Mempunyai nasib buruk tak pernah ku bayangkan sebelumnya, bahkan hidup sebatang kara tak pernah ada dalam tulisan kehidupanku, aku menjadi seperti sekarang pun bukan keinginanku, lalu bagaimana cara aku bertahan?
Memijakkan kaki saja rasanya tak kuasa menahan perih, apalagi melihat secara terang terangan di tepi danau sana , orang-orang yang menikmati hidupnya dengan penuh kebahagian tanpa ada mimpi buruk yang menghantui.
Sedangkan aku??
Ya, aku masih duduk termenung dikursi cat warna putih, persis dibawah pohon rindang yang sejuk dengan angin yang bertebaran disisiku yang ingin memaksa mataku tertutup sejenak melupakan gundah dihatiku.
Tuhan, bisakah aku mendapat sosok pelindungku?, atau setidaknya penenang hati ini? kataku sambil menutup mata dan memohon.
Jika tidak, maka bisakah aku mati sekarang? (isak tangis terdengar dan tak terasa air luluh membasahi pipiku.
hujan datang tanpa aba-aba seperti sengaja mengeroyokku .aku bagaikan terkepung akibat ulah jahat yang sekan telah kulakukan.
Rasanya seketika dada ini sesak, melihat hujan pun tak berpihak kepadaku, tapi aku merasa beruntung setidaknya orang yang sedang berbahagia itu tak bisa melihat kesedihanku.
aku meninggalkan tempat saat itu juga, dan mencari sosok yang kuharap dapat menjadi pelindungku,walau rasanya tak mungkin, namun kaki ini masih ingin terus berlari.
Bruk.... Tubuhku terhuyung lemas tak berdaya akibat kaki yang tak sengaja meluncur tanpa haluan,membuat keberadaanku tertimbun genangan air kotor,dan bau ini,sungguh sial diriku....
Uluran tangan siapa ini?,apa maksud dari ulurannya?apakah dia ingin meminta sumbangan atau kah hendak menamparku? Pikirku dalam hati..
tanpa pikir panjang akhirnya kuhadapkan wajahku keatas tepat keberadaan sosok dibalik cahaya yang begitu menyilaukan tanda hujan telah menghilang entah kemana.
Seketika aku terkaget melihat senyumnya semanis buah kurma yang sering disajikan pak saleh ketika pengajian dirumahnya.
Tanpa basa -basi aku menerima uluran tangannya, dan saat aku hendak menanyakan maksud keberadaannya, ia lebih dulu membuka pembahasan pertemuan tak sengaja kami ini.
Hai.. Mengapa kamu bisa terjatuh? dan mengapa kamu berlari dari sana tanpa melihat orang disekelilingmu? Sepertinya kamu bersedih.. Apakah kamu hanya seorang diri?
Mendengar pertanyaan itu hatiku berdebar-debar, entah darimana orang ini dapat mengetahui apa yang kualami. Apakah ia sedang memata-mataiku sejak tadi ataukah dia?????
Ah tidak mungkin ,pikirku..
Hey... Kenapa kamu diam saja dan melamun?
Hey... (Sambil melambaikan tangan tepat didepan wajahku)
a-awas ...
Bruk...
Akibat mobil melintas tak tau aturan, hampir saja menabrak diriku yang sedang melamun...
Wah seketika itu jantungku sepertinya mau copot, untung saja sosok ini menyelamatkanku dengan lihai, tubuhku berhasil didalam dekapannya, namun jantung ini sepertinya tidak aman...
Ya Tuhan aku sangat salting dipandangnya.... Tapi entah mengapa aku nyaman berada dalam dekapannya dan ingin terus seperti ini.. hanya seperti ini...
kamu tidak apa-apa? Tanyanya
Seketika aku tersadar dan terpaksa mundur untuk keluar dari dekapannya, bagaimanapun juga dia sosok yang baru saja datang, kenal saja tidak, rasanya tidak pantas aku mempunyai rasa senyaman ini.
Hmm, iya aku tidak apa-apa, terimakasih sudah menyelamatkanku, padahal kita tidak saling kenal, kataku
Belum saling kenal bukan berarti tidak bisa menolong kan?, ohiya aku dimas, aku tadi tak sengaja melihatmu dari ujung sana berlari dan sampai terjatuh sepertinya kamu sedang bersedih jadi aku menghampiriku..
Deg... Deg.. Detak jantung ini seperti mau copot mendengar pernyataannya.
Kenalkan aku Chintya, terimakasih sekali lagi sudah menolongku...,ucapku sambil gemetar
Kamu sepertinya kedinginan, bajumu basah semua, apakah kamu ingin saya antar pulang? Tawarnya
Tidak perlu , saya tidak ingin pulang, dimanapun saya berada akan sama rasanya seperti ini, tetap sendiri... Jawabku sambil menunduk
Hmm kalau begitu, tunggu sebentar..
Ia berjalan kearah mobil putih dan mengambil sebuah paperbag berukuran sedang dan kembali menghampiriku..
Ini baju untuk kamu, silakan ganti diwc umum, agar kamu tidak masuk angin..
Ah tidak usah repot repot kataku, sambil menolak paperbag yang ia berikan..
Tidak merepotkan, ambil saja , tak baik menolak pemberian orang lain..
Dengan pasrah aku menerimanya dan lekas mengganti bajuku diwc umum yang kebetulan berada di sekitar taman .
Ketika selesai mengganti baju, aku menghampirinya, dan ia kembali memaksaku ikut dengannya untuk menyantap bakso gerobak yang berada tidak jauh dari keberadaan kami.
Aku pun bersama dengannya menyantap bakso yang di lengkapi kuah panas memberi kehangatan pada tubuhku, sambil menikmati perhatiannya yang dikemas begitu indah berhasil menjebol hatiku....
Aku merasa sangat bahagia...
Terimakasih Tuhan telah mengirimkan sosok pelindung sekaligus pendengar keluh kesah ku saat ini....
Tiba-tiba
Mbak... Mbak.. Bangun mba...
Aku pun terkaget , bangun dan melihat sekelilingku... Hanya ada pak satpam yang sedang membangunkanku...
Sepertinya mba kelelahan sekali hingga tidur pulas dikursi ini, maaf mba taman ini sudah sepi dan hendak tutup, saya sekarang mau pulang, untung saja saya lihat mba disini... Kalau tidak bisa bisa mba sampai malam di sini... (Kata penjaga taman itu)
Aku merasa syok mendengar pernyataan itu, aku tersadar aku ternyata hanya mimpi.... Ternyata sosok yang menjadi pelindungku tidak lah nyata..... Huft aku kesal dan terpaksa meninggalkan taman tanpa sepatah kata pun...