"Ganteng banget tuh cowok. Tipe aku banget." Gumam Vania sambil sesekali mencuri pandang pada cowok berkulit sawo matang itu.
"Namanya siapa ya ?" Sambungnya lagi.
"Woi... Nglamun terus !! Cepet keluar disuruh kakak kelas tuh !!" Tegur Cindy teman baruku.
"Eh, iya. Hehehe..."
Ya, saat ini masih suasana MOS jadi semua siswa baru berkumpul menjadi satu dilapangan sekolah.
"Liatin siapa sih ?" Tanya Cindy sambil celingukan mencari sesuatu.
"Hehe... Tadi ada cowok ganteng banget. Jadi pengin kenalan."
"Hmm... Matanya dijaga. Baru juga masuk sekolah udah jelalatan aja tuh mata."
"Namanya juga punya mata, ya buat lihat yang bening-bening, lah. Biar semangat aja sekolahnya."
Obrolan mereka pun terus berlanjut. Hingga saatnya kakak kelas memberikan tugas untuk mencari teman baru sebanyak-banyaknya dan ditulis dibuku catatan.
Mendengar tugas tersebut, kesempatan untuk Vania untuk tau siapa nama cowok incarannya tadi.
"Hai... Boleh kenalan nggak ?"
"Oh, boleh." Ucapnya dingin.
"Namaku Vania. Kamu siapa biar aku catat."
"Namaku Udin." Jawabnya masih datar.
"Hah ? Udin ? Tapi diname tag kamu tertulis Irwansyah S."
"Kalau udah tau kenapa tanya ?" Jawabnya ketus.
Vania tersentak mendengar ucapan Irwan yang sok jutek itu. "Jadi gini watak orang yang aku kagumi ? Aku kira dia ramah dan tidak sombong. Ternyata aku salah." Batin Vania.
Hari pun berganti...
Walau sikap Irwan yang jutek itu masih terngiang ditelinga Vania, namun sosoknya masih ia kagumi.
Dan tanpa diduga, Vania mengikuti ekskul yang sama dengan Irwan yaitu PMR. Dimana kegiatan itu rutin dilaksanakan seminggu sekali.
Karena mereka anggota PMR baru, jadi harus melaksanakan pelantikan dan sebagainya untuk dikukuhkan sebagai anggota tetap.
"Kalian sudah siapin semua kebutuhan disana nanti ?" Tanya kak Diska dengan megaphonenya.
"SUDAH KAK !!"
"Bagus. Pokoknya kalian sebagai calon anggota PMR harus bisa menjaga kesehatan dan keselamatan diri kalian sendiri sebelum menjaga orang lain. Kalian PAHAM ?!"
"SIAP PAHAM, KAK!!"
Satu persatu orang mulai memasuki bus yang akan mengantar mereka semua ketempat pelantikan yang diadakan disebuah bukit tak jauh dari sekolah.
"Irwan, Vania. Nanti kakak minta kalian jadi perwakilan yang maju ke depan saat dilantik ya." Ucap kak Alif sang ketua PMR.
"Oh, baik kak." Jawab Vania. Sedangkan Irwan hanya mengangguk tanda setuju.
Sebelum pelantikan dimulai, semua calon anggota PMR melaksanakan widegame terlebih dahulu dengan membagi beberapa kelompok.
Masing-masing kelompok nanti akan berjalan mencari pos-pos dan menjawab beberapa soal dan tugas yang diberikan oleh kakak senior yang berjaga dimasing-masing pos.
Setelah menyelesaikan tugas disinilah mereka berada. Sebuah hamparan padang rumput yang luas dan hijau menyejukkan mata siapapun yang memandang.
"Wah... Nggak sia-sia kita capek-capek naik ke sini ya, Nia." Ucap Cindy kagum.
"Bener banget... Hah... Lelahku terbayar sudah." Ucap Vania sambil memejamkan mata, menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
Sambil tersenyum manis Vania pun membuka matanya, tanpa sengaja pandangan mata Vania bertemu dengan Irwan yang juga sedang tersenyum didepan sana.
"Aku nggak mimpikan ? Irwan senyum sama aku ?" Batin Vania bertanya-tanya. Dia pun membalas senyuman Irwan dengan tersipu malu.
"Irwan, sini !!" Cindy berteriak sambil melambaikan tangannya memanggil Irwan.
Vania pun terkejut menahan malu.
"Kamu kenal sama dia ? Sejak kapan ?" Tanya Vania. Belum sempat dijawab oleh Cindy, Irwan datang menghampiri mereka.
Merasa menjadi nyamuk, Vania pun pergi kesisi lain dan bergabung dengan yang lain untuk menyiapkan diri untuk berbaris.
"Kak, aku kayaknya nggak bisa jadi perwakilan, deh. Ganti sama Cindy aja kak."
"Loh, kok gitu. Padahal kamu yang paling pinter, loh." Jawab kak Alif.
"Aku nggak enak badan. Kayaknya mau dapet, deh." Jawab Vania berbohong.
"Oh, gitu. Ya sudah, mendingan kamu istirahat saja disana sama pak Erik." Sahut kak Diska.
Pelantikan pun berjalan dengan lancar dan kini mereka telah pulang ke rumah masing-masing.
Satu hal yang baru Vania ketahui, ternyata Cindy dan Irwan sudah menjalin hubungan sejak seminggu yang lalu. Padahal Cindy tahu kalau Vania menaruh rasa pada Irwan.
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku, Cin ? Aku kayak orang bego tau nggak ?"
"Maaf, Van. Aku juga nggak tahu Irwan suka sama aku. Makanya aku nggak bilang sama kamu kalau kita sudah jadian."
"Seenggaknya kalau kamu bilang dari awal, aku kan bisa berhenti untuk mengaguminya."
...
...
...
Hari bulan tahun berlalu
Tak terasa Vania menginjak tahun ketiga dan dalam hitungan bulan akan lulus SMA.
Hubungan Cindy dan Irwan sudah lama berakhir, dan Vania hanya bisa berteman baik dengan mereka.
Itupun hanya karena sebatas hubungan ketua, sekretaris dan bendahara di PMR.
Irwan juga sudah tau perasaan Vania padanya dulu. Tapi, tidak ada balasan sama sekali.
"Aku lebih nyaman menjadi teman daripada menjadi kekasihmu, Vania. Aku nggak bisa menyakiti temanku sendiri nantinya."
"Iya, aku tau. Makasih sudah jadi temanku. Aku harap sampai kita tua nanti kita masih bisa berteman dan menjalin silaturahmi yang baik."
"Iya, aku janji akan selalu menjadi teman terbaikmu."
...
...
Hingga kelulusan pun tiba, mereka melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Walau berbeda jurusan tetapi mereka pada akhirnya menjadi seorang guru.
Vania menjadi guru di sekolah dasar, sedangkan Irwan menjadi guru di SMA kita dulu.
Janji mereka tetap dipegang teguh. Setiap salah satu dari mereka memiliki pasangan pasti selalu dikenalkan, bahkan sering menjalani dobledate.
Kini mereka sudah menikah dengan pasangan mereka masing-masing dan memiliki keturunan yang cantik dan tampan.
Walau jarang komunikasi dan bertemu secara langsung. Melalui media sosial menjadi salah satu penghubung keduanya.