Hari ini, langit gelap karena awan hitam yang tebal memenuhi angkasa. Kilat dan guntur bersahut-sahutan, seolah berlomba memamerkan keperkasaanya. Tidak lama setelahnya, butiran air hujan mulai turun setitik demi setitik menimpa dedaunan sawit yang menghampar luas di sepanjang mata memandang, di sebuah perkebunan yang amat luas.
Dari balik rimbunnya pohon sawit, seorang gadis tampak bergerak menggeliat sambil mengerang, menahan beban berat yang menimpa tubuhnya. Perlahan ia memicingkan mata, tetapi sepertinya berat untuk terbuka, akhirnya memilih terpejam kembali. Tangannya pun meraba-raba, hendak mencari tahu apa gerangan yang menimpanya sehingga sulit untuk digerakkan. Saat menyentuh benda tersebut, dadanya berdesir, rasa curiga menjalar dipikirannya, membuat keningnya sedikit berkerut.
Air hujan yang semakin deras menimpa dedaunan pun lolos ke bawah hingga mengenai wajah gadis itu, membuatnya harus menggeleng ke kiri dan ke kanan untuk menghindari guyuran air tapi tetap saja wajahnya jadi sasaran. Kecurigaannya pada benda yang menindihnya pun teralihkan karena kedua tangannya harus menutupi wajah.
Mau tak mau, matanya yang terasa berat terpaksa dibuka juga. Suasana yang agak gelap karena rimbunnya pohon dan langit yang mendung, membuatnya susah mengenali tempat itu. Ia lalu berusaha bangkit, tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan karena benda yang menindihnya. Dirinya kembali berusaha mendorong benda tersebut sembari menarik tubuhnya pula agar segera terlepas. "Eekkh ... apa sih ini, be-ratnya?" Gerutunya seraya mengerang kuat tanpa mempedulikan benda apakah yang didorongnya itu.
Bertepatan dengan terdorongnya beban tersebut, matanya sudah terbuka dengan lebar tapi pandangannya masih terhalang oleh derasnya air hujan. Beberapa kali ia harus mengusap wajah untuk menghalau rembesan air hujan.
Langit yang gelap karena hujan semakin deras, ditambah lebatnya pepohonan sawit serta hari yang memang telah senja, membuat daya pandangnya jadi berkurang. Gadis itu pun mengalihkan tatapannya ke segala arah berharap dapat mengenali sesuatu, tapi nihil, tempat itu amat sepi dan sunyi.
Gadis itu mencoba untuk duduk dengan susah payah karena kedua kakinya kesemutan, lalu melihat ke sekeliling, semua tampak temaram, hanya langit yang agak terang di atas sana saat dirinya mendongak. Begitu tahu dirinya ada di antara pepohonan sawit, gadis itu mulai panik, dadanya kembali berdesir, punggungnya terasa dingin seakan berlubang. Tangan dan kakinya gemetar, deru napasnya pun memburu.
"Di-di mana aku, kenapa ... aku di sini?" Tanyanya pada diri sendiri sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, wajahnya kelihatan panik.
Tiba-tiba petir menyambar, sekelebat melewati tempatnya berada, membuat tempat itu jadi terang sesaat, dan saat itulah dirinya melihat sesosok pria bertubuh besar tergeletak di depannya. Matanya langsung melotot dengan mulut menganga lebar. "Ha-aah!" Pekiknya sebentar dan segera membekap mulut. Cepat-cepat ia menoleh menatap sekelilingnya dengan wajah semakin panik. Secara refleks ia merangkak cepat untuk menjauh. Dadanya kembang-kempis dengan napas tersengal.
Setelah memandangi pria itu untuk beberapa saat, dan rasa paniknya sudah berkurang, dicobanya kembali mendekati orang tersebut dengan hati-hati. Wajahnya tampak meringis ketakutan, tapi ia berusaha menguatkan diri untuk memeriksanya. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia mulai menyentuh tubuh itu. Tangan yang satunya lagi membekap mulut agar dapat mengatur napas dengan tenang. Denyut jantungnya berdetak sangat cepat.
Digoyang-goyangkannya orang itu, tapi tak bergerak sama sekali. Tangannya pun ditarik dengan cepat. Napasnya kian memburu, rasa takut dan cemas menyerangnya karena pikiran buruk menguasai kepalanya.
"A-apa ini ma-mayat?" Tanyanya terbata-bata. Terdengar deru napasnya begitu cepat. Beberapa kali gadis itu membuang napas agar himpitan ketakutannya bisa berkurang.
Gadis itu kembali menggoyang-goyangkan tubuh pria itu, tetapi hasilnya sama, kaku. Dengan ragu-ragu dia mendekat untuk memeriksa lebih seksama. Dirabanya urat nadi di leher pria besar itu, dan benar saja tidak ada lagi denyutan. Bola mata gadis itu pun membulat seakan hampir keluar dari kelopaknya, dan dengan cepat dia mundur hingga terjungkang ke belakang lalu beringsut untuk menjauh dengan wajah semakin panik dan pucat.
"Be-benar-benar mayat, hahh ... apa yang terjadi, kenapa a-aku di sini dengan ... ma-yat?" Tanyanya pada diri sendiri dengan terbata-bata sambil terus berpikir. Wajahnya meringis ketakutan.
Gadis itu kembali melihat ke sekeliling, dan suasana masih sama, sepi dan sunyi. Hanya suara guyuran air hujan yang berisik menimpa pepohonan dan tanah di sekitarnya. Melihat sekelilingnya tetap sepi, dia pun mencoba berteriak, "to ...."
Namun segera dihentikan tanpa sempat diteruskan, karena pikirannya melarang.
"Bagaimana kalo ada orang yang melihatku, terus menuduh aku pembunuh? Ohh tidak, aku tidak boleh ketahuan, aku harus pergi sebelum ada yang melihatku!" Tegurnya dalam hati seraya menggeleng ketakutan.
Gadis itu lalu mencoba berdiri dengan bertopang pada lututnya, dan barulah disadari ternyata dirinya tidak memakai pakaian kecuali pakaian dalam saja. Sontak ia kembali duduk sambil memeluk diri sendiri.
