Namaku Dewi, aku anak angkatan baru di sekolah Mts negeri di kotaku. Tahun 1996 adalah awal tahun pembelajaran baru. Yah itu masa di mana aku baru masuk sekolah Mts setara dengan SLTP. Dulu belum ada hp seperti sekarang. Anak sekolah banyak yang menggunakan sepeda dan angkutan umum. Salah satunya Aku, aku menggunakan sepeda untuk berangkat ke sekolah. Karena jarak sekolah dari rumahku cukup jauh.
Awal berangkat mengikuti MOS atau masa orientasi siswa. Seperti sekolah yang lain, MOS diadakan seminggu pada awal pembelajaran tahun baru. Aku mengikutinya dengan yang lain, seluruh siswa baru di sekolah.
Setelah lulus SD aku melanjutkan sekolah di Mts karena di situ mendapat tambahan ilmu tentang agama yang kuanut yaitu Islam. Mengenal teman baru satu kelas, dan kelas lainnya. Mengenal kakak kelas dari OSIS dan Pramuka. Aku lebih suka kegiatan Pramuka daripada kegiatan ekstrakulikuler lainnya.
Tanggal 14 Agustus adalah hari Pramuka. Di sekolah mengadakan persami, untuk melantik kami yang baru masuk Mts dari siaga ke penggalang. Kegiatan demi kegiatan dilakukan. Kami siswa baru mengikutinya dengan arahan dari kakak kelas atau kakak pembina.
DKP atau Dewan Kerja Penggalang adalah nama untuk kakak kelas yang melatih kami di kepramukaan. Tanpa sengaja Aku menabrak salah satu dari mereka. Aku melihatnya dan dia juga melihatku. Saling menatap hingga Aku tersadar. Akupun minta maaf, dan dia hanya tersenyum.
Jantungku berdetak tak karuan melihat senyum dan wajahnya saat itu. Panas terasa di dalam tubuhku entah kenapa. Hingga dia berlalu meninggalkan Aku yang terdiam. Aku masih memegang entah jantung atau hati, yang jelas itu berdetak dengan cepatnya.
Ternyata dia salah satu anggota DKP, kakak kelas yang tampan menurut versi aku. Bukan hanya aku yang ngefans, ternyata siswa lain pun ngefan sama dia. Idola di kalangan siswa baru terutama kaum hawa.
Acara persami berlalu, namun pertemuan itu masih teringat jelas dalam benakku. Hingga Aku rajin berangkat ekskul Pramuka hanya untuk melihat atau bertemu dengannya. Setiap Jum'at sore jam 2 latihan Pramuka diadakan.
Setiap hari Jum'at itulah Aku bisa melihatnya bagaimana dia melatih kami di ekskul Pramuka. Tidak banyak yang mengikuti ekskul Pramuka. Makanya kami cepat akrab dengan kakak kelas yang perempuan dan ada sebagian yang laki-laki.
Dia terlihat diam dan jarang bercanda. Aku selalu curi-curi pandang dengannya. Hingga sering kepergok olehnya kalau Aku curi-curi pandang. Malu dan dag Dig dug jantungku saat kepergok olehnya. Seperti pencuri yang ketahuan. Tapi dia hanya tersenyum saja, entah senyum itu sebenarnya untuk siapa. Aku jadi salah tingkah dan akhirnya memilih menelungkupkan wajahku di atas meja. Sembunyi karena malu, terlihat olehnya dengan jelas.
Hari berganti dengan cepat, bulan berlalu begitu saja. Aku tahu dia kelas 2.7 dan Aku juga tahu dia banyak penggemar. Terlihat di ruang TU yang terpajang di jendela kaca banyak surat beramplop bunga tertuju untuknya.
Sungguh bila benar aku jatuh cinta maka ini cinta pertamaku. Dan boleh di bilang cinta monyet karena saat itu usiaku baru 12 tahun. Rasa marah, dan kesal melihat amplop bunga berjejer di jendela kaca atas namanya. Mungkin inilah yang dinamakan rasa cemburu.
Karena dia tampan, aku merasa minder. Aku hanya anak biasa yang mukanya pas-pasan. Jika Aku cantik pasti terkenal di kalangan siswa seangkatan dan terutama kakak kelas. Tapi kenyataan berkata bahwa aku memiliki muka yang biasa bahkan mungkin kategori tidak cantik menurut aku sendiri.
Aku sering ke perpustakaan mengisi jam istirahat untuk membaca buku. Dan ternyata dia juga sama sering ke perpustakaan. Kelasku berada di sebelah mushola, kalau siang setelah dhuhur aku duduk di teras. Dia juga sama, apakah kebetulan atau sengaja aku tidak tahu.
Kami sering bertemu tapi Aku selalu menundukkan mukaku karena malu melihatnya. Jika aku melihatnya, dia juga ternyata melihatku dan tersenyum. Berasa gimana hatiku tapi aku sadar diri aku bukan siapa-siapa. Cantik ga, pintar ga, terkenal di sekolah juga ga, siapakah aku berharap dia suka sama aku.
