Saat itu, di dalam ruangan yang gelap dan sepi aku terdiam dalam buaian rintik hujan dengan gemuruh petir penghiasnya. Menyaksikan pesan singkat dari layar persegi panjang itu, pesan yang terasa pahit dan dan sakit.
Andai saja itu hanya mimpi, aku berharap agar segera bangun dari mimpi terburuk itu. Andai saja itu hanya khayalan, aku tak ingin berkhayal hal seburuk itu.
Sekali lagi ku saksikan pesan itu, berharap aku hanya salah baca. Namun itu semua memang benar walau sudah seribu kali ku baca
Tak terasa, bulir air mata perlahan membanjiri pipiku, dada terasa begitu sesak untuk menjelaskan nya melalui sebuah kata-kata.
Bersama hujan dari sang loka, kesedihan itu tak mampu dijelaskan, bahkan sastra pun tak mampu menyatakan dalam diksinya.
Aku menarik nafas panjang, berusaha menghentikan tangis ini, memberanikan diri menekan tombol telepon di layar persegi itu. Satu nomor ku hubungi untuk memastikan kabar tersebut.
Tuutt.. tuttt..
Telepon tersambung. "Assalamualaikum, bude?" Ucapku pada orang di seberang, dia adalah ibu dari aksa, orang yang ingin ku pastikan kabarnya itu.
"Wa'alaikum salam, ndok. Gimana kabarmu disana?" Tanya bude rahma dengan ramah namun dalam kata-katanya seolah menahan sesuatu. (Nama orang ibu Aksa.)
Mataku kembali panas, menahan gejolak air mata. "Alhamdulillah baik bude, aksa gimana, dia sehatkan bude?" Tanyaku dengan bergetar.
"Niki pon kehendak e tuhan, kudu akeh-akeh ikhlas lan sabar. Insyaallah Aksa bahagia di sana." Ucap bude rahma dengan tenang.
"Bude, Aksa!" Tak lagi bisa ku bendung derai air mata ini, terlanjur terlalu sakit untuk selalu terlihat kuat.
Bude diam sejenak mendengar ku menangis. "Sabar ndok, sabar.." ujar bude rahma dari balik telepon seolah menenangkan aku. Padahal tak tahu bagaimana perasaannya karena dia lah wanita yang melahirkannya, orang yang membesarkan dirinya sedari kecil.
"Ngapunten bude, ngapunten kulo mboten saget mriku." ujar ku di sela-sela tangis.
"Ndak papa ndok, bude ngerti. Pon pean dungakno saka mriku mawon." Ujar bude rahma dengan sabar dan tenang.
"Enggeh bude." Aku menyeka air mataku, rasanya sedikit lega dan tenang setelah menelepon bude rahma.
aku terlelap dan tidur saking sedihnya untuk beberapa saat hingga hari menunjukkan tengah malam.
Sayup-sayup kelopak mataku terbuka, ku lihat sekeliling ruangan yang tampak sunyi itu, aku berdiri kemudian melangkahkan kaki menuju kamar mandi tuk mengambil sejumput air wudhu.
Ku gelar sajadah, ku pakai mukenah yang menutupi hampir seluruh tubuhku, aku mulai melaksanakan kegiatan yang biasa dilaksanakan orang Islam.
Setelah sholat aku berdoa, berharap ketenangan untuknya, dilapangkan kuburnya, aku juga meminta maaf pada tuhan karena tak bisa hadir di pemakaman Aksa, padahal dia sangat akrab denganku selama hidupnya.
Tak lupa aku selalu mengiriminya bacaan surah yasin dan doa-doa lainnya setiap malam hingga 7 hari meninggalnya.
"Amiin" ku akhiri doa malam ini dengan mengusap kedua telapak tangan ku ke wajah.
***********
Sudah Satu tahun berlalu setelah meninggal nya Aksa, kini aku bisa menerima kepergiannya.
Hari ini adalah kesempatan ku untuk pergi ke kampung nenek ku, tentunya juga kesempatan untuk ziarah ke makam Aksa.
Aku berangkat bersama kakak ku, kami janji bertemu di terminal mojokerto. Kakak ku bekerja di Surabaya dan aku berada di Pacet mojokerto.
Aku berangkat di antar ayah waktu itu, dia menemaniku menunggu sampai kakak datang menjemput aku. Satu dua jam berlalu, kakak tak kunjung datang, membuat aku khawatir dan juga kesal. Bagaimana tidak, dia sudah telat berjam-jam.
