Masa kecilku di lereng Gunung Lempuyang selalu diwarnai dengan perjuangan menuju sekolah yang jaraknya cukup jauh. Embun pagi menjadi temanku setia dalam perjalanan menuju pengetahuan. Meskipun sulit, aku memiliki tekad kuat untuk mendapatkan pendidikan. Aku berasal dari keluarga sederhana yang sulit membayar biaya sekolah, tapi keinginan untuk belajar sangat besar dalam diriku.
Di tengah perjalanan ke sekolah, kami sering bernyanyi bersama saat upacara bendera. Melihat bendera Merah Putih berkibar dengan gagahnya membuatku bermimpi untuk menjadi seorang pelajar yang sukses. Meski harapanku besar, realitas di rumah seringkali membuatku khawatir. Orang tuaku mengandalkanku untuk membantu mencari nafkah dengan memotong rumput, mencari batu sungai, dan berjualan sayur.
Namaku Merta, anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak-kakakku bekerja keras untuk mengurus ternak dan membantu ibu di pasar. Meskipun hidup di lereng Gunung Lempuyang, aku selalu singgah di rumah temanku, Gusti, setelah sekolah.
Gusti selalu memberiku semangat untuk tetap bersekolah. Meskipun orang tua kami awalnya tidak mendukung, Gusti yakin bahwa kita bisa mencari cara bersama-sama. Tapi, dalam hatiku, kekhawatiranku semakin besar. Walaupun ada bantuan pemerintah, orang tuaku mungkin tidak akan membiarkanku melanjutkan sekolah.
Meskipun kadang-kadang bermain bersama Gusti adalah hal yang seharusnya kulakukan di usiaku, aku lebih merasa bahagia melihat orang tuaku dan kakak-kakakku menikmati makan malam setelah seharian bekerja.
Kami sering bermain permainan tradisional yang sederhana, tanpa teknologi modern. Kami tertawa dan bersenang-senang bersama, meskipun hidup kami sederhana.
Suatu hari, sebuah insiden membuatku merasa bersalah kepada Bu Ayu, seorang pedagang ikan di pasar. Ikan pindang yang harusnya dijual oleh Bu Ayu malah dimakan oleh seekor kucing karena kecerobohanku. Akibatnya, aku tidak mendapatkan upah.
Pamitan dari pasar, aku pulang ke rumah Gusti hanya membawa nasi dan tempe yang diberikannya.
Saat perjalanan pulang, aku masih terbayang dengan apa yang terjadi di pasar. Beruntungnya, Gusti selalu ada untuk membantuku. Setibanya di rumah, ibuku menyambutku dan kami makan malam bersama sambil berbagi cerita tentang hari kami.
Meskipun hati kecilku sedikit terisak karena takut akan tanggapan mereka yang tidak sesuai dengan pemikiranku saat ini, aku akhirnya memutuskan untuk menceritakan hasil rapor kenaikan kelasku kepada keluargaku saat makan malam.
“De! Kok melamun?” tanya Bapak sambil menghentikan kegiatan makan.
“Hm… Merta mau cerita kalau tadi sudah dibagikan rapor kenaikan kelas di sekolah,” jawabku, cemas.
“Terus kok melamun? Gimana hasilnya, De?” tanya Bapak dengan wajah penuh harap.
“Merta dapat juara 1 di kelas, Pak,” aku menjawab dengan gugup.
“Bagus,” demikian tanggapan Bapak sambil melanjutkan makan.
Aku merasa bersalah karena akan segera membicarakan tentang biaya sekolah. Setelah makan malam, Bapak mendekatiku yang sedang membersihkan sepatu kotorku. Inilah saat yang tepat untuk mengutarakan keinginanku untuk melanjutkan sekolah dan mengatasi masalah biaya.
Meskipun mereka menyarankanku untuk tidak melanjutkan sekolah lagi, Ibu menyampaikan kata-kata bijak, "Tidak apa Bapak bodoh dan Ibu bodoh, tapi jangan sampai anak Ibu juga bodoh." Mendengar perkataan itu, aku merasa bersalah telah membuat Bapak dan Ibu harus menanggung keinginanku yang begitu besar.
