"Keberanian ku saat ini diawali rasa keraguan di masa lalu. Sejak kejadian terakhir itu, aku masih belum bisa menemukan Bli Arda.
"Kamu sudah mendapatkan informasi, Ta?"
"Belum, tapi kita akan mencoba berkunjung ke rumah yang mengirimkan paket bantuan tersebut. Aku baru saja berhasil mendapatkan informasinya."
Kami segera menuju pengirim paket tersebut. Setelah sekian tahun, aku merindukan kesempatan untuk mengucapkan terima kasih dan melihat wajah Bli Arda yang selama ini aku cari. Tentu saja, aku merasa bingung dan bersalah karena tidak pernah menanyakan tentang dirinya sejak kejadian itu.
Pertemuan kami dengan pengirim paket tidak memberikan hasil apapun. Selama perjalanan, aku masih merasa sedih atas perpisahan tersebut. Aku tidak pernah menyangka bahwa pertemuan kami hanya akan berlangsung sekali, seperti yang terjadi pada saat itu.
"Ta, mari kita beristirahat sejenak."
"Oke deh."
Aku terus merenungkan tentang semua ini. "Ta, apa mungkin waktu hanya mempertemukan kita sesaat dan sekejap itu?"
"Aku juga bingung, Gusti. Sudah berapa tahun kita mencari informasinya, tapi masih belum pernah berhasil bertemu dengannya."
Tiba-tiba, gawai Gusti berdering. "Halo, ini Gusti."
"Iya, Pak. Ada apa?"
"Ini saya, Pak Arda."
"Pak Arda?!"
"Maksud saya Pak Arda yang terakhir kita temui di kantor."
"Oh... Ada kabar apa, Pak?"
Kami bergegas menuju kantor Pak Arda. Ternyata ada seorang anak yang sedang menunggu di sana. Aku masih bingung tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Ini Dika," kata Pak Arda. "Dia ingin bertemu dengan kalian."
"Dika?" Tanyaku dengan heran.
"Saya Dika. Saya adalah orang yang dititipkan pesan oleh kak Bintang ke kantor ini dan memberikan alamat kantor ini. Ada surat yang mungkin juga saya sendiri bingung tentang isinya. Saya diberitahu bahwa saya akan mengetahui jawabannya setelah bertemu dengan seorang pria yang mungkin sudah tumbuh dewasa."
Isi suratnya:
"Gus, kita bertemu lagi. Saya adalah Bintang. Jika Gus membaca surat ini, itu artinya kita hanya ditakdirkan bertemu di Gunung Lempuyang. Ada banyak anak yang membutuhkan bantuan seperti yang kamu lakukan. Tugas saya sekarang telah selesai, dan saya hanya bisa membantu sampai di sini. Saya telah berjuang selama 17 tahun melawan penyakit leukimia. Semua yang saya tahu tentang kamu adalah semangatmu untuk meraih cita-cita seperti yang kamu impikan. Perjuangan saya untuk bertahan hidup sebagian besar berawal dari percakapan terakhir kita. Semua itu memberi saya kekuatan untuk bertahan. Maafkan saya, Bli Arda tidak bisa melanjutkan semangatmu yang mungkin kini telah tumbuh dewasa. Jangan lupa untuk terus berbuat baik, Gus."
"BLI ARDAAAAAA…." Isak tangis yang aku coba tahan saat membaca isi surat akhirnya tidak bisa aku bendung lagi.
"Sekarang di mana, Kak Bintang?" tanyaku pada Dika.
"Kak Bintang telah meninggal setahun yang lalu dan meninggalkan pesan ini kepada saya," jawab Dika.
"Kamu tahu alamat Kak Bintang?"
Aku dan Gusti terkejut dengan kabar ini. Gusti berusaha menenangkan aku yang sulit percaya pada kejadian ini. Dika menceritakan lebih banyak selama perjalanan, "Saya bertemu dengan Kak Bintang saat dia mengunjungi panti asuhan kami. Terakhir kali, dia memberi saya pesan ini melalui orang tuanya. Jadi, saya memutuskan untuk mencari alamat yang dituju dalam surat ini dan memberikannya kepada seorang bernama Gus, karena orang tuanya mengira surat itu ditujukan kepada saya."
Akhirnya, aku mengunjungi keluarga Kak Bintang untuk mengucapkan terima kasih. Setiap tahun, aku menyempatkan waktu untuk mengunjungi keluarga Kak Bintang dan panti asuhan yang pernah dia kunjungi.
"Terima kasih, Kak Bintang. Pertemuan kita di lereng Gunung Lempuyang adalah seperti kisah malaikat dan manusia. Bertahun-tahun berlalu tanpa kita bertemu, bertahun-tahun merasa rindu, dan bertahun-tahun penuh tanda tanya. Meski kita tidak punya kesempatan kedua untuk bertemu dengan cerita yang berbeda, aku bahagia, dan aku yakin Kak Bintang juga bahagia di sana. Setidaknya selama bertahun-tahun, aku telah menemukan rumah malaikat yang telah membantu begitu banyak orang di Bumi. Aku tahu bahwa Kak Bintang adalah orang yang dipercayai Tuhan untuk membantu mereka. Pertemuan di lereng Gunung Lempuyang menjadi kenangan yang tak pernah terhapuskan, dan namanya terukir dengan jelas di sebuah batu pualam." Itu yang ada di dalam hatiku saat melihat foto Kak Bintang, seolah-olah aku sedang berbicara padanya, membagikan cerita yang panjang, dan berbagi air mata. Keharuan dalam hatiku saat ini adalah ungkapan kebahagiaanku karena telah berhasil menjalani petualangan panjang bersama Gusti.
"Gusti, terima kasih banyak."
"Sama-sama, Ta."
"Terima kasih karena telah bersama-sama melewati segala suka dan duka. Sekarang saatnya aku melanjutkan kisah Kak Bintang."
"Aku akan selalu mendukungmu."
"Hehehe... Aku tahu kamu akan ada di sampingku."
[selesai]
Keterangan:
Tyang : Aku
Be pindang : Ikan pindang
Amah : Makan (arti kasar dituju kepada hewan)
Meng : Kucing
Meplalaian : Bermain
Made : Istilah nama sebutan anak ketiga