Ganyar tidak bisa tidur nyenyak malam itu. Sedari tadi, Ganyar hanya membolak-balik posisi tidurnya di atas kasur yang seprainya sudah tidak berbentuk lagi. Dari posisi tidur terlentang dengan guling di atas badan, lalu posisi miring ke kanan dan kiri sambil memeluk guling sampai tidur telungkup sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Semua posisi yang menurutnya PW sudah dicoba satu persatu. Tapi, tetap saja kedua mata Ganyar sulit diajak kompromi untuk menutup walaupun hanya beberapa detik.
Kepala Ganyar dipenuhi bayangan Kemilau, pacarnya yang biasa ia panggil Keke. Sesuai dengan namanya, Keke atau Kemilau benar-benar menciptakan sebuah kemilau di dalam otak Ganyar yang membuatnya tidak bisa tidur walaupun jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 lebih 27 menit.
Akhirnya, Ganyar menyerah memaksakan matanya untuk menutup. Ganyar menghidupkan lampu kamarnya dan mengambil gitar yang ia letakkan sembarangan di atas kursi belajarnya. Ganyar mulai memetik senar gitar. Namun, tidak ada satu bait lagupun yang terlintas di kepalanya. Isi kepalanya sudah dipenuhi oleh Kemilau.
Ganyar menyerah terhadap gitarnya dan meletakkannya asal. Ganyar berjalan menuju meja belajarnya dan mengambil sebatang rokok dari laci meja belajarnya. Sebenarnya, Ganyar bukan seorang perokok yang suka menghisap rokok sampai beberapa batang dalam satu hari. Tapi, dalam keadaan tertentu seperti saat ini, kadang-kadang pengaruh nikotin rokok sangat dibutuhkan oleh Ganyar.
Ganyar menjepit rokok diantara kedua bibirnya dan mendekatkan korek yang sudah menyala ke puntung rokok. Api pun menyulut rokok yang dihisap Ganyar. Asap mengepul keluar dari sela-sela bibir Ganyar ketika ia menghembuskan asap tersebut. Sambil terus menghisap rokoknya, Ganyar berjalan mendekati jendela kamarnya dan membukanya. Udara malam yang sejuk saat itu membuat perasaan Ganyar sedikit tentram. Ganyar menghembuskan asap rokok sambil memandang kosong kearah langit. Ia teringat perkataan Iago, sohibnya. Sebenernya gue juga agak nggak enak ngomong ini ke lo, Nyar. Secara, inikan urusan lo sama Keke. Tapi, sebagai sohib yang baik gue harus ngingetin lo. Mendingan lo putusin si Keke kalau lo nggak mau sakit hati.
Kata-kata Iago masih terus terngiang di kepalanya. Masalahnya, tidak hanya satu kali Iago berbicara seperti ini kepadanya. Akhir-akhir ini, Iago sering berbicara seperti itu padanya. Ganyar sudah berkali-kali mencoba untuk berbicara langsung dengan Keke. Tapi, hasilnya selalu diakhiri dengan kekesalan Keke dan ketidak berdayaan Ganyar di depan Keke . Kalau kamu udah nggak percaya lagi sama aku, OK kita putus aja! perkataan itu yang terus Keke ucapkan jika Ganyar sudah mulai membuka topik tersebut. Jujur, Ganyar sudah terlanjur sayang dengan Keke dan Ganyar tidak mau membuat hubungan mereka retak karena hal yang menurutnya sepele ini. Tapi, di lain sisi, Ganyar juga tidak bisa tidak mempedulikan pendapat Iago yang sudah menjadi sohibnya jauh sebelum Ganyar berpacaran dengan Keke.
Ganyar membuang abu rokoknya keluar jendela dan mulai menghisap rokoknya lagi. Sebelum sempat menghisap rokoknya, tiba-tiba sebuah tangan terulur dan merebut kasar rokok dari tangan Ganyar. Si pemilik tangan tersebut menghisap rokok yang baru direbutnya, mematikannya dan melemparkan rokok tersebut keluar jendela.
