cinta adalah sebuah anugerah terindah dari Tuhan, namun cinta tak selamanya indah. Kadang cinta membuat seseorang terluka, sedih, menangis dan sakit hati. Cinta juga kadang membuat kita bahagia.
Pagi ini adalah pagi yg sangat membuatku malas berangkat kuliah. Dimana hari ini adalah hari yg paling membosankan untukku. Aku mengatakan bosan karna hari ini adalah mata kuliah pak Herman alias dosen killer. Namun aku tetap terbangun lalu bersiap- siap dan berangkat ke kampus. Saat ku langkahkan kakiku kearah kampus, aku tak sengaja menabrak seorang laki-laki yg sangat tampan menurutku.
" Awwhhh..!!! ".
" Eee, maaf- maaf, aku ngak sengaja menabrakmu " Ucap Tio sambil membantu Amel berdiri.
" Eehmm, makasih ya" Ucap Amel yg tersenyum hangat pada Tio.
"Ia dan sekali lagi aku minta maaf ya".
" Ngak kok justru aku yg minta maaf karna aku tak hati- hati hingga menabrakmu ".
" Ia gpp kok dan lain kali kalo jalan hati- hati ya" Ucap Tio dengan tersenyum dan mengusap kepala Amel dan berlalu pergi.
Aku pun meneruskan langkahku yg tertunda menuju kearah kelas. Sepanjang koridor kampus, Sinta teman sekelasku sekaligus sahabat aku dari kecil berlari menghampiriku.
" Amel....!!! " Teriak Sinta.
" Apaan sih Sin,ini bukan hutan tahu kamu tempati berteriak-teriak " Kesalku pada Sinta.
" Hehehe, maaf Mel, oh, ya, kamu di cariin tuh sama pak Bimo sih dekan tukang ceramah di ruangannya " Ucap Sinta kesal.
" Hah!!!?? Kamu serius Sin?? Tapi kenapa pak Bimo mencariku?? " Tanya Amel penasaran.
"Aku serius Mel, dan soal itu mana aku tahu. Mungkin pak Bimo mau cari calon istri kali" Ucap Sinta santai.
" Masa sih pak Bimo cari istri lagi bukannya istrinya udah empat ya kok malah menambah lagi dan apa hubungannya sama aku ogeb!! ".
" Ya siapa tahu aja pak Bimo mau jadikan kamu istri kelimanya, hahahaha" Ucap Sinta dan berlari menjauh meninggalkan Amel yg kesal.
" Sinta....!!! Awas kamu!!!! " Berlalu mengejar Sinta.
Tak terasa waktu telah berlalu, begitupun dengan pelajaran pak Herman telah berakhir. Seluruh mahasiswa bernafas lega. Amel dan Sinta beranjak keluar dari kelas.
"Haaa.., akhirnya lega juga ya, dari tadi kita seperti patung sulit bernafas gara-gara tuh dosen killer" Ucap Sinta dengan kesal.
"Hahaha, kamu pikir patung bisa bernafas dasar ogeb" Jawabnya mengejek Sinta.
"Yeh..., itu cuma perumpamaan kali bambang".
" Terserah deh, by...!!! " Ucap Amel meninggalkan Sinta dengan muka kesal.
" Woy..!!! AMELIA PUTRI!!! Tungguin napa!! " Ucap Sinta berteriak memanggil Amel dan mengejarnya.
Sesampainya di parkiran Amel tak sengaja melihat laki-laki yg tak sengaja dia tabrak di Koridor. Amel pun dengan segera menghampiri Tio yg sibuk memainkan hpnya diatas jok motor.
" Haiii..!!! " Sapa Amel dan tersenyum hangat pada Tio.
" Oh, Hai, kamu kan cewek yg tadikan yg menabrakku " Tanya Tio pada Amel.
" Hehehe, ia, maaf ya soal kejadian tadi".
" Ya gpp kok,sans aja, btw nama kamu siapa?".
"Aku Amelia putri, biasa di panggil Amel kalau kamu? " Jawab Amel lalu menggulurkan tangannya pada Tio.
" Aku Tio, salken ya Amel" Ucap Tio membalas menjabat tangan Amel.
" Salken juga Tio".
" Oh, ya, btw kamu mau pulang kan? ".
