Di suatu desa bernama Malino di mana desa ini adalah desa yang terpencil terpisah dari peradaban modern dengan nuansa Desa zaman dahulu, masih memiliki hutan-hutan dan pohon yang berumur puluhan tahun. Di dalam desanya terdapat beberapa penduduk yang memiliki agama yang berbeda-beda mulai dari agama Islam, Buddha, Hindu dan Kristen akan tetapi walaupun memiliki agama yang berbeda-beda penduduknya masih menganut aturan-aturan kuno dan mereka masih terjaga keharmonisannya.
Di depan gerbang Desa itu terdapat wanita muda dengan koper-kopernya sedang mengamati suasana desa, wanita itu memakai pakaian khas dokter dengan jas putihnya membuat kecantikannya semakin menguar serta jilbabnya menambah keanggunannya. Wanita itu bernama Sakura, Sakura adalah seorang dokter muda di rumah sakit kota bernama Jakarta. Sakura sekarang berumur 22 tahun dia baru memulai karirnya sebagai dokter selama 2 tahun ini. Sakura baru lulus 2 tahun yang lalu dari Universitas ternama di kota Jakarta. Sakura berpenampilan seperti wanita biasanya yang membedakan adalah Dia memiliki wajah yang baby face sehingga tak dipungkiri banyak orang yang selalu salah paham Jika dia masih anak SMA dengan jilbabnya membuat wajahnya lebih bulat dengan kesan menggemaskan.
Sakura adalah seorang wanita muslimah di mana dia lahir dari keluarga yang menganut ajaran agama yang ketat, Ayahanda Sakura bernama Bagas Saputra sedangkan ibunda Sakura bernama Wulandari. Ayah Sakura seorang Kyai di sebuah pondok dan ibunya seorang guru di Madrasah yang mengajarkan tentang aqidah Islam. Sakura ingin menjadi dokter sebab pernah mengalami suatu kejadian di mana dia merasa tidak berdaya ketika neneknya meninggal akibat mengidap suatu penyakit sebab itu, dia bersikeras untuk menjadi dokter agar bisa membantu sesamanya. Hingga akhirnya dia bisa berhasil menjadi seorang dokter di salah satu rumah sakit ternama di kotanya dan sekarang dia sedang dipindah tugaskan di sebuah desa terpencil, di mana Desa itu sering mengalami peningkatan kematian akibat penyakit yang tidak diketahui.
Sakura berada di desa itu dengan tujuan menjadi seorang dokter selama 2 tahun sehingga membuatnya harus menetap di desa tersebut. Pada hari dia menginjakkan kakinya di desa itu dia bertemu dengan sesosok pemuda bernama Rangga, rangga ini adalah pemuda yang sangat ramah dan berkepribadian baik. Waktu pertama kali sakura melihat rangga dia sudah memiliki perasaan kagum, hanya sebatas kagum. Setelah itu, sakura jadi lebih sering bertemu dengan rangga karena dia pemuda yang sering membantu sakura dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Rangga juga sering mengikuti berbagai kegiatan didesa serta membantu sekitar, hal itu membuat sakura lebih mengagumi sosok rangga.
Setelah menjalani kehidupan didesa itu selama beberapa bulan, sakura sudah bisa beradaptasi dengan masyarakat lainnya, karena sering mengikuti kegiatan didesa untuk mengakrabkan dirinya. Sakura juga lebih sering bertemu dengan Rangga di setiap kegiatan di desa itu bahkan tak jarang Rangga datang untuk membantu sakura dalam melayani masyarakat, hal itu membuat hubungan mereka jadi lebih akrab dari sekedar teman.
Suatu hari Rangga datang menemui sakura dengan perasaan yang mendebarkan.
“sakura” panggilnya pada sakura. Saat ini mereka bertemu di jalan ketika sakura baru selesai menunaikan kewajibannya di masjid.
Sakurapun menoleh”oh hai rangga”sapa balik sakura.
