Aku melihat jam di handphone yang menunjukkan pukul dua malam.
Aku tak sengaja terbangun karena tenggorokanku sangat kering.Kuraih botol minuman yang ada di meja kecil samping ranjang. Ku buka botol tersebut namun ketika aku hendak meminumnya,tak keluar setetes pun air dari botol tersebut.
"Yah, habis." keluhku merasa kesal sekaligus masih sangat mengantuk.
Sebenarnya aku cukup malas untuk pergi ke dapur dan mengisi kembali botol minum itu. Tapi karena tenggorokanku sudah sangat kering, aku pun terpaksa bangkit dan memutuskan untuk ke dapur yang berada di lantai bawah.
Suasana rumah lumayan gelap dan hanya pada bagian-bagian rumah tertentu yang dibiarkan lampunya menyala oleh kak Andre, kakak kandungku.
Itu pun hanya menggunakan lampu kecil di beberapa sudut ruangan.
Kak Andre yang bekerja sebagai pegawai kantor baru saja menikah dengan kak Mega selama empat bulan.
Sebelum menikah, dia memang sudah mempunyai rumah sendiri dan hidup terpisah dengan kedua orangtua kami.
Tapi dua minggu yang lalu aku mendaftar kuliah dan diterima di universitas yang berada tak jauh dari rumah kak Andre. Kakak pun menyarankan untuk tinggal bersamanya daripada harus indekost yang akan memakan biaya tambahan.
Maka sejak seminggu yang lalu, Aku pun pindah kerumah yang kakak dan kakak iparku tinggali.
Saat kakakku menikahi kak Mega, ada rasa iri pada diriku yang juga tak habis pikir bagaimana kak Andre bisa mendapatkan wanita cantik, kulit putih, dada menonjol, dan memiliki body goals selayaknya tokoh-tokoh anime wanita yang sering aku tonton.
Sesampainya di dapur aku segera mengisi botol itu dari dispenser. Setelah penuh, segera saja aku puaskan dahagaku yang sejak tadi menyiksa dan memaksa untuk meninggalkan ranjangku yang nyaman.
Namun, saat aku sedang minum. Aku seperti mendengar sesuatu, Setelah berhenti minum, aku pun semakin menajamkan pendengaranku untuk mencari asal suara yang aku dengar.
Aku pun berjalan perlahan-lahan sembari mencari asal suara yang aku yakin merupakan suara wanita.
Suara itu berasal dari kamar kak Andre, Setelah di dekat pintu kamar kakak, aku berhenti dan terkejut bukan main. Kini suara yang aku dengar menjadi sangat jelas.
Ternyata yang aku dengar sejak tadi adalah suara indah kakak iparku. Karena malu, aku pun berbalik badan dan hendak kembali ke kamar.
Tapi saat baru saja aku hendak berjalan, kak Mega berteriak lebih keras lagi. Sontak saja pikiranku segera berpetualang dan menerka-nerka apa yang sedang kakak lakukan sampai membuat kakak iparku berteriak begitu keras.
Pergulatan batin pun terjadi. Antara ingin mengintip atau kembali ke kamar dan melanjutkan untuk tidur yang dimana sangat diragukan untuk bisa aku lakukan.
Disensor) 😚🤭" Teriakan kak Mega
Sstt...jangan terlalu keras sayang, nanti Alex bisa dengar," sahut kak Andre.
Hingga, dahiku sudah mulai bercucuran keringat panas dingin dan si otong perlahan-lahan memberontak.
Pikiranku sudah benar-benar kalut dan aku pun memutuskan untuk kembali berbalik badan dan mengintip dari ventilasi atas pintu kamar.
Berencana menggunakan kursi untuk naik dan mengintip. aku berjalan sembari berjinjit agar tidak menimbulkan suara apapun.
Sesampainya di dekat pintu, aku tersentak. ternyata pintu kamar kakak tidak tertutup dengan rapat.