Heh! Tidur lo! perintah Kiani si pemilik tangan sekaligus kakak perempuan Ganyar yang usianya hanya terpaut dua tahun di atas Ganyar. Sambil mendesah kesal dan tanpa perlawanan apa-apa, Ganyar menutup jendela kamarnya dan berjalan menuju kasurnya dengan patuh. Ganyar sudah akan merebahkan dirinya ketika melihat Kiani yang masih bertengger di dekat jendela dengan melipat tangan di depan dada sambil menatap Ganyar dengan ekspresi ngebos yang sangat Ganyar tidak sukai.
Sudah dari kecil, Ganyar dan Kiani tidak pernah bisa akur satu sama lain. Sampai sekarang, Ganyar heran dengan orang lain yang memandang Kiani sebagai sosok perempuan cerdas dan elegan. Lain halnya dengan Ganyar sendiri yang selalu menganggap Kiani lebih buruk dari seorang nenek sihir, kasar dan seenaknya sendiri. Tapi, entah mengapa ia selalu menuruti apa saja perintah Kiani tanpa membantah sama sekali. Ingin sekali-sekali Ganyar melawan perintah Kiani ,tapi sulit ia lakukan. Hal itu karena setiap perintah Kiani selalu benar dan baik bagi dirinya sendiri. Tapi walaupun begitu, tetap saja Ganyar sangat sangat tidak menyukai kakak perempuan satu-satunya itu.
Ngapain lo masih disitu? tanya Ganyar kasar yang selalu ia lakukan terhadap kakaknya. Sambil tersenyum sinis, Kiani berjalan mendekati kasur Ganyar dan duduk di sana. Dengan raut wajah yang cukup manis tetapi mengesalkan menurut Ganyar, Kiani mulai menatap dalam mata Ganyar yang membuat Ganyar sedikit merasa takut dan kesal.
Apaan sih lo! seru Ganyar kesal sambil menarik bed cover hingga menutupi wajahnya. Tapi, Kiani menarik bed cover tersebut dengan kasar sehingga wajah kesal Ganyar terlihat lagi.
Ada masalah sama cewek lokan? tanya Kiani tanpa basa-basi. Ganyar hanya mendecakkan lidahnya kesal dan menarik kembali bed covernya sehingga menutupi kepalanya lagi. Kali ini Ganyar memegangi bed covernya erat-erat agar Kiani tidak dapat menariknya lagi seperti yang ia lakukan tadi. Ganyar selalu heran kenapa Kiani selalu mengetahui masalah-masalah yang ia hadapi sejak mereka kecil. Hal tersebut selalu membuat Ganyar kagum sekaligus takut kepada Kiani yang menambah rasa tidak sukanya terhadap kakaknya itu.
Im not stupid. Cerita sama gue makanya! ujar Kiani dengan nada ngebosnya yang juga Ganyar tidak sukai. Tunggu sampe 1000 tahun lagi baru gue mau cerita sama lo! ujar Ganyar dalam hati.. Setelah berkata seperti itu, Ganyar merasakan kasurnya bergerak pertanda Kiani sudah berdiri dan tidak lagi duduk di kasurnya. Tidak lama, pintu kamarnyapun berderit pelan yang menandakan Kiani juga sudah keluar dari kamarnya. Ganyar mengintip ke sekeliling kamarnya dari balik bed cover untuk memastikan Kiani benar-benar sudah pergi dari kamarnya.
Setelah benar-benar memastikan tidak ada Kiani di kamarnya, Ganyar menurunkan bed cover dari wajahnya. Ganyar menguap lebar hingga air matanya keluar. Kali ini, kedua mata Ganyar mau berkompromi dengan otaknya. Tidak lama, Ganyar menutup mata dan kesadarannyapun perlahan-lahan menghilang.