Musim hujan tiba, tapi kenapa hujan selalu datang pas di siang hari pada jam pelajaran dan jam pulang sekolah. Setiap jam istirahat aku hanya duduk di depan kelas, diapun sama seakan memperhatikanku. Karena perpustakaan agak jauh bila berjalan mengikuti ruang demi ruang. Jalan tercepat adalah melintasi jalan tanpa peneduh dan karena gerimis, aku enggan ke perpustakaan.
Bila jam olah raga kelasku, dia berdiri dan melihat dari jendela bila guru kelas tidak ada. Berasa di lihatin, dan di perhatikan, aku jadi malu sendiri. Tapi mungkinkah aku yang dilihatnya atau temanku. Aku sendiri tidak tahu.
Suatu hari saat pulang sekolah, hujan tidak berhenti berhenti. Aku masih menunggu hujan reda karena aku membawa sepeda. Aku duduk di depan kelas melihat hujan turun dan bunga yang ada di depan kelas. Suasana semakin sepi karena siswa hampir semuanya sudah pulang dan guru hanya tinggal beberapa orang saja.
Karena ruang perpustakaan masih buka, Aku berjalan menuju ke perpustakaan melewati ruang demi ruang agar tidak kehujanan. Dia duduk di depan kelasnya entah melihatku atau tidak. Saat aku sudah mendekati ruang perpustakaan, dia bangun dan berjalan menuju ke arahku. Aku bingung dan malu, tapi langkahku mengarahkanku terus maju ke ruang perpustakaan.
Karena malu Aku berjalan dengan menundukkan wajahku ke bawah. Hingga tanpa sadar, aku sampai di depan ruang perpustakaan berpapasan dengannya. Saat hendak masuk kami saling bertatapan. Dia tersenyum melihatku, tapi aku malah celingak celinguk mencari adakah orang lain selain diriku.Aku menahan dag dig dug debaran jantungku yang cepat saat di lihat olehnya. Senyumnya manis, wajahnya tampan teduh membuatku tak ingin jauh darinya.
Dia menyapaku, dan aku sontak kaget ternyata dia tahu namaku. Aku hanya tersenyum malu dan kami mengobrol sebentar di perpustakaan hanya meminjam beberapa buku. Hujan menemani kami dari bertemu hingga mengobrol sebentar dan meminjam buku.
Dia berjalan bersamaku menuju kelasku. Sepi tak terdengar suara siswa yang masih ada di sekolah. Hanya terdengar suara gerimis. Aku masih menahan rasa malu berjalan bersamanya, tapi masih bisa berkata bila di tanya olehnya. Mukaku berasa panas mungkin dia melihat mukaku merah seperti udang rebus karena dia senyum terus bahkan tertawa ringan padahal aku tidak bercanda.
Itu hal bahagia yang kurasa walaupun sebentar dan ketika gerimis. Menjadi kenangan yang tak terlupa. Seiring berjalannya waktu hal itu terus berlanjut. Mungkin hanya Aku dan dia yang tahu. Kami mulai dekat tanpa ada yang tahu. Jika dia mengajar Pramuka dia selalu duduk di belakangku. Setiap mengajar PBB pasti mengajar aku. Dan aku merasa senang meskipun hanya seperti itu.
Setiap hujan datang atau hanya gerimis rintik-rintik yang turun, Aku dan dia selalu datang ke perpustakaan setelah pulang sekolah. Hanya beralasan membaca buku sebentar dan meminjam buku meskipun entah dibaca atau tidak di rumah. Kami bertemu di temani gerimis hingga sampai pulang sekolah. Keluar dari sekolah bersama-sama meskipun beda arah tujuan.
Hal itu terus berlanjut hingga aku naik kelas ke kelas dua, dan dia naik ke kelas tiga. Saat Aku di kelas dua, karena aktif dalam kepramukaan, Aku ditunjuk sebagai DKP. Menggantikan kakak kelas dua yang naik ke kelas tiga.
Saat di kelas dua ternyata jarak kelas kami jauh. Kelas Dia dekat mushola sebelah kelas waktu aku kelas satu. Dan kelasku berada di dekat ujung kelas dekat kantin.
Aku sering duduk di depan kelas pada jam istirahat. Karena jarak dari kelasku ke perpustakaan agak jauh, aku mulai jarang berkunjung. Datang ke perpustakaan hanya sekedar pinjam buku saja.
Semenjak kelas dua, setiap pulang sekolah aku selalu menunggu sepi saat semua siswa sudah hampir pulang semua hanya tinggal beberapa orang saja. Tidak kusangka Dia belum pulang juga, dan sepertinya menunggu aku pulang.
Meskipun tidak bersama, saat mengeluarkan sepeda dan keluar dari sekolah untuk pulang, dia pasti ada di belakangku. Hal itu membuatku senang. Dalam hatiku apakah dia menungguku untuk pulang sekolah bersama meskipun di belakangku.