Wajahnya semakin pias dan cemas. Rasa haru menyelimuti dirinya. Pelupuk matanya mulai panas. Membayangkan hal buruk apa yang dialaminya. Berada di tengah perkebunan sawit yang sunyi, bersama mayat pria berbadan besar, tanpa mengenakan pakaian. Hatinya benar-benar sakit dan sangat ketakutan. Air matanya pun lolos merembes di pipi mulusnya. "Apa yang terjadi padaku, hahh? Ke-kenapa begini? Kenapa bisa aku ada di sini?" Ratapnya sesenggukan.
Sesaat kemudian, dia menggeleng cepat sembari mengusap air mata. Sekali lagi melihat sekeliling. Masih sama, sunyi. "Aku tidak boleh begini, aku harus segera pergi, sebelum ada yang melihatku di sini!" Titahnya pada diri sendiri.
Sambil berjongkok, dia pun merangkak mencoba mencari-cari keberadaan pakaiannya. Berbekal biasan cahaya langit dari celah dedaunan, ia masih bisa sedikit melihat di kegelapan setelah memfokuskan pandangan. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya pakaiannya pun ditemukan teronggok di bawah sosok mayat tadi. Dengan cepat gadis itu menarik lalu memakainya tanpa memperhatikan pakaian itu dengan seksama.
Selesai berpakaian, dia pun segera berlari meninggalkan tempat itu tanpa peduli dengan mayat pria di sana. Dia terus berlari hingga menemukan tempat yang pohon sawitnya mulai jarang, sehingga cahaya terlihat sedikit terang. Gadis itu pun berhenti berlari karena wajahnya sudah terasa panas dan napasnya sesak seakan kehabisan oksigen. Berakali-kali gadis itu menarik napas dan membuangnya untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak, lalu berjongkok sambil menumpu di kedua lututnya. Napasnya masih terus memburu.
Setelah napasnya dirasakan normal kembali, ia pun berniat untuk berlari lagi. Namun tiba-tiba tercium bau anyir, dan begitu melihat gaun yang seharusnya berwarna kuning, kini berubah merah. Dengan cepat dia memeriksanya. Matanya pun kembali membola.
"Apa ini ... darah? Haaah ... darah, aaaakh!" Pekiknya seketika. Air matanya kembali mengisi pelupuk mata. Wajah panik dan takut tergambar bersamaan. Bajunya dikucek dengan kuat, tapi nodanya tidak juga hilang.
"Aakh ... hilang dong, ayoo hilaang ...!" Serunya sambil terus mengucek baju, berharap air hujan dapat melunturkannya. Sayang, saat itu hujan sudah mulai reda, dan cahaya senja semakin terang menyinari tempat itu. Gadis itu terus meringis dalam tangis dan ketakutan. "Bagaimana ini? aaakh!" Serunya lagi dengan tidak sabar dan terus mengucek bajunya dengan kasar.
Merasa putus asa dengan bajunya, gadis itu berhenti mengucek lalu menoleh melihat sekelilingnya. Wajahnya terus meringis menahan tangis. Lalu dilihatnya sebuah jalan setapak tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat dia melompati pelepah sawit di depannya dan berlari menuju jalan tersebut.
Sesampai di jalan itu, dia masih kebingungan, harus mengambil arah kiri atau kanan. "Aduh harus ke mana ini?" Tanyanya dalam hati sambil menggit bibir bawah.
Setelah beberapa kali menengok ke kiri dan ke kanan, akhirnya dia memilih untuk berjalan ke arah kanan. Tidak lama berjalan, dirinya sudah mulai mengenali wilayah itu.
"Aah, ini 'kan wilayah pengawasan Ayah? ya ... ini wilayah Ayah!" Serunya dengan mata berbinar. Senyum lega terbit di bibir tipisnya yang mungil. Teringatlah akan keberadaan parit di daerah itu. "Aku harus cepat-cepat ke parit!"
Seiring dengan ucapannya, gadis itu lalu berbelok masuk kembali ke dalam rimbunan pohon sawit, terus berjalan menuju parit yang agak jauh di dalam sana. Akhirnya sampai jugalah dia di pinggir parit. Tanpa membuang waktu lagi, dia segera melompat masuk dan segera melepas baju lalu membasuhnya hingga bersih. Namun, tetap saja noda merah masih menempel, hanya saja sudah tidak semerah sebelumnya.
Meski bajunya tidak bisa sebersih sebelumnya, dan bau anyir darah masih agak tercium, tapi karena hari semakin gelap, dengan terpaksa gadis itu memakai bajunya dan beranjak pergi.
Hari benar-benar telah gelap karena senja telah berganti malam. Rasa takut gadis itu semakin menjadi, membuat wajahnya terus meringis menahan tangis. Sambil berjalan menyusuri jalan setapak yang tadi dilaluinya, tangannya terus meremasi kain gaunnya untuk mengusir rasa takut. Sesekali menoleh ke belakang, berharap ada orang yang bisa menolongnya.
"Ayaah ... tolong aku, Ayaah ... Aku takut!" Gumamnya sembari terus menoleh ke kiri-ke kanan, dengan berurai air mata.
Tidak berselang lama, terdengar suara deru mesin motor tidak jauh di belakangnya. Sontak gadis itu menghentikan langkah lalu menoleh. Rasa takutnya sedikit terobati. Senyum bahagia langsung terukir di bibirnya.
Kilatan cahaya lampu yang timbul tenggelam di antara pepohonan semakin membesarkan keyakinannya akan datangnya sebuah pertolongan. Senyum ceria terlihat jelas di wajahnya. Sambil menggigit bibir, dengan kaki yang terus dijejal-jejalkan, menandakan rasa tidak sabarnya menanti kedatangan sang pemilik motor.
Benar saja, suara deru mesin motor yang kian besar dengan lampu sorot yang tajam menyilaukan mata, telah berada tidak jauh darinya. Dengan cepat gadis itu menyingkir ke tepi jalan, lalu melambaikan tangan, meski dirinya tidak bisa melihat siapa pemilik motor tersebut.