Ganyar sedang menyantap nasi goreng seafood di kantin kampusnya ketika Iago datang tergesa-gesa mendekatinya. Ganyar tidak mempedulikan kehadiran sohibnya tersebut, ia masih terus mengunyah nasi goreng seafoodnya itu. Iago duduk di hadapan Ganyar duduk. Tanpa perizinan dari Ganyar, Iago mengabil es jeruk Ganyar dan meminumnya tiga hingga empat teguk. Ganyar yang sudah biasa oleh gangguan Iago ini mendiamkan saja perbuatan sohibnya.
Gimana lo sama Keke, Nyar? tanya Iago mulai membuka topik pembicaraan yang sudah sangat alot di telinga Ganyar.
Napa sih?! tanya Ganyar mulai merasa jengkel. Emang kenapa kalau gue sama Keke masih jadian? Nggak lo, nggak kakak gue, macem-macem aja nanyanya? Lo berdua ada masalah sama gue dan Keke?!
Kakak lo? tanya Iago heran.
Iya! Kakak gue yang mana lagi selain Kiani si nenek sihir gila itu! ujar Ganyar dengan kesal.
Seharusnya lo dengerin apa kata kakak lo itu, Nyar. Apa yang dia bilangin selama inikan demi kebaikan lo juga walaupun cara kakak lo itu beda dari kakak-kakak cewek yang lain. ucap Iago mencoba menenangkan Ganyar.
Lo sih nggak ngerasain, Go! Kakak gue itu sinting! Sok ngebos! seru Ganyar kesal. Tiba-tiba saja handphone milik Ganyar bergetar dari saku celana jeansnya. Ganyar langsung menarik handphonenya keluar dari saku jinsnya. Dilihat layar handphonenya tertera nama Nenek Sihir. Ganyar meletakkan hanphonenya itu begitu saja. Tapi, handphone milik Ganyar masih terus bergetar menunggu diangkat oleh pemiliknya.
Angkat, Nyar! Penting kali tuh! Sampai tiga kali nelfon. ujar Iago memberi saran. Dengan terpaksa Ganyar mengambil handphonenya dan mengangkat telfon dari Kiani.
Apaan?! jawab Ganyar kasar. Bukannya mendengar suara Kiani yang selalu terdengar ngebos tetapi, Ganyar mendengar suara yang sangat familiar di telinganya dari jarak yang cukup jauh dari handphone tapi masih bisa Ganyar dengar dengan jelas perkataannya.
Alah! Ganyar nggak akan putus dari gue! Diakan udah bener-bener sayang sama gue. Dia paling takut kalau gue udah marah dan ngancem buat putus. Udahlah! Ngaku aja lo semua kalah taruhan sama gue!
Ganyar hanya bisa diam sambil mendengarkan ucapan yang dia yakin keluar dari mulut Keke, pacarnya. Ingin sekali Ganyar menyangkal kalau suara yang tadi ia dengar tadi bukan suara Keke. Tapi, Ganyar sudah sangat hafal dengan suara yang dimiliki oleh pacarnya tersebut.
Ganyar masih menempelkan handphone ke kupingnya. Sambil mengatur nafas untuk mengontrol emosinya, Ganyar terus mendengar percakapan yang ia yakini adalah Keke dan teman-temannya.
Nggak bisa gitu, Ke! Masih sisa satu hari lagi.
Nggak mungkin Ganyar tiba-tiba mutusin gue. Lihat aja besok, bukan gue yang diputusin sama dia tapi gue yang bakal mutusin dia!
Ganyar kaget mendengar ucapan Keke di handphone. Ganyar benar-benar shocked. Ganyar tidak menyangka kalau wajah asli Keke dengan wajah Keke jika tidak sedang bersamanya ternyata berbeda. Jadi, selama ini rasa sayangnya pada Keke hanyalah rasa sayang satu arah? Cintanya untuk Keke berarti bertepuk sebelah tangan?