" Eee,ia" Jawab Amel sambil menggaruk kepalanya yg tidak gatal.
" Kamu lucu Mel" Tersenyum hangat pada Amel.
" Hehehe, kamu bisa aja Tio" Tersipu malu.
Sinta yg menghampiri Amel di parkiran dengan nafas ngos-ngosan mengejar Amel.
"Hah.. Hah.. Hah... " Ngos-ngosan.
"Kamu kenapa Sin, kok habis di kejar setan ya" Jawab Amel mengejek Sinta.
"Ya, aku memang mengejar setan yg sangat menyeramkan tapi setan itu malah cepat bangat menghilang" Ucap Sinta kesal pada Amel yg telah meninggalkannya sendirian.
"Hahaha, teman kamu lucu juga ya Mel" Tanya Tio ketawa saking kerasnya melihat tingkah laku Sinta.
"Heh!!! Kamu siapa dan ada hubungan apa kamu sama Amel"tanya Sinta kepo dan penasaran pada Tio.
" Aku Tio" Mengulurkan tangannya pada Sinta.
" Aku Sinta yg paling cantik, seksi,dan populer di kampus ini" Menjabat tangan Tio dengan kepedeannya.
" Heh, ogeb muka jelek kayak gitu di bilang cantik dan apa tadi kamu bilang seksi, hahaha, seksi dari mananya coba badan kayak lidi begini di bilang seksi dan kamu tadi bilang populer kan, hahaha, populer dari mananya jangan mimpi kamu Sinta" Jawab Amel panjang lebar mengejek Sinta.
" Dasar sahabat luknut kamu Mel, ngak bisa lihat sahabatnya bahagia dikit" Kesal dan merajuk.
Tio yg melihat perdebatan kedua sahabat ini hanya tersenyum melihat kelucuan mereka saat bertengkar.
" Napa, kamu senyum- senyum kayak orang gila aja" Kesal Sinta pada Tio.
" Sin, kamu ngak boleh ngomong kayak gitu ngak baik tahu" Menasehati Sinta.
" Piks, aku tahu kalian pasti punya hubungan kan? Ayo ngaku deh".
" Aku kan udah bilang Sin, kalau aku sama Tio ngak ada hubungan apa-apa cuma sebatas teman aja kok ngak lebih".
Tio sangat kecewa mendengar perkataan Amel, ya meskipun pertemuan pertamanya di Koridor menimbulkan benih cinta di hati Tio pada Amel. Kata anak jaman sekarang sih, cinta pandangan pertama. Ya, itulah yg dirasakan oleh Tio, dimana pertemuan tak sengaja menimbulkan cinta yg tiba-tiba.
"Yayaya, kalau kamu ngak mau mengaku juga gpp nanti aku cari tahu sendiri" Kesal.
" Terserah, kamu aja Sin" Pasrah dengan kelakuan sahabat satunya ini yg keponya tingkat dewa.
" Yaudah yuk, kita pulang"tanya Amel pada Sinta namun Sinta tetap merajuk.
" Yaudah kalau kamu ngak mau pulang gpp aku pulang duluan aja byy!! " Menyalahkan mesin motornya.
" Eee, enak aja kamu malah ninggalin aku" Jawab Sinta yg sedikit kesal lalu naik ke jok motor Amel.
" Tio, kami pulang duluan ya".
" Eee, ia Mel, Hati-hati ya di jalan" Tersenyum hangat pada Amel.
" Khmmm, kok aku merasa seperti obat nyamuk aja ya" Menyindir kearah Tio dan Amel.
" Lah, memang kamu obat nyamuknya, hahaha".
" Issshh, Dasar sahabat lucknut kamu" Mencubit pinggang Amel hingga membuat Amel menjerit kesakitan.
" Sinta!!! Ngapain sih, kamu malah mencubit pinggang ku sakit nih!!! " Kejengkelan.
" Hehehe, sorry".
" Ada-ada aja kalian berdua" Jawab Tio mengeleng- gelengkan kepalanya.
" Kami pergi dulu ya Tio, assalamu'alaikum ".
" Walaikumsalam Amel".
Amel dan Sinta pun melajukan motornya meninggalkan Tio yg terus memandangi nya.setelah menempuh perjalanan mereka sampai di kontrakan Amel dan Sinta.
