Senja yang sama sore itu.
Senja yang memberikan ketenangan,
Senja yang memeberikan kenyamanan,
Senja yang memeberikan ketenangan.
Senja itu masih sama.
Itu beberapa bait kata yang terlintas dibenak Zahra disaat melinhat senja di pantai semat. Zahra
anak yang aktif dan ceria, namun menyimpan banyak kenangan luka.
"Ayolah kita foto bersama!" kata Sari teman sekaligus sahabat yang dia percaya.
"Tidak, nanti aja aku ingin menikmati syahdunya senja s sebelum terlewat" jawab Zahra
Secangkir kopi susu hangat kesukaannya, Zahra menikmati senja sambil menyeruput kopi sedikit demi sedikit.
Adzan maghrib berkumandang matahari sudah pulang keperaduanya. Saat kemenangan telah datang bagi mereka yang melangkahkan kaki. Zahra dan Sari masih bergelut dengan pikiran masing-masing. Dalam renungan hari yang panjang begitu berjalan dengan cepat. Dan ini saatnya untuk kembali menghadap pada satu yang tiada duanya.
"Zah, kita sholat di masjid apa mushola? " tanya Sari.
"di Mushola aja Sar, nanti kita ke pantai lagi nongki. " jawab Zahra.
"Ok" kata Sari.
Sampai di mushola renggang bukan hanya jari-jariku tetapi juga shaf sholat saat ini. Apa mereka tidak takut akan adanya badai tsunami atau mereka memang ingin melawannya?
Sungguh sangat miris...
Sampai di tempat nongki yang sama.
"Zah, gimana kabarnya hatimu? " tanya Sari.
"baik, kenapa? hatimu bagaimana?" saut Zahra.
"huuuftt kebiasaan kalau ditanya malah tanya balik. Apa kamu tidak lelah Zah, begini terus? Makan, tidur, nongkrong, main HP dan melamun. Tidakkah ada keinginan untuk berubah? " jawab Sari panjang lebar.
Zahra tak bergeming untuk menanggapinya dia hanya sibuk tenggelam dalam samudera pikirannya berselancar kisah lalu yang telah usang pada memori kenangan.
Lamunan mereka terlalu lama sudah pukul 20.14 WIB waktunya untuk pulang. Sebelum pulang mampir terlebih dahulu untuk melaksanakan kewajiban.
Rumah Sari
"Zah, terima kasih ya. Jangan lupa kamu pikirkan yang aku bicarakan hari tadi, cari solusi yang terbaik menurutmu aku akan selalu mendukung. Tetapi jika itu akan melukaimu aku akan melarang itu. " kata Sari.
Zahra hanya diam dan langsung melajukan motornya pulang ke rumahnya.
Di rumah Zahra
"Darimana nak? " tanya ibu.