Saat ini rangga benar-benar gugup ketika sudah berada di depan sakura, rasanya benar-benar ingin melarikan diri tapi harus mengungkapkannya dengan segera.
Sakura tetap menunggu rangga untuk berbicara sampai akhirnya rangga bersuara.
“hmm sakura, hari ini aku ingin mengungkapkan apa yang kurasakan setiap bertemu dengan mu. Kamu adalah wanita yang berhati lembut juga penyayang membuatku terpikat setiap saat bersamamu, sejujurnya setahun belakangan ini aku telah mempersiapkan ini untuk memperbaiki diriku untuk bisa layak menjadi pendampingmu. Aku telah bertanya juga kepada pak ustadz tentang maksudku dan meminta beliau untuk menuntunku menjadi seorang muslim selama setahun ini. Sakura, bersedia kah engkau untuk menjadi istriku?”tutur rangga kepada sakura. Sakura terdiam ketika mendengar tutur kata dari rangga.
“rangga, sejujurnya aku memiliki perasaan terhadapmu tapi aku ingin jawabanku di jawab oleh ayahku. sebab beliau yang dapat menentukan jodoh yang terbaik untukku”ungkap sakura.
“baiklah aku akan menemui orang tuamu untuk meminangmu” ungkap rangga.
Sudah genap dua tahun sakura mengabdi pada desa malino, tibalah waktunya sakura untuk kembali ke kota asalnya. Setelah pernyataan rangga kemarin pada sakura, hari ini rangga menunggu sakura di gerbang desa disana juga sudah ada mobil untuk ke kota. Saat ini sakura tengah menuju ke gerbang desa, saat di sana dia melihat rangga seketikapun mengingat kata-kata rangga kemarin.
Saat sudah di depan rangga, sakura pun berpamitan kepada rangga.
“rangga aku balik ke kota, kalau ada waktu aku akan berkunjung ke sini lagi”tutur sakura sambil menarik kopernya.
Rangga memanggil sakura dan sakura pun menoleh.
“aku akan ke rumahmu minggu depan untuk meminangmu” ungkap rangga.
“baiklah aku akan menunggumu”balas sakura.
Seminggu kemudian, sakura berada di rumahnya guna menunggu rangga dia juga sudah mengatakan pada orang tuanya. Kini mereka sedang mempersiapkan kedatangan rangga beserta orang tua rangga.
Beberapa menit kemudian.
Ting tong. Bunyi bell rumah
“sepertinya mereka sudah datang ayah ibu”tutur sakura.
“ya sepertinya begitu”jawab ibu sakura.
Sakurapun membuka pintu rumah sementara ayah dan ibunya menuju ruang tamu. Ketika membuka pintu sakura melihat rangga beserta dua paruh baya yang adalah orang tua rangga. Ayah rangga bernama bimo sedangkan ibunya bernama santi.
“silahkan masuk pak bu, rangga” sakura mempersilahkan mereka ke ruang tamu untuk menjumpai orang tuanya.
Mereka pun berbincang-bincang mengenai hubungan sakura dan rangga sampai akhirnya kedua belah pihak merestui dan telah menentukan hari pernikan mereka.
Sebulan kemudian sakura dan rangga menikah di rumah sakura dengan acara sederhana dan sakura akan mengikuti rangga untuk ke desa, mereka memutuskan untuk menetap di desa.
Seorang dokter muda dari kota jakarta, dokter tersebut bernama Sakura yang dipindah tugaskan ke sebuah desa. Desa itu dinamakan dengan desa Malino. Sakura adalah seorang dokter lulusan dari kampus terbaik di kotanya, Sakura berumur 20 tahun saat lulus dari kampusnya. Setelah bekerja di rumah sakit yang berada di kotanya selama 2 tahun, dia dipindah tugaskan ke sebuah desa. Desa itu berada di pedalaman yang terpisah dengan peradaban modern sehingga penduduknya masih menerapkan aturan-aturan kuno.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh kini Sakura telah berada di depan gerbang desa molino. Dari sana Sakura dapat melihat lingkungan desa molino masih benar-benar Asri karena terpisah dari peradaban luar, di desa ini masih banyak pohon-pohon besar yang mana pohon tersebut biasa disebut dengan pohon beringin.
