🌱 POV Sintia
Jadi wahku itu aku pergi bersama ketiga sahabatku namanya una,mulan,Bella kami berencana untuk pergi liburan akhir bulan Mei. Rencananya untuk pergi ke Pantai X dan menginap di hotel sekitar selama empat hari. Kami sepakat dan akhirnya hari H pun datang kami berempat
Pergi menaiki kereta pada pukul 06.30 menuju tempat X sampai di sekitar wilayah pantai X kami turun dari stasiun lalu menaiki mobil ankutan umum untuk pergi ke hotel. Sampai di sana kami merasa sangat senag. Kami ber empat melakukan foto-foto di sekeliling hotel tak jauh dari hotel terdapat sebuah perkampungan yang tidak berpenghuni
Kami dengar dari pengunjung lain bila di sana tempatnya terkenal angker banyak kejadian-kejadian horor. Biasanya wisatawan luar suka melakukan tangtangan uji keberanian dengan jalan-jalan pada malam hari mengitari sekeliling
perkampungan itu
Kami berempat sedikit takut dan merinding mendengan cerita kampung itu. Tidak Ada hal yang menarik dari tempat angker. Setelah pembicaraan itu aku dan Luna kami memilih jalan-jalan sore hari. Una dan Bella memilih istirahat di hotel
"Kamu mau jalan-jalan sore jam segini? Sebentat lagi mau jam enam, besok aja kita sekalian bareng-bareng ke pantai" kata Bela sambil memakan mie. Aku dan Luna tidak menghiraukan kata Bella. "Kita cuma sebentar aja kok, gak jauh-jauh nanti juga balik sebelum jam enam" sahut Luna sembari menyambar tas berisi kamera
"Hati-hati kalo mau jalan-jalan sore menjelang malem gini. Inget tempat ini sedikit angker!" kata Una yang baru saja selesai mandi "SIAP BU" jawabku dengan nada mengejek. Aku dan Luna kami mulai meninggalkan hotel. Takjauh dari hotel banyak orang yang berdagang makanan aku dan Luna ingin ke sana untuk membeli jajan
Tempat ini adalah tempat wisata jadi baanyak saung bambu. Aku dan Luna duduk di salah satu saung, saung--nya jarak paling jauh di antara saung yang lain. Ada di pojok, Luna agak ragu kesana karna suasananya kurang nyaman, aku memaksa agar pergi ke saung yang tersisa karna saung di pojok itu sau-satunya saung yang tersisa. Aku berjalan menuju saung
Luna terus memangilku agar tidak kesana dan pulang saja ke hotel sebentar lagi jam enam. Aku keras kepala tetap saja pergi kesana, Luna mengikutiku dan kami duduk di saung dangan banyak jajan yang sudah di beli "Sintia ayuk kita pulang aja. Nanti makan jajanya di hotel aja yuk!" kata Luna padaku "Yaudah deh, kita pulang" jawabku dengan nada kesal baru juga aku duduk di sini tapi sudah di ajak pulang.
Lalu....
"Nyai Cantik. Mau beli makanan Nanak ya"
"Kaykkk" teriak kaget Luna
Dari belakang Luna ada Nenek yang membawa bakul pakai baju kebaya si Nenek agak bungkuk badannya. Entah dia datang dari mana, kami berdua gak liat ada orang mendekati saung, tiba-tiba si Nenek sudah ada di belakang Luna. Luna kaget setelah melihat si Nenek, Luna langsung ubah posisi ke dekat ku
"Ah.... Iya Nek?" kataku yang agak kaget
"Nyai mau beli makanan Nenek ya"
"Nenek jualan. Apa?" katakuyang langsung bertanya si Nenek jualan apa. Aku kaget dan sedikit canggung jadi aku tanya saja dia jualan apa. Luna mencubitku dan berbisik "Udah ayok kita pulang!."
Aku merasa itu gak sopan bila aku langsung pergi. Si Nenek menurunkan bakul yang dia gendong pakai kain ke saung "Nanek jual ikan bakar. Nyai cantik beli ya, ini ikan Nenek sisa dua"
"Ah iya Nek saya mau sisanya Nek ini unagnya gak usah sisa ungnya gak usah kembalian" kataku dengan cepat memberikan uang dua ratus ribu rupiah pada Nenek itu. Aku merasa tidak nyaman bersama si Nenek jadi aku gak peduli apa pun itu yang penting aku mau pergi dari sini
"Terimakasih banyak Neng cantik, ini ikan bakarnya" aku menerima pelastik ikan bakar itu setelahnya langsung pergi dari sana dengan cepat Sampai di hotel aku merasa lega karna sudah kembali
"Kalian abis belanja makanan nih"
"Iya banyak bener, itu yang di pelastik apaan?" Bela yang langsung menyambar pelastik berisi ikan bakar dari tangan Sintia
"Ikan bakar. Tadi serem banget yang jualnya Nenek pakai kebaya. Dia tiba-tiba muncul di belakang Luna terus bilang "Nyai cantik mau beli makanan Nenek ya" Gila sih, badan gue merinding parah iyakan Luna?"
"Luna?"
"Baru dari luar jangan tiduran. Bersih-bersih dulu nanti ada yang nempelin
loh."
"ANJIR" terik Bela. Aku dan una langsung melihat Bela yang teriak dan langsung melempar bungkusan ikan bakar itu ke sembarangan tempat
"An***#j. Lugila mana ikan bakar itu ... Bayi monyet T***l dari mana loh dapat itu"
Aku terkejut melihat bungkusan daun pisang itu bukanya berisi ikan bakar malahan berisi Bayi Monyet yang sudah mati dan di kerumuni belatung dan ada bermacam-macam bunga di dalamnya menjadi satu. Aku, Una dan Bella kaget bukan main
"Nyai...Nyai.. Cantik Mau beli dagangan Nenek?"
Kami ber--tiga serentak menatap Luna duduk di pinggir kasur.
🌴🌴🌴🌴🌴
PULAU TENGKORAK