Motor pun berhenti di depannya. Cahaya lampu diredupkan, dan deru mesin dimatikan pula. Pemilik motor menatapnya. "Ayo Dek, cepat naik, sudah malam!" Ajak pemuda itu.
Demi melihat pemuda di atas kuda besi tersebut, senyum ceria si gadis langsung hilang dan berubah jadi datar. "Bang Kasman?" Tanyanya dengan mata menyipit seolah tak percaya dengan pengelihatannya. "Kenapa Abang bisa ada di sini?" Lanjutnya dengan tatapan sinis.
Pemuda bernama Kasman tersebut hanya menatapnya lesu. "Bapak yang menyuruhku mencarimu Dek, sudahlah, ayo naik! bahaya ada di sini malam-malam, nanti ada babi hutan loh." Ajaknya dengan sopan.
Gadis itu masih saja enggan bergerak dari tempatnya. Tatapan matanya menyiratkan rasa benci dan kesal pada Kasman, sedang kedua tangannya hanya bisa meremas kain gaunnya dengan kuat seolah melampiaskan rasa kesal.
Pemuda itu kembali menoleh menatapnya karena tak kunjung bergerak dari tempatnya. "Ayo! tunggu apa lagi?"
"Tapi ... Aku basah kuyup, Bang." Jawabnya beralasan.
"Tidak apa, Abang juga basah kuyup." Ujar Kasman lalu menyalakan mesin motor. Dengan malas, gadis itu berjalan mendekat lalu naik di boncengan pemuda tersebut. Motor pun melaju perlahan meninggalkan perkebunan sawit.
Di dalam perjalanan, gadis itu hanya diam, demikian pula dengan Kasman, pemuda yang memboncengnya. Mereka asik dengan pikiran masing-masing. Hingga motor telah berhenti di depan rumah gadis itu, keduanya masih tetap tak saling bicara.
Gadis itu segera turun dan berlalu pergi meninggalkan Kasman tanpa ucapan terima kasih. Dia lalu berbelok ke samping rumah, terus ke belakang, di mana kamar mandi berada. Sementara Kasman masih betah berdiri menatap kepergiannya. Ada raut sedih di wajahnya.
"Putri, seandainya aku tak seburuk ini, pasti kamu tidak akan membenciku, 'kan? tapi sebesar apapun kebencianmu padaku, cintaku tetap takkan berubah, dan aku akan terus melindungi kamu, meski kamu tak suka padaku, karena cintaku tulus, akan aku buktikan." Gumamnya sambil berlinangan air mata. Hatinya terasa sakit, perih, bagai ditusuk sembilu. Bibirnya tampak bergetar menahan tangis. Seketika ingatannya akan kejadian minggu lalu kembali terlintas.
Saat itu, dirinya sedang mengantarkan setandang pisang untuk Pak Mandor-bosnya sekaligus ayah Putri. Sebenarnya membawa pisang itu hanya modus untuk menemui Sang Pujaan hati, karena dirinya tahu jika gadis itu sedang sendirian di rumah.
"Siang Dek, ini Abang bawakan pisang, mau aku taruh di mana, Dek?" Tanyanya sembari tersenyum ramah.
Gadis yang disenyuminya hanya menatapnya cuek, "tuh, taruh di sana, Bang!" Suruhnya sambil menunjuk dengan muka sebentar, karena kedua tangannya sibuk memasukkan mie ke dalam panci, kemudian kembali menatap pancinya.
Pemuda itu menuruti arah tunjuk Putri, dan setelah meletakkan pisang besar itu, dia segera mendekati Putri dengan wajah kikuk dan malu-malu. Hal itu membuat gadis cantik di depannya menatapnya sinis dengan bibir yang mencibir. "Ikh, Abang kenapa sih, iikh, sana ah, jauh-jauh!" Bentaknya.
Lelaki itu hanya bergeming, masih dengan senyum malu-malu. Dia menyodorkan secarik kertas. "Anu Dek, emm ... aku mau kasi ini."
Gadis itu memasang muka angkuh, lalu mematikan kompor dan menuangkan mienya ke mangkok, kemudian menyambar kertas tersebut dengan kasar. Meski begitu, pemuda itu masih juga tersenyum dan tidak tersinggung sedikit pun.
Sambil mendelik kesal, Putri lalu membuka dan membacanya dengan keras. "Adek Putri, sesungguhnya selama ini aku memendam perasaan cinta yang mendalam padamu." Gadis itu langsung menoleh dan menyeringai menatap pria di sampingnya. Hidungnya kembang kempis menahan kesal setelah membaca sebagian isi surat tersebut. Dia lantas menatap lelaki di depannya, dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu kembali lagi ke kepala. Bibirnya dicibirkan seolah-olah merasa jijik.
Gadis itu pun segera berbalik dan menghadap ke pria tersebut. Kertas di tangannya diremas-remas hingga membulat jadi bola, lalu dilemparnya hingga mengenai wajah Kasman. Membuat pemuda tersebut kaget bukan kepalang. Senyum malu-malunya langsung hilang, berganti rasa syok dan sedih menatap gadis pujaannya berbuat demikian.
"Heh, Bang, apa kamu sudah berkaca, hahh?" Bentaknya dengan keras. "Lihat diri kamu, Bang. Apa kamu pikir, aku bakalan suka sama cowok modelan kayak Abang? Pikir Bang, pikir! Aku ini Putri, anak Pak Mandor dan kamu itu, cuma buruh, cuma buruh, ingat itu!" Cercanya sembari menunjuk-nunjuk wajah si pemuda.
Pemuda itu hanya bisa diam dan tertunduk malu, kedua tangannya diremas-remas menahan rasa sakit dimaki-maki. Dia menatap ujung kakinya yang tampak kumal dengan kuku panjang dan hitam di ujungnya. Celana panjang yang dipakainya pun sudah kucel dengan daki bertebaran karena sudah seminggu belum dicuci, maklumlah itu adalah pakaian kerjanya, sehingga baginya tidaklah penting untuk selalu bersih. Tatapan matanya pun tertuju pula pada kulit tangannya. Tampak jari-jarinya kurus dengan urat-urat yang menonjol serta warna kulitnya yang cokelat legam, memang sungguh menjijikkan, jika dibandingkan dengan gadis di depannya. Sebenarnya, pemuda itu memiliki wajah yang cukup tampan, hanya saja kurang dirawat sehingga tampak kucel dan kusam.