" hm hm Desa ini benar-benar tidak terjangkau dengan area perkotaan suasananya masih sunyi juga benar-benar terhindar dari polusi. Oke, Mari kita lihat apakah aku akan betah tinggal di desa ini?" Ujar Sakura bermonolog sendiri.
Sakura kemudian masuk ke dalam desa dan mencari rumah kepala desa," sekitar sini masih sunyi padahal sudah jam segini penduduk yang lainnya ke mana?" Ujarnya dalam hati.
Sambil melihat-lihat sekitar Sakura mencari penduduk yang bisa ditanya untuk menanyakan letak rumah kepala desa. Setelah berjalan beberapa saat akhirnya Sakura melihat salah satu penduduk yang sedang mengangkat kayu Sakura pun menghampiri Bapak tersebut Seraya ingin bertanya.
" permisi pak" serunya pada bapak tersebut.
Bapak tersebut pun berhenti dari pekerjaannya dan melihat Siapakah yang memanggilnya." Ya, ada yang bisa dibantu Dek?" Ujar Bapak tersebut.
" hm begini Pak saya dokter dari kota yang ditugaskan ke desa ini, Saya baru sampai ke desa ini dan ingin menemui Kepala Desa Apakah bapak bisa menunjukkan rumah bapak kepala desa?" Tanya sakura kepada bapak tersebut.
Bapak tersebut melihat ke arah Sakura dan terdiam. Sakura yang melihat Bapak tersebut diam akhirnya bertanya kembali" Pak" panggilnya pada bapak tersebut akan tetapi Bapak tersebut masih tetap diam sehingga Sakura harus memanggil Bapak tersebut beberapa kali baru bapak tersebut bisa tersadar dari lamunannya.
" ya ada apa ya Dek" Bapak tersebut pun sadar Seraya berkata.
Melihat Bapak tersebut sudah sadar dari lamunan, Sakura pun mengulang kembali pertanyaannya. "Pak, Bisakah bapak menunjukkan arah rumah kepala desa?" Ujar Sakura Seraya bertanya kembali.
." Oh eh eh itu rumah kepala desa ada di sebelah sana, adek jalan lurus kemudian kalau adek dapat pembelokan ke kiri nah di situ pas rumah bapak kepala desa" ujar Bapak tersebut Seraya terbata-bata.
" Oh baiklah kalau begitu saya permisi dulu ya Pak Terima kasih sudah memberitahu arah ke rumah kepala desa" jawab Sakura.
" Sama-sama Dek" jawab Bapak tersebut.
Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan Sakura pun melanjutkan perjalanan sesuai arahan dari bapak tersebut Seraya berpikir di dalam hati" bapak itu kenapa sih dari tadi seperti orang lagi gugup kan tadi aku cuman nanya rumah kepala desa, aneh-aneh aja" ujar Sakura Dalam Hati berpikir.
Setelah berjalan beberapa saat akhirnya Sakura tiba di depan rumah kepala desa. Dilihatnya rumah kepala desa cukup sunyi seperti tidak berpenghuni Sakura pun berpikir Apakah bapak kepala desa sedang berada di tempat lain. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Sakura memutuskan untuk mengetuk pintu rumah kepala desa karena hari sudah petang.
Tok tok tok." Assalamualaikum"
Setelah mengetuk pintu beberapa saat akhirnya ada yang membukakan pintu, ketika pintu terbuka Sakura bisa melihat orang yang membuka pintu adalah seorang wanita tua." Iya ada apa ya Dek?" Tanya ibu tersebut kepada Sakura.
" Begini Bu, saya Sakura dokter dari kota yang dipindah tugaskan ke desa ini ingin bertemu dengan bapak kepala desa Apakah bapaknya ada?" tutur sakura Kepada Ibu tersebut Seraya bertanya.
