Selama ini aku tidak pernah menyadarinya, bahwa selama ini aku tidak pernah bisa bersama dengan orang yang kusuka.
“Aku ingin putus.” Ucapku kepada setiap pria yang pernahku pacari. Setiap hubungan yang kujalani bahkan tidak pernah bertahan sampai 3 bulan.
Menurutku ini bukan salah siapapun karna setiap negara memiliki standar kecantikannya masing-masing.
Kulit sawo matang, badan yang tidak terlalu tinggi, hidung yang lumayan besar, dan tidak memiliki bentuk badan yang bagus membuatku selalu berpikir bahwa aku tidak bisa mendapat orang yang aku sukai.
Aku berpikir, mungkin jika aku seperti wanita itu yang memiliki badan bagus, kulit putih, hidung kecil dan mata besar, apakah orang yang kusukaiku akan berbalik menyukai ku juga?
Selama kuliah, aku memutuskan untuk tidak memiliki hubungan romansa dengan orang yang tidak kusukai, karna jika aku mengiakan permintaan mereka sedangkan aku sendiri tidak memiliki perasaan yang bisa kuberikan, maka itu hanya akan menyakiti orang itu.
Beberapa kali aku menyukai seseorang tapi semua itu pupus ketika aku mengetahui bahwa dia sudah memiliki seseorang disisinya.
Hal itu mungkin membuatku terpukul tapi dalam kehidupanku, semua itu adalah hal biasa yang sering terjadi. Hingga seseorang dosen yang tak pernah berinteraksi denganku, bertanya akan hal yang biasa saja.
“Virona, saya pikir kamu pendidikan biologi?” Tanya-nya sambil menatapku biasa saja.
“Bukan pak, saya prodi ilmu biologi.” Jawabku singkat.
Sejujurnya ini bukan hal yang bisa dibanggakan, aku hanya merasa heran saja, karna aku tidak pernah berinteraksi dengannya beberpa semester lalu dan ini pertama kalinya aku berbicara langsung dengannya dan ternyata namaku sudah diketahui oleh dosen muda itu.
Selama berjalannya waktu aku masih biasa saja dengan pembelajaran di kelas miliknya, tapi seiring berjalannya waktu kami sekelas mulai tersiksa dengan tugas-tugas yang ia berikan.
Jam 02.00
“Uuweeeek.” Ketika semua orang tengah tidur dengan nyenyak malam itu, aku sedang munta-munta karna mengerjakan tugas dosen yang hampir membuatku gila.
“Sialan. Semester depan, aku tidak akan pernah mengontrak mata kuliahnya lagi.” Umpatku sambil memegang plastik yang penuh dengan muntahan.
“Hei Virona, bagaimana? Apa tugasnya sudah?” Ujar temanku keesokan paginya saat bertemu dikampus.
“Ohh tentu saja belum haha.”
“Hahah.”
Layaknya orang gila, kami tertawa dengan mata panda yang berlipat-lipat dibawah mata.
Setelah semester itu berlalu, aku mengikuti mata kuliah yang akan temanku kontrak karna yang harus kami kontrak adalah mata kuliah wajib semua.
Selama mengontrak, aku tidak melihat nama donsen itu didalam daftar nama kelas jadi kupikir aku akan aman untuk kedepannya.
“Selamat pagi, baik saya yang akan mengajar kalian hari ini, jadi silahkan yang presentasi bisa dimulai.” Ujar dosen yang aku hindari.
“Apa yang sebenarnya yang kuharapkan.” Gumamku dengan wajah pasrah sambil duduk diam dikelas menyaksikan tiga mata kuliah yang isinya dosen yang paling ku hindari.
Selama beberapa saat mungkin otakku sudah gila, karna aku terkadang selalu memikirkan bahwa dosen ini imut. Aku bahkan selalu mengehela napas panjang ketika berpikir seperti itu.
Hari-demi hari berlalu, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi wajah dosen itu selalu berputar terus-menerus dikepalaku. Bahkan, nada bicaranya saat mengajar seperti terus terdengar, baik saat aku bangun tidur, saat mau tidur, mandi, makan bahkan berjalan selalu saja muncul.
“Aarggghh.” Karna merasa kesal akan hal itu, aku terkadang berteriak sendiri untuk menghilangkan wajahnya dari otakku.
Dosen itu mungkin tidak terlalu tampan, tapi banyak yang menyukainya dikampus. Bahkan teman-temanku juga menyukainya tapi tidak lebih, seperti hanya sebatas fans saja.
Selama beberpa hari aku berpikir mungkin aku harus mengenakan sesuatu yang bagus atau mulai mencoba berdandan, tapi aku urungkan keinginanku karna aku takut jika aku berharap lebih pada orang yang bahkan sangat jarang berbicara denganku.
Hubungan kami hanya sebatas mahasiswa dan dosen.
Tapi mungkin aku sudah jatuh terlau dalam saat itu juga, masalahnya aku ingin kembali tapi tidak bisa.
Rasa insecure ku bahkan lebih menjadi-jadi ketika melihat banyak wanita cantik baik itu mahasiswa ataupun dosen yang menyukai-nya.
Pemikiranku mulai kacau, aku berpikir mungkin jika aku membuat kulitku makin putih dan mulai berdandan layaknya wanita, mungkin saja, mungkin saja dia akan menyukaiku.
“Dia sudah punya pacar.” Ujar temanku dengan wajah sedih.
“Waktu itu katanya belum.” Ucapku dengan wajah biasa saja tapi dalam hatiku terasa begitu sesak.
“Iya aku melihatnya sendiri, dilaptobnya terdapat gambar wanita cantik disana.”
Perbincangannya berlajut terus-menerus hingga aku sadar bahwa aku tidak bisa mendapatkan seorang yang aku sukai.
Mungkin suatu saat akan datang hari dimana orang yang kusukai akan menyukai ku.
Mungkin saja iya atau mungkin saja tidak.