Perlahan dia mengangkat wajah, mencoba menatap gadis di depannya. Gadis itu punya kulit kuning langsat yang mulus, serta pakaian yang bagus dan bersih. Seketika tepian matanya terasa hangat. Rasa perih menggerogoti relung hatinya. Sepertinya air matanya sudah mulai berlinang, sehingga dengan cepat dia menunduk lagi.
Melihat pemuda itu mencoba menatapnya, gadis itu semakin angkuh. "Kenapa? Sudah sadar kalau Abang tuh tidak serasi dengan aku? Hehh, buruh jelek, kurus kerempeng kok, mau coba-coba menembak aku, sadaaaar Bang!" Cerocosnya tanpa memikirkan perasaan orang di depannya. "Asal Bang tahu ya, aku sudah pacaran sama Fadli, jadi kamu tidak usah berharap, mengerti?!" Sungut Putri seraya meraih mangkok lalu pergi ke meja makan.
Kasman yang tidak rela Putri berpacaran dengan Fadli, langsung protes. "Tapi Dek, Fadli itu bukan orang baik, tinggalkan saja dia, Dek. Kamu itu cuma dimanfaatkan!"
Mendengar pacarnya dicerca, Putri makin kesal, dia lantas berbalik menghadap ke Kasman lagi dengan wajah merah padam. "Heh, Bang, asal kamu tahu ya, apa pun yang Abang katakan, aku tidak peduli, karena aku cinta sama Fadli, bukan kamu, dasar cowok dekil, jelek, burik lagi."
Kasman hanya tertunduk sedih mendengar semua makian Putri.
"Kenapa masih di sini? sana pergi, Abang itu cuma mengganggu mood makan siangku, tahu!"
Kini Kasman menitikkan air mata mengenang perlakuan buruk Putri padanya. Senyum getir lalu menghiasi bibirnya yang bergetar. "Meskipun aku tahu kamu tidak menyukai aku Dek, tapi ... aku akan terus berdoa, semoga Allah menjadikan kamu jodohku, tak mengapa jika itu nanti, bahkan jika kita hanya akan disatukan di akherat Dek, aku akan terus menantinya." Ungkapnya sembari mengusap air mata yang mulai menetes. Pria itu menarik napas sebentar agar dadanya yang sesak bisa rileks kembali. Sesaat kemudian, dia pun meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Putri-gadis yang tadi, sudah sampai di depan kamar mandi dan segera menyambar handuk yang terjemur di tali lalu segera masuk ke kamar mandi. Tiba-tiba seorang wanita berumur muncul dari dalam rumah. "Siapa di situ?"
"Saya Bu, Putri!" Seru Putri.
"Dari mana saja kamu Nak, malam begini baru pulang?" Tanya Ibunya lagi sambil terus berdiri di pintu.
"Dari rumah teman, sudah ah, jangan banyak tanya Bu!" Serunya lagi dengan penuh intimidasi. Ibunya pun menurut dan masuk ke dalam rumah.
Mendengar pintu dapur sudah tertutup, Putri segera keluar dari kamar mandi lalu buru-buru memasukkan gaunnya ke dalam mesin cuci dan memberinya banyak detergen, berharap noda darah dan bau anyir di bajunya bisa hilang. Lalu, kembali masuk ke kamar mandi, melanjutkan mandi dengan bersih.
Sambil mandi, Putri terus memikirkan Kasman. "Kenapa Bang Kasman tidak bertanya padaku bagaimana aku ada di sana? Terus ... dia juga tidak curiga sama bajuku dan aroma darah itu sama sekali?" Gumamnya dengan kening berkerut. Bola matanya diputar 360° agar menemukan jawaban di kepalanya, tapi tak kunjung ketemu juga. Kesibukannya menggosok tubuh, seketika dihentikan lalu fokus berpikir. Tapi tetap saja otaknya buntu.
"Alaah ... dia 'kan memang o-on orangnya Put. Sudahlah jangan dipikirkan, bagus lagi 'kan kalau dia tidak curiga, jadi kamu aman!" Tegasnya pada diri sendiri lalu kembali melanjutkan menyabuni seluruh tubuhnya.
Setelah sekian menit sibuk menggosok dan membersihkan tubuh, dia pun menyudahi mandinya. Bertepatan dengan mesin cucinya yang juga berhenti. Bajunya pun dikeluarkan dengan cepat lalu dikeringkan sambil sesekali mengawasi pintu dapur. Takut ibunya tiba-tiba muncul lagi dan banyak tanya.
Gadis itu segera bernapas lega saat melihat bajunya sudah tidak ada noda darah lagi. Baju itu lalu diendusnya, dan baunya sangat wangi. Senyum puas pun terukir di bibirnya. Sekali lagi dia membuang napas dengan lega. Setelah selesai menjemur, dia pun masuk ke dalam dan hendak ke kamar.
"Put, kamu tidak makan dulu?" Tegur Ibunya yang sudah berdiri menatapnya.
Gadis itu kaget dan menggeleng cepat. "Eng ... tidak Bu, a-aku tidak lapar, tadi a-aku sudah makan di ... eng ... rumah teman." Sahutnya gelagapan. Rasa laparnya hilang karena pikirannya dipenuhi rasa takut dan tegang.
"Ya sudah, Ibu mau tidur dulu ya, kalau nanti kamu lapar, tuh Ibu sudah siapkan di meja makan, kamu tinggal makan!" Titah Ibunya yang kemudian berjalan masuk ke kamar. Putri hanya mengangguk menanggapinya lalu bergegas masuk di kamarnya pula.
Gadis itu pun berganti pakaian, memakai skincare lalu naik ke pembaringan melepas lelah. Tapi seketika kakinya terasa perih. Dengan malas ia bangkit lalu memeriksanya.
"Aaakh, pantas perih, kakiku banyak goresan begini, sshh." Ringisnya sambil mengelus kaki.
