Aku terdiam manakala bertemu dengan sosok yang begitu memesona. Bagaimana bisa dari sekian banyak gugus, aku bisa bertemu dengan orang yang memiliki nama sama denganku. Raza. Padahal menurutku, nama Raza tidak begitu pasaran.
"Aku Raza."
Ia mengulurkan tangannya padaku, yang akhirnya mau tak mau aku menerimanya. "Aku juga Raza. Salam kenal."
Canggung juga.
Kuakui ia tampan, tapi jika dibandingkan dengan Renjun-gege,- ia kalah. Tapi ia memang standar ketampanan orang Indonesia. Matanya agak lebar, meskipun nyatanya lebih lebar mataku dengan kacamata bulat yang nangkring di hidungnya. Rambutnya yang ikal itu agak awut-awutan, dan senyumnya yang tak lebar itu terkesan agak dipaksakan.
"Udah ngerjain tugas?"
"Hah?" Mataku berkedip. Apa tidak salah pendengaranku ini? Baru saja resmi menjadi maba, tapi ia sudah seperti ini. Ambis sekali.
Aku tersenyum kecil, dan menganggukkan kepala. Jelas saja aku sudah menyelesaikan tugas ospek yang begitu menggunung itu karena aku masuk jalur SNBT. Sedangkan dirinya baru saja diterima.
"Kalau aku butuh bantuan, aku hubungi kamu, ya."
Aku ternganga. Dari sekian banyak orang yang berada di gugus, kenapa aku yang menjadi penghubung antara tugas yang satu dengan tugas lainnya? Tapi aku tidak mungkin menolak.
"Oke."
"Terima kasih."
Aku tersenyum. Tidak apa-apa, mungkin ini adalah saat yang pas untuk aku berusaha akrab dengan semua orang. Aku ingin bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Dan ini bisa menjadi pilihan yang baik.
"Mau aku anterin pulang?"
Aku refleks menengok ke arahnya. "Apa?"
"Mau aku anterin pulang?" Ia mengulang ucapannya lagi. Ini benar-benar berbeda. Kapan aku pernah diajak pulang bersama?
"Nggak usah. Aku naik bis." Aku menolaknya karena bagaimanapun juga kami baru berkenalan. Tidak mungkin ia langsung mengantarku pulang.
"Oh, oke."
Dan pertemuan ini berakhir, tepat ketika azan magrib berkumandang. Aku lanjut ke musala rektor, ia pergi lebih dulu.
Aku adalah tipe introvert pertengahan, kata Mama. Kalau ada orang yang sudah mengenalku dan aku merasa nyaman dengannya, maka aku cenderung menyuguhkan sisi reog-ku. Tapi kadang-kadang, aku terlihat misterius juga dimata orang yang mengenalku.
Hanya ada 2 orang yang sangat mengenalku selain keluargaku. Yaitu Gibran dan Naomi. Gibran sendiri adalah sahabat sejak aku kecil, sedangkan Naomi adalah pacarnya sejak SMP. Mereka selalu kompak dalam semua hal, apalagi yang berkaitan denganku. Kadangkala, mereka menjadi makcomblangku.
Aku melangkahkan kakiku menuju halte. Lelah ternyata, padahal hanya duduk manis saja. Ketika pandangan mataku beralih ke swalayan dekat kampus, aku melihat Raza dengan seorang laki-laki yang sepertinya adalah temannya.
Mataku bertatapan dengan matanya. Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Benar-benar aneh. Ada apa dengan diriku?
Ping.
Aku merogoh kantong dan mengambil ponsel. Tertera nama Naomi disana. Aku lekas membuka pesan yang dikirimkan.
Naomi : Cepet pulang, Za. Gib nunggu kamu lama. Abang-abang kamu juga nunggu.
Ada yang aneh. Abang-abang menungguku? Kenapa harus lewat pesan Naomi? Padahal mereka juga memiliki kontak adik bungsunya ini.
Raza : Oke.
Aku melihat bis jalurku pulang akhirnya datang. Aku lekas bersiap diri dan kemudian masuk ke dalam.
Kulihat, siluet Raza masih ada.