Drrttt...drrttt..(panggilan tak terjawab dari nomor yang sudah tersimpan di kontak hp-ku)
Suara getaran dari benda pipih yang berada di atas nakas berhasil membuatku terbangun dari tidurku malam itu.Ku periksa riwayat panggilan di telpon genggamku. Sebuah nama yang beberapa hari lalu membuatku penasaran untuk mencari tahu jati diri orang seseorang. Ya..dia adalah laki-laki yang membuat jantungku berdebar tak menentu setiap kali sahabatku membicarakannya. Seseorang dari masa lalu.
💬 Ya..ada apa?(ku coba mengirimkan pesan singkat)
Tak ada respon dari seberang sana. Akupun memilih untuk melanjutkan tidurku . Sebab waktu masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Suara adzan subuh terdengar jelas di pendengaranku. "Hoaaammmm.... eemmmmhhhh!" Ku rentangkan tanganku mencoba merenggangkan otot-otot di tubuhku. Ku paksa tubuhku bangun dan duduk sejenak untuk mengumpulkan kesadaranku. Perlahan turun dari ranjang ternyamanku, berjalan keluar kamar menuju kamar mandi di sebelah dapur. Untuk membersihkan tubukku dan bersiap-siap berangkat kerja.
Tak ada orang tua ataupun saudara yang menemani sarapanku pagi ini. Sebab sudah setahun ini aku tinggal sendiri. Rumah minimalis yang sengaja disiapkan oleh ayahku, agar aku bisa belajar hidup mandiri. Ku lihat jam di hp menjnjukkan angka 07.30. Waktunya meninggalkan rumah untuk mengais rejeki. Dengan mengendarai motor beat yang ku beli dengan uangku sendiri. Ya.. dari jaman sekolah menengah kejuruan aku sudah terbiasa bekerja paruh waktu di sebuah wedding organizer. Lumayanlah..dari situ aku bisa menabung sedikit demi sedikit. Dan begitu aku lulus, uang tabunganku cukup untuk membeli 1 unit motor dengan atas namaku sendiri. Betapa terharunya diriku, orang tua juga merasa bangga atas pencapaianku.
💬 Nanti sepulang kerja kita ketemu yukk! ( Sebuah pesan masuk )
💬 Di mana? ( Jawabku singkat )
Sebab masih jam kerja, tidak enak dengan yang lain kalau sampai ketahuan main hp.
💬 Nanti aku share tempatnya. Sampai ketemu nanti ya..( aku pun mematikan lagi hp-ku setelah ku baca pesan itu tanpa membalasnya )
Jam 16.00 waktunya pulang kerja. Sesuai kesepakatan akupun on the way ke sebuah cafe, yang sebelumnya dia kirimkan lewat whatsApp. Tampak seseorang sudah duduk di pojokan. Meja yang biasa kami pilih saat janjian ketemu.
"Hai, sudah lama?' sapaku berbasa-basi mengawali pertemuan.
"Belum kok. Baru juga duduk.." jawabnya dengan disertai senyuman. Senyuman yang membuatku terpesona saat awal dulu bertemu.
"Duduklah! Jangan berdiri terus seperti tiang bendera.." titahnya disertai gelak tawa renyah yang seketika membuatku terpana. Dan terhanyut dalam lamunan yang melambungkan anganku.
"Heeyyy...hallooo. Kenapa malah bengong.sih?" Astaga...betapa malunya diri ini.
"Ehh..gak apa-apa kok. Ma'af ma'af.." berusaha mengusir rasa gugupku. Meskipun kenyataannya sulit. Akupun memilih untuk duduk. Dan mencoba mengatur degup jantungku yang seperti genderang perang.
"Mau pesan apa?" Jono bertanya padaku. Sebab aku tak kunjung membuat pesanan.
"Oh..akuu..Pancong Coklat Susu Keju. Minumnya wedang jahe saja."
"Oke..aku Risol Mayo, minumnya es teh saja. Mas!" Jono memanggil pegawai cafe yang berada tak jauh dari kami untuk memberitahu pesanan kami.
"Rin, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu. Sebenarnya, aku ingin minta tolong sesuatu." Akupun dibuat penasaran dengan apa yang dikatakannya. Tapi aku hanya diam menunggu. Tak ingin bertanya.
"Aku ingin memberikan surprise untuk susan. Hari Minggu besok kan dia ulang tahun. Aku ingin memperjelas statusku. Aku pengen nembak dia." Duarrr...rasanya bagai tersambar petir di siang bolong. Tak ada angin tak ada hujan. Apa yang aku pikirkan ternyata salah. Yang sebelumnya ku pikir Jono akan menyatakan perasaan padaku...salah. Aku hanya jadi pemeran pembantu. Bukan bintang utama.
"Rin...heyy...kenapa dengan kamu?" Ucapan Jono sukses menarikku dari alam bawah sadarku.
"Ahh gak...gak kenapa-kenapa kok. Btw seperti apa konsep yang kamu inginkan untuk momen spesialmu nanti?" Kucoba menahan segala lara di dada. Aku harus kuat menghadapi kenyataan ini
Setelah sepakat dengan konsep yang Jono inginkan. Kami pun mengakhiri pertemuan dan pulang ke arah yang berbeda. Rumah Jono berlawanan arah dengan rumahku.
Aku mengendarai motorku dengan pikiran yang tidak menentu. Rasanya seperti ditarik paksa dari arena pertempuran sebelum sempat bertarung. Dipaksa mengalah sebelum berjuang. Oh my God! Apa yang sudah kupikirkan? Untuk apa meratapi nasib? Ini kan hanya persoalan kecil. Bukan sesuatu yang menyangkut hidup dan mati.
Sudahlah...mungkin memang belum waktunya untukku menjalin hubungan serius dengan lawan jenis. Masih banyak mimpi yang ingin ku kejar. Sekarang aku menyerah. Bukan berarti tak ada keinginan. Tapi ada yang lebih penting dari sekedar urusan asmara. Suatu saat pasti akan dipertemukan dengan orang yang tepat.
"Hhmmmmhhhhhh....SEMANGAATTT!!! JANGAN CEMEN!!! HARUS KUAT!!! KAMU HEBAT!!! HANYA KAU TAK DIDENGAR 🎤🎤🎤"
Kota Pelajar. September ceria.