Bagi setiap orang kadang cinta pertama adalah seseorang yang paling berkesan, namun berbeda dengan diriku. Mungkin menurut persepsi ku berbeda dalam hal itu. Bagi ku waktu yang telah ku habiskan dengan seseorang itu adalah hal yang membuat kisah cintaku paling berkesan. Mungkin karena cinta pertamaku tidak begitu meninggalkan kisah yang indah. Kisah cinta pertamaku lebih menoreh waktu-waktu yang begitu sulit dan rumit.
Kisah ku yang berkesan ini, terjadi sekitar 14 tahun yang lalu. Dia adalah orang yang paling mengesankan yang pernah ku temui dalam hidupku.
(14 tahun yang lalu)
"cieee, gebetan baru lagi nih" celetuk Amel sembari melihat foto profil seseorang di Facebook yang aku buka di layar komputer milik sekolah.
"Ih malu gue ketauan hahahaha" ucapku sambil menutup layar laptop dengan kedua tanganku.
"Siapa Dena gebetan you namanya? Kayaknya satu sekolahan sama kita juga nih" lanjut Amel yang semakin kepo dengan gebetan baruku.
Amel pun ku beritahu dengan cara bisik-bisik karena kebetulan kita berdua sedang ada di dalam ruang komputer.
Setelah pelajaran usai Amel pun mengajak ku ke kantin tidak lupa dengan empat sahabat ku yang lainnya.
"Eh you semua pada udah tau belom? "
Amel Pun membuka obrolan setelah memesan makanan di kios Bu Marni.
"Tau apa an Mel? Gue mah taunya lu suka sama si Daniel hahaha" sambil menyeruput kuah bakso, Dini pun tertawa setelah menjawab pertanyaan Amel.
"You tau si Dena punya gebetan baru" celetuk Amel dengan suara lantangnya.
"Amel!!!!" Sahutku sambil memasukkan gorengan ke mulut si Amel.
•••••
Setelah mengisi tenaga di kantin Aku, Amel, Dini, Rina, Linda dan Yanti pergi menuju ke kelas. Kebetulan ruang kita selalu berpindah-pindah setiap berganti mata pelajaran. Kita berlima berjalan menuju ruangan kelas , ruangan itu melewati ruang kelas gebetan baruku.
Aku tahu karena sebelumnya di kantin Andra mengirimiku SMS kalau dia ada di kelas dekat dengan ruangan yang sedang aku tuju.
Di balik jendela berbaris anak-anak jurusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan) sedang melihat ke arah luar kelas. Aku yang memang belum pernah bertatap langsung dengan Andra hanya bisa tertunduk. Akhirnya aku yang memang belum siap melihat wajah Andra segera terbirit-birit pergi meninggalkan rombongan teman-temanku.
" Ehh lu ngapain tadi main lari aja" tanya Rina padaku.
" You mencurigakan nih... Sangat mencurigakan nih!!!" Sahut Amel sembari menyenggol bahuku dengan keras.
Dini, Linda dan Yanti seketika ikut nimbrung menyerbuku dengan ribuan kecurigaan mereka.
Dan akhirnya aku ceritakan semua tentang si Andra ke mereka.
Sesaat kemudian Hp Nokia 3310 ku berdering di atas meja.
Dengan sigap Dini mengambil dan melihat ada nama Andra yang muncul.
"Woi lah ada yang SMS nih Den hahaha, si Andra tulisannya" Dini tersenyum sambil memamerkan nama yang muncul di hapeku kepada Rina Amel, Linda dan Yanti.
" Balikin ke gue Din sini" sambil mengambil hape ku dari tangan dini, lalu ku berlari ke luar kelas.
Brakkkk...
"Ehh kamu gak kenapa-kenapa kan?" terdengar suara seseorang dari depanku.
" Enggak papa kok" jawabku sembari berdiri membersihkan rokku.
Ternyata aku menabrak Risga yang pernah ku tolak seminggu yang lalu.
" Oh kamu ga ternyata... Maaf ya aku enggak sengaja, aku buru-buru soalnya" jawabku sambil memasukkan hape ku ke dalam saku bajuku.
" Gak papa kok Dena, yang penting kamu gak luka" sahut Risga sembari tersenyum kecil padaku.
