Aku dan Andra sebenarnya telah mengenal dari tiga bulan yang lalu. Ceritanya berawal dari foto yang ku posting di Facebook ku. Saat itu postingan FB ku memang belum privasi, jadi masih bebas semua orang memberi like bahkan mengomentari postinganku.
Salah satu yang berkomentar adalah seseorang yang akhirnya ku kenal dengan nama Andra ini.
Postingan yang ku maksud adalah postingan foto saat aku naik di atas pohon lalu di potret oleh Yanti. Lalu ku jadikan foto profilku.
Andra mengomentari ku seperti seekor monyet di foto itu. Dari situlah awalnya dia mengomentari hal-hal lainnya dari Facebook milikku.
Dia berkomentar kenapa aku selalu cuek ketika membalas pesannya. Kenapa aku terlihat judes dan kasar juga padanya. Aku yang saat itu merasa itu hal yang wajar saja hanya tetap berprilaku apa adanya sesuai keinginanku.
Entah dari sikapku yang demikian ternyata dia tetap tak menyerah dan tetap intens mendekatiku. Kebetulan juga saat itu aku sedang jomblo setelah dua bulan yang lalu aku putus dari pacar pertamaku.
Dari berkomentar dan saling berbalas pesan di FB Andra pun meminta nomer hp ku agar mudah untuk menghubungiku. Karena kebetulan saat itu aku hanya bisa bermain Facebook melalui warnet atau komputer sekolahan kadang juga hasil pinjam laptop milik temanku.
•••••
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" tutup pak Samsul mengakhiri ekstra kurikuler BDI.
Kami berakhir tepat setelah kami menjalankan ibadah sholat ashar yang harus kami kerjakan juga di mushola sekolah. Setelah merapikan mukenah, segera ku ambil hp dari dalam tas.
" Guys gue di ajak pulang bareng sama Andra. Gimana nih?" Tanyaku pada teman segrup ku.
" Udah you sikat aja" sahut Amel dengan semangat.
Melihatku masih ragu-ragu tapi malu-malu kucing. Teman-temanku yang lainnya pun akhirnya menyemangati ku dan mereka mendukung agar mau di antar pulang dengan Andra.
"Udah cepet SMS dia den kalau lu mau" ucap Dini sembari menyenggol ku dengan badan besarnya.
" Apa gue aja yang pulang sama si Andra nih kalau lu gak mau hahahaha" celetuk Linda menggodaku.
"Ahh lu lama, buruan mumpung dia masih sholat tuh" ucap Yanti setelah mengintip si Andra dari balik tirai saf perempuan.
Setelah mendapat dukungan dari teman-temanku, aku pun memberanikan diri untuk membalas pesan Andra. "Iya aku mau pulang sama kamu"
Setelah ku pikir-pikir mengenalnya selama tiga bulan hanya dari sosial media dan via handphone ku rasa cukup, ini lah saatnya aku mengenal si Andra secara lebih dekat dan nyata.
Aku sangat gugup saat itu menunggu balasan dari si Andra. Namun, untungnya ada teman-temanku yang setia menemaniku. Kami duduk-duduk di taman sebelah mushola untuk menunggu lanjutan SMS si Andra.
Selang beberapa saat ponselku pun bergetar, ku lihat nama si Andra berupaya meneleponku. Rasanya hatiku di penuhi bintang, bunga, kupu-kupu yang bertabrakan jadi satu.
" Aduh gimana nih dia telpun nih" ucapku panik sambil memperlihatkan layar ponselku pada teman segrup ku.
"Udah buruan angkat aja" ucap Amel sambil menekan tombol telpun hijau dari hp Nokia poli ponik ku
"Ha...haalloo Assalamualaikum" ucapku terbata-bata"
Linda lalu memencet tombol loudspeaker di hapeku sehingga mereka semua bisa mendengarnya.
" Kamu di mana sekarang den?" Tanya Andra padaku pelan.
" Aku masih di sekolah kok" ucapku malu- malu.
"Aku tunggu di parkiran belakang ya den, udah aku matiin teleponnya ya. Aku tunggu loh ya... Assalamualaikum den.." ucapnya terdengar semangat lalu panggilannya di tutup.
"Cieeeeeeee...cieeee Dena" Seru teman-temanku serempak menggodaku
"Udah pergi cepet den di tunggu sama pangeran berkuda Supra tuh di parkiran" celetuk Yanti kegirangan.
Mereka pun tak mau ketinggalan, teman-temanku menemaniku sampai ke parkiran.
Kebetulan hari itu telah menjelang sore, parkiran pun sudah mulai sepi, dari jauh aku sudah bisa melihat ada satu orang berdiri di parkiran sedang menunggu dengan membawa helm Ink putih di lengannya.
Aku pun tersenyum kecil padanya, hingga akhirnya dia melambaikan tangan padaku untuk menghampirinya. Akhirnya, aku berpamitan pada teman-temanku untuk pulang duluan dan segera berlari menghampiri si Andra.
" Satu dua tiga... Hati-hati ya Dena" Si Amel, Dini, Linda, serta Yanti serempak menyoraki ku.
"Jagain Dena ya Andra" teriak Amel menambahkan.