" Hah, akhirnya sampai juga" Ucap Sinta turun dari atas motor Amel.
" Yaudah yuk masuk" Memarkirkan motornya di depan rumah dan lalu masuk dalam kosan yg mereka tempati.
" Assalamu'alaikum " Sapa Sinta saat membuka pintu kosannya.
" Heh, ogeb kamu pikir di dalam ada orang pake assalamu'alaikum segala lagi, ingat ya kita cuma berdua di sini" Menyentil kening Sinta.
" Hehehe, sorry aku kira kita tinggal sama keluarga" Menggaruk kepalanya.
" Terserah kamu aja" Mendahului Sinta masuk dan berlalu ke kamarnya.
Tak terasa malam telah tiba dimana semua penghuni alam mengistirahatkan tubuh mereka. Keesokan harinya di kampus, Tio bergegas menuju ke fakultas desainer untuk menemui Amel. Ya, Amel dan Tio beda jurusan. Amel dan Sinta mengambil jurusan yg sama yaitu desainer. Mereka berdua sangat menyukai fashion hingga mereka memilih jurusan itu. Sedangkan Tio memilih jurusan manajemen sebagai jurusan yg sesuai dengan perusahaan yg akan dia kelolah nanti.
" Amel...!!!" Ucap Tio memanggil Amel yg hendak menuju ke kelas.
"Eee, Tio, ada apa, kok kamu disini?" Jawab Amel penasaran.
"Mel,nanti sore kamu sibuk ngak?".
"Ngak kok Tio, memangnya ada apa? ".
" Nanti sore aku mau mengajak kamu pergi".
"Memangnya kamu mengajakku kemana? "
"Aku mengajak kamu ke markas bandku, kamu mau kan temani aku latihan nanti sore" Membujuk Amel.
" Khmm, kenapa ya dari tadi aku di kacangi terus, serasa aku cuma angin lewat yg lewat di depan kalian berdua"kesal.
" Ouppsss..!!!, aku kira cuma aku sama Tio, eee ternyata ada orang toh " Mengejek Sinta tanpa dosa.
Sinta yg mendengar perkataan Amel langsung mencubitnya hingga membuat Amel kesakitan akibat ulah Sinta sahabat lucknutnya itu.
" Sinta..!!!kamu tuh ya hobby banget mencubit orang" Dengan perasaan marah pada Sinta.
"Bodoh amat, byyy!!! " Berlari masuk kedalam kelas dengan perasaan senang telah membuat Amel marah padanya.
" Awas kamu ya Sinta!!! Dengan perasaan geram.
"Hehehe, maaf ya Tio, Sinta memang orangnya kayak gitu jadi kamu maklumin aja ya" Merasa tak enak hati pada Tio.
" Ia gpp kok, oh ya, gimana kamu mau kan temani aku latihan? ".
" Ia, aku mau kok" Tersenyum hangat.
"Ok, nanti aku jemput kamu ya jam 3 sore".
" Ok, kalau gitu aku masuk kelas dulu ya" Pamitan pada Tio.
"Silahkan dan semangat belajarnya" Mengusap kepala Amel hingga membuat Amel mematung dengan apa yg di lakukan Tio barusan padanya.
" Lah, katanya mau masuk kelas kenapa masih diam disini sih" Binggung dengan Amel.
" Eee, ia, a.... A.. Ku masuk dulu ya byyy Tio" Ucapnya gugup pada Tio.
" Hmmm, ok".
Amel lalu masuk dalam kelas.
Pagi berganti siang begitupun siang berganti sore. Dimana seorang gadis yg sedari tadi mondar-mandir menunggu seseorang di depan kosannya. Ya, gadis itu adalah Amel yg sedari tadi menunggu kedatangan Tio, namun orang yg dia tunggu tak menampakkan batang hidungnya sama skali. Waktu terus berputar, dimana awalnya mereka janjian jam 3 sore namun sekarang menunjukkan pukul 4 sore. Amel menunggu Tio satu jam lamanya.kedatangan Sinta membuat mood Amel rusak.
" Ya ampun Mel, kamu ngapain sih disitu dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan " Jengkel dengan kelakuan Amel.