Karena itu juga aku bisa mendengar teriakan kakak iparku dari kejauhan.
Merasa sangat beruntung, aku segera saja mengintip melalui sela pintu yang sedikit terbuka itu.
Mulutku langsung menganga melihat kakak iparku yang biasa aku temui setiap hari saat ini sedang duduk bermain.
Aku terpesona melihat tubuh mulus dan putih kakak iparku yang terkadang memang berpakaian sedikit terbuka walaupun di dalam rumah dan ada aku sekalipun.
Aku dapat melihat gunung kembar yang memang besar berguncang dengan hebat seiring dengan semakin cepatnya bergerak.
Aku yang sedang menyaksikan hanya bisa menelan ludah pahit. Melihat hal itu, aku sontak saja semakin kalut dan seperti tak kuat lagi menahan.
Tak terasa aku pun menurunkan celana dan mulai... sambil menyaksikan secara langsung adegan film yang mana pemain utamanya adalah kedua kakakku sendiri.
Aku sudah hampir lepas kendali dan tak memperdulikan lagi sekitar. Merasa hasratku juga harus diselesaikan
Tapi karena tidak ada lawan dan tidak mungkin juga untuk bergabung dengan kedua kakakku, aku pun memilih untuk bermain sendiri disana.
Tapi tiba-tiba saja aku berhenti, aku panik dan segera bergeser lalu bersandar pada tembok.
Aku sangat terkejut dan jantungku berdegup sangat kencang karena baru saja mataku bertukar pandang dengan mata kak Mega.
Aku masih bersandar di dinding dan jantungku berdegup dengan sangat kencang.
Karena baru saja ketahuan mengintip oleh kakak iparku.
Aku mencoba mencari-cari alasan apa yang akan aku jawab jika kak Andre keluar dan memergokiku ketahuan mengintip dirinya yang tengah bermain.
Tapi karena pikiranku masih kalut, aku tak menemukan alasan yang pas kenapa aku bisa berada disana.
Pikiranku sudah benar-benar buntu dan kepalang panik, aku pun memutuskan untuk beranjak dari sana.
Tapi lagi-lagi ketika aku hendak pergi, kembali ka mega berteriak dengan keras, Untuk kali ini aku merasa bahwa kakak iparku seperti memanggilku untuk tidak beranjak pergi.
Aku tertegun dan tak habis pikir kenapa mereka tidak berhenti dan malah melanjutkan bermain.
Sudah jelas bahwa tadi kak Mega beradu mata denganku.
Sudah jelas juga bahwa aku telah ketahuan mengintip mereka yang sedang asyik-asyiknya Bermain.
Tapi kenapa kak Mega tidak memberitahu kak Andre dan memarahiku.
"Kenapa mereka malah lanjut main??"
"Bukannya aku tadi sudah ketahuan sama kak Mega??"
"Ah gak mungkin!! Tadi dia benar-benar melihat kearahku kok!" Pikirku dalam hati.
Dalam keragu-raguan, aku memutuskan untuk mengurungkan niat untuk kembali ke kamar.
Disamping penasaran kenapa
kakak-kakakku tidak memarahiku.
Si Otong juga masih dalam keadaan tegang karena belum selesai.
Aku pun berjalan dengan perlahan kembali ke tempat mengintip tadi. Dan benar saja, bukannya memberi tahu suaminya kalau aku sedang mengintip mereka, kak mega malah melanjutkan bermain dengan kak Andre.
Yang tak habis pikir dan masih membuat aku kebingungan.
Saat ini ka Mega jelas-jelas menatapku lagi yang masih menyembunyikan tubuhku, bahkan aku sangat yakin kalau kakak iparku itu tersenyum manis padaku.
Setelah sekian lama, akhirnya permainan selesai. mereka berdua pun merebahkan diri sambil terengah-engah.
Aku sedikit merasa kecewa karena sebelum aku selesai, permainan sudah keburu berakhir.