Ganyar langsung memutuskan hubungan telfon dengan Kiani. Dengan terburu-buru, Ganyar berjalan menuju tempat parkir. Iago yang bingung dengan tingkah Ganyar, berlari kecil untuk mengejar Ganyar yang berjalan sangat cepat di depannya.
Mau kemana lo, Nyar? tanya Iago setelah berhasil menyusul Ganyar.
Semua yang lo omongin ke gue bener. Gue bakal sakit hati sama Keke. jawab Ganyar datar tanpa menoleh ke arah Iago. Walaupun nada yang keluar dari mulut Ganyar datar, Iago tahu bagaimana perasaan sahabatnya saat itu. Iago menepuk punggung Ganyar keras.
Mendingan kita naik motor gue. Biar cepet. Tapi, sebelumnya emang lo tahu cewek lo sekarang ada dimana? tanya Iago.
Udah lo ikut aja. Gue tahu persis di mana dia sekarang. ujar Ganyar tidak sabaran sambil menyetarter motor Iago. Iagopun hanya mengangkat bahu menerima jawaban dari Ganyar. Sambil diam, Iago mengenakan helm dan duduk di belakang Ganyar.
Ganyar dan Iago langsung memarkirkan motor yang mereka kendarai di tempat parkir motor di sebuah kampus. Sambil melepas helmnya, Iago celingukan kanan kiri memperhatikan lingkungan kampus tempat mereka berada sekarang.
Inikan bukan kampusnya Kekekan, Nyar? tanya Iago heran.
Ya iyalah! Kekekan satu kampus sama kita. jawab Ganyar sambil menyimpan helm yang dipakainya dan helm yang dipakai Iago.
Terus, ini dimana? Perasaan gue nggak pernah ke sini sebelumnya. ujar Iago sambil berjalan di samping Ganyar. Ganyar hanya tersenyum sinis sambil berjalan cepat ke suatu tempat. Iago tidak lagi banyak bertanya. Dia hanya mengikuti kemana Ganyar berjalan sambil terus menebak-nebak kampus siapakah ini?
Ganyar menghentikan langkahnya yang diikuti oleh Iago yang melihat heran ke arah Ganyar. Raut wajah Ganyar yang serius terus melihat pada sekumpulan perempuan yang sedang duduk di salah kursi lingkar yang terbuat dari semen di antara gedung-gedung kuliah.
Iago mengikuti arah pandangan Ganyar. Iago melihat wajah yang ia kenal diantara kumpulan cewek tersebut dan ia yakin wajah itu yang membuat raut wajah sahabatnya tersebut berubah menjadi semakin tegang. Kemilau ada di sana. Sedang duduk bersama teman-temannya. Salah seorang temannya membisikkan sesuatu ke telinga Kemilau yang membuatnya menoleh dan melihat keberadaan Ganyar dan Iago.
Sambil tersenyum manis khas Kemilau, perempuan itu berdiri dan berjalan keluar dari kumpulan teman-temannya menuju tempat Ganyar dan Iago berdiri.
Kok kamu tahu aku ada di sini, Yang? tanya Keke manis sambil mencium pipi kanan Ganyar. Ganyar masih diam. Dia tidak balas memeluk Keke seperti biasanya. Keke menyadari keanehan sikap Ganyar dan masih terus tetap tersenyum.
Hai, Go! Apa kabar? sapa Keke mengalihkan pandangannya langsung ke arah Iago. Iago yang bingung dengan keadaan aneh antara Keke dan Ganyar hanya membalas sapaan Keke dengan senyum yang dipaksakan.
Aku mau ngomong penting ke kamu. ujar Ganyar datar sambil menarik lengan Keke yang langsung dilepas Keke.
Ngomong di sini aja, Nyar. Nggak pa-pakan? tanya Keke sambil memegang tangan Ganyar supaya Ganyar mendekat ke arahnya. Ganyar yang tidak bergerak mendekat ke arah Keke sekarang menatap tajam ke arah Keke. Siapapun yang melihat ke arah mata itu saat itu juga pasti dapat melihat dengan jelas rasa kecewa dan sakit hati yang dirasakan oleh pemilik mata tersebut.