"Tapi kenapa ini bisa luka-luk ...?" Belum lagi ucapannya selesai, ingatan telah membawanya pada peristiwa di kebun sawit tadi. "Ah iya, aku tidak pakai sendal waktu kabur tadi, adduh ...." Gadis itu menepuk jidat. "Terus sendalku ke mana?" Gadis itu langsung panik. Bola matanya kembali diputar-putar seolah berusaha mengingat sesuatu.
"Aaakh jangan-jangan ada di sana?" Matanya langsung melotot tajam. "Bagaimana ini? adu-uh kalau sampai ada yang menemukan sandalku di dekat mayat itu, matilah aku." Wajahnya kembali meringis . Diraihnya bantal yang ada di samping lalu menutup wajah sambil menelungkup di kedua lututnya. Kakinya dihentak-hentakkan di kasur.
Sejenak kemudian, dia menegakkan kepalanya, menatap ke depan dengan tatapan kosong, lalu kembali menghentakkan kaki dan memukul-mukul bantal yang tak berdosa. "Tapi bagaimana bisa aku ada di sana? Apa yang terjadi sebenarnya, oh, ya Tuhaaan, ada apa dengan semua ini? Siapa mayat itu, bagaimana aku bisa ada di sana?" Pekiknya tertahan karena takut di dengar oleh orang tuanya.
Wajahnya semakin panik sembari menggeleng berkali-kali. "Tidak, bukan aku pembunuhnya , bukan, itu bukan aku .... " Selanya dengan mata melotot tajam menatap kedepan dengan hampa. Napasnya tersengal karena tegang bercampur takut.
"Tapi ... kalau bukan aku, lalu siapa yang membunuhnya?" Tanyanya lagi dengan kening berkerut sambil terus menatap kosong ke depan. "Aakkkhhh, " Teriaknya seketika dengan wajah prustasi seraya mengacak-acak rambut. Seketika dia berhenti mengacak rambut, lalu kembali menatap kosong dengan mata menyala serta mulut menganga. Sejenak gadis itu terdiam melongo, sedang kedua tangannya masih memegang rambut. "Tunggu, apa aku kesurupan, sampai tidak ingat apa-apa? Terus, ... oh tidak, tidak, aku tidak mungkin membunuhnya, tidaaakk!" Teriaknya lagi dengan suara ditekan agar tidak menggelegar. Kedua kakinya kembali dihentak-hentakkan di kasur dengan kuat sambil terus menggeleng.
"Bu, apa Putri sudah pulang?!"
Terdengar suara teriakan Ayahnya yang baru masuk dalam rumah.
Mendengar itu, Putri langsung menjatuhkan diri dengan tengkurap di kasur. Bantal yang tadi menjadi korban kekerasannya, sekarang dipakai untuk menutup kepala, bukannya dijadikan alas, lalu pura-pura tertidur lelap.
Pintu kamarnya terbuka membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya pun dirasakan panas-dingin hingga gemetaran. Giginya dikeratkan agar suara napasnya yang gemetar tidak terdengar. Dengan sekuat tenaga dirinya berusaha mengatur napas selembut mungkin saat menghembus agar terlihat seperti tertidur pulas.
Ayahnya segera masuk memeriksa. Demi melihat anak tunggalnya itu terlelap, orang tua itu hanya menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Bantal yang menutupi kepala gadis itu pun dilepas, kemudian keluar.
Begitu mendengar pintu kamarnya ditutup kembali. Gadis itu segera membuang napas dengan lega, dan kembali melanjutkan tidurnya. Mungkin karena kelelahan, dia pun benar-benar tertidur dengan pulas.
Keesokan harinya, saat hari sudah hampir siang, terjadi kehebohan di blok sebelah perumahan tempat Putri berada. Tidak lama kemudian terdengar sirene mobil polisi mengaung, melintas di depan rumahnya. Ibunya Putri sangat kaget hingga berlari ke depan hendak melihat apa yang terjadi.
Saat tiba di depan rumah, ternyata sudah banyak orang yang lalu-lalang dengan wajah panik. Ibunya Putri pun ikut-ikutan panik. "Pak, Pak!" Serunya pada seorang bapak yang dikenalnya. Orang itu pun segera mendekat. "Ada apa ya Pak, kenapa ada mobil polisi yang lewat?" Tanyanya lagi dengan wajah cemas.
"Ooh, itu Bu, di kebun sawit sana, ada mayat." Jelas orang itu dengan wajah tegang lalu pergi. Ibunya Putri terbelalak sambil menutup mulut menahan kaget dan syok. Dia pun bergegas kembali ke dalam rumah.
Putri yang baru bangun, menjadi heran melihat ekspresi tegang ibunya. Dengan kening mengerut, dia menatap Sang Ibu. "Ibu kenapa, seperti sudah melihat hantu?"
Ibunya sempat terperanjat karena tiba-tiba ditegur. "Eh, anu, itu ... katanya di kebun sawit sana, ada mayat." Jawab ibunya seraya menunjuk ke luar.
Bagai disambar petir, Putri diam mematung dengan mata melotot. Seketika tubuhnya panas-dingin, jantungnya berdentum keras bagai gendang yang ditabuh dengan kuat. Napasnya seolah berhenti. Lututnya pun menjadi lemas seakan tak bertenaga, sehingga jatuh terduduk di lantai. Tatapan matanya pun kosong.
Ibunya yang sudah tegang, kini semakin panik melihat keadaan anaknya. Dengan cepat dia mendekat, "Putri, kamu kenapa, Nak?"
Mendengar pertanyaan itu, tatapan Putri yang kosong, kini beralih ke Ibunya. Wajahnya pucat dan panik. "A-aku ti-tidak apa-apa ... Bu, a-aku cu-cuma kaget." Tuturnya terbata-bata dengan napas tersengal. Keringat dinginnya mulai bercucuran.
Melihat hal itu, ibunya semakin khawatir dan segera memegang dahi anaknya. "Apa kamu sakit?"
Merasa kesal ditanya-tanya, Putri menepis tangan Ibunya dengan kasar. "Apa sih Ibu ini, aku bilang tidak apa-apa, ya tidak apa-apa Bu!" Bentaknya setengah berteriak, dia segera berdiri dan berlari masuk ke kamar lalu menutup pintu dengan rapat.