" Kamu pikir aku disini lagi ngapain udah tahu malah nanya lagi" Kesal.
" Yaelah,Melon, itu aja sensi bangat lagi pms ya mbak" Mengejek Amel tiada henti.
Amel tak menghiraukan perkataan Sinta yg membuatnya kesal. Setelah beberapa menit pun Tio datang mengendarai motor sport nya.
" Hay,Mel, kamu udah nunggu lama ya" Turun dari atas motornya.
" Eee, ngak kok" Pura-pura tersenyum.
" Yaelah, Melon jujur aja sih kalau kamu dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan menunggu sih timun ini" Menunjuk kearah Tio.
" Maaf ya, Mel, tadi ada kecelakaan di jalan mangga terus menyebabkan kemacetan hingga membuatku datang terlambat " Merasa bersalah.
" Eee, ngak kok,kamu jangan merasa bersalah Tio" Ngak enak hati pada Tio akibat ulah Sinta sahabatnya.
" Yaudah yuk, kita berangkat skarang Tio" Menarik tangan Tio ke menuju ke motornya.
" Hmm".
" Mel, jangan lupa bawa martabak ya buat aku" Teriak Sinta pada Amel yg sudah meninggalkan halaman kosannya.
" Ok" Ucap Amel membalas teriakan Sinta.
Motor sport milik Tio melaju dengan cepat. Setelah beberapa jam , akhirnya mereka sampai di markas band milik Tio. Setelah memarkir motor sport nya, diapun menarik tangan Amel masuk kedalam markas band-nya. Semua pandangan mata tertuju pada mereka berdua. Sih Alex sahabat Tio sekaligus teman band-nya menggoda Tio dan Amel.
" Cieee, sosweet bangat sih datang- datang bawah pacar" Ucap Alex.
" Ya ampun Tio kok ngak kasih tahu kita sih kalau kamu punya pacar secantik ini" Ucap Randy yg menggoda Amel hingga membuat Amel tersipu malu.
" Ya ampun neng, cakep bener,ibu neng dulu pas mengandung neng, ngidam apa sih sampai-sampai ada bidadari secantik neng, turun dari kahyangan " Goda Dimas yg membuat Amel tak bisa menahan malunya.
" Bilang ya cantik kalau kamu udah bosan sama Tio biar abang yg mengantikan posisi Tio di hati sih cantik " Ucap Raka pada Amel namun tatapan tajam Tio membuat mereka bertiga bungkam dan tidak menggoda Amel lagi.
" Ayo, Mel, kamu duduk disini" Ucap Tio menyuruh Amel duduk di tempat yg telah di siapkan dari tadi.
" Makasih Tio" Tersenyum merekah di bibirnya. Tio mematung melihat senyuman Amel di wajahnya membuat jantungnya berdebar sangat kencang.
"Khmm, serasa dunia milik berdua yg lain ngontrak" Ucap Dimas yg menyindir keduanya. Amel hanya cengegesan dengan ucapan Dimas padanya.
Setelah acara gombalan mereka langsung latihan. Tio yg sebagai penyanyi band-nya terus tersenyum pada Amel.
Waktu menunjukkan jam 5 sore akhirnya mereka menyudahi latihan. Tio tanpa persiapan langsung menembak Amel di depan teman grub band-nya.
" Amelia Putri maukah kamu menjadi pacarku sekaligus ibu dari anak-anak ku nanti? " Bersujud di kaki Amel.
" Ayo, Mel, Terima" Ucap Alex.
" Terima aja Mel, biar nanti kita makan gratis" Ucap Raka senang.
" Ia, aku mau kok jadi pacar kamu Tio" Menerima ukuran tangan Tio.
" Ya, hancur deh hati akang neng, melihat neng menerima cinta laki lain" Jawab Dimas dengan Pura-pura bercanda.
Tio tak mengubris perkataan Dimas lalu memeluk Amel dengan bahagia. Begitupun Amel yg sangat lebih bahagia. Amel yg dulunya tak mengenal namanya cinta sekarang dia merasakan cinta yg begitu bahagia. Akhirnya harapan Tio memiliki Amel telah berhasil. Tio dan Amel pun akhirnya hidup bahagia sebagai sepasang kekasih.
# the end#.