" Oh bapaknya lagi tidak berada di rumah Dek, Bapaknya lagi ada di kota sedang ada yang di urus, Kalau boleh saran Adik langsung ke sekdes aja supaya lebih jelas" jawab ibu tersebut
" Oh begitu ya Bu, kalau begitu rumah bapak sekdes di mana ya Bu?" Tanya sakura kepada Ibu tersebut.
" Oh kalau rumah bapak sekdes ada di seberang sana dek, begini saja Ibu hubungi dulu pemuda yang sering mengurus soal kepengurusan Desa nanti beliau yang mengantarkan adik ke rumah Pak sekdes" jawab ibu tersebut.
“baiklah bu” jawab sakura.
Ibu tersebut pun menghubungi pemuda yang dimaksud setelah beberapa saat menunggu Pemuda tersebut telah berada di sini dan sedang berbicara dengan ibu yang merupakan ibu dari bapak kepala desa. Pemuda tersebut bernama Rangga berumur 22 tahun yang kebetulan seumuran dengan Sakura . Setelah beberapa saat Rangga menghampiri Sakura.
" Permisi Mbak, Kebetulan saya yang akan mengantar adik ke rumah Pak sekdes Apakah sudah bisa untuk berangkat?" Tanya Rangga kepada Sakura.
" Baik kita bisa berangkat sekarang" jawab Sakura.
Rangga dan Sakura mengendarai sebuah mobil menuju ke rumah Pak sekdes, selama di perjalanan tidak ada percakapan satupun sehingga mengubah suasana menjadi Canggung karena Sakura sudah menyerah dengan suasana yang canggung seperti ini akhirnya Sakura memulai pembicaraan.
Eh hm ehm. Sakura terbatuk pelan untuk memulai pembicaraan setelah Rangga mengalihkan pandangannya kepada Sakura sekilas akhirnya Sakura memulai obrolan.
" kita belum kenalan Dari awal ya kalau gitu Kenalin nama aku Sakura" ungkap Sakura memulai pembicaraan.
" Nama saya Rangga Supriyanto, Mbak bisa panggil saya Rangga aja" balas Rangga dengan memperkenalkan dirinya.
" Nggak usah pakai Mbak manggilnya soalnya kayaknya kita seumuran deh, Kamu bisa panggil saya dengan Sakura atau bisa juga Rara biasanya kalau di rumah sakit Saya biasanya dipanggil dokter Rara" ujar Sakura.
" Dokter Rara" ucap Rangga mengulang nama panggilan Sakura.
Diperjalanan mereka hanya mengobrol biasa sampai akhirnya mereka tiba di rumah pak sekdes.
“dokter rara kita udah sampai di rumah pak sekdes” ujar rangga setibanya di rumah pak sekdes.
Sakura melihat rumah di samping jalan “oh iya kita sudah sampai” jawab sakura. “yang itu ya rumahnya?”tanyanya pada rangga.
“iya, yang itu rumahnya” jawab rangga.
Sakurapun keluar dari mobil, kemudian berkata pada rangga “terima kasih ya rangga udah mau nganterin saya”ujar sakura.
“sama-sama dok, udah tugas saya juga. Kalau gitu saya balik dulu ya” balas rangga.
“ah iya makasih ya”ujar sakura sambil melihat mobil rangga sudah pergi.
Sakura memasuki pekarangan rumah pak sekdes sampai ke depan pintu kemudian mengetuknya.
Tok tok tok, “assalamualaikum”
Sambil menunggu orang rumah keluar sakura memeriksa handphone ternyata sinyalnya lemah sehingga dia mengirim pesan singkat saja pada orang tuanya untuk memberi tau jika ia telah sampai ke tujuan dengan selamat. Tak lama kemudian pintu terbuka, keluarlah seorang lelaki muda yang tak di sangka ternyata itu adalah sekdes di desa ini.