Jawab aku jujur, Ke. Bener atau nggak kamu jadiin aku taruhan ke temen-temen kamu! seru Ganyar yang udah nggak bisa nahan emosinya lagi sambil menuding tajam ke arah kumpulan teman-teman Keke yang pura-pura tidak melihat atau mendengar kejadian diantara mereka.
Dengan raut wajah kaget dan sedih yang dibuat-buat, Keke mendekatkan dirinya pada Ganyar dan menggenggam tangan Ganyar semakin erat. Sekarang kamu lihat mata aku. Apa aku kelihatan lagi nipu kamu? Bohongin kamu? tanya Keke dengan mata yang hampir berlinang air mata.
Ganyar nggak sanggup memandang wajah Keke. Benar kata Keke, dirinya sudah terlanjur sayang dengan Keke. Tapi, Ganyar yakin 100% suara di telfon tadi memang Keke, pacarnya. Walaupun kakaknya adalah nenek sihir baginya, Ganyar tahu, Kiani tidak pernah main-main dalam hal apapun.
Iago yang melihat tingkah Keke, tersenyum sinis melihat tingkah perempuan tersebut terhadap sohibnya. Iago menjauh dan duduk di salah satu kursi lingkar semen yang tersedia. Iago tidak mau ikut campur masalah pribadi sohibnya tersebut. Ia sudah memberikan nasihat-nasihat yang cukup banyak untuk Ganyar dan sekarang saatnya Ganyar mengambil keputusannya sendiri.
Aku Ganyar mengalihkan pandangannya dari wajah Keke. Ganyar benar-benar bingung saat itu. Ganyar benar-benar memerlukan bantuan saat itu. Dan yang paling membuat Ganyar heran, ia sangat menginginkan Kiani ada di sini sekarang. Hal tersebut mungkin saja terjadi karena kampus tempat mereka berada adalah kampus tempat Kiani kuliah dan Ganyar tahu bahwa Kiani tidak pernah meninggalkan kampusnya dari pagi sampai sore hari.
OK, kalau gitu! Terserah kamu! jawab Keke sambil merajuk dan pergi meninggalkan Ganyar yang masih bingung dengan dirinya sendiri. Baru saja Keke melangkah, sudah terdengar keluh kesal keluar dari mulutnya.
Kalau jalan hati-hati donk, Mbak! Baju sayakan jadi basah! seru Keke kesal kepada seorang perempuan yang sedang berdiri di hadapannya sambil membawa gelas yang sudah kosong.
Maaf, ya! Gue sengaja kok. jawab si mbak-mbak tersebut santai. Mata Keke langsung melotot kesal menatap mbak-mbak tersebut. Tapi, mata Ganyar dan Iago lebih melotot tidak percaya melihat mbak-mbak sinis yang ternyata adalah Kiani.
Kiani berjalan mendekati Ganyar yang sedang tertunduk tidak berani memandang Kiani. Ganyar sudah tahu pasti pikiran si nenek sihir yang melihat keadaan dirinya sekarang ini. Dengan tangan yang tidak memegang gelas, Kiani mencengkram kerah baju Ganyar sehingga mau tidak mau Ganyar harus memandang tampang ngebos Kiani.
Ambil keputusan sekarang juga. Kalau nggak ancur lo. ujar Kiani pelan dengan nada ngebosnya yang terdengar lebih kejam di telinga Ganyar. Tapi, entah mengapa perkataan Kiani barusan memberikan dorongan baru pada diri Ganyar. Dengan mantap, Ganyar mendekati Keke yang sudah dikerubuti teman-temannya yang sedang membantu mengeringkan bajunya yang sengaja disiram Kiani.