"Aahh" aku menarik nafas panjang, cahaya mentari begitu terik, keringat bercucuran dan rasanya sudah lelah.
"Pulang saja, bagaimana?" Tawar ayah padaku, dia kasihan melihat ku kepanasan seperti ini.
"Tidak." Aku tetap bersikukuh menunggu kakak datang.
Ayah pasrah, dia tak memaksaku. "Tiinn tiinn" suara klakson mobil itu membuyarkan lamunanku. Nampak disana sebuah minibus berwarna putih dan di salah satu jendelanya kakak melambai-lambai memanggil ku.
"Itu kakak mu!" Ayah berseru, dia berdiri mengangkat tasku lalu pergi mendekat ke minibus itu.
Aku mengikuti ayah dari belakang. Sebelum pergi aku berpamitan pada ayah lalu menaiki minibus dan duduk di samping kakak.
Dari arah jendela, ku lihat ayah masih berdiri di seberang jalan sambil menatap kepergian minibus yang ku tumpangi.
Dalam perjalanan panjang yang ku tempuh tak lupa aku menanyakan alasan mengapa kakak datang terlambat.
"Bukan kakak yang terlambat tapi busnya yang datang telat." Ucap kakak mencari alasan.
"Hemm" aku berdehem, berusaha percaya pada kata-kata kakak.
Lima jam berlalu, akhirnya aku dan kakak sampai di rumah kami di kampung.
Rumah bernuansa putih dengan halaman rumput yang luas adalah rumah nenek kami. Ketika datang nenek menyambut kami dengan ramah, nenek langsung mempersilahkan kami duduk dan menyuguhi kami teh hangat dan gorengan.
"Huum sungguh enak" gumamku sembari menikmati gorengan buatan nenek.
Kehangatan kasih sayang nenek sungguh jarang kami rasakan, dan saat ini rasanya ingin sekali ku abadikan, karena walaupun sederhana namun terselip sejuta kasih sayang di dalamnya.
Mentari tampak menghilang di ganti dengan sang rembulan malam, setelah perjalanan jauh tadi aku dan kakak beristirahat di kamar masing-masing. Tak butuh waktu lama, aku sudah tidur saja.
************
Sinar mentari terlihat cerah, kicauan burung menghiasi pagi yang indah ini. Aku bersiap membersihkan diri lalu pergi ke rumah bude rahma untuk berkunjung.
Rumah bude rahma tak jauh dari rumah nenek, hanya berjarak beberapa rumah.
Sesampainya disana. Aku disambut begitu hangat oleh keluarganya. Namun, berbeda. Tak ada suara lelaki kocak yang menyambut di rumah ini seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Temenin aku ke makam Aksa, bude." Pintaku pada bude Rahma.
"He em. Siap-siap dulu ya, ndok." Bude pamit ke kamar tuk berganti pakaian.
Tak berselang lama bude kembali dengan pakaian syar'i kemudian kami berdua pergi makam menggunakan sepeda motor.
"Yang mana bude?" Aku melihat banyak makam tanpa nama. Sungguh miris. Bagaimana jika keluarganya tak mengenali si pemilik makam.
"Yang ini" bude menunjuk pada sebuah makam yang terlihat masih baru.
Aku sedikit berjongkok di samping makam. Menatap sejenak nama yang tertera di batu nisan tersebut. Nama seorang sahabat yang paling ku cintai. Ah, masih tak menyangka dan terasa bagai mimpi.
Bulir-bulir bening mulai berjatuhan dari kelopak mataku, dengan getir tanganku mulai membelai nisan tertulis nama sahabat ku itu. "Aku rindu" ku pejamkan mata sambil membaca beberapa doa lalu ku tatap lagi nisan tersebut. "Kita ketemu lagi. Padahal dulu kamu janji akan ajak aku keliling kota tahun ini. Gak jadi ya?" Ujarku lirih dengan lesu.
Bude Rahma hanya diam melihat aku, dia paham sekali bagaimana perasaan ku. Tak ingin mengganggu. "Pamitan ndok" pinta bude padaku, baginya tak bagus jika terlalu lama di makam.
aku hanya mengangguk kecil. "Aku mau balik lagi ya. Kamu baik-baik aja. Nanti kapan-kapan aku main lagi kesini." Aku tersenyum getir berdiri lalu pergi.