Malam, pukul 08:00, di sebuah pasar malam dalam kota yang di tutupi kabut [ Yuda ].
Pemuda itu – Zakky Aditiya – yang memakai seragam putih abu-abunya sedang berjalan dari satu kios ke kios lainnya.
—Terhenti.
Tanpa maksud yang jelas, dia menatap langit. Terbentang luas dalam penglihatannya langit malam yang tenang, tanpa bintang, dengan tiadanya awan yang menghalangi cahaya indah dari rembulan.
Tapi fokusnya teralihkan. Seluruh pandangannya serta jiwanya, semuanya, di pusatkan pada satu kejadian.
Zakky Aditiya, atau – Adit – singkatnya, melihat kejadian itu dengan tidak sengaja. Sesosok seorang gadis dengan mata merah dan rambut yang di kucir putih, tampak terlihat sedang melompati malam.
—Indah.
Satu dalam pikirannya. Saat sesaat keajaiban terbentang dalam penglihatannya. Mungkin hanya per sekian detik, namun terasa selamanya baginya, momen ketika gadis itu muncul di hadapannya dengan dramatis membelakangi bulan.
Sayangnya saat angin mulai menerpa dirinya, sesaat setelahnya gadis itu telah pergi. Bagaikan ia telah melebur dalam heningnya malam.
“…………”
Tanpa sengaja dia membuang nafas. Tubuhnya yang membeku kembali dia gerakkan. Adit lalu kembali membawa pandangannya pada keramaian pasar. Berpikir jika mungkin dia telah melihat sesuatu yang menyerupai fatamorgana, dan beranggapan jika dirinya mungkin telah terlalu lelah.
Selang tak lama Adit kembali menggerakkan kakinya, dan lalu beranjak pergi.
★★★
Malam, pukul 07:00, di dalam hutan di sisi barat yang di tutupi kegelapan.
Dalam cerminan danau yang di selimuti riak, terpampang langit malam berwarna merah dengan bulan sabit hitam sebagai hiasan yang menempati.
Melewati dahan-dahan pohon hutan rimbun di sana, ada gadis itu – Alya – yang seorang vampir dengan rambut putih dan mata merah, sedang mencoba melarikan diri dari tempat.
Pergerakannya yang kasar dan terburu-buru berkesan merobek malam yang hening, serta membawa ketegangan bagi siapa pun yang melihatnya.
Nafasnya kacau tak teratur. Pakaiannya sobek di mana-mana dan beberapa aliran darah keluar melewatinya. Namun walau begitu ia terus menggerakkan kakinya, berharap untuk dapat keluar dari hutan ini dengan sedetik lebih cepat.
Lalu di sana – sulur. Saat Alya menatap ke belakang ada puluhan darinya – tumbuhan merambat berduri – yang mengejarnya, mencoba untuk menyakitinya dan menangkapnya.
Tidak, mungkin itu pernyataan yang salah. Nyatanya 'itu' tidak mencoba menangkapnya, tapi kotak persegi panjang yang Alya bawa.
Juga, 'itu' bukan mencoba menyakitinya, melainkan mencoba membunuhnya.
“Cih…!”
Dengan raut wajah yang kesal Alya mengalihkan pandangannya dan kembali berlari.
★★★
Malam, 07:30, di dalam gedung kecil di pinggir kota tempat sekolah malam di adakan.
Di kursi belakang ruang kelas yang masih kosong, gadis itu – Eri Andrini – duduk diam dan dengan tenang membaca buku di tangannya.
“…………”
Ia menunggu waktu dimulainya kelas, dengan masih 30 menit lamanya yang masih tersisa.
Karena Eri datang terlalu cepat, jadi mau bagaimana lagi. Ia memutuskan membaca novel yang ia bawa sambil menunggu dengan tenang.
Sosok kecilnya yang di balut sweter (terlihat longgar dan terlalu besar baginya) luput dalam tenang. Dalam ruangan yang hening itu hanya suara dari lembaran buku yang terdengar nyaring.
Dari luar, riuh ramainya kota di malam hari bahkan tak sampai pada telinganya, matanya yang hijau zamrud hanya terpaku pada setiap kata dan kata pada buku di hadapannya.