Hari demi hari selalu seperti itu. Setiap hari Jum'at aku melatih siswa kelas satu di ekstrakulikuler pramuka. Meskipun kelas tiga sudah tidak aktif lagi, tapi dia selalu ada di kelas dan melihat kami latihan dengan pergi ke kantin. Karena lapangan berada di depan kantin.
Melihat, entah siapa yang di lihatnya. Tetapi aku merasa dia melihatku dan memperhatikanku. Kalau kata anak jaman sekarang aku itu baper kali ya. Tapi itulah yang ku rasakan. Detak jantungku melaju dengan cepat jika dia mulai mendekat jaraknya.
Setiap aku mengajar adik kelas di dalam kelas, dia ikut masuk dan duduk di bangku paling belakang yang kosong. Aku semakin berdebar debar entah kenapa. Rasa malu, grogi, ah entahlah pokoknya merasa ga enak di lihatin sana dia.
Sebelum selesai mengajar, dia akan keluar lebih dulu. Dan sebelum keluar dia akan melihatku dan tersenyum. Berasa terpanah panah cinta. Sumpah aku senang ga karuan.
Semua itu berlanjut hari demi hari dan Minggu demi Minggu tanpa kejelasan yang pasti. Dia tidak pernah menyatakan rasa suka atau cinta kepadaku. Padahal dia sendiri banyak penggemarnya, banyak yang suka dan cinta padanya. Aku saja yang mungkin baper sama dia. Apalah aku seorang siswa biasa yang punya wajah dan kepintaran yang biasa.
Bulan berganti mendekati ujian. Rasanya baru kemaren aku melihatnya dan mengenalnya. Kini dia akan menghadapi ujian akhir. Semua yang terjadi antara aku dan dia mungkin hanya sebatas kakak kelas dan adik kelas. aku tidak berani mengutarakan isi perasaanku padanya. Aku malu karena aku perempuan masa menyatakan terlebih dahulu.
Sampai akhirnya hari itu tiba, yah hari dimana setelah selesai ujian yaitu hari perpisahan. Aku hanya terdiam, bahkan kejadian demi kejadian terekam jelas di ingatanku. Seperti sedang menonton film yang berputar. Seperti itulah aku mengingatnya. Dari pertama melihat hingga kenal dan dia mengenalku.
Kebersamaan kami yang sering di temani oleh gerimis dan hujan. Semua itu kini hanya tinggal kenangan. Tanpa Aku tahu bagaimana perasaannya padaku. Acara perpisahan berjalan lancar hingga selesai acara.
Semuanya sudah hampir pulang, seluruh siswa dan guru. Tapi Aku masih duduk di depan kelas. Menatap lapangan sekolah, kelas yang dulu ketika dia mengajar Pramuka sebagai DKP. Ruang TU saat kami bertemu mengambil spidol untuk menulis papan tulis. Banyaknya surat beramplop bunga yang tertera namanya.
Semua itu begitu jelas di mataku. Dua tahun sudah tak terasa. Aku menangis tanpa ada yang tahu dan melihat karena aku sendiri duduk di depan kelasku.
Sepi sudah terasa sekolahku saat ini. Aku beranjak dan melangkah untuk mengambil sepeda dan pulang. Saat di depan kelasnya, Aku berhenti melihat kelas yang terakhir di tempatinya. Kelas 3.7 di situlah dia saat ini. Berdiri melihatku karena arahnya kepadaku. Tidak ada siswa lainnya. Aku berpikir dia sedang menatapku atau apa aku sendiri tidak tahu.
Aku mencoba menghindar, biru-buru berjalan dsn mengambil sepedaku. Ternyata dia juga melakukan hal yang sama, mengambil sepeda dan berjalan di belakangku. Seperti terdengar dia memanggilku, namun mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku terus melajukan sepedaku sambil menangis. Entah Aku menangis karena apa.
*
Kini Aku kelas tiga, Aku tidak tahu dia meneruskan sekolah di mana. Aku tanya kakak kelasku yang masih sering ke sekolah katanya tidak tahu. Dia seperti menghilang entah kemana. Tidak ada satupun teman kakak kelas yang aku kenal yang tahu kemana dia melanjutkan sekolahnya.
Mungkin inilah kisah cintaku yang pertama. Debaran jantung pertama kali saat melihatnya. Debaran jantung yang melaju dengan cepat karena bertemu dengannya. Salah tingkah karena bersamanya. Aku sudah menyerah, satu tahun tidak pernah melihatnya ataupun mendengar kabarnya.
Kisah cinta pertamaku yang di temani oleh gerimis dan hujan.
Terimakasih sudah membaca karya cerpenku. Maaf bila ada penulisan kata, nama, atau tempat dan yang lainnya yang masih salah. Semua ini hanyalah sebagai bentuk karya othor belaka. Semoga bisa menghibur reader's di manapun berada.
Salam sehat selalu dan semoga bahagia bersama dengan cinta sejati. 🙏🙏🥰🥰🥰