Siapa sih tuh cewek?! tanya Keke kesal kepada Ganyar.
Kakak gue. Kenapa? Ada masalah? tanya Ganyar balik. Kali ini ucapan Ganyar terdengar lebih santai dan Ganyar senang akan ketenangan yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.
Aku nggak suka aja sama sikap kakak kamu! Kakak kamu itu
Gue juga nggak suka sama sikap lo yang udah bohongin gue, Ke! potong Ganyar tegas. Keke dan teman-temannya yang sibuk mengeringkan baju, terdiam seketika. Keke melotot kesal ke arah Ganyar.
Bohongin apa?! Itu terserah kamu! balas Keke tidak mau kalah.
Gue lebih percaya kakak gue. Lo jadian sama gue cuma karena taruhan sama temen-temen lo ini doankkan?!seru Ganyar lebih tegas daripada sebelumnya sambil menunjuk ke arah teman-teman Keke. Teman-teman Keke terlihat salah tingkah. Mereka mencoba menasihati Keke supaya mengakhiri semua permainan mereka dan jujur kepada Ganyar. Tapi, Keke terlalu keras kepala untuk dinasehati oleh teman-temannya.
Apa buktinya?! tanya Keke lebih sengit. Tanpa berkata apa-apa, Ganyar mengeluarkan handphonenya dan memutar percakapan Keke bersama teman-temannya. Ganyar bersyukur dia sempat merekam percakapan tersebut dan lebih bersyukur lagi karena Kiani sudah memberikan informasi tersebut walaupun Ganyar malu mengakuinya di depan umum.
Keke terdiam seketika. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi. Bukti percakapan yang ada di tangan Ganyar merupakan bukti konkrit yang tidak bisa ia pungkiri lagi. Kemilau tertunduk. Kemilaunya sedikit demi sedikit memudar di mata Ganyar. Ganyar memasukkan handphonenya kembali ke dalam sakunya.
Maaf, ya. Udah ngebuat lo kalah taruhan. Mulai sekarang kita putus. Makasih udah nemenin gue selama ini. Meskipun alasan lo jadian sama gue bikin gue sakit hati. Gue pernah sayang sama lo dan gue seneng pernah jadian sama lo. ujar Ganyar yang mencoba mengakhiri hubungannya dengan Keke diakhiri dengan perkataan lembut tanpa emosi.
Ganyar langsung meninggalkan Keke dan teman-temannya. Ganyar kembali kepada Iago dan Kiani yang berdiri tidak jauh dari Keke dan teman-temannya. Iago menepuk punggung Ganyar sambil tertawa dan memeluk sohibnya tersebut.
Gitu donk, Bro! ujar Iago menyemangati Ganyar.
Thanks nasihat lo, Go. Sorry, tadi pagi gue marah-marah sama lo. ucap Ganyar pelan.
Jangan lupa sama gue! Gue lebih berjasa! ujar Kiani tiba-tiba dengan gaya ngebosnya.
Thanks, Kak! ujar Ganyar pelan tetapi masih bisa terdengar oleh Kiani yang tersenyum puas atas ucapan terima kasih dari Ganyar. Kiani melihat ke arah jam tangannya.
OK! Gue balik sekarang! tanpa banyak basa-basi, Kiani langsung melangkah pergi meninggalkan Ganyar dan Iago berdua masuk ke salah satu gedung. Sambil melihat kakaknya berjalan pergi, Ganyar menyadari betapa perhatiannya Kiani terhadap dirinya. Kalau diingat-ingat, selama ini Kiani yang selalu memberikan nasihat dan semangat kepada dirinya dengan gaya ngebos adalah Kiani yang sangat tidak disukai Ganyar. Tetapi, hanya dengan gaya ngebos Kiani, Ganyar dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ia hadapi.
Kiani tetap menjadi seorang nenek sihir yang sangat tidak disukai Ganyar. Tapi, Kiani adalah the best sister yang Ganyar punya di dunia ini.