Kekhawatiran dan kebingungan pun melandaku. Meskipun saat ini orang tuaku mungkin tidak ingin aku berhenti sekolah, aku merasa sulit untuk memaksakan keinginanku sendiri.
Aku berbagi kebingunganku bersama Gusti di tempat biasa kami berkumpul, di rumah pohon yang kami buat seadanya. Malam ini terasa sulit. Aku merasa sedih, tetapi aku mencoba untuk tetap tegar.
Suatu hari, saat aku sedang menjaga rumah di lereng Gunung Lempuyang, seorang pria datang dan bertanya tentang arah ke Pura Lempuyang. Aku memberikan petunjuk dan menyadari bahwa dia dan teman-temannya pergi ke puncak gunung.
Pria tersebut kembali ke rumahku saat selesai mendaki dan bertanya apakah aku bisa membantunya. Aku menjelaskan keinginanku untuk melanjutkan sekolah, meskipun aku tidak memiliki biaya. Dia memberikanku kartu namanya, Bli Arda, dan menawarkan bantuannya. Aku merasa sangat terharu dan berterima kasih kepadanya.
Kemudian, aku turun dari gunung dan bertemu dengan Gusti di tempat kami biasa berkumpul bersama teman-teman. Selama perjalanan, aku berpikir tentang cara untuk bertemu kembali dengan Bli Arda dan mengambil bantuan yang ditawarkannya.
“Bli Tu! Ta mau ke bawah dulu ya,” ucapku pada teman-temanku saat kami tiba di parkiran setelah menuruni Gunung Lempuyang.
“Oh iya. Hati-hati di jalan,” jawab temanku.
“Nanti kartu nama di atas talenan jangan dibuang ya,” pesanku sebelum meninggalkan mereka.
Aku menunggu di parkiran, berharap bertemu kembali dengan Bli Arda. Saat dia tiba, aku menjelaskan bahwa aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas tawarannya untuk membantu biaya sekolahku.
“Loh! Ketemu lagi,” kataku dengan senyum.
“Iya, Bli Arda. Memang sengaja menunggu Bli Arda dari tadi kok,” jawabku.
“Emangnya mau apa tadi kan sudah tak kasi kartu nama tinggal ke sana saja nanti,” ucap Bli Arda.
“Bukan, mau bilang terima kasih. Aku senang bisa bertemu Bli Arda,” aku berterima kasih dengan pelukan.
Setelah pertemuan itu, aku menceritakan kisahku kepada keluargaku dan teman-temanku.
Malam itu di rumah pohon, aku menceritakan bagaimana aku bertemu dengan Bli Arda kepada Gusti. Dia memberiku semangat untuk melanjutkan sekolah.
“Aku dukung, Ta!” kata Gusti dengan tulus.
Singkat cerita, aku berkumpul dengan teman-temanku di pasar, menunggu mobil angkutan untuk pergi ke kota. Kami naik angkutan umum gratis, berusaha untuk tidak lupa alamat yang tertera di kartu nama Bli Arda.
Selama perjalanan, kami menahan bau kotoran sapi dan berusaha untuk tidak terlalu lama dalam angkutan itu. Kami berjalan sedikit untuk berpindah ke angkutan yang menuju kota.
Selama perjalanan, kami mencoba untuk melihat papan jalan agar tidak tersesat. Kami sempat tersesat beberapa kali karena Gusti mengantuk. Namun, perjalanan terus berlanjut.
Ketika kami tiba di alamat yang tertera di kartu nama, kami menyadari bahwa alamat tersebut cukup jauh. Kami bertanya-tanya pada orang-orang di sekitar kami, terkadang tersesat, dan akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak.
“Ta! Sepertinya alamat itu masih lumayan jauh,” kata Gusti.
“Sepertinya Gusti. Apa mungkin kita harus menumpang lagi?” tanyaku.
“Jangan, Ta. Nanti uang untuk kita balik ke rumah malah habis nanti,” Gusti menyarankan.
“Kira-kira kamu masih kuat?” tanyaku.
“Kita istirahat dulu saja ya,” kata Gusti.