Namun Tiba-tiba mataku pun kembali terbelalak karena aku melihat ka Mega melihat kepadaku dan kembali tersenyum dengan santai.
Karena merasa bersalah aku bergegas pergi dari sana dan kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar, aku segera mengunci pintu dan bergegas menuju kasur.
Tak lupa sebelum itu aku mengambil sekotak tisu dari atas meja belajar. Dilanjutkan lagi kegiatan yang aku lakukan tadi.
Dalam kepala aku masih tersimpan dengan jelas kak mega yang aku lihat tanpa sehelai benangpun.
Rasa bersalah perlahan menghampiriku. Bukan hanya karena aku baru saja bermain sendiri sambil membayangkan kak Mega, tapi aku juga telah mengintip kegiatan kakakku yang seharusnya tidak aku lakukan.
"Aku merasa bersalah sekali, sama kak Andre."
"Gimana Aku bilang nya ya.. kalu aku bilang, udah pasti kak Andre akan marah sekali sama aku"
Kemudian aku menarik selimut dan mencoba menenangkan diri untuk kembali mencoba tidur.
Tapi sesuai perkiraanku, mataku masih terbuka, walau waktu sudah menunjukkan hampir pukul empat pagi.
Aku merasa sangat bersalah kepada kak Andre dan merasa takut jika berkata jujur kepadanya.
Aku pun menarik selimut hingga menutupi kepala dan memaksakan untuk memejamkan mata, Sampai akhirnya aku pun tertidur kembali.
•••
Keesokan harinya
Aku terbangun karena matahari sudah masuk melalui jendela kamar yang tirainya terbuka dan mengarah langsung ke ranjang.
Dengan malas kuraih handphone dan melihat jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Diriku seketika terbangun dan segera beranjak dari ranjang untuk mandi
Pada hari itu aku ada kelas pagi yang akan dimulai pukul setengah sembilan, Tanpa membuang-buang waktu lagi aku segera masuk kamar mandi.
Tepat pukul tujuh aku sudah rapi dan wangi, Ku ambil tas dan keluar dari kamar, Setelah menutup pintu kamar dan berjalan menuju tangga, Aku pun berhenti tepat di ujung tangga, aku mendengar suara orang sedang memasak di dapur lantai bawah.
"Itu pasti Kak Mega yang lagi memasak." pikirku dalam hati.
"Aduh! Aku kok jadi malu ya ketemu sama mereka, Apalagi kak Mega yang semalam tahu kalau aku mengintip dia."
"kak Mega juga pasti sudah ngomong ke kak Andre, kalau semalam aku sudah mengintip mereka, Tapi aku harus turun untuk pergi ke kampus, Bagaimana ini?."
Aku bingung untuk bersikap di depan kedua kakakku, Merasa tak ada jalan lain, aku pun memutuskan untuk turun dan bergegas keluar dari rumah.
Setelah memantapkan tekad, aku pun menuruni tangga dengan cepat sesuai rencana, Ketika sampai di lantai bawah, aku melirik ke dapur dan melihat kak mega sedang menyiapkan sarapan, sedangkan kak Andre sedang menunggu sarapan di meja makan sembari memainkan handphonenya.
Posisi dapur terletak disebelah kanan dari tangga saat menuruni tangga, dan posisi meja makan berada disebelah dapur.
Aku pun segera berbelok kiri saat tiba dilantai bawah, dan mempercepat langkah dengan harapan kakak-kakakku tidak menyadarinya.
"Alex.." panggil kak Andre.
“Mau kemana kamu?.."
"Ehh.. mau ke kampus kak"
Jawabku yang seketika berhenti melangkahkan kaki dan menjawab tanpa membalikkan badanku.
"Jam segini? Kampus kamu kan dekat, naik motor juga paling lima belas menit, Duduk sini dulu, ada yang mau kakak omongin sama kamu!" ucapnya dengan tegas.