“waalaikumsalam wr.wb, cari siapa ya dek?” tanya lelaki itu sambil melihat “siapakah wanita cantik didepannya ini” tanyanya dalam hati.
”ah begini saya sakura dokter dari kota yang ditugaskan ke desa ini selama 2 tahun. Bapak sekdesnya ada ya kak?” balas sakura
“oh kebetulan dengan saya sendiri, mari masuk dulu dek” balas lelaki itu.
“hmm bisa ngobrolnya di depan saja kak soalnya nd enak di lihat orang” jawab sakurah menolak seraya menjelaskan.
”baiklah silahkan duduk dek” balas lelaki itu seraya menunjuk ke kursi yang ada di teras.
Mereka pun duduk, kemudian sakura menjelaskan kembali maksud kedatangannya,
“maaf mengganggu kak, saya sakura dokter dari kota yang ditugaskan ke desa ini untuk menjadi dokter selama 2 tahun, saya ingin menanyakan selama saya di desa ini, saya akan tinggal dimana ya?”tanya sakura
“oh iya saya baru aja dapat laporan tadi dari pak kepala desa jika ada dokter dari kota yang akan menetapdi sini selama 2 tahun, ternyata sudah sampai” tutur pak sekdes “perkenalkan nama saya bima, dokter bisa manggil saya dengan kak bima saja. Untuk masalah tempat tinggal kebetulan di polindes semua perlengkapan ada cuman belum dibersihkan” lanjut pak sekdes yang ternyata bernama bima.
“ah begitu ya kak, kalau boleh tau letaknya dimana?” tanya sakura
“kalau polindes letaknya ada di bagian ujung desa ini tapi kayaknya saya berubah pikiran deh soalnya kamu perempuan gimana kalau kamu tinggal di rumah sebelah aja soalnya itu rumah punya adek aku tapi dia lagi kuliah di kota?” balas bima.
”emang nggak ngerepotin kak”ujar sakura
“ya nggak lah lagian di sinilebih aman dari pada di ujung desa, nanti kalau uadah mau tugas baru kamu ke sananya. Untuk besok kita ke sana buat bersih-bersih aja dulu”balas bima
“oke deh kalau gitu makasih ya kak atas bantuannya, ditawarin tempat tinggal lagi” jawab sakura.
Setelah beberapa lama berbincang sakura pun lekas ke rumah di sebelah untuk beristirahat sekaligus berbenah
Keesokan harinya pada hari kamis, dipagi hari sakura baru selesai mandi dan sholat subuh, dia berencana untuk olahraga pagi dengan memakai setelan olahraga muslimah. Diperjalanan sakura bertemu beberapa penduduk yang juga akan ke kebun untuk memulai rutinitas setiap harinya, sakura banyak bersapa dengan para warga dan berkenalan. Setelah berolahraga selama 30 menit, sakura kembali ke rumah sementara untuk bersih-bersih sekaligus membereskan pakaiannya.
Siang harinya, sakura bersiap untuk ke polindes seperti rencananya dengan bima kemarin. Sementara itu, bima telah berada di depan pintu rumah untuk mengajak sakura ke polindes. Sebelum dia mengetuk pintu sakura sudah membukanya sehingga terjadilah suasana yang canggung.
“eh assalamualaikum” sapa bima
“waalaikumsalam wr.wb” jawab sakura
“kamu udah siap?” tanya bima
”udah kok” balas sakura
“kalau gitu kita jalan sekarang aja soalnya bentar sore ada yasinan ibu-ibu di masjid mungkin kamu mau ikut?” tanya bima
“oke deh sekalian aku juga mau kenalan sama warga yang lain” jawab sakura
Mereka pun berangkat ke polindes dengan berjalan kaki, setelah 15 menit perjalanan. Mereka sampai ke tujuan, setelah itu bima membuka pintu dengan kunci yang kebetulan dia yang memegang kunci polindes.
30 menit kemudian.