Kami pun istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju alamat yang dituju.
Kami memutuskan untuk beristirahat di pinggir jalan karena uang yang kami bawa hanya cukup untuk naik kendaraan umum. Selebihnya, kami hanya bisa menumpang dari angkutan yang lewat.
“Ini alamatnya bukan?” tanyaku pada Gusti ketika kami tiba di depan gedung tinggi yang sesuai dengan alamat di kartu nama.
“Iya, Ta. Kita tanya satpam saja gimana,” kata Gusti.
Kami mendekati satpam dan bertanya apakah ini alamat yang sesuai dengan kartu nama yang kami miliki. Satpam menjawab bahwa alamatnya benar, tetapi kantor sudah tutup, dan dia yang sedang menjaga.
“Sebentar saya telepon dulu ya,” kata satpam.
Kami menunggu dengan cemas. Semalaman kami diberitahu untuk tinggal di asrama kantor. Keesokan harinya, kami bertemu dengan salah satu petugas yang mengantarkan kami ke ruangan yang sesuai dengan alamat.
Namun, yang kami temui bukanlah Bli Arda yang kami cari. Orang tersebut bernama Bli Arda, tetapi bukanlah sosok yang kami harapkan. Aku merasa terkejut, tapi juga bersyukur atas bantuan yang telah diberikan.
Dia memberikan sebuah surat dan berkata, “Gus, ketika sudah baca surat ini. Maaf, Bli Arda tidak bisa bertemu untuk saat ini. Semoga nanti kita bertemu dengan cerita yang luar biasa. Selamat belajar dan raih cita-citamu setinggi-tingginya.”
Membaca isi surat itu, air mataku tak terbendung. Bantuan yang diberikannya, seperti tabungan untuk melanjutkan sekolah dan mencukupi kebutuhan keluargaku dengan sembako yang dia berikan, begitu berarti bagiku.
“Bli Arda, terima kasih banyak. Semoga nanti kita bisa bertemu, dan semoga kesehatan selalu menyertaimu,” gumamku.
Semenjak itu, aku semakin bersemangat untuk mengejar cita-citaku. Aku mencoba mencari tahu tentang siapa Bli Arda dan di mana dia berada. Namun, semua upayaku sia-sia karena dia hanya seorang relawan sukarela yang tidak meninggalkan identitas apapun. Ia memberikan bantuan melalui kantor pos.
Beberapa tahun berlalu, aku sudah bekerja sebagai seorang dokter di Jerman, sementara Gusti melanjutkan pendidikan manajemen bisnis di Australia. Kami setiap tahunnya menyempatkan diri untuk mencari Bli Arda, namun belum pernah berhasil menemukannya.
Bli Arda bagai embun yang menguap di puncak Gunung Lempuyang. Ketika aku pulang ke Indonesia, aku menyampaikan terima kasih kepada kedua orangtuaku atas dukungan mereka dalam pendidikanku.
“Ibu! Bapak! Merta ingin mengucapkan terima kasih atas segala dukungan kalian dalam pendidikanku,” kataku.
“Ibu dan Bapak selalu mendukungmu, Merta. Jaga kesehatan di sana,” ujar ibuku.
Aku terus berjuang dan belajar untuk meraih cita-citaku. Aku juga memanfaatkan setiap kesempatan untuk berbagi kisahku dan pencarianku terhadap Bli Arda. Aku berharap suatu hari nanti bisa bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih secara langsung.
Setahun yang lalu, aku berhasil meraih juara pertama dalam sebuah kontes pidato. Isi pidatoku berfokus pada kisah tentang Bli Arda, sosok yang baik hati seperti malaikat yang membantu saya menemukan jalan menuju kesuksesan. Aku juga meminta bantuan media massa untuk menyebarkan cerita kami agar mempermudah pencarian selama bertahun-tahun ini.
[lanjutan...]
Keterangan:
Tyang : Aku
Be pindang : Ikan pindang
Amah : Makan (arti kasar dituju kepada hewan)
Meng : Kucing
Meplalaian : Bermain
Made : Istilah nama sebutan anak ketiga