Keringatku mulai bercucuran, aku masih tak bergerak dari tempatku berdiri karena terlalu gugup, Walau pun sudah berusia dua puluh tahun, aku sangat menghormati kakakku dan tak pernah sekalipun melawan padanya.
"Kok malah diam saja, ayo sini." kak Andre mengulangi perintahnya.
"iya kak"
Ucapku sambil berbalik badan
dan berjalan mendekat sambil menundukkan kepala, aku duduk di depan kak Andre yang kini sudah tak sibuk dengan handphone miliknya melainkan sedang menatapku dengan tajam.
"Mati aku! Pasti aku bakal dimarahin karena semalam sudah berbuat kurang ajar." pikirku dalam hati.
Aku pun melirik ke arah kak Mega yang juga memperhatikanku, Namun tidak dengan tatapan tajam seperti kak Andre, melainkan kak Mega menatapku sambil tersenyum dengan sejuta arti.
Kak Andre menatap tajam padaku, aku hanya menundukkan kepalaku karena tak berani menatapnya, Aku sadar betul bahwa yang aku lakukan sangat salah dan patut jika mendapat hukuman dari kakak.
Selama ini aku memang sangat hormat pada kak Andre, Disamping kakakku selalu
mencontohkan hal yang baik padaku, Didikan dari orang tua berpengaruh penting bahwa tidak boleh kurang ajar dan melawan pada orang yang lebih tua.
Karena itu juga, aku saat itu merasa seperti sedang disidang oleh kedua orang tua karena telah berbuat kenakalan yang sudah sangat keterlaluan.
Kak Mega berjalan mendekat dan meletakkan dua gelas teh di atas meja, Satu untuk suaminya dan satunya lagi untukku.
Saat menaruh gelas untukku, aku yakin sekali kak Mega mengedipkan matanya padaku seraya tersenyum manis.
Tentu saja aku merasa sangat bingung dengan sikap kakak iparku tersebut.
Tapi pandanganku kembali menunduk setelah kak Andre menaruh handphonenya dengan sedikit keras ke atas meja.
"Kamu pikir yang kamu lakukan itu benar?"
"Apa yang sudah kamu lakukan?"
"Orang tua kita tidak mengajarkan hal itu pada kita bukan!!"
Tanya Kak Andre dengan tegas serta tangan yang menyilang di depan dadanya.
"Eee..anu kak...aku.. .saat itu"
Aku seketika menjadi gagap dan tak bisa menjawab kakak dengan benar.
"Kamu kira kakak gak bakalan tahu yang kamu lakukan??"
"Kamu kira kamu bisa bersembunyi seperti itu dari kakak?"
"Kakak bisa tahu walaupun kaka tidak melihat secara langsung kamu melakukan hal itu."
Ucap kak Andre lagi yang makin meninggikan nada bicaranya
"Soalnya itu kak, pintunya..."
"pintu !!, kenapa pintunya?"
"Pin..tunya...belum tertutup." jawabku pada akhirnya yang masih saja tergagap-gagap.
"Belum tertutup?" tanya kak Andre yang malah semakin marah.
"Iya kak...pintu..nya..terbuka se..sedikit." jawabku lagi dengan terbata-bata.
"Apa yang kamu katakan? Ngomong yang jelas, jangan kaya orang gagap gitu!" desak kak Andre
Aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang terasa sangat kering. menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
Aku sadar kalau harus menghadapi konsekuensi atas perbuatan yang tidak senonoh itu. Mau tidak mau aku harus menerima hukuman dari kakak, bahkan itu adalah diusirnya aku dari rumah kakak dan kembali ke rumah orang tua.
"lya, kak. Aku minta maaf."
Ucapku dengan pelan walaupun sudah terdengar tak terbata-bata.
"Apa? Kakak gak dengar!" ucap keras kak Andre
"Aku minta maaf, kak." balasku dengan lebih keras meski belum berani menatap mata kakakku
"Kenapa kamu melakukan hal itu...!!!"