“…………”
Eri membalik halaman dan terkadang membawanya kembali ke awal, lalu dengan begitu sebuah senyum tipis sedikit terbentuk di wajahnya, di saat dirinya menunggu waktu dimulainya kelas.
★★★
Malam, 09:00, di sebuah rumah dalam kota.
Dhea Oktavia – gadis dengan kacamata itu berjalan menuruni tangga dari kamarnya yang ada di lantai dua menuju ke pintu depan rumah.
Melewati ruang keluarga di sebelahnya, yang di dalamnya terdapat ayahnya sedang melakukan ritual dukun harian anehnya.
Saat ia dalam diam menyiapkan sepatunya, suara ayahnya memanggilnya dari kejauhan, menyentak tubuh langsingnya bagai sengatan listrik.
“Dhea, ke mana kau akan pergi pada larut malam seperti ini?”
“Les.”
“Itu lagi? Menurutmu sudah yang ke berapa minggu ini?”
“……Itu bukan urusanmu.”
Ucapnya dingin. Bersamaan dengan helaan nafas, Dhea mempercepat dirinya dalam mengikat tali sepatunya. Namun yang menghampirinya dari belakang adalah suara kesal dari ayahnya.
“Bukan urusanku…? Siapa yang kau pikir orang yang membiayai semua les bodohmu itu!? Itu aku, ayahmu!”
“Tidak! Itu ibu! Itu uang tabungan yang ia sisihkan bahkan setelah kematiannya yang melakukan!” Tanpa dapat lagi menahan rasa kesalnya Dhea berteriak membalas.
“Memang apa bedanya!? Miliknya juga adalah milikku! Lagi pula orang mati tak dapat berbicara…!”
“Kau……!!”
—Keparat!
“Itu semua karena kau yang mencoba mengejar impian bodohmu tuk menjadi dokter, dengan tanpa menerima aku dan caraku bekerja di sini! Memangnya datang dari mana sesuap nasi yang kau makan setiap hari? Itu dari uang sakuku! Jika ibumu tidak meminta tuk membesarkanmu dengan baik di akhir hayatnya, aku bahkan tak akan menyetujui semua hal ini!”
“Kuh…………”
‘Sungguh, aku sangat membencinya!’
Keluhnya dalam hati. Dhea lalu menyelesaikan simpul sepatunya, dan dengan gusar segera beranjak pergi dari tempat kejadian perkara.
“Hei, tunggu. Kita belum sel—“
Bahkan tanpa menunggu akhir dari ucapan ayahnya, Dhea membanting pintu saat menutupnya. Ia menghela nafas, lalu sejenak terdiam di sana saat menatap lurus pada langit malam yang tenang.
‘………Ibu, aku merindukanmu.’
Sedikit helaan nafas bocor saat ia memejamkan matanya. ‘Tidak baik, aku tidak boleh terus termenung dalam suasana hati yang biru ini…' Tegasnya dalam hati.
Bersamaan dengan helaan nafas yang ke sekian kalinya di malam itu, Dhea lanjut berjalan menjauhi rumah.
—Di sana.
Matanya bertemu dengan sosok seorang peria yang ia kenal dengan cukup baik – kakaknya – terlihat seperti sedang mabuk berjalan mendekati rumah, yang pada genggaman lengannya terdapat sebuah kotak persegi panjang di bawanya.
Namun tanpa mengucapkan salam tertentu mana pun, ia hanya saling melewati satu sama lain dalam keheningan.
★★★
Malam, 08:30, di pinggir hutan di sisi barat yang di tutupi kegelapan.
Dapat terdengar beberapa percakapan yang di lakukan oleh beberapa sosok hitam dari tempat tersebut.
“—Bagaimana?”
“Kehadirannya sudah sepenuhnya menghilang dari tempat ini.”
“Ya. Sepertinya dia sudah benar-benar melarikan diri.”
“Cukup sombong bagi sekedar vampir belaka sepertinya untuk dapat lolos dari pengawasan kami.”
“Kau benar. Bahkan walau dari luar dunia ini, ia tak akan dapat lepas sepenuhnya dari pengawasan kami.”
“Ya. Tapi… ini cukup merepotkan.”
