Awalnya, aku berpikir dengan memiliki seorang pacar, maka kehidupanku akan berubah bahagia. Setidaknya ada seseorang yang bisa menemaniku untuk jalan di akhir pekan.
Singkat cerita aku bertemu dengan Dani di sebuah coffee shop. Dia adalah sepupu dari sahabatku Dina yang juga teman satu kampus denganku.
Bagiku Dani merupakan orang yang sangat perhatian dalam segala hal. Dia selalu bisa membuat aku tersenyum ketika aku sedang sedih bahkan dia juga selalu ada ketika aku membutuhkannya.
Setiap sifat baik manusia tentu ada sifat buruknya juga. Begitu pun dengan Dani. Meski dia selalu ada buatku, sangat perhatian, dan selalu memanjakan aku, Dani adalah cowok yang sangat over protectif, posesif dan cemburuan.
Dia pun sempat cemburu dengan Irfan, teman sekelasku. Padahal aku dan Irfan tidak pernah menjalin hubungan spesial. Kebetulan saja, aku dan Irfan sedang terlibat dalam satu proyek kampus.
Sifat buruknya itulah yang kadang membuat aku terganggu dan merasa tidak nyaman. Dani mulai posesif ketika hubungan kami menginjak 1 tahun.
Saat itu aku pergi bersama Dina ke toko buku dan aku tak bilang padanya. Pulang dari toko buku aku melihat Dani menungguku di depan kos dan kami pun bertengkar karena masalah sepele tersebut.
Dani selalu punya alasan untuk bersikap posesif kepadaku. Dia selalu beralih ingin melindungi aku dan tidak ingin suatu hal buruk terjadi padaku.
"Ini demi kamu, karena aku sayang kamu," kalimat itulah yang selalu dia lontarkan kepadaku ketika kami sedang berdebat kusir.
Awalnya aku masih merasa enjoy setiap nongkrong bersama Dina dan Dani. Memang, kami sering nongkrong bareng di tengah-tengah padatnya jadwal kuliah dan tugas dari dosen.
Namun, aku mulai terganggu ketika Dani mulai mencampuri kehidupanku di kampus di luar pertemanannku dengan Dina.
Malam itu menjadi malam minggu kelabu bagiku. Sebelum aku bertengkar dengan Dani, sore hari aku memang ada agenda di kampus untuk mengerjakan tugas kelompok dengan teman-temanku.
Saking sibuknya bahkan aku pun tidak menghiraukan pesan singkat yang dikirimkannya kepadaku dan aku hanya memberinya kabar jika sedang berada di kampus untuk mengerjakan tugas kelompok.
Saat aku pulang ke kos, Dani sudah menungguku dengan muka masam. Padahal aku sudah mulai girang melihat mobilnya berada di depan gerbang kos.
Namun, saat aku Lelah dengan tugas kampus dia malah menyambutku dengan sejumlah pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan.
"Kamu dari mana? Sama siapa aja di kampus? Kenapa tidak membalas pesanku? Kenapa tidak memberi kabar lagi? Bla..bla..bla," ujarnya.
Dengan kondisi yang sangat capek aku malas menjawab pertanyaan tidak penting tersebut. Aku hanya menjawab kalau sedang mengerjakan tugas di kampus.
"Kamu tidak menghargai aku ya? Ditanya apa jawabnya apa?" katanya dengan nada tinggi.
"Dani, aku capek, aku tidak mau berdebat malam ini," jawabku dengan nada lemas.
"Oke mulai sekarang kamu harus selalu laporan setiap kegiatan kamu di kampus. Jadi kalau ada kegiatan di kampus aku tahu dan bisa ikut nemenin," Dani mulai membuat aturan main sendiri.
"Dani, ini nggak adil buatku!" tegasku.
"Semua ini demi kebaikan kamu dan karena aku sayang sama kamu," kalimat pamungkasnnya pun diutarakan lagi dan lagi.
Bahkan sikap posesifnya ini pun sudah menjadi rahasia umum di kampus. Teman-temanku sering kali menggunjingku lantaran sikap Dani yang keterlaluan. Aku jadi tidak bisa leluasa untuk melakukan kegiatan pribadiku.
Saat hubungan kami berjalan dua tahun, aku memilih untuk menyudahi hubungan tersebut. Alasannya simpel, aku ingin fokus dengan skripsi karena mengejar target lulus 3,5 tahun.
Sementara aku tidak bisa leluasa untuk mengerjakan kegiatan pribadiku termasuk kegiatan di kampus.