi Ratu mulai pulih.
Ratu pun mulai tumbuh dan berkembang seperti anak pada umumnya, walau pun mengalami kebutaan.
Diejek dan dikucilkan oleh teman-teman sepermainan pun tak luput darinya, sebab dia terlahir dengan fisik yang tidak sempurna, namun walau bagaimana pun mereka tetaplah teman-temannya, walau terkadang dia juga merasa sedih atas perbuatan teman-temannya itu.
Pendidikannya berawal dari Sekolah Luar biasa.
Dia mulai dapat menulis, membaca, dan melakukan berbagai hal dengan indera perabanya.
Selain itu, Dia memiliki pendengaran yang sangat tajam.
Hal inilah yang menumbuhkan bakatnya dalam bidang seni music dan suara.
Dia juga sudah pernah tampil dalam beberapa acara.
Namun, Dia harus turun melewati dua kelas saat duduk di bangku kelas lima Sekolah dasar, sebab Dia harus beberapa kali pindah Sekolah, karena beberapa hal yang selalu bertentangan dengan dirinya.
Seiring dengan perkembangannya, Ratu mulai tumbuh menjadi gadis remaja.
Dia mulai mencoba untuk terjun dan bergabung, mengenal dan beradaptasi dengan masyarakat luas sejak duduk di Bangku Sekolah Menengah Pertama, yang dimana dia tidak lagi sekolah di Sekolah Luar Biasa, melainkan Dia melanjutkan pendidikanya di salah satu SMp negeri.
Dari sinilah dia mendapatkan banyak hal baru.
Namun saat ini juga, Dia harus menghadapi kenyataan pahit dalam hidupnya, yang dimana Sang Ibu yang selalu memanjakannya, menemaninya
dikalangan sepi, menguatkan hatinya dikala sedih, dan mengajarkannya tentang ari sebuah pencerahan itu, akan pergi untuk selamanya.
Sungguh sangat terpukul hatinya kala itu, terlebih lagi saat dia diajarkan cara merawat jasat atau jenazahnya sebelum akhirnya diSemayamkan dan diantarkan ke liang lahar.
Tak ada yang bisa dilakukan untuk membalas rasa terima kasihnya terhaadap Sang Ibu tercinta, selain mendoakannya agar mendapatkan tempat terbaik di Sisi Tuhan yang Maha Esa.
Kini, Ratu tinggal di sebuah asrama untuk menyelesaikan pendidikannya, karena seluruh keluarganya memiliki kesibukan dalam pekerjaannya masing-masing.
Jadi, tak ada yang membantunya saat mengalami kesulitan dalam belajar.
Selain itu, dia juga harus berjuang sendiri dalam mencari jati dirinya.
Keluarga dan orang-orang hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, meski pun begitu dia memiliki harapan besar di masa depannya nanti.
Kelak dia bercita-cita menjadi Guru bagi anak-anak yang senasip dengannya, karena dia ingin membangun karakter dari keterpurukan akibat keterbatasan.