Di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, ada dua pemuda yang bersahabat sejak kecil. Mereka adalah Joko dan Budi. Joko adalah pemuda yang gemar makan singkong. Setiap hari, dia pasti menyempatkan diri untuk makan singkong, baik di rumah, di sekolah, atau di mana pun dia berada. Budi, di sisi lain, adalah pemuda yang gemar makan kempong. Kempong adalah makanan khas Kota Tegal Jawa Tengah yang terbuat dari ampas tahu yang diolah menjadi gorengan yang lembut nan gurih.
Kegemaran Joko dan Budi makan singkong dan kempong ini sering kali menjadi bahan candaan teman-teman mereka. Mereka menganggap Joko dan Budi sebagai orang-orang yang "ndeso" karena suka makan makanan yang dianggap kampungan. Namun, Joko dan Budi tidak peduli dengan anggapan teman-teman mereka. Mereka tetap setia dengan kegemaran mereka makan singkong dan kempong.
Meski memiliki kegemaran makan makanan yang sebagian besar orang menganggapnya makanan "ndeso", Joko dan Budi sama-sama sukses berkarir di perusahaan yang bonafid di Jakarta. Budi adalah seorang direktur marketing, sedangkan Joko adalah seorang manajer keuangan.
Namun, ada satu hal yang tidak diketahui oleh orang-orang di kantor tersebut. Joko dan Budi memiliki kebiasaan kentut di sembarang tempat. Dan setiap kali kentut, mereka tidak mengeluarkan bunyi, namun berbau tajam.
Pada suatu hari, di sebuah perusahaan dimana Joko dan Budi bekerja, sedang berlangsung rapat penting. Rapat tersebut dihadiri oleh seluruh jajaran direksi dan manajer perusahaan, termasuk CEO. Rapat tersebut membahas tentang rencana ekspansi perusahaan ke luar negeri.
Rapat berlangsung dengan serius. Semua peserta rapat mendengarkan dengan seksama penjelasan dari sang direktur. Namun, tiba-tiba, sebuah suara kentut terdengar mengagetkan.
Semua peserta rapat terdiam. Mereka saling melirik, berusaha mencari tahu siapa yang kentut. Namun, tak ada satu pun yang mengaku.
Suara kentut itu terdengar lagi. Kali ini, lebih keras dari sebelumnya. Peserta rapat pun mulai gelisah. Mereka tidak bisa fokus mendengarkan penjelasan sang direktur.
"Apakah ada yang sakit?" tanya sang direktur.
"Tidak ada, Pak," jawab para peserta rapat serempak.
Rapat pun dilanjutkan. Namun, suara kentut itu terus terdengar. Kentut itu seperti makhluk hidup yang berkeliaran di ruangan rapat.
Kentut itu menari-nari di antara para peserta rapat. Kentut itu mengelilingi meja rapat, hingga akhirnya sampai di depan sang direktur.
Sang direktur kaget mendengar suara kentut di depannya. Ia pun menoleh ke arah peserta rapat, berusaha mencari tahu siapa yang kentut.
"Siapa yang kentut?" tanya sang direktur dengan nada marah.
"Itu pasti kentut Pak Budi," bisik salah satu peserta rapat.
"Jangan asal menuduh," jawab Pak Budi.
"Ya, siapa lagi kalau bukan Pak Budi?" tanya peserta rapat lainnya.
"Diam!" teriak sang direktur.
Rapat pun kembali dilanjutkan. Namun, suasana rapat sudah tidak lagi kondusif. Semua peserta rapat saling curiga. Mereka tidak bisa fokus mendengarkan penjelasan sang direktur.
Akhirnya, rapat pun ditunda. Sang direktur pun merasa malu dan kecewa. Ia tidak menyangka bahwa rapat penting yang telah dipersiapkan dengan matang, harus berakhir dengan tragedi kentut.
Awalnya, Budi dan Joko tidak menyadari bahwa mereka telah kentut. Mereka hanya merasa ada bau yang menyengat di hidung. Mereka pun saling menoleh karena mencium bau tersebut.
"Bau apa ini, Jok?" tanya Budi.
"Entahlah," jawab Joko. "Baunya aneh sekali."
Budi dan Joko pun mulai curiga. Mereka saling tatap, mencari tahu siapa yang telah kentut. Namun, keduanya tidak menemukan siapa pun yang tampak mencurigakan.
Rapat pun terus berlanjut, dan bau kentut itu semakin menyengat. Para peserta rapat mulai merasa terganggu. Mereka saling menoleh, mencari tahu siapa yang telah kentut.
Direktur yang memimpin rapat pun mulai curiga. Ia pun meminta para peserta rapat untuk mencium ketiaknya.
"Apa ada yang mencium bau kentut di ketiak kalian?" tanya direktur.
Para peserta rapat pun mencium ketiaknya masing-masing. Namun, tidak ada yang menemukan bau kentut.
Budi dan Joko pun semakin gelisah. Mereka tahu bahwa merekalah yang telah kentut. Namun, mereka tidak berani mengakuinya.
Aroma kentut di ruangan rapat pun semakin menyebar ke seluruh ruangan rapat. Para peserta rapat pun mulai merasa mual dan pusing.
"Aromanya semakin menyengat sekali," kata seorang peserta rapat.
"Ini rapat penting, tapi malah jadi terganggu karena aroma kentut," kata peserta rapat lainnya.
Peserta rapat pun mulai berdiskusi tentang bagaimana cara mengatasi aroma kentut di ruangan.
"Kita harus cari cara untuk menghilangkan aroma ini," kata seorang peserta rapat.
"Kalau tidak, rapat ini tidak akan bisa dilanjutkan," kata peserta rapat lainnya.
Setelah berdiskusi, akhirnya para peserta rapat memutuskan untuk menggunakan mesin vacum penyedot deby untuk menyedot aroma kentut.
"Ini ide yang bagus!" kata seorang peserta rapat.
"Mesin vacum pasti bisa menyedot aroma kentut ini," kata peserta rapat lainnya.
Mesin vacum pun dibawa ke ruangan rapat. Para peserta rapat pun mulai menyedot aroma kentut dengan mesin vacum penyedot debu.
"Ayo, kita hisap semuanya!" kata seorang peserta rapat.
"Ayo, kita bersihkan ruangan ini dari aroma kentut!" kata peserta rapat lainnya.
Mesin vacum pun bekerja dengan kerasnya. Aroma kentut pun mulai tersedot ke dalam mesin vacum.
"Wah, hasilnya lumayan bagus," kata seorang peserta rapat.
"Aroma kentutnya mulai berkurang," kata peserta rapat lainnya.
Akhirnya, setelah beberapa saat, aroma kentut pun berhasil disedot habis oleh mesin vacum.
"Aromanya sudah hilang!" kata seorang peserta rapat.
"Kita bisa melanjutkan rapat sekarang," kata peserta rapat lainnya.
Para peserta rapat pun kembali serius mendengarkan presentasi Direktur.
Dengan hilangnya aroma kentut, rapat penting itu pun dapat dilanjutkan kembali. Namun, kejadian tersebut tidak akan pernah bisa dilupakan oleh para peserta rapat. Mereka akan selalu mengingat bagaimana rapat penting itu terganggu oleh aroma kentut peserta rapat tanpa ada yang mau mengaku.