Karena melihat Bu Tari berjalan ke arah kelasku, akhirnya aku masuk kembali ke dalam kelas tanpa menghiraukan ucapan Risga tadi.
Bel Pun berbunyi tanda pergantian mata pelajaran. Kami pun keluar dari kelas sebelumnya menuju ke ruangan lain.
Terlihat dari jauh Anak-anak dari kelas Andra duduk berjajar di depan ruangan kelas mereka.
" Eh yang mana sih Na?? Tanya Yanti celingak-celinguk mencari si Andra.
Aku tak mau menjawab pertanyaan si Yanti. Sekali lagi aku menunduk menutupi separuh wajahku dengan tanganku. Namun sekelebatan ku dengar seseorang memanggil namaku dengan lirih.
" Denaaa"
Setelah jauh aku baru berani menoleh ke belakang. Terlihat seseorang berdiri dengan satu tangan di saku celananya bersandar di depan kelas. Karena wajahnya tak asing bagiku,
dia terlihat paling menonjol dari teman-teman lainnya.
•••••
"Apa mungkin itu dia Den?" Ucap Amel padaku.
" Iya mungkin sih dia Mel, wajahnya hampir mirip dengan profilnya di FB" jawabku sambil menyandarkan daguku di meja.
"Ih Dena so sweet banget sih kaya sinetron aja..." Celetuk dini sambil mencubit lengan Rina dan Yanti.
"Kampret lu Din.. sakit tau!!!" Teriak Rina kesakitan..
"Tau nih dini, so sa so sweet tapi ya gak usah cubit-cubit gue tau!!" Sahut Yanti menyusul memarahi Dini.
Pelajaran selanjutnya pun di mulai, namun pikiranku tak fokus. Di kepalaku rasanya banyak kupu-kupu yang bertebaran.
" Dena..Dena!!! Dena!!!"
"Ehh iya Bu kenapa buk? " ucapku tersadar dari lamunanku.
"Kamu itu kesambet arwah pelawak ya? Ngapain dari tadi nyengir-nyengir sendiri?" tanya Bu Dwi padaku yang memang sedari tadi melamun tentang gebetan baruku.
" Lagi fallin in love Bu tuh si Dena !!!" Celetuk salah satu temanku dari bangku belakang.
Namun, aku hanya bisa melotot dan menyanggah ucapan temanku tadi.
Mata pelajaran terakhir pun berakhir. Setelah berdoa kami semua beranjak keluar dari kelas.
Aku dan Amel menuju ke pintu gerbang sekolah dengan berjalan kaki. Dan sekali lagi suara lirih memanggil namaku dari belakang.
"Denaaa"
Terlihat sebuah sepeda motor Supra melintas dengan perlahan. Lalu pengendaranya menoleh ke arahku. Terlihat sebuah senyum simpul dari balik helm merk INK berwarna putih itu sambil berlalu.
•••••
" Hai Dena..." Sapa Risga kepadaku di depan pintu gerbang sekolah.
" Iya" jawabku singkat sambil berlalu meninggalkannya.
Risga ternyata tak menyerah setelah aku tolak pernyataan cintanya. Dia berlari kecil mengejar ku dari belakang, lalu menarik lenganku dengan perlahan.
"Kamu kenapa si den menghindar gitu dari aku?" Ucap Risga sembari berdiri menghadap ku.
"Ih apaan sih ga, aku tuh gak kenapa-kenapa. Aku kayaknya biasa aja sama kamu, nggak usah deh kamu kayak gini lagi ke aku!!!" ucapku dengan nada sedikit tinggi.
"Kamu lagi Deket sama seseorang kah? padahal sebelum ini sikap kamu enggak kayak gini ke aku?" ucap Risga sambil memegang kedua bahuku.
"Apaan sih lu ga!!! udah gue mau masuk ke kelas!!!" gertakku sambil melepas tangan Risga dari bahuku lalu berlalu meninggalkan si Risga sendiri.
Sepintas aku melihat sebuah motor Supra yang kemarin aku lihat melintas di sampingku. Dari arah parkiran ia menatap kepadaku begitu lama, lalu melengos setelah tahu aku menatapnya juga. Dan seketika ia beranjak pergi ke arah gedung sekolah.