Dia biasanya menungguku disini...
Namun sekarang tak ada. Ia tak yang menunggu di depan gerbang atau di depan kelas jika bel pulang telah berdering. Tak ada siapapun.
Mungkin ia pulang duluan karena ada suatu hal...
Gadis yang duduk di bangku kelas dua belas itu melanjutkan langkahnya menuju gerbang keluar. Berharap menemukannya disana, namun nihil.
Dia benar-benar sudah pergi...
Gadis itu merasakan kesepian di dalam hatinya. Ia sudah terbiasa berjalan kaki pulang bersama
orang yang seharusnya menunggunya, namun sekarang tak ada.
Ia menghela napas. Lalu berjalan kaki sendirian.
Sembari membayangkan Ia berjalan bersamanya yang pergi duluan.
°°°°°°
Pedagang ini...
Jika Ia ada, Gadis itu dan Dia pasti berhenti di pedagang es cincau di pinggir jalan. Mereka berdua berjalan kaki menempuh sejauh dua kilometer dari rumah ke sekolah. Membuat mereka lelah di tengah jalan. Namun, pedagang kaki lima inilah yang menjadi penyelamat di tengah kelelahan itu.
"Eh, Neng Karli, sini dulu ayok. Berhenti dulu disini, cuacanya panas. Bapak buatin Eneng Es cincau spesial"
Cassiopeia Qarly, yang tengah menatap gerobak pedagang itu terhentak dari lamunannya. Ia sama sekali tak berniat mampir. Hanya ingin menatap gerobak itu.
Pedagang itu sebenarnya suami istri. Namun yang berdagang hanya salah satu, sangat jarang mereka berdagang berdua seperti sekarang ini. Tampaknya pembeli pun cukup ramai, karena lima meja yang berisi tiga kursi itu, empat diantaranya terisi penuh.
Namun bukan keramaian yang Qarly perhatikan. Selain memperhatikan gerobak itu, Ia lebih memperhatikan Pedagang Es Cincau suami istri itu. Mereka mengingatkannya pada dirinya sendiri dan Dia.
"Ayo, Neng. Jangan berdiri aja. Panas"
Istri pedagang es cincau itu menarik tangan
Qarly dan mendudukannya di bangku yang masih kosong. Lalu semangkuk es cincau pun datang tanpa Qarly pesan.
Gadis itu menatap si Ibu, "tapi, Bu. Saya--"
"Eh, udah! Ini gratis buat Eneng Qarly. Cepet sembuh ya, Neng." Ucapnya sembari mengusap lembut puncak kepala Qarly. Gadis itu menunduk dan menatap es cincau di hadapannya.
Kalau saja Dia tak pergi, Dia pasti disini, kan?
Qarly mendesah lagi.
Sudahlah, Qarly. Hanya hari ini...
Dia menatap Ibu itu, lalu memaksakan senyum. "Bu, Saya memiliki banyak tugas dari sekolah hari ini. Terima kasih banyak atas minumannya. Boleh di kemas aja, Bu? Saya akan nikmati di rumah nanti"
"Boleh, Neng. Bapak! Minta kap-nya, Pak" teriak si istri pedagang itu kepada suaminya.
"Iya, Bu. Sebentar" Si Bapak menyerahkan sebuah kantong plastik ke pembeli. Lalu mengambil apa yang diminta Si Ibu dan menyerahkannya.
"Maaf merepotkan, Bu"
"Ah, Eneng. Bahasanya biasa aja, Neng. Gak perlu terlalu kaku gitu."
"Kamu unik, Cassie. Kamu gak bisa bahasa gaul?"
Sontak Gadis itu menoleh, berharap melihat Dia. Namun tak ada.
Apa itu hanya perasaannya saja?
°°°°°°
Meski matanya tertuju pada buku pelajaran. Pikirannya memutar ulang saat-saat Gadis itu dan Dia belajar bersama di kamar ini, berdua. Orang tua mereka tak mengkhawatirkan kedua anaknya yang berada di kamar dengan pintu tertutup. Mereka percaya pada anaknya, Qarly dan Dia memegang kepercayaan itu.
Tapi Qarly kini sendirian. Dia sedang tak ada. Akhirnya Qarly memutuskan belajar sendiri tanpanya. Hari-hari yang Gadis itu biasa lalui dengan Dia menjadi sangat berbeda hanya di satu hari tanpanya.
Qarly menyerah. Ia sama sekali tak fokus. Dia menenggelamkan kepala di kedua tangannya.
Sebenarnya Dia kemana?
Sepulang sekolah, Gadis itu datang ke rumah Dia. Namun hanya Ibunya yang ia temui. Qarly menanyakan dimana Dia. Namun Ibu itu hanya
diam, menatap Qarly sendu. Lalu mengusap puncak kepala Qarly.
"Dia Pergi"
"Kapan Dia kembali?"
"Cassie..., Dia memanggil Kamu Cassie, Kan?"
Qarly menagngguk. Hanya Dia lah yang memanggilnya dengan nama berbeda. Dia memanggil Qarly dengan Cassie dari nama depannya, Cassiopeia.
"Kalo nanti Aku punya anak nanti, Aku bakalan kasih Dia nama Andromeda. Mau cewek atau cowok"
"Kenapa?"
"Karena Ibunya kamu"
"Dia mencintai kamu, Nak"
Qarly mengerjap. Jelas tak menduga kalimat itu.
