Pagi hingga siang bersekolah sore hingga malam menjadi guru bagi anak-anak sekolah dasar dan mengerjakan tugas pesanan orang lain yang membuatku terkadang tak mendapat waktu tidur dan makan yang baik dan sesrkali menjadi pengunjung tetap Uks.
Dan kehidupanku selama setengah tahun yang kurasa amat berat di usia belia pun semakin menggelamkanku ke dalam psikis yang mengalami depresi, kecemasan yang terkadang membuat tubuh mau pun tanganku bergetar tanpa alasan yang jelas.
Pada saat pertengahan tahun di bulan ke-7 sepupuku Farelo Argalis yang berusia 23 tahun datang ke rumah ini, dengan alasan untuk menumpang selama masa perkuliahan yang ia lanjutkan untuk menempuh S2 kedokteran di salah satu Univesitas terkenal di kotaku yang berada pada kota B.
Kebetulan kedua orang tuanya mengetahui bahwa keluargaku tinggal di sini dan mengingat dan mengusulkan padanya untuk menumpang saja di banding menyewa kos atau kontrakan yang akan terlalu banyak memakan biaya toh universitas itu dan rumahku tak terlalu jauh.
Awal ia datang aku hanya acuh tak acuh dan diam saja menanggapi kedatanganya yang di sambut cukup ramah oleh ibuku yang biasa menganggapku seperti udara.
Setelahnya tak ada kehidupan yang berubah selain tambahan satu orang di rumah yang sebelumnya hanya di tinggali dua wanita. Awalnya kami amat canggung namun berangsur biasa seperti hubungan antar kerabat kebanyakat yang hanya tegur sapa sesekali membicarakan hubungan di masa kecil yang di katakan bahwa dulu aku sangat lekat denganya seperti saudara kandung namun sepertinya aku lupa.
Hal itu ia ceritakan saat menemaniku yang terbaring lemah dalam keadaan demam setelah mencoba untuk menenggelamkan diri di dalam kamar mandi, yah aku amat tidak puas akan hidupku, hati dan jiwa ini sesak dan aku kesakitan setiap malam akan semua mimpi buruk dan sikap dingin sekitarku. Aku merasa tak ada yang peduli dan tak ada yang menyayangi diriku.
Untuk apa aku hidup? Apakah aku belenggu? Apakah aku pembawa sial? Jika begitu lebih baik pergi saja dari dunia ini. Begitu pikirku saat itu.
Namun semua tak sesuai harapan saat Kak Farel mendobrak pintu kamar mandi yang selama 15 menit ia ketuk dengan suara panggilan cemas karena ia yang tak menemukanku di sekitar rumah namun kamar mandi terkunci dengan siluet lampu menyala di dalam namun tak ada jawaban dariku yang sudah setengah mencelupkan kepala di dalam bak dan memaksakan diri untuk tak bernafas.
Tok, tok. "Fey!"
"Fey kamu di dalamkan?"
Tok, tok. "Fey sudah 10 menit kok lama banget?"
Tok, tok." Fey handukmu gak di bawa kamu gak mandi kan?"
Ketukan silih berganti setiap 3 menit kak Farel menanyaiku dengan nada gusar dan cemas ada rasa curiga di hatinya karna aku yang tak menjawab.
"Fey jawab donk jangan bikin kakak khawatir!" serunya dengan suara yang agak mengeras takut aku tak mendengar.
Setelah 15 menit terakhir dan tak ada jawaban ia pun hanya mengertakan diri dan mencoba menabrak pintu dan mendobraknya terus menerus hingga akhirnya pintu pun terbuka yang memancarkan cahaya kuning kamar mandi yang tak terlalu terang yang memperlihatkan aku dengan tubuh yang setengah membungkuk dan kepala yang telah tenggelam kedalam bak yang memiliki kedalaman setengah meter dari tinggiku yang hanya 160 ini.
