Semua orang pasti tidak asing dengan yang namanya cinta anak SMA. Yah, remaja SMA sering menemukan cintanya di sekolah maupun di sekitar tempat tinggal mereka. Seperti yang terjadi pada seorang gadis remaja bernama Tasya.
Dia adalah gadis remaja yang sangat periang. Semua orang suka dengannya. Dia juga mempunyai banyak kenalan, tak heran bila dia selalu tersenyum setiap waktu. Namun, gadis itu belum berhasil membuat pemuda yang di sukainya tersenyum lebar padanya.
"Apa kau sedang sendirian?" tanya Tasya pada pemuda yang duduk di bawah pohon yang rindang. Pemuda itu menoleh ke arah Tasya dengan ekspresi datar, tanpa ada niatan untuk membalas pertanyaan yang di ajukan oleh Tasya.
"Aku boleh menemanimu di sini, 'kan?" Tasya duduk di samping pemuda itu dengan senyum yang sama sekali tak pudar dari wajahnya yang cantik itu.
"Sampai kapan kau akan berusaha tidak peduli denganku? Kau tahu 'kan aku mencintaimu?" Pemuda di sampingnya sama sekali tak menghiraukan ucapan Tasya. Tasya hanya bisa tersenyum kecut menyadari hal itu.
"Sampai kapan kau akan peduli padaku?" tanya pemuda itu membuat Tasya langsung menoleh padanya.
Tasya tersenyum ke arah pemuda itu sebelum menjawab, "Sampai kau membalas cintaku, Dwi Fandi!"
"Kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau mau." Setelah mengatakan itu, pemuda bernama Dwi Fandi itu pergi meninggalkan Tasya seorang diri di bawah pohon rindang.
Sejak percakapan singkat itu, Tasya tak pernah menemukan waktu yang tepat untuk menemui Fandi. Seolah, pemuda itu terus menghindarinya. Tapi, itu tak membuat Tasya menyerah.
"Apa Fandi gak akan menerima cintaku?" tanya Tasya kepada Ita suatu hari. Ita lantas menatap Tasya dengan kesal.
"Apa yang kau katakan?! Kenapa kau masih berharap pada cowok itu?! Aku tidak habis pikir padamu! Apa kau tidak bisa menaruh perasaanmu pada Vino?!"
"Aku tidak menyukainya. Aku terlalu risih hanya dengan keberadaannya saja."
"Apa kau tidak sadar bahwa cintamu itu bertepuk sebelah tangan padanya? Dia juga sepertinya sudah mempunyai gadis yang di cintainya, mungkin." Tasya tertegun dengan kenyataan itu. Apa itu benar? Kenapa bukan dirinya? Apa yang kurang darinya?
Percakapannya dengan Ita kemarin membuat Tasya murung. Walaupun apa yang di katakan Ita belum tentu benar adanya, tapi itu membuatnya sedikit gelisah.
Apa yang di harapkan Tasya pada Fandi? Padahal ada Vino yang selalu pasang badan ketika dirinya sedang dalam kesulitan atau dalam bahaya. Kenapa harus Fandi?
Di suatu malam, Tasya sedang berjalan menuju ke supermarket yang berada tak jauh dari rumahnya. Dia berjalan santai sambil bernyanyi dengan suara pelan.
"Apa aku belum cukup untukmu?" Suara seorang gadis itu membuat langkah Tasya terhenti di depan supermarket. Dia tak sengaja melihat seorang pemuda dan seorang gadis yang tak asing baginya.
Karena penasaran, dia memperhatika pemuda dan gadis itu yang mengambil posisi paling pojok. Tasya dengan dada berdebar mendengarkan percakapan mereka.
"Apa yang kau katakan? Tentu aku sangat mencintaimu dan kau seorang cukup untuk menjadi pendampingku, Giana." Tasya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia menggeleng pelan, berusaha tak mempercayai apa yang di dengarnya barusan.
"Kau memang yang terbaik, sayang!"
Tasya sudah berlari kencang meninggalkan mereka. Tujuannya ingin membeli jajanan musnah sudah. Dada yang kian sesak membuatnya tak bisa menahan air mata yang ada di pelupuk mata.
Kejadian malam itu sungguh membuat Tasya tak lagi berusaha mendekati Fandi. Kini, dia mulai menerima Vino dengan perlahan, walaupun dirinya kurang nyaman dengan pemuda itu. Ita juga senang sahabat satu-satunya itu lebih memilih Vino ketimbang Fandi.
Namun, mereka tak tahu bagaimana sakitnya hati Tasya mengetahui kejadian malam itu. Sampai saat ini, sakit itu masih ada dan butuh obat. Dan, dia dengan bodohnya masih berharap Fandi mau menjadi obat baginya. Tentu, harapan itu musnah seketika saat melihat Fandi bersama dengan Giana pulang sekolah bersama.
Karena tak terima cinta pertamanya di rebut begitu saja oleh gadis lain, dia melangkahkan kakinya menuju ke kelas Fandi. Kebetulan, Fandi dan Giana kebetulan sedang berada di kelas dan bermesraan di dalam kelas. Tasya menarik tangan Giana kasar dan tanpa aba-aba langsung menampar pipi kanan Giana dengan keras. Perbuatan Tasya itu membuat Fandi menatap tajam padanya.
"Apa yang kau lakukan, Tasya?!" bentak Fandi dengan amarah yang bergejolak.
"Apa kau pantas menanyakan itu padaku?! Aku mencintaimu! Tapi, kau sama sekali tidak peduli padaku!" balas Tasya berteriak tak terima. Fandi hanya menanggapinya dengan senyum mengejek.
"Aku tidak pernah mencintaimu, dan tidak akan pernah mencintaimu! Kau bukan tipe gadis yang kusukai. Apa kau tidak menyadari bahwa tidak semua orang suka denganmu? Hah ... ! Mereka sebenarnya tidak peduli padamu. Dan, kau harus ingat bahwa aku tidak mencintaimu sama sekali, Tasya!" Setelah mengatakan itu, Fandi meraih tangan Giana dan membantuu Giana berdiri.
PLAK!
"Jangan lupa kau telah berani menyakiti Giana!" Setelah mengatakan itu, Fandi menarik tangan Giana untuk keluar kelas meninggalkan Tasya yang mematung di tempat. Air mata yang dia tahan sejak tadi luruh begitu saja bersamaan dengan tubuhnya yang terduduk di lantai. Dia terisak halus, demi mendengar ucapan menyakitkan itu keluar dari mulut Fandi.
Tasya tak menyangka bahwa cinta pertamanya akan semenyakitkan ini. Apa kisah cintanya akan berakhir seperti ini? Dirinya yang tak di cintai dan malah gadis lain yang mendapatkan cinta darinya. Ah, sepertinya Tasya bukanlah orang yang beruntung soal percintaan.
Hai, readers! Aku baru pertama kali buaat cerpen asmara SMA di sini, hehe ... semoga bisa mengibur readers, ya! Di tunggu komen, kritik dan sarannya!