Sungguh betapa kaget nya diriku melihat sebuah vector di akun Facebook ku. Sebuah gambar vector yang hampir mirip dengan rupaku. Di mana seseorang pengunggahnya adalah orang yang sangat tak asing lagi bagiku, orang itu adalah Fian. Sang pria yang pernah mengakui jika ia jatuh cinta padaku, pria yang selalu mengusik kehidupan pribadiku.
Unggahannya tentang vector yang mirip denganku, sangat membuat diriku merasa malu. Karena hampir beberapa orang yang berkomentar adalah orang yang di bilang masih kenal denganku. Aku pun marah pada Fian dan memintanya menghapus foto itu.
"Kamu kurang waras ya, ngapain fotoku kamu edit kayak gitu!!! Di unggah ke Facebook pula!! Maksud kamu apa?" Ketikku dengan ketus di pesan messenger Facebook.
Seolah tak mau tahu, dia hanya tertawa dan membalas pesanku dengan emoticon orang terbahak-bahak. Aku pun semakin jengkel dengan ulahnya. Aku pikir dia akan berhenti setelah ku tolak mentah-mentah. Namun, ternyata dia tak pernah sama sekali menyerah dengan perasaannya padaku.
•••
" Bel, tunggu dengerin aku dulu" Terdengar suara Fian ingin menghampiriku dari kejauhan. Aku yang terlanjur kesal mencoba menghindar dari kejarannya. Namun, aku pun akhirnya menyerah setelah ia lari dengan gesitnya dan menyetop diriku dengan lengannya yang besar. Aku di buat nya terpojok di sudut ruang kelas yang saat itu sedang sepi.
" Aku minta maaf ya bel, aku bakalan hapus kok unggahan ku yang tadi. Tapi kamu jangan marah lagi ya?" ucapnya lemah lembut padaku dengan tangan yang seolah memohon-mohon.
"Janji ya kamu hapus!!awas aja kalau enggak!!!" bentak ku sambil mendorong Fian agar tak menghalangi jalanku.
Setelahnya aku mulai berjalan lagi menuju ke arah kelas. Namun selang beberapa saat ia pun mulai mengejar ku kembali. Dengan terengah-engah dia mulai mendekatkan tangannya di kepalaku dengan tiba-tiba mengelus kepalaku sambil berbisik padaku.
"Aku masih suka kamu Bela" ucapnya lirih sambil berlalu dari hadapanku dengan senyum simpul khasnya.
•••
Sebenarnya Fian sudah sering menggambar diriku dan mengubah wajahku menjadi sebuah vector. Ku akui dia sangat jago di bidang menggambar. Namun yang ku sayangkan dia selalu terang-terangan menunjukkan jika gambar yang ia buat adalah sebuah gambar pembuktian kalau dia suka padaku.
Ku lihat Fian sudah tak lagi mengunggah vector tentangku ke sosial media. Setelah kejadian aku marah dengannya, ia mulai mengubah caranya menyampaikan hasil karyanya melalui pesan gambar yang langsung ia kirimkan ke messenger ku.
Hal yang sangat simpel namun sangat berarti menurutku. Usahanya untuk mendekatiku di bilang sungguh sangat mengesankan. Tapi entah dua tahun ia mengejar hati ku, sama sekali tak terbersit di benakku untuk memiliki kekasih seperti dia.
•••
"Selamat ulang tahun Bela cantik" Itulah bunyi pesan singkat dari Fian, yang ia selipkan di sebuah gambar vector yang ia buat khusus sebagai kado ulang tahunku.
Sebuah gambar vector yang kesekian kalinya aku dapat, namun gambarannya kali ini jauh lebih indah di banding sebelumnya.
Setiap tahun aku selalu di buatnya bahagia walau hanya dengan sebuah ucapan selamat ulang tahun dan sebuah gambar vector yang menyerupai ku. Tahun ini adalah tahun ke tiga ia memberiku hadiah sebuah gambar. Padahal ia tahu jika aku memiliki seorang kekasih.
Entah apa yang ada di benak Fian, ia tak hentinya selalu ikhlas menghiburku setiap hari ulang tahunku. Sebuah Vector darinya kadang menjadi penyemangat ku di kala kekasihku sendiri tak pernah ingat dengan hari-hari penting dalam hidupku. Ia seolah selalu hadir, selalu tahu menahu di saat aku butuh seseorang untuk menghibur walaupun hanya dengan sebuah gambar vector darinya.
•••
(Tahun 2012)
Beberapa hari setelah kejadian di malam itu, Fian mencoba untuk tetap menghubungiku. Ia menghubungiku melalui telepon namun tak pernah ku gubris. Seolah tak menyerah ia juga mengirim ratusan SMS padaku, yang isinya tentang permintaan maaf dan keinginannya untuk bertemu denganku lagi.
Aku sudah kepalang malu dengan semua perbuatanku malam itu. Memang ku putuskan untuk menghilang dari hidup Fian agar ia tak salah paham hanya karena hal gila yang kami lakukan bersama itu.
Aku mengakui jika aku egois, seharusnya aku mampu menjelaskan jika hal yang kemarin kami lakukan hanyalah khilaf. Perasaanku tetap tak pernah berubah padanya. Masih tak pernah ada getaran cinta untuknya meskipun hal yang kemarin kita lakukan memang tak wajar untuk sebuah hubungan antar teman.
Seiring waktu berlalu aku pun benar-benar konsisten menghilang dari kehidupannya. Tapi, terkadang aku masih penasaran dengan kehidupan Fian setelah hari itu. Sehingga, ku putuskan untuk mencari tahu melalui sosial medianya.
Sungguh kagetnya diriku setelah sekian lama tak melihat akun sosial media Fian akhirnya ku temukan semua gambar vector yang terinspirasi dari diriku dia unggah semua di sosial media miliknya. Unggahan dari sejak lima tahun lalu pun masih tersimpan rapi di galeri foto Facebook miliknya.
Gambar vector yang dulu ia bilang akan ia hapus ternyata hanya ia sembunyikan ketika SMA dulu, hingga sekarang masih ada dan tak pernah ia hapus dari akunnya. Tak hanya itu, pesan messengers ku juga di penuhi oleh pesan permintaan maaf nya yang di sertai puluhan gambar vector tentang diriku. Dimana di setiap gambarnya di penuhi keinginan dan kondisinya setelah diriku menghilang dan tak pernah membalas bahkan menggubrisnya.