Aku, Ming Xia. Perempuan biasa yang kelahiran Asia dan saat ini aku hanya seorang siswi di SMA tertentu di Tiongkok.
Tidak populer, pertemanan juga tidak terlalu besar. Aku layaknya NPC dalam cerita yang hanya muncul beberapa kali di layar. Namun, untuk pertama kalinya aku berpikir jika akulah tokoh utama itu ketika liburan semester.
Saat itu orang tuaku kedatangan rekan kerja dari luar negeri. Mereka membawa anak yang seusiaku, namanya Daniel. Seorang anak laki-laki yang memiliki kulit putih bersih dengan rambut pirangnya layaknya orang Amerika.
Mereka menginap di dekat rumah selama kurang lebih selama 2 Minggu. Dan aku perlahan-lahan menjadi dekat dengan Daniel.
Kami bermain bersama, belajar bersama, dan mengajari satu sama lain bahasa masing-masing.
"Zài-jiàn. It means see you," ucapku menuntun Daniel untuk mengucapkan kata itu.
Lidah Daniel cukup sulit untuk mengucapkannya. "Sai-zian..?"
Aku tertawa mendengarnya, sangat lucu Daniel mengucapkannya dengan aksen Amerikanya.
"Hahahahaha, lucu banget sih. Daniel," tawaku sambil mengusap air mata yang sedikit keluar.
"What? Why are you laughing?" tanyanya dengan senyum sedikit.
Aku tersenyum lembut mencoba menjawabnya. "It's okay, I just think you're pretty cute."
Daniel hanya terkekeh mendengarnya dan sesi belajar Bahasa Mandiri kembali diajarkan olehku.
Aku selalu berpikir jika kami berdua akan terus berteman dan bisa selamanya berbicara satu sama lain seperti itu. Jikapun tidak berbicara secara langsung, maka melalui chat saja tidak masalah.
.
.
.
Malam sebelum Daniel dan keluarganya kembali ke Amerika. Aku mengajaknya pergi ke taman yang memiliki pemandangan paling elok di daerah ini.
Malam sangat cerah menghasilkan kami dapat memandangi rembulan dan bintang secara jelas di atas sana.
"When you're in America, don't forget to text me. Okay?" kataku dengan artian untuk Daniel mengirimkan pesan padaku saat ia sampai di Amerika.
"Sure."
Namun, bagaikan sebuah meteor yang terjatuh di hatiku. Sehari setelah Daniel pulang ke Amerika, aku mendapatkan kabar jika Daniel telah menghembuskan nafas terakhirnya di pesawat.
Menurut Ibunya, kata terakhir yang diucapkannya adalah Zàijiàn.
"Zàijiàn, A-Xia.."
End.