(Tahun 2008)
Mungkin ini yang di namakan kisah yang tak akan happy ending. Aku mengenal Fian saat sejak duduk di bangku SMA. Boleh di bilang aku yang tak pernah ingin mengenal Fian sejak awal ia mengenalkan dirinya padaku. Kenapa aku menjawab enggan mengenalnya? Mungkin dapat di lihat dari kesan pertama kita berjumpa. Lebih tepat nya dari sudut pandang diriku, yang memang melihat pria dari penampilannya terlebih dulu. Saat itu Fian memang terlihat begitu sangat kucel, kumal, dan terlihat sangat bad boy.
Fian mulai memperlihatkan perasaannya padaku sejak kelas satu SMA. Mulai dari tatapannya, gelagatnya, ucapannya memang seperti memberi kode-kode bahwa ia telah jatuh hati padaku. Saat itu entah apa yang ia suka dariku, sampai membuat dia sangat tergila-gila untuk mengejarku tiada henti.
.
.
.
(Tahun 2012)
Setelah beberapa tahun kami pun akhirnya bertemu kembali. Aku dan Fian bertemu setelah sama-sama mulai beranjak dewasa. Dimana kisah saat masa putih abu-abu yang ku anggap telah usai ternyata masih berlanjut lagi setelah nya.
Saat itu aku memang memutuskan tak melanjutkan pendidikanku kejenjang kuliah karena memang ekonomi keluargaku yang tak mendukung. Hal itu lantas membuatku harus bekerja keras setelah lulus dari SMA.
Pada saat itu aku sudah bekerja di sebuah Pusat Perbelanjaan di daerah Tangerang sebagai Sales Promotion Girl. Berbeda dengan Fian, saat itu bagiku ia masih tak jelas mau ke arah mana hidupnya. Karena ia berkata jika ia saat ini sudah bekerja di sebuah pabrik di daerah yang sama denganku, namun itu masih belum pasti. Ia mengatakan karena pekerjaan itu ia lakukan karena sebuah alasan yang sangat penting. Dan alasannya itulah yang sempat membuat diriku merasa terbebani, karena alasannya bekerja di Jakarta hanya untuk bertemu dengan diriku semata.
Sebenarnya aku sudah tak mau berurusan dengan Fian lagi, karena takut ia akan semakin berharap padaku. Tapi aku selalu saja terjebak dalam lingkaran yang ku buat sendiri. Lingkaran itu ku sebut sebagai lingkaran "Tidak Tegaan".
Itulah salah satu alasan terkuat yang memaksaku bertemu lagi dengan Fian, padahal mulanya aku sangat tak ingin kita bertemu kembali.
.
.
.
"Kamu kabarnya gimana Bel?" Ucapnya dengan nada khasnya dulu saat memanggilku.
"Aku baik aja kok" ucapku dengan ketus.
"Ternyata kamu masih sama aja kayak Bela yang dulu ya he..he..he.." ucapnya dengan lemah lembut.
Aku menyadari memang sejak dari dulu selalu ketus dan memperlihatkan wajah yang kurang mengenakkan pada Fian. Hal itu memang harus ku lakukan demi kebaikan diriku sendiri dan Fian juga. Namun entah hal itu malah membuat Fian kian tertarik padaku dan ku akui ia memang sangat gigih untuk mendapatkan hatiku.
Sebenarnya aku masih belum begitu hafal dengan daerah Tangerang, karena memang masih dua bulan di sini. Aku juga baru saja pindah dari kos ku yang lama ke tempat kos yang baru. Jadi, ku putuskan untuk mengajak Fian bertemu di tempat kos ku saja.
Hal bodoh itulah yang kadang masih menjadi sebuah penyesalan di hidupku. Kenapa tak ku ajak dia bertemu di tempat lain saja. Dan dengan bodohnya aku mengajak Fian masuk ke dalam kamar kos ku.
Sebenarnya aku tak berpikir yang macam-macam kala itu. Aku hanya berpikir untuk menghargai usaha Fian untuk bertemu denganku. Ku pikir kami bisa mengobrol dengan nyaman di dalam ruangan. Namun ternyata ini bukan hal yang wajar, inilah awal kisah ku dan Fian yang membuat kita selalu berdebar.
"Kamu udah lama tinggal di sini?" ucap Fian dengan nada lembutnya.
"Enggak aku baru pindah" ucapku dengan canggung.
"He.. he.. he.. kenapa kita jadi canggung gini ya" ucap Fian sambil menggaruk garuk kepalanya.
Aku pun hanya tersenyum sambil celingak celinguk melihat ke atas plafon ruangan kos ku.
"Jadi bingung mau ngomong apa, kamu juga masih jutek aja sama aku Bela?" Ucap Fian sambil tersenyum padaku.
" Akhh enggak biasa aja deh kayaknya.. " aku pun menyangkal sambil memalingkan wajahku dari tatapannya.
Saat itu kami duduk lesehan di sebuah karpet tebal yang memang ku gelar di samping ranjang tidurku, dengan beragam suguhan makanan dan minuman yang berjejer di atasnya. Sesekali kami pun menikmati makanan dan minuman agar suasana canggung kami menghilang. Tak terasa senja telah berganti malam. Suasana di ruangan kosku pun menjadi semakin tak karuan. Rasa canggung di antara kamipun semakin bergemuruh.
" Apa kita udahin aja ya obrolan kita malam ini? Kok rasanya aneh kalau kita kayak gini" ucapku sambil terbata-bata.