"Ibu punya satu permintaan" Ibu itu menggenggam tangan Qarly erat, menatap langsung ke mata Qarly. Menunjukkan kesungguhannya."Tolong, Lepaskanlah Dia, lepaskan anakku"
Qarly sama sekali tak paham.
Qarly melihat manik Ibu itu berkaca-kaca,"Lepaskanlah..."
Lepaskan Dia, bagaimana bisa? Siapa memangnya yang mengurungnya?
°°°°°°°
Qarly mengerjap.
Perlahan, Gadis itu membuka matanya. Realita yang buram mulai terlihat jelas. Qarly menatap ke sekeliling di ruangan asing itu.
Qarly beringsut duduk. Jelas ini bukan kamarnya. Namun kamar itu terasa familiar.
Qarly turun dari tempat tidur. Kakinya menuntun Ia ke sebuah cermin besar yang tersandar di dinding. Gadis itu melihat bayangannnya sendiri disana.
Ia mengenakan gaun selutut. Berwarna putih yang melekuk pinggang, membuatnya tampak anggun. Rambut hitam sepinggangnya tergerai dengan bebas.
Qarly melangkah ke pintu keluar yang terbuka.
Ia berada di sebuah lorong. Disebelah kanan, lorong panjang itu mengarah ke kegelapan dengan pintu di sisi kiri-kananya. Di sebelah kiri, lorong itu mengarah ke sebuah ruangan yang
terang.
Qarly melangkahkan kaki ke sana. Ruangan yang Ia lihat tampak seperti ruang keluarga. Di pojok sebelah kiri, terdapat dua kursi kayu yang berhadapan tanpa meja. Di dinding di tengahnya, ada sebuah jendela yang terbuka dengan gorden putih, membuat angin mengayunkan pelan gorden itu. Di pojok sebelah kanannya, terdapat sebuah piano tua berwarna putih namun bersih, seperti ada kehidupan di rumah ini. Lalu di sisi agak jauh dari piano itu, terdapat satu rak yang penuh dengan buku-buku.
Lalu di tengah semua itu, Cassiopeia Qarly mengarahkan pandangannya ke depan. Pandangannya jatuh pada sosok manusia yang berdiri membelakanginya. Ia harus memastikan terlebih dahulu, namun intuisi dan penglihatannya tak mungkin salah.
Dia...
Qarly membeku. Sosok itu lalu membalikkan diri lalu tersenyum. Di tangannya terdapat sebuah buku yang Ia tutup.
"Halo, Cassie"
Qarly diam, terpana.
Dia melangkah mendekati Qarly. Lalu melentangkan tangannya di depan Gadis itu.
"Ayo ikut Aku"
Qarly sama sekali tak berkedip. Ia terhipnotis dengan sosok dihadapannya. Tanpa sadar, Ia menerima uluran tangan itu. Lalu mengikuti Dia yang yang selama ini selalu bersamanya. Sekarang, gadis itu sadar bahwa hanya Dialah cahaya di tengah kesuraman hidup Qarly. Hanya sosoknya lah yang mengerti Qarly sepenuhnya. Tanpa Dia, Qarly hanya ada, namun tak hidup.
Qarly mempererat genggamannya. Tersenyum dan tertawa sepenuhnya bersama Dia yang kini membuatnya berjalan semakin cepat. Hanya Dia yang bisa membuatnya terbuka sepenuhnya dan menjadi dirinya sendiri.
"Aku hanya ingin mengikutimu"
Ya, Qarly tak mau kehilangan satu-satunya titik cahaya yang seharusnya sudah menghilang itu.
°°°°°°°
Pagi itu begitu cerah, mentari menjatuhkan sinarnya ke pada bumi. Burung-burung berkicau dan beterbangan riang, dedaunan masih bermandikan embun, suasana sejuk pun ikut menyempurnakan semuanya.
Namun, keadaan pagi itu seakan mengejek mereka yang berduka cita. Seakan alam tak peduli pada mereka yang bersusah hati. Pada
orang-orang yang mengerubuni sebuah lubang dengan pakaian yang serba hitam.
Padahal baru sehari dari upacara pemakaman. Sekarang, daerah itu harus mengadakan upacara pengalaman lagi. Dan kuburannya juga dibuat di samping pemakaman yang baru, membuat mereka berdampingan.
Dua-duanya masih muda, remaja lebih tepatnya. Mereka bersahabat, setidaknya itulah yang terlihat. Mereka berdua juga tak terpisahkan. Begitu tak terpisahkannya, mereka pun seakan harus meninggalkan Dunia bersama. Dua nisan itu bertuliskan:
Aristama Altair bin Aldo Altair
Lahir: 22 Agustus 2004
Wafat: 20 Mei 2021
Cassiopeia Qarly binti Bambang Rianna
Lahir: 17 April 2005
Wafat: 22 Mei 2021
Aristama Altair meninggal karena kecelakaan. Dan Cassiopeia Qarly meninggal tanpa penyebab. Waktu meninggal mereka yang berdekatan membuat dua keluarga itu dirundung duka yang ditanggung bersama.
Setidaknya, tak ada yang kehilangan cahaya di hidupnya. Karena Ia sendiri telah berjalan bersama cahaya itu. Tak ada yang merasa berjalan sendirian di bumi ini.
Tak ada yang melepaskan, mereka berdua terlanjur terikat, seperti panas dan api. Jika api dan baranya padam, maka panasnya pun hilang.