"Menjadi telinga pendengar dan penyemangat yang baik bagi orang lain bukan berarti kamu memiliki pendengar dan penyemangat yang baik pula."
" Mirisnya mampu menjadi energi penyemangat bagi orang lain dengan berbagai kata-kata motivasi tidak cukup untuk menjadikan keduanya motivasi dan energimu sendiri. Dan kamu hanya bisa terus mencari alasan untuk bertahan sebisamu."
-Fey-
***
Namaku Freyana Alisaia atau biasa di kenal sebagai Fey oleh teman-teman di sekitarku, usiaku 16 tahun baru saja menduduki kelas satu SMA di sebuah sekolah negri sebagai salah satu anak Ipa karena bagiku yang seorang Introvert tentu Ips tidak cocok.
Bagi mereka aku adalah teman sejati, cahabat, tempat curhat. Tapi bagiku mereka hanya sekadar kenalan. Karena tak ada yang bernar-benar tahu bagaimana aku yang sebenarnya.
Sebagai anak Brokenhome yang tidak tampak seperti anak Brokenhome. Tentu saja aku berhasil mengelabui mereka dengan topengku yang tampak hanya baik-baik saja.
Hidupku setiap hari sama, tidak ada yang berbeda dan tak ada banyak warna. Rasanya hanya kelabu jika beruntung ada pelangi atau hanya di temani dengan cahaya rembulan yang sepi di malam berhiaskan langit berbintang.
Seperti biasa aku termenung menatap jauh melalui kaca jendela ruang kelas. Duduk di posisi kursi terbelakang yang membuatku merasanyaman karena tak akan ada yang terlalu memperhatikan di tempat yang tidak mencolok ini. Tidak seperti teman sebaya lainya yang dengan riang kesana kemari bercanda gurau aku adalah sosok pendiam yang tak banyak berekspresi dan tak terlalu suka berbicara namun bukan berarti aku anti sosial. Tentu jika ada yang menegur dan menanyaiku tentang suatu topik bahkan jika itu keluh kesah aku akan dengan senang hati dan lapang dada untuk mendengarkanya.
Seperti saat ini tepat duduk di sebelah kananku, ada seorang gadis mungil yang tampak bersemangat namun sedang tidak bersemangat dengan lesu membaringkan kepalanya di atas meja dengan tangan terlipas sebagai bantalan.
Namanya Alice ia adalah teman sebangku yang memiliki kepribadian ramah dan periang namun kali ini tidak demikian setelah setengah jam lalu aku terus di bombardir dengan keluh kesah akan kondisi rumahnya.
"Fey sebel banget deh masa ayah dan ibuku gak mau beliin aku Laptop padahal kakaku di beliin, huft lalu adikku juga di beliin Handphone baru tapi aku cumandi kasih bekasnya."
"Begini nasip generasi sandwitch, apakah dirikuh anak yang tak di harapkan?" keluh Alice dengan berbagai pikiran yang aku pikir efek dari hobinya membaca novel dengan genre serupa.
"Sandwitch apa sih? Kamu jangan ngomong sembarangan deh,yah mungkin aja kakakmu lebih perlu buat kuliahnya dan bukanya adikmu yang dia punya rusak minggu lalu?" balasku menanggapi lucu keluhan teman sebangku ku ini.
"Ya tapikan aku juga mau!" serunya lembut dengan raut cemberut yang tampak menggemaskan.
"Coba pikir selama kamu hidup bersama mereka, apakah kamu sudah tidur dengan baik? Makan dengan baik tanpa khawatir besok makan apa, apakah kamu bisa melalui sekolah sampai akhir?" tanyaku mencoba menyadarkanya dari prasangka buruk.
"Hemm, kalau di pikir-pikir enggak sih Fey," jawabnya setelah berpikir sejenak.
"Yah berarti mereka tidak mengabaikanmu seperti novel-novel menyedihkan yang kau baca itu Lic, jangan banyak berpikir bersyukurlah dan pikirkan ke arah posisitif mungkin mereka tidak memiliki cukup uang untuk itu menimbang dari siapa yang paling membutuhkan, kamu mungkin hanya butuh untuk membaca Novel dan juga untuk bermainkan?" jelasku menjelaskan padanya melalui cara pandang yang berbeda.