"Kakak tahu kamu sudah dewasa, tapi orang tua kita membesarkan kita dengan mewanti-wanti untuk tidak melakukan hal itu bukan?" tanya kak Andre yang nada bicaranya tidak setinggi tadi.
"Soalnya itu kak"
"Soalnya kenapa?" Desak kak Andre
"kakak tidak menutup pintu dengan benar"
jawabku mengatakan alasan kenapa aku mengintip semalam.
Walaupun aku tahu, bahwa sebenarnya aku bisa saja tidak melakukannya dan memilih untuk kembali ke kamar.
Tapi lagi-lagi karena rasa penasaran yang tinggi, membuatku melakukan hal tersebut.
Bahkan aku sempat bertatap mata dengan kak Mega ditengah-tengah permainan antara mereka.
Di kesempatan kedua itu aku malah memilih untuk melanjutkan kegiatan terlarang demi memuaskan penasaran duniawi.
Sejujurnya aku juga merasa sangat bersalah telah melihat kemolekan kak Mega yang jika bisa dikatakan, merupakan tipe tubuh wanita yang sangat aku sukai dan aku damba-dambakan.
Kak Mega adalah perwujudan kesempurnaan dari sosok wanita yang ingin dimiliki olehku.
Apa maksud kamu kakak tidak menutup pintu dengan benar?"
tanya kak Andre dengan wajah bingung.
"iya benar itu kak" jawabku
"Apa hubungannya kamu mendaftar ikut kegiatan pencinta alam dengan pintu kakak"
kak Andre semakin tidak mengerti dengan jawabanku tersebut.
Seketika aku mendongakkan kepala, dan melihat pada kakaku dengan tatapan bingung juga.
Aku pun kemudian melirik pada kak Mega yang berada di belakang kak Andre, yang dimana sedang tertawa dengan tak bersuara dan menutupi mulutnya dengan tangan
"Pecinta alam?" ucapku yang tak mengerti dengan maksud kak Andre.
"lya, kamu kemarin daftar di kegiatan mahasiswa pecinta alam kan?"
"Kamu kira kakak gak bakal tahu!"
"Teman kakak ada yang jadi anggota mereka juga." ucap kak Andre
"Jadi ini soal kegiatan mahasiswaku di kampus kak?"
Tanyaku yang memastikan kembali bahwa yang dikatakannya adalah bernar adanya.
"iya, apa lagi?"
"Iya sih kak, tapi"
"Gak ada tapi-tapian!!"
"Papa sama mama kan sudah beritahu, kalau kamu boleh ikut
kegaitan mahasiswa tapi jangan pecinta alam."
"Papa sama mama cemas, kalau kamu nantinya ada kegiatan naik gunung, Tapi kenapa kamu malah daftar jadi anggota?, Kakak tidak mau tahu, pokoknya kamu gak
boleh ikut kegiatan itu!"
Tegas kak Andre yang kemudian meraih segelas teh yang ada di depannya dan meminumnya.
"lya kak."
Ucapku yang di dalam hati merasa senang karena ternyata, yang sejak tadi kakaknya maksud bukanlah apa yang dia lakukan semalam, Aku salah mengerti karena bertepatan dengan rasa bersalah karena mengintip.
Aku melihat pada kak Mega yang sejak tadi tak henti-hentinya tersenyum dan menatapku.
Aku pun sadar bahwa semalam kak Mega yang tahu kalau aku sedang mengintipnya, tidak memberitahukan hal itu pada suaminya, Karena itu juga ia tersenyum dan tertawa geli melihat gelagat aku yang salah tingkah
"sudah sayang, kasian alex, masih pagi begini sudah dimarahi"
ucap kak Mega dengan lembut dan mengelus-elus pundak kak Andre dari belakangnya
"Tapi aku harus memarahinya karena dirinya sudah berbuat salah"
"Sebaiknya kalian makan sarapan kalian, Alex juga sepertinya ada jam kuliah pagi, lya kan?" tanya kak Mega sambil mengedipkan matanya
"lya..iya betul" Jawab aku yang kembali salah tingkah dengan sikap kakak iparnya itu.