“alhamdulillah akhirnya selesai” ujar sakura “makasih ya kak udah mau bantuin buat bersih-bersih” lanjutnya
“sama-sama, harusnya aku yang minta maaf tempat ini sudah nggak perbah terpakai oleh sebab itu menjadi kotor dan tidak pernah dibersihkan, padahal ini termasuk fasilitas desa” balas bima
Setelah mereka membereskan semuanya, sakura dan bima kini sedang di perjalanan untuk pulang dan secara kebetulan mereka bertemu dengan rangga.
“halo dokter rara” sapa rangga
“eh hai rangga” sapa balik sakura
“kamu nggak nyapa saya rangga padahal saya ada di sini loh” tegur bima
”ah halojuga bima” sapa rangga dengan tak ikhlas
“rara habis ngapain sama bima?” tanya rangga melihat sakura bersama bima
“kami baru selesai bersih-bersih di polindes” jawab sakura
“oh gitu ya, rara kalau butuh bantuan sama aku aja kan bima pasti sibuk dengan pekerjaannya” protes rangga tidak senang melihat mereka bersama
“siapa bilang aku sibuk, ini juga tugas saya loh untuk membersihkan polindes sebagai aparata desa” tutur bima tak terima
Sakura yang melihat akan ribut akhirnya menyela
“oke rangga nanti kalau aku butuh bantuan nanti saya beri tahu” ujar sakura
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan yang tertunda sebab hari sudah menjelang sore
“rangga kami pamit dulu ya soalnya hari sudah mau sore” pamit sakura pada rangga
“oh baiklah sampai bertemu kembali rara” balas rangga
Setelah berjalan selama beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah
“hmm bima saya masuk dulu ya soalnya mau mandi” ujar sakura
“ah baiklah”
Setelah beberapa saat sakura selesai mandidan memakai pakaian yang baru dia bersiap untuk ke masjid
Selama beberapa bulan sakura menjalani hidupnya di desa itu akhirnya dia sudah bisa beradaptasi. Dia juga menjadi lebih dekat dengan rangga setiap ada kegiatan mereka bertemu
Saat ini mereka sedang menyambut acara 17-an, beberapa warga membuat gapura di gerbang sehingga sakura datang untuk membantu sekaligus membuatkan mereka minuman untuk di minum pada saat istirahat
Saat istirahat, terlihat sakura dan rangga sedang ngobrol bersama kemudian datanglah bima sehingga mereka mengobrol bersama tentu denga beberapawarga juga
2 jam kemudian mereka selesai membuat gapura
“akhirnya selesaijuga” ujar rangga
“alhamdulillah, akujuga udah cape mau puklang mandi” jawab sakura
“ya,kalau gitu bapak-bapak dan ibu-ibu saya dan sakura pulang dulu ya” pamit bima kepada mereka
“ah iya nak bima dan sakura boleh pulang juga iniudah selesai” ucap salah satu warga
Sakura dan bima akhirnya sampai di rumah kemudian mereka masuk ke rumah masing-masing dan membersihkan diri
Tak terasa sudah lewat 1 tahun sakura di desa itu, dia semakin dekat dengan rangga dan bima. Bima dan rangga sering terlibat pertengkaran kecil sehingga sakura harus melerai mereka
Saat ini rangga berada di rumah ustadz yang ada di desa itu dia ingin berkonsultasi untuk menjadi seorang muslim yang benar dia juga sudah membeeri tahu niatnya pada orang tuanya walaupun sempat bertengkar akan tetapi akhirnya orang tuanya menyetujui semua keputusan anaknya
Setelah mengobrol beberapa saat akhirnya rangga memutuskan untuk masuk agama islam, dengan di dampingi orang tuanya rangga sudah melalui proses tahapan dalam pergantian agama, dia diberi beberapa petuah yang harus dilakukan dalam agama islam.
Setelah berganti agama, rangga lebih sering ke masjid untuk mengikuti sholat berjamaah, dia juga beberapa kali melihat sakura di masjid hanya tidak mengahampiri sebab dia ingin memantapkan diri untuk mempelajari islam secara pelan-pelan.