Kini dirinya meringkuk di ranjang sambil memeluk lutut. Wajahnya pucat bagai mayat. Seluruh tubuhnya terasa gemetar. Jantungnya berdenyut semakin cepat. "Ya Tuhan, semoga tidak ada yang tahu kalau ada di sana kemarin." Ratapnya dengan suara gemetar dan lirih. Wajahnya terus meringis menahan rasa takut dan tegang.
Seketika dia teringat dengan Kasman, pemuda yang mengantarnya pulang semalam. Tangannya yang memeluk lutut segera dilepas lalu menutup mulut. Matanya pun ikut melotot tajam. "Oh tidak, bagaimana kalau Bang Kasman mengadu sama polisi? Aahh ... tidaaak, tidaak, aku tidak mau dipenjara, tidaak!" Teriaknya tertahan dengan mata berkaca-kaca sambil meringis, gadis itu terus menggelengkan kepala.
Hingga waktu makan siang tiba, Putri masih mengurung diri di dalam kamar. Dia tidak berani keluar. Dirinya benar-benar dicekam ketakutan. Tiba-tiba dari luar, terdengar suara teriakan ayahnya seolah-olah sangat panik.
"Putri, Putri!"
Gadis itu segera terperanjat dan langsung berdiri. Wajahnya semakin pucat dan panik, mulutnya menganga lebar. Dengan cepat dia meraih pintu lemari hendak masuk dan bersembunyi, tapi ternyata tidak muat. Gadis itu semakin panik. Wajahnya terus meringis dengan napas yang memburu. Akhirnya mondar-mandir tak karuan dalam kamar.
Gagang pintu kamarnya bergerak pertanda ada yang akan membuka pintu. Gadis itu semakin panik, tangan dan kaki gemetar hebat, napasnya semakin memburu.
"Putri, buka pintu, ayo buka!" Hardik ayahnya dari luar. Gadis itu semakin ketakutan.
"Ada apa Ayah, kenapa teriak-teriak, malu didengar tetangga?" Tanya Ibunya Putri kepada suaminya dengan panik.
Pak Mandor-ayah Putri, segera menoleh ke istrinya. "Bu, ada kasus pembunuhan di areal perkebunan, dan di sana ditemukan sandal Putri!"
Seketika mata istrinya melotot. "Apaaa!" Teriaknya syok dan langsung terduduk lemas, air matanya pun meleleh. Putri yang mendengar penuturan ayahnya semakin ketakutan.
Pak Mandor kembali menggedor pintu tanpa memedulikan istrinya yang lemas. "Buka Put, atau Ayah dobrak, ayo buka!" Serunya begitu keras.
"Tidak Ayah, aku tidak mau!" Seru Gadis itu tak kalah besarnya. Air matanya sudah mengalir menganak sungai tetapi tidak bersuara karena mulutnya sengaja dibekap kuat.
"Ayo buka Sayang, Ayah mau tanya sesuatu, ayo buka!" Pinta Ayahnya dengan suara yang mulai melemah. Putri masih saja bergeming.
"Ayo Nak, buka!" Seru ayahnya lagi. "Ayah tidak akan marah Nak, ayolah!" Kembali ayahnya memohon.
Walaupun masih dalam ketakutan, tetapi gadis itu menurut juga. Dia pun membuka pintu dengan sangat perlahan. Saat pintu terbuka, Pak Mandor langsung menyerbunya. Memegang bahu anaknya dan menatapnya tajam.
"Katakan pada Ayah, kenapa sendal kamu ada di dekat mayat itu Nak? ayo katakan!"
Putri hanya menggeleng sambil terus menangis, dan kemudian jatuh terduduk dengan lemas. "Aku tidak tahu Ayah, sumpaah, aku ... tidak tahu." Tangisnya pun pecah.
Ayahnya segera berjongkok di depannya. "Dari mana kamu semalam, haah?" Tanya ayahnya lagi.
Gadis itu hanya menggeleng lemah sambil terus sesenggukan. Isak tangisnya sangat menyayat hati. "A ... aku tidak tahu!"
Terdengar suara pintu di luar diketuk orang. Dan terdengar pula suara orang-orang sangat ramai. Pak Mandor langsung menoleh, demikian juga dengan Putri yang langsung mendongak. Mulutnya pun dibekap kuat, agar isak tangisnya tidak terdengar.
Pak mandor segera berlari keluar, tangannya langsung gemetar saat melihat beberapa orang polisi berpakaian lengkap sudah berdiri di luar pintu. "Maaf Pak, mohon kerja samanya, kami ke sini untuk membawa anak Bapak, yang bernama Putri."
****
Sebulan telah berlalu, dan hari ini adalah hari sidang Putri dilaksanakan. Gadis itu hanya bisa tertunduk lemas di ruang khusus tahanan sidang. Air matanya tak henti-hentinya menetes. Mengingat bagaimana polisi memaksanya untuk mengakui perbuatannya meski dirinya telah membantah berkali-kali. Namun, menurut keterangan polisi, ada saksi mata yang melihatnya. Sehingga mau tak mau, dirinya pun pasrah menerima semua tuduhan.
Kebenciannya pada Kasman semakin menjadi, karena dia yakin bahwa orang yang menjadi saksi mata pastilah pemuda itu. Tiba saat persidangan di mulai, dirinya pun digiring masuk ke kursi terdakwa. Banyak hal yang ditanyakan oleh jaksa, tetapi dirinya hanya diam. Dia tidak sanggup mengiyakan semua tuduhan yang jelas-jelas tidak dilakukannya.
Sampai akhirnya saksi mata yang melaporkannya dihadirkan dalam sidang. Gadis itu langsung mendongak. Dia yakin jika orang itu adalah Kasman. Sorot matanya tajam menanti kehadiran saksi tersebut. Hidungnya bahkan terlihat kembang-kempis menahan amarah.
Tatkala orang yang ditunggu telah muncul. Sorot matanya yang penuh kebencian, seketika berubah memicing seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Fadli?" Gumamnya heran.