"Fey! Apa yang kamu lakukan! Kamu gak seharusnya begini keluar!"serunya kaget dan marah dengan raut yang teramat khawatir dan lekas menarik tubuhku yang sudah setengah lemas namun untungya ia berhasil bergerak cepat membebaskan kepalaku dari air membuatku kembali menghirup oksigen di sekitardengan nafas dan paru-paru yang menderu cepat menghirup oksigen dengan gila di sekitar.
Air mataku pun turun bercucuran dengan kepala yang menadah keatas dan rambut sebahu yang basah dan meneteskan air membasahkan baju piyamaku.
Setelah malam itu ia pun mencoba selalu menemaniku di setiap kesempatan dan banyak berbicara denganku atau kadang mengajakku untuk melihat dunia luar seperti halnya seorang dokter yang merawat pasienya. Sepertinya aku pasien pertamanya kan? Haha terkadang hatiku menghangat saat tak kala memergoki ia di belakang yang menghubungi temanya yang berada di jurusan Psikologi atau pun profesor dalam jurusan yang serupa di universitasnya yang menanyakan hal-hal tentang perawatan remaja yang depresi.
Sepertinya ia ingin membawaku pada profesional namun ia belum berani karena takut aku akan merasa tak nyaman dan semakin menekanku karena mengetahui aku yang juga memiliki gangguan sosial kala itu, waktu pun berlalu cepat.
Hingga aku saat ini telah menjadi siswa menengah atas dan mulai melakukan perawatan secara profesional yang di bimbing langsung dan slalu di temani oleh Kak Farel.
"Kak makasihya udah datang ke hidup Fey, tanpa kakak pasti Fey gak bisa hidup selama ini."
"Makasih udah bantu Fey buat Move On dan menamani Fey juga bantu kehidupan Fey walau kakak gak bisa bantu rubah Ibu menjadi yang Fey harapkan atau bisa ketemu Ayah lagi yang entah di mana."
"Fey harap Kak Farel masih akan tetap mendampingi Fey sampai Fey bisa dewasa dan kuat untuk benar-benar sembuh hingga kak Farel gak perlu khawatir sama Fey lagi karena Fey masih belum berani berjuang sendirian."
"Maafyah Fey nyusahin kakak padahal kakak pasti sibuk juga." ucapku panjang lebar yang bersandar di bahunya dalam posisi kamu yang duduk di bawah pohon rindang besar di sebuah taman yang menampilkan pemandangan hangat aktifitas piknik di sekitar yang tampak ceria dan hangat yang kadang membuat rasa iri membubuh di hati.
"Gak apa-apa kok Fey kamu sudah kakak anggap adik kandung sendiri, aoanya yang repot, kesusahanmu kesusahan kakak juga jadi jangan menanggungnya sendiri. Jangan menangis sendiri, kamu tidak sendirian ada kakak, Ayah dan Bunda juga selalu nanyain kamu dan khawatir mereka harap nanti tahun baru kita bisa pulang sama-sama. Kamu masih punya keluarga lain yang sayang dan peduli kamu."
"Ingat mereka yang datang dan selalu percaya sama kamu, mereka juga pasti sayang kamu walau mereka tidak benar-benar tahu bagaimana kamu."
" kamu harus tetap ingin kamu tidak sendiri, akan selalu ada orang yang datang dan pergi dalam hidupmu untuk kasih kamu cinta, kasih, dan pelajaran dalam hidup. Kamu gak boleh menyerah,karena setiap manusia pasti di ciptakan untuk suatu tujuan, seperti kamu yang selalu menjadi tempat bercerita bagi teman-temanmu. Dan seperti kakak yang selalu bisa jadi tempatmu untuk bersandar."
"Kamu selalu bisa datang pada kakak juga Ayah dan Bunda kakak jika kamu sepi sendirian."
"Terima-kasih kak Farel malaikat penyemangat Fey."
======
* THE * END *
Jangan lupa (Manggonya) what do you think and feel? Comment here🤗