"Jadi kamu bakal mencabut keputusan kamu ikut kegiatan mahasiswa itu kan?"
"lya kak, Aku minta maaf."
Jawabku dimana sudah mendaftar di kegiatan mahasiswa yang tidak disukai oleh kedua orangtuaku, Tapi juga karena aku telah mengintip kakak-kakakku yang tengah bermain semalam.
"Ya sudah, kalau kamu sudah menyesali perbuatan kamu dan berjanji akan tidak jadi ikut kegiatan mahasiswa itu, Makan sarapanmu, Keburu dingin nanti." Ucap kak Andre yang sudah tak lagi marah.
"lya kak"
Aku pun menyantap sarapan itu, Kak Mega duduk di tengah antara suaminya dan aku untuk juga ikut sarapan, Meja makan memang berbentuk segi empat dimana hanya bisa diisi kursi di setiap sisinya.
Apalagi pagi itu kak Mega mengenakan kaos polos putih yang sedikit ketat, terutama dibagian atasnya dan celana pendek berwarna merah muda yang memamerkan kaki putihnya yang jenjang.
Beberapa kali aku juga melihat
kak Mega melirik ke arahku, Saat itu terjadi, aku segera menundukkan pandangan dan
berpura-pura fokus pada piringku.
Sampai aku terbatuk-batuk, aku merasa sangat terkejut hingga tersedak dan terbatuk-batuk.
Bagaimana tidak? Aku merasakan kaki dari kak Mega meraba-raba kakiku
"uhuk..uhukk"
"Kenapa Alex? Pelan-pelan makannya," saran kak Mega yang melihat aku terbatuk-batuk.
"Gak apa-apa, kak. Cuma tersedak."
Sahutku setelah minum segelas air dan melihat pada kak mega yang makan dengan santainya seperti tak terjadi apa-apa.
Mungkin kaki kak Mega tidak sengaja menyentuh kakiku pikirku dalam hati.
Saat aku melihat mata kak Mega untuk memastikan bahwa itu memang tidak sengaja, Namun kak Mega malah kembali mengedipkan matanya dan seulah-ulah itu kode untukku agar bermain dengannya.
Sejak saat itu aku dengan kak Mega. Kakak iparku sendiri, kami melakukan hubungan yang tak senonoh dan selalu melakukan permainan itu setiap kak Andre pergi bekerja ataupun tidak ada dirumah.
Aku tahu hal itu adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan.
Namun karena hasrat dan kenikmatan yang ingin disalurkan, dan selagi kak Mega mau melakukannya dengan senang hati.
Aku pun menutupi rasa bersalahku dengan selalu hormat dan patuh dengan semua kehendak yang diinginkan oleh Kak Andre....
Sahutku setelah minum segelas air dan melihat pada kak mega yang makan dengan santainya, seperti tak terjadi apa-apa.
Mungkin kaki kak Mega tidak sengaja menyentuh kakiku pikirku dalam hati.
Saat aku melihat mata kak Mega untuk memastikan bahwa itu memang tidak sengaja, Namun kak Mega malah kembali mengedipkan matanya dan seolah-olah itu kode untukku agar bermain dengannya.
Sejak saat itu aku dengan kak Mega, Kakak iparku sendiri, kami melakukan hubungan yang tak senonoh dan selalu melakukan permainan itu setiap kak Andre pergi bekerja ataupun tidak ada dirumah.
Aku tahu hal itu adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan.
Namun karena hasrat dan kenikmatan yang ingin disalurkan, dan selagi kak Mega mau melakukannya dengan senang hati.
Aku pun menutupi rasa bersalahku dengan selalu hormat dan patuh dengan semua kehendak yang diinginkan oleh Kak Andre....
SELESAI