Tatapan matanya terus mengikuti pria yang akan menjadi saksi atas pembunuhan tersebut dengan tak berkedip. Bahkan sampai pemuda tampan itu sudah duduk di kursi saksi, dirinya masih tidak yakin dengan penglihatannya. Hingga akhirnya, nama pemuda itu disebut oleh jaksa penuntut umum. Air matanya langsung jatuh menetes. Ada rasa sakit dan sesak yang memenuhi dadanya. Seakan seribu jarum tertancap diulu hatinya.
Pemuda itulah yang pada hari kejadian telah membawanya untuk makan siang di warung makan, di luar perumahannya. Orang yang amat sangat dicintainya dan mereka telah menjalin kasih selama enam bulan ini.
Rasa sakitnya makin terasa menyakitkan saat pemuda itu sangat jelas mengatakan jika dirinya melihat Putri pergi bersama pria yang diduga dibunuhnya, ke perkebunan sawit di mana mayat ditemukan. Padahal semua tuduhan itu sama sekali tidak dilakukannya. Barulah dirinya menyesal telah mengabaikan nasehat ibunya, untuk tidak percaya dengan pemuda dari luar kampung yang baru dikenalnya.
Putri, anak kesayangan Pak Mandor, dari sejak kecil selalu dimanjakan dan selalu dibela oleh Sang Ayah. Membuatnya sombong dan angkuh, bahkan kepada ibunya dia sangat pembangkang. Apa pun keinginannya, di mana pun ia akan pergi, jika sudah merajuk, ayahnya sudah pasti akan mengizinkannya. Demikian pula hari itu, saat dirinya akan bertemu dengan Fadli. Meski ibunya melarang, tapi ayahnya mengizinkan, sehingga dia pun pergi tanpa menghiraukan Sang Ibu.
Kini nasi telah menjadi bubur. Penyesalannya seakan sudah sia-sia. Teringat lagi akan Kasman. Pemuda yang sangat buruk di matanya itu, ternyata bukan dia yang melaporkannya. Lagi-lagi rasa menyesal mendera batinnya. Dia hanya bisa menangis sesenggukan.
Kembali jaksa menanyai Putri, tetapi gadis itu hanya diam. Hanya air matanya yang terus mengalir serta suara isak tangisnya terdengar memilukan. Karena tidak menanggapi pertanyaan jaksa, akhirnya Putri dianggap mengakui perbuatannya. Jaksa pun memberikan tuntutan limas belas tahun penjara untuknya. Sidang pun ditutup sementara dan akan dilanjutkan sidang untuk menentukan vonis hakim, tiga hari kemudian.
Mendengar tuntutan tersebut, orang tua Putri hanya bisa menangis pasrah. Fadil berjalan keluar melewati meja terdakwa dan masih sempat melirik Putri sambil tersenyum mengejek, membuat hati gadis itu semakin terasa tercabik-cabik. Air matanya pun kembali mengalir deras.
Tiga hari kemudian, sesuai dengan waktu yang dijadwalkan. Persidangan kembali dibuka, untuk membacakan keputusan hakim. Namun, baru saja hakim akan membacakan berkas perkara, tiba-tiba Kasman berteriak dari kursi belakang.
"Pak Hakim, Putri bukan pembunuh, aku saksinya!"
Sontak semua orang menoleh dengan kaget. Termasuk hakim dan jaksa. Pembela yang bertugas mendampingi Putri selama persidangan, meminta pada hakim untuk menghadirkan saksi tersebut. Oleh hakim, Kasman diberi kesempatan memberikan kesaksian.
Sesampai di meja saksi, Kasman mulai bercerita. "Benar, Putri pergi dengan pria itu Pak, tapi dia sedang dibius, dirinya sedang tidak sadarkan diri."
Lagi-lagi pernyataan Kasman membuat semua orang terkejut. Termasuk Putri sendiri. Rasa haru menyelimuti hati gadis itu. Pelupuk matanya mulai panas, dan air matanya pun kini berlinang.
"Teruskan!" Perintah Pak Hakim kemudian.
"Saksi yang kemarin itulah yang membuat Putri tidak sadatkan diri hari itu, yang mulia!"
"Haaaahh?" Seru semua orang di ruangan itu.
"Harap diam semua!" Teriak Pak Hakim dari podiumnya, dan seketika ruangan senyap kembali.
"Fadil mencoba menjual Putri ke korban untuk ditukar dengan shabu-shabu Pak, aku sudah berkali-kali memperingati Putri, tapi dia tidak percaya padaku. Karenanya aku selalu mengawasi mereka." Lanjut Kasman.
"Apa kamu punya bukti, kalau saudari Putri ini dibius saat kejadian?" Tanya Pak hakim lagi.
"Ada Pak, saya merekam saat mereka melakukan transaksi. Pemuda itu lalu mengeluarkan ponselnya dan oleh pembela, ponsel tersebut segera diantarkan ke Pak Hakim. Kemudian di siarkan melalui TV lebar yang tergantung di dinding ruang sidang. Kembali para penghuni ruang sidang terperangah dibuatnya, saat terlihat Putri yang lemas setelah meminum jus pemberian Fadil, sedang pria, si korban pembunuhan itu segera muncul dan menggendong tubuh Putri menaiki sebuah mobil jeep. Para hadirin sidang langsung membekap mulut, sebagian lagi melongo.
"Lalu, siapa pembunuhnya? Apa saudara juga melihatnya?" Lanjut pertanyaan Pak Hakim.
"Aku yang membunuhnya, Pak Hakim." Ucap Kasman tegas.
Mendengar pengakuan itu, Putri langsung terbelalak, napasnya seakan berhenti. "Pantas saja dia ada di sana waktu itu." Ucap Putri membatin. Air matanya kembali berlinang. Dia tidak menyangka, pria yang selalu dicaci-maki itu sudah menolongnya dengan tulus, dan kini akan kembali menyelamatkan dirinya dari hukuman.
"Kenapa membunuhnya, bukannya melapor ke polisi?" Lanjut Pak Hakim lagi.