Sementara itu bima juga semakin mendekatkan diri pada sakura karena dia juga menyukai sakura, saat ini bima bermaksud untuk menyatakan perasaannya pada sakura sehingga dia mengajak sakura jalan-jalan ke sekitar desa
“sakura ada yang ingin kukatakan padamu” ucap bima
“silahkan kak, kakak emang mau ngomong apa sampai serius banget” balas sakura
“hmm aku memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman, aku ingin lebih dekat dengan dirimi melalui suatu hubungan yang lebih serius, sakura bolehkah aku berada di samping mu bersama-sama untuk mendekatkan diri kepada allah swt. Sakura aku ingin meminangmu, apakah engkau bersedia bersamaku?” ungkap bima
Sakura yang mendenga ungkapan bima terdiam sebentar, kemudian menariknapas dalam-dalam dengan membaca basmalah di dalam hati
“kak, kakak adalah laki-laki yang baik dan lembut sejujurnya aku juga nyaman sama kakak” sakura menjeda ucapannya sehingga bima yang mendengar awal kalimat sakura menjadi tenang tapi setelah mendengar ucapan selanjutnya
“tapi aku hanya menganggap kakak hanya sebatas saudara laki-laki yang sering menjagaku, aku percaya kakak akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari diriku” lanjut sakura
Seketika bima terdiam tapi itu hanya beberapa saat
“jadi begitu tidak apa-apa mungkin kita tidak berjodoh”ungkap bima berusaha untuk mengikhlaskan
Setelah beberapa saat mereka terdiam, akhirnya mereka sampai di rumah
Tanpa mereka sadari rangga mendengar semua obrolan mereka. Awalnya rangga minder untuk bersama sakura tapi dia meyakinkan dirinya jika jodoh adalah ketentuan allah swt.
1 tahun kemudian
Sudah 2 tahun berlalu, setelah pernyataan bima kepada sakura akhirnya bima sudah bisa mengikhlaskan perasaannya. 2 bulan yang lalu bima telah menikah dengan perempuan pilihannya yang juga wanita yang cantik berhati lembut namanya intan, rangga juga sudah fasih dalam membaca Al-Quran. Dia benar-benar memantapkan hatinya untuk menjadi seorang muslim yang baik, setelah menata hati dia berencana untuk mengungkapkan niatnya kepada sakura sebab besok sakura akan kembali ke kota
Saat ini sakura baru selesai menunaikan sholat dzuhur, tidak lama kemudian datanglah rangga yang juga sudah selesai sholat. Mereka bertemu di jalan saat akan kembali
“sakura” panggilnya pada sakura. Saat ini mereka bertemu di jalan ketika sakura baru selesai menunaikan kewajibannya di masjid.
Sakurapun menoleh”oh hai rangga”sapa balik sakura.
Saat ini rangga benar-benar gugup ketika sudah berada di depan sakura, rasanya benar-benar ingin melarikan diri tapi harus mengungkapkannya dengan segera.
Sakura tetap menunggu rangga untuk berbicara sampai akhirnya rangga bersuara.
“hmm sakura, hari ini aku ingin mengungkapkan apa yang kurasakan setiap bertemu dengan mu. Kamu adalah wanita yang berhati lembut juga penyayang membuatku terpikat setiap saat bersamamu, sejujurnya setahun belakangan ini aku telah mempersiapkan ini untuk memperbaiki diriku untuk bisa layak menjadi pendampingmu. Aku telah bertanya juga kepada pak ustadz tentang maksudku dan meminta beliau untuk menuntunku menjadi seorang muslim selama setahun ini. Sakura, bersedia kah engkau untuk menjadi istriku?”tutur rangga kepada sakura.
Sakura terdiam ketika mendengar tutur kata dari rangga.
“rangga, sejujurnya aku memiliki perasaan terhadapmu tapi aku ingin jawabanku di jawab oleh ayahku. sebab beliau yang dapat menentukan jodoh yang terbaik untukku”ungkap sakura.
