Hari ini Pak Mario selaku Ketua Program Jurusan, mendatangi kelas kami. Beliau membagikan selebaran kertas untuk memilih program ekstrakurikuler.
Kelas yang sebelumnya hening berubah menjadi berisik. Kita semua saling berdiskusi memilih ekstrakurikuler mana yang mau kita ikuti.
"Kalian mau ikutan apa nih guys? Tanya Yanti padaku dan teman-teman grupku.
"Gue ikutan ekskul basket sama melukis" sahutku lantang.
Selagi kami riuh memilih ekstrakurikuler, muncullah sebuah SMS dari Andra. "Kamu ikut ekskul apa?"
Kami pun saling bertukar pikiran melalui chat singkat di SMS. Dan akhir dari pertukaran pikiranku dengan Andra adalah pilihanku untuk merubah ekskul basket menjadi ekskul BDI (Badan Dakwah Islam).
Amel yang tidak sengaja melihat selebaran ku di ubah pun menepok jidat ku. Seolah tak percaya dia pun memeriksa kepalaku bila mungkin ada yang keliru dengan diriku.
" Ini seriusan lu ikut ekskul ini? Lu kesambet apa an Den?
Sontak ucapan Amel membuat teman grupku yang lain menoleh ke arahku.
Mereka langsung mencerca ku dengan beragam pertanyaan. Kenapa harus ikut ekskul BDI.
" Gue malu gue ngomong gini. Gue di ajak Andra masuk ekskul itu. Udah ya jangan tanya lagi!!!" Ucapku berlari pergi karena malu dengan teman- temanku.
*Seminggu berlalu*
"ih lu pada ngapain ikutan semua jadinya!!!" ucapku pada teman-teman segrup ku.
"Hihihi kita semua kan pengen tau orangnya yang mana Den" ucap Dini meledekku.
Teman-temanku ikut ekskul yang sama semua, kecuali si Rina yang berhalangan hadir di ekskul BDI minggu ini.
Kita berlima akhirnya saling meledek dan asyik mengobrol sendiri. Karena kita , sebelumnya belum pernah sama sekali ikut ekskul semacam ini. Jadi sambil menunggu pembimbingnya, kami berlima keasyikan bercanda. Hingga tak sadar kalau pak Samsul sudah hadir dan memulai materi.
Lima menit materi ekskul di mulai, kami di ajarkan tentang sejarah-sejarah Agama Islam. Para siswa yang mengikuti pun seketika hening dan seksama mendengarkan penjelasan dari Bapak Samsul.
Sayup sayup terdengar beberapa langkah kaki. Sepertinya dari arah belakang mushola tempat kami melaksanakan ekskul. Derap langkah itu berhenti tepat di depan pintu masuk mushola sekolah. Terlihat tiga orang siswa laki-laki berpakaian sudah tidak rapi berjalan membungkuk lalu memasuki barisan anak-anak lain yang telah duduk rapi di atas karpet mushola.
Seorang anak dari ketiganya duduk bersila lurus berseberangan menghadap ke arah barisanku. Aku yang duduk di belakang Dini tak sengaja menoleh dan bertatapan dengan pria itu. Dia lantas tersenyum kecil ketika mata kami saling bertatapan.
" Hahh ,, itu kan Andra" batinku di dalam hati.
Seketika itu, aku di buatnya salah tingkah. Senyum dari mulutku tiba-tiba saja aku tampakkan padanya. Aku yang kepalang malu langsung memalingkan wajahku pada Amel yang duduk tepat di sebelahku.
"Ehh lu sedeng ya ngapain senyum-senyum ke gue???" Bisik Amel padaku secara pelan.
" Itu dia di sana Mel..."
" Dia siapa?" Tanya Amel berbisik di telingaku.
" Itu si Andra duduk di depan sendiri" ucapku sambil berbisik pelan pada Amel.
Aku dan Amel mulai tak fokus mendengarkan materi dari Pak Samsul. Kepala Amel mulai bergerak-gerak mencari si Andra yang terhalang badan besar si Dini, hal itu membuat Yanti dan Linda yang duduk di sebelahnya merasa terganggu.
" Lu ngapain goyang dombret gitu Mel?" Tanya Yanti berbisik.
" Iya nih.. spil dong...spil dikit" lanjut Linda menambahkan.
Amel pun membisiki Linda dan Yanti bahwa gebetanku ada di hadapan mereka. Mereka akhirnya ikutan celingukan memandangi si Andra. Sampai-sampai si Dini teman kami yang paling pintar dan paling rajin, terganggu karena suara kami yang saling berbisik-bisik di belakangnya. Andra yang semula tersenyum pun menjadi tertunduk malu. Ia mungkin sudah merasa kalau kami mengawasinya.
Ia pun diam-diam mengeluarkan handphone dari saku nya. Dia seperti mengetik sesuatu dari layar hp yang ia sembunyikan di dalam tas.
Handphoneku pun yang dalam mode hening tiba-tiba bergetar. Ternyata si Andra mengirim sebuah SMS padaku "Kenapa pada ngelihatin aku sih?, Aku kan jadi malu" ucapnya dalam SMS.
Setelah membaca pesannya aku pun menatap padanya seolah memberi kode meminta maaf telah membuat dia tak nyaman karena tingkah teman-temanku.
Andra pun seperti mengerti apa yang sedang ku maksud. Dia tersenyum manis dengan menyipitkan matanya lalu mengangguk kepadaku. Lalu ia memasukkan tangannya ke dalam tas dan sepertinya mulai mengetik lagi.
Hp ku bergetar kembali dia mengirimkan ku SMS lagi. "Nanti pulang bareng mau enggak?" tanya Andra di dalam SMS.
Aku pun panik seketika saat Pak Samsul menegur siswa yang duduk di pojok mushola yang ketahuan sedang bermain hp. Sontak hp ku pun langsung ku masukkan ke dalam tas padahal pesan Andra belum aku balas.
Selang beberapa waktu aku menatap ke arah Andra. Sering kali dia menatap ke arahku juga dengan datar. Sepertinya wajahnya gelisah karena aku tak membalas pesannya. Sambil memperhatikan Pak Agung yang menerangkan tentang rukun Islam sesekali aku juga curi-curi pandang.
Andra meletakkan pipinya pada tangan kanannya lalu memanyunkan bibirnya. Aku berharap dia melihat ku saat itu, ternyata benar mata kami saling memandang lagi. Tanpa pikir panjang aku pun memberi isyarat dengan jempol yang ku tempelkan di pipi kananku sambil tersenyum padanya, mengisyaratkan aku menerima tawarannya.