Kasman tertunduk, raut sedih dan menyesal tersirat di wajahnya. "Saat Putri dibawa pergi, aku pikir bisa bicara baik-baik sama orang itu, jadi aku mengikutinya dan mencegatnya di jalan, ternyata orang itu marah dan tidak terima kutegur, lalu aku dihajar. Motorku juga ditabrak lalu pergi. Aku mencoba menelepon Pak Mandor, tapi pulsaku habis. Mau pulang mencari pertolongan, tapi aku takut kehilangan jejaknya, jadi aku kembali menyusulnya. Saat berhasil menyusul, orang itu sudah membawa Putri masuk kebun sawit jauh di dalam. Aku mengejarnya dan mencoba menghalaginya. Tapi aku dihajar lagi, karena orang itu besar dan kuat, jadi aku habis dibanting sama dia, yang mulia. Aku sempat pingsan sebentar. Dan waktu aku sadar, orang itu sudah hilang entah ke mana. Susah payah aku mencarinya, lalu aku lihat orang itu sudah membuka baju Putri. Aku jadi panik dan marah, yang mulia." Kasman berhenti sejenak untuk menarik napas, karena dadanya terasa sesak. Air matanya jatuh tak tertahankan lagi membayangkan bagaimana bejatnya pria yang mencoba memperkosa Putri, gadis pujaannya tersebut.
Demikian pula Putri yang hanya bisa membekap mulut sembari terus menangis mendengar semua keterangan yang diberikan oleh Kasman, pria yang selalu dibencinya.
"Lanjutkan!" Titah Pak Hakim lagi.
Kasman terisak lalu mengusap air mata. Ia pun melanjutkan. "Aku berlari mencari kayu atau batu yang bisa aku pakai menghajarnya, karena aku yakin tidak bisa menang dengan tangan kosong, tiba-tiba kulihat ada tombak yang bersandar di pohon sawit, tanpa pikir lagi aku mengambilnya." Kasman berhenti sejenak untuk menarik napas.
"Aku hanya berniat memukul kepalanya pakai gagang tombak itu, tapi saat sampai di tempatnya, aku melihat ..." Kasman kembali berhenti dan terisak-isak. Dadanya benar-benar sesak, bahkan bernapas pun sepertinya sangat sulit hingga bahunya terlihat berguncang. Setelah napasnya kembali normal. Dia pun melanjutkan.
"Aku melihat orang itu sudah membuka baju dan menindih tubuh .... " Kasman sengaja tidak menyebutkan nama Putri. "Karena itu aku kalap, aku benar-benar marah." Air matanya lagi-lagi mengalir deras. Berkali-kali isak tangisnya terdengar pilu. Semua orang yang menghadiri sidang ikut menitikkan air mata mendengarnya.
Kasman sudah tidak sanggup lagi meneruskan penjelasannya, sehingga Pak Hakim mengambil alih. "Jadi kamu menusuk korban dengan tombak, begitu?"
Kasman hanya bisa mengangguk merespon pertanyaan Pak Hakim.
"Berapa kali kamu menusuknya?"
"Tiga kali, yang mulia. Yang pertama, dia masih bangun, hendak melawan, jadi kutusuk lagi perutnya. Masih juga berdiri jadi kutusuk lagi pinggangnya, akhirnya dia tumbang menimpa Putri. Melihat darahnya banyak keluar, aku ketakutan, jadi aku kabur tanpa membawa Putri, yang mulia." Kasman kembali menangis tersedu-sedu, sembari menutup wajahnya ke dua tangan.
Mendengar pengakuan dari Kasman, Pak Hakim akhirnya memberi keputusan untuk membebaskan Putri dari tuntutan, dan akan meninjau kembali beekas perkara untuk menentukan hukuman untuk Kasman. Sidang pun dibubarkan sementara.
Begitu Pak Hakim dan petugas lainnya telah meninggalkan tempatnya, Kasman pun akan dibawa oleh petugas. Melihat hal itu, Putri dengan cepat berlari mendekatinya lalu memeluknya dengan erat sambil menangis sesenggukan.
"Maafkan aku Bang, sudah memaki-maki kamu selama ini." Ungkapnya sepenuh hati. Kasman yang tidak menyangka akan mendapat perlakuan demikian hanya bisa diam membisu. Pak Mandor dan istrinya juga mendekat.
"Kasman, terima kasih ya, sudah menyelamatkan Putri." Ucap Pak Mandor pula. Mereka lalu memeluknya bergantian.
Setelah Kasman dibawa pergi, Putri langsung memeluk lutut ibunya sambil terus terisak-isak. "Bu, maafkan aku Bu, aku berdosa pada Ibu, maafkan aku Bu!" Pintanya bersimbah air mata.
Ibunya lalu membungkuk menarik tubuh anaknya berdiri dan menatapnya lembut. "Sudah, Ibu selalu memaafkan kamu, Nak." Mereka pun berpelukan dengan erat.
Sekembalinya dari pengadilan, Pak Mandor tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi mencari keberadaan Fadli. Begitu ditemukan, pemuda itu langsung diseret ke kantor polisi atas tuduhan perdagangan manusia dan penyalahan narkoba.
Seminggu berlalu, kasus Kasman kembali dibuka. Dan setelah ditinjau ulang oleh Jaksa dan Hakim, berdasarkan bukti rekaman video yang diberikan Kasman, maka pemuda itu pun dibebaskan atas dasar pembunuhan karena membela diri dan dalam keadaan terdesak.
Kasman segera bersujud syukur setelah mendengar vonis dirinya dibebaskan. Begitu keluar dari ruang sidang, Putri dengan tidak segan dan malu langsung memeluk dan mencium pipi Kasman, membuat pemuda itu tersipu malu. Hatinya berbunga-bunga karena mendapat ciuman manis dari Sang pujaan hati.
"Terima kasih, Bang. Kamu sudah menyelamatkan aku, tapi aku juga minta maaf, karena aku tetap tidak bisa menerima cinta Abang."
Ucapan Putri bagaikan petir di siang bolong, membuat dada Kasman terasa sesak. Dengan wajah getir, dia mencoba untuk tersenyum sambil mengangguk kemudian menunduk pura-pura menatap kakinya, sebab air matanya sudah mulai menggunung di pelupuk mata.