“baiklah aku akan menemui orang tuamu untuk meminangmu” ungkap rangga.
Keesokan harinya, rangga menunggu sakura di gerbang desa disana juga sudah ada mobil untuk ke kota. Saat ini sakura tengah menuju ke gerbang desa, saat di sana dia melihat rangga seketikapun mengingat kata-kata rangga kemarin.
Saat sudah di depan rangga, sakura pun berpamitan kepada rangga.
“rangga aku balik ke kota, kalau ada waktu aku akan berkunjung ke sini lagi”tutur sakura sambil menarik kopernya.
Rangga memanggil sakura dan sakura pun menoleh.
“aku akan ke rumahmu minggu depan untuk meminangmu” ungkap rangga.
“baiklah aku akan menunggumu”balas sakura.
Seminggu kemudian, sakura berada di rumahnya guna menunggu rangga dia juga sudah mengatakan pada orang tuanya. Kini mereka sedang mempersiapkan kedatangan rangga beserta orang tua rangga.
Beberapa menit kemudian.
Ting tong. Bunyi bell rumah
“sepertinya mereka sudah datang ayah ibu”tutur sakura.
“ya sepertinya begitu”jawab ibu sakura.
Sakurapun membuka pintu rumah sementara ayah dan ibunya menuju ruang tamu. Ketika membuka pintu sakura melihat rangga beserta dua paruh baya yang adalah orang tua rangga. Ayah rangga bernama bimo sedangkan ibunya bernama santi.
“silahkan masuk pak bu, rangga” sakura mempersilahkan mereka ke ruang tamu untuk menjumpai orang tuanya.
Mereka pun berbincang-bincang mengenai hubungan sakura dan rangga sampai akhirnya kedua belah pihak merestui dan telah menentukan hari pernikan mereka.
Sebulan kemudian sakura dan rangga menikah di rumah sakura dengan acara sederhana dan sakura akan mengikuti rangga untuk ke desa, mereka memutuskan untuk menetap di desa.
Saat ini rangga dan sakura sedang berjalan di sekitar desa sambil menyapa penduduk. Terkadang ada penduduk yang mengajak mereka ngobrol untuk sekedar memberi selamat atas pernikahan mereka.
“rara, jujur awalnya aku agak minder ingin melamar kamu karena kamu taulah aku dulunya bukan orang muslim aku takut ditolak sama kamu apalagi bima pernah ngungkapin perasaannya sama kamu aku liat dia punya perasaan yang sama kayak aku ke kamu tapi setelah mendengar penolakanmu aku jadi tenang habisnya bimakan orang nya ganteng, juga dia kan memang sudah dari awal orang muslim dilihat dari segi manapun kalian cocok” ujar rangga menceritakan kegundaan hatinya selama ini.
“mas rangga, kalau jodoh bukan kita yang atur bukan juga dilihat dari segi agama. Jujur rara emang udah ada perasaan sama mas rangga udah dari lama sejak kita bertemu, rara kagum sama sikap dan perilaku mas rangga itu yang membuat rara memiliki perasaan lebih sama mas rangga. Tapi aku nggak yakin apakah kita bisa bersama karena kita terhalang oleh agama yang berbeda, aku selalu berdoa di setiap sholatku jika mas rangga jodohku aku meminta jalan keluar yang terbaik tapi jika mas rangga bukan jodohku aku meminta agar perasaan ini bisa ikhlas”ungkap sakura
Rangga yang mendengar itu tak bisa membendung rasa harunya dia pun memeluk istrinya itu, sakura kemudian membalas pelukan suaminya
“terima kasih ya rara udah mau berjuang untuk menjaga perasaanmu hingga aku datang untuk menjemputmu, aku sangat bersyukur memiliki kamu sebagai istriku, aku mencintaimu istriku” tutur rangga
“aku juga mencintaimu suamiku” balas sakura
***SELESAI***