"Yah mungkin begitu, huft, sepertinya aku terlalu banyak berpikir dan kurang pandai bersyukur, Yos! Mungkin jika aku belajar dengan baik dan menabung aku bisa membeli sendiri deh Fey, makasihyah Feyku! Uwu peluk kamu sini," balasnya dengan nada bersemangat yang telah pulih dan mulai termotivasi sembari menubruk dan memeluk erat tubuhku seperti anak kucing.
"Huhuhu Fey! ...."
Pasien lain pun datang. Hah, berginilah hari-hariku menjadi buku pencurahan hati yang gelisah bagi kantung bunga menangis yang lembu di sekitar ini. Mungkin di masa depan jadi Psikolog cucuk untukku tapi akan lucu jika itu tidak menjadi alasan untuk menyembuhkan orang lain yang mana untuk bisa segera menyembuhkan diri-sendiri.
Setelah sepanjang hari yang kuhabiskan untuk belajar dan membantu orang lain sebagai pendengar aku pun kembali memasuki rumah ini.
Rumah yang tak terlalu besar atau mewah bertingkat dua biasa. Arah rumah dan sekolah yang tak terlalu jauh pun amat memudahkanku untuk pulang pergi dengan berjalan kaki.
Biasanya aku menghabiskan hari-hari seperti biasa dengan waktu sebagian besar mengurung diri di kamar.
Yah seperti itu di masa lalu toh jika keluar pun tak ada hal yang bisa di lakukan selain makan, pergi mandi dan jika kedua orang tuaku hadir pun hanya ada pertikaian yang membuatku tenggelam pada hawa dingin.
"Aku kedinginan dan ketakutan sendiri, ayah selalu pergi kerja sangat awal dan kembali setiap beberapa hari, dan ibu akan selalu mengoceh dengan kata-kata makian dan kutukan untuk ayah yang sulit di hubungi, lalu saat keduanya bertegur sama pada suatu hari entah siang atau pun malam keduanya akan bertengkar hebat.
Tak terhitung suara pecahan kaca, bantingan barang, tendangan dinding triplek yang tipis dari Ayah mau pun tangisan kencang ibu dan adu argumen keduanya. Yang membuat tubuhku gemetar hingga keduanya memutuskan untuk berpisah pada suatu hari. Bagaimana perasaanku?
Hanya terasa bahwa kosong karena sepertinya aku telah berada di titik kehancuran yang membuatku tenggelam dalam jurang ketakutan yang membawaku pada mimpi- mimli buruk, rubuhku bergetar dan amat mudah terbangun dengan suara sekecil apapun.
Namun sebelum diriku benar-benar lebur dalam kehancuran. Seseorang datang dan membantuku memulihkan diri seperti mengumpulkan puing-puing vas bunga yang pecah dan menjadikan dirinya lem perekat untuk mendukung diriku yang tak lagi bisa menjadi vas yang utuh seperti dahulu.
Kedatangan Kak Farel kakak sepupuku yang telah menjadi seperti malaikat penyelamat dan menjadi penyemangatku.
Tanpa dirinya aku yang telah terpuruk dan tak lagi memiliki semangat untuk bisa terus menjalani kehidupan ini mungkin tak akan selamat kala itu.
Saat-saat kedua orang tuaku berpisah Ayah yang telah meninggalkan rumah dan Ibu yang berubah menjadi acuh tak acuh selalu pergi keluar dan kembali di malam hari dengan keadaan mabuk.
Kehidupan yang semakin rumit di saat aku baru menginjak usia 15 tahun, ekonomi mulai merosot, Ayahku tak pernah memberi uang untuk menafkahi diriku.
Ibu pun tak peduli pada apa yang aku makan dan bagaimana sekolahku seakan aku tak ada di matanya, untuk dengan kecerdasanku aku masih bisa bersekolah dengan beasiswa namun untuk kebutuhan sehari-hari aku perlu berjuang dengan melakukan sejumlah pekerjaan Freelance entah itu menjadi guru privet atau pun membuka jasa mengerjakan tugas orang lain. Apapun yang aku bisa jika bisa menghidupi diri dengan berbagai tunggakan iuran air dan listrik yang terbengkalai bagaimana pun aku tak bisa meninggalkan rumah ini, jika aku pergi biaya di masa depan akan lebih besar.
(Vote jika suka, bantu share dan talk your thinks 🤗)