Namun tiba-tiba tangan Fian menarik tanganku yang sebenarnya ingin beranjak untuk berdiri karena pegal, setelah mengobrol dua jam lamanya dengan Fian.
" Boleh nggak aku di sini sebentar lagi?" Tanya Fian dengan nada lirih padaku.
"Ammm...emm.. gimana ya?" Entah saat itu aku bingung namun lingkaran tak tegaanku seperti membelenggu dan akhirnya mengiyakan permintaan Fian.
Jantungkupun mulai berdegup sangat cepat, ini pertama kali Fian menggenggam tanganku. Dan anehnya aku secara sadar merelakan tanganku ia genggam dengan lama. Namun karena itu aku tak berani menatap ke arah Fian yang sedari tadi juga menatapku dengan tatapan tajam.
" Husshh ngapain sih kamu natap aku kayak gitu? Hadap sana gih!!!" pintaku pada Fian sambil menyapu kedua matanya dengan tangan kiri ku.
Namun aku pun di buat kaget oleh Fian, setelah menggenggam tangan kanan ku cukup lama kini ia pun menangkis tangan kiriku dari matanya lalu menggenggamnya juga.
" Kamu tau gak Bel? Kalau kamu sampai saat ini masih jadi seseorang yang paling berarti buat aku?"
" Haa... " Karena saking gugupnya, hanya kata itu yang mampu ku ucapkan.
"Sejak dulu hingga sekarang, perasaanku ke kamu tetap sama Bela..."
"Haa..." Sepertinya aku kehabisan kata-kata dan tak bisa menimpali ucapan Fian.
Fian hanya tersenyum melihatku yang kebingungan di hadapannya. Ia pun mulai membelai rambut panjang ku dengan pelan.
" Kok tumben kamu gak marah ,gak jutek kayak tadi?" tanya nya pelan padaku.
"Hemm.. enggak juga tuhh" aku pun mulai mencoba berpaling dan menjauh, tapi ternyata Fian menarik ku semakin dekat dengan tubuhnya.
Kini mata kami saling memandang, mungkin wajah kami hanya berjarak dua puluh centian. Aku pun tertunduk malu tak seperti biasanya. Fian mulai melepas cengkraman nya dari tangan kiriku dan meletakkan tangannya di daguku.
"Bel, bolehkah aku mencium kamu?" ucapnya dengan pelan sambil mengangkat daguku.
Dengan tatapan yang masih menunduk akupun di buat kaget dan mulai menatap ke arah mata Fian. Setelah beberapa saat aku menatap mata Fian yang terlihat penuh dengan kesungguhan, tiba-tiba saja aku mulai menutup kedua mataku dengan perlahan dan mulai mendekatkan wajahku kepadanya.
"Bel, dalam hitungan ketiga aku bakalan semakin dekat ke kamu ya... Kamu jangan kaget..." Setelah mengatakan itu ia pun mulai berhitung.
"Satu"
"Aku mengagumi kamu Bel sampai hari ini"
Hembusan nafasnya pun mulai ku rasakan di sekitar kulit wajahku.
"Dua"
"Aku jatuh hati sama kamu sejak dulu hingga hari ini"
Hidungnya yang mancung pun mulai terasa menyentuh pipiku.
"Tiga"
"I love you Bela"
Dan akhirnya bibirnya mulai mengecup bibirku lali melumat habis bibirku malam itu. Setelah sekitar tiga menit aku pun mulai kehabisan nafas karena Fian yang tak hentinya menciumiku dengan ganas. Aku pun mendorong dada Fian agar berhenti. Setelah berhenti menciumiku, Fian yang terlihat mulai menatapku dengan nafsu pun merebahkanku di atas karpet. Tanpa perlawanan aku pun menuruti perlakuan Fian saat itu.
Jujur ini adalah hal gila pertama yang pernah kita lakukan selama ini. Mungkin karena kita sudah dewasa atau entah karena kondisi dan situasi yang mendukung. Dan ku rasa hawa nafsu kami yang juga secara naluriah mulai tak terbendung dan menjadi pencetus terjadinya hal gila ini.
Kita saling bertatapan sambil bersandar di atas karpet masih dengan mata yang membara dengan nafsu yang menggebu-gebu. Ia pun mulai memegang bagian belakang kepalaku dan tangan satunya memegang pipiku.
"Aku mulai lagi ya..." ia pun tersenyum dan langsung mengecup bibirku berkali-kali hingga membuat diri ku tak berdaya. Malam itu akhirnya menjadi malam yang begitu indah bagi kami berdua.
Tanpa kami sadari pagi pun menjelang, Fian pun bergegas pergi dari tempat kosku. Kami pun sepakat menganggap hal yang kemarin malam kami lakukan tak pernah terjadi. Fian sebenarnya menolak hal itu, namun karena aku memaksanya ia pun terpaksa menuruti permintaanku.
Pagi itu aku pun mulai merasa bersalah pada Fian juga pada seseorang. Aku merasa telah membohongi kedua orang ini. Sebenarnya, aku tak pernah mengatakan pada Fian jika selama ini aku memiliki kekasih. Tapi, aku yakin jika Fian sudah tahu hal itu. Karena, selama aku mengenalnya, ia memang tak pernah mengeluh atau goyah walaupun berkali-kali aku memiliki kekasih. Fian tetap setia menantiku dan ia selalu berharap aku bisa membuka hati dan menerimanya. Namun tak bisa di pungkiri, selama lima tahun hubungan tanpa status antara kami berdua tak pernah berakhir. Meski Fian paham kalau aku tak pernah menganggap ia sebagai sosok yang berarti dalam hidupku.