“Aku pikir begitu, pihak lain sepertinya sudah mulai bergerak.”
“Namun bagaimanapun pada akhirnya kamilah yang akan mendapatkannya.”
“Hahahaha… ya. Pada akhirnya ‘itu’ akan sekali lagi kembali pada kami.”
“Hehehehe… ya, ya, ya! Dan untuk orang-orang yang mencurinya dari kami, berharap dapat menjadi hidangan bermutu tinggi.”
“Huhuhu………”
“Hihihihi………”
……Diiringi oleh pemandangan langit merah serta bulan hitam sebagai saksinya, suara gelagat tawa dari beberapa sosok hitam memenuhi malam.
★★★
Malam, 08:45, di sebuah gang gelap dalam kota.
Erick Fauzan – peria berusia 19 tahun dengan pakaian kasualnya serta rambut pirang tak alaminya yang mencolok, berjalan di jalanan yang sempit itu dengan kepala yang mabuk.
Langkahnya sempoyongan saat dia mengambil pijakan, yang sesekali dia terjatuh dan muntah di beberapa titik.
—Pada saat itu.
“Aduh!?”
Bersamaan dengan bunyi yang cukup keras, sebuah benda jatuh menimpa kepalanya. Untungnya peristiwa yang tak terduga itu tak membuat cukup banyak kerusakan bagi dirinya.
Dan baiknya, semua di selesaikan hanya dengan kepalanya (yang benjol) berdenyut sakit.
Meratapi nasib buruknya, Erick dengan membuat kerutan di wajahnya melototi sekitar saat mencari pelaku yang telah membuat rasa sakit pada kepalanya.
“…………”
Namun sayangnya dia tak menemukan siapa pun di sana.
“…………?”
Hannya apa yang ditemukannya malah sebuah kotak persegi panjang yang tertutup rapat, yang pada beberapa saat lalu telah menimpa kepalanya.
“Apa ini……?”
Dari tampang luarnya kotak kayu itu memiliki detail ukiran darinya, yang jika di perhatikan lebih dekat terlihat rumit serta dirasa mahal.
“Cukup berat……”
Gumamnya saat mengangkat kotak itu di lengannya. ‘Aku cukup beruntung bukan?’ Serunya dalam hati selagi membuat senyum lebar di wajahnya.
“Yah, bagi siapa pun kau yang namanya bahkan wajahnya tidak aku tahu, sepertinya aku akan mengambil benda ini sebagai biaya kompensasi karena telah melukai kepalaku.”
Serunya tidak secara khusus pada siapa pun. 'Aku ingin tahu apa ayah dapat membuka ini untukku?’ memikirkannya dia membayangkan ekspresi seperti apa yang akan di tunjukkan ayahnya saat dia memperlihatkan kotak itu.
“Nah, itu mungkin senyum penjahat receh yang biasa.” Gumamnya pelan. ‘Walau begitu, aku mungkin harus menyembunyikannya dari adikku…'
Pikirnya. Hubungan Erick dengan ayahnya memang bisa di bilang cukup baik, namun bertentangan dengan itu, tidak dengan adik perempuannya. Jika di per umpamakan, mereka malah lebih mirip seperti anjing dengan kucing atau kucing dan tikus, yang dalam arti tertentu tidak pernah akur.
“—Atau tidak, melihat wajah kesalnya juga adalah bentuk dari hiburan yang lain.”
Gelagat tawanya bocor saat dia mengambil langkah goyah menuju kediamannya.
★★★
Itu di atap sebuah gedung.
Pada awalnya tidak ada apa-apa secara khusus untuk mendapat perhatikan.
Namun – robek.
Itu sebuah – celah (atau haruskah dapat di sebut seperti itu?) merobek langit malam bagai terkena sebuah sayatan pedang, bagaikan portal yang tiba-tiba terbuka.
Dan lalu dari dalamnya, seorang gadis berjalan keluar.
Rambut panjangnya yang di kucir putih terbawa angin saat sosok rampingnya serta pupil merahnya mengamati panorama kota – tidak, tapi ‘dunia’ yang ia tak kenali.
“Begitu…… itu sudah dimulai. Di sini, di tanah ini, di kota ini. Sebuah – Local Colloseum.”