Di tengah padang rumput yang luas, dua ksatria berdiri saling berhadapan. Keduanya bersenjatakan pedang dan perisai, siap untuk bertarung demi kehormatan dan keadilan.
Ksatria pertama bernama Arin. Ia berasal dari kerajaan di sebelah timur dan telah terlatih dalam seni bela diri sejak kecil. Ksatria kedua bernama Bima. Ia berasal dari kerajaan di sebelah barat dan juga terlatih dalam seni bela diri.
Mereka berdua bertarung dengan gagah berani. Pedang mereka saling bersilangan, mengeluarkan percikan api setiap kali bertemu. Mereka bergerak lincah, menghindari serangan lawan sambil mencoba menyerang balik.
Namun, setelah beberapa saat, Arin mulai kelelahan. Bima melihat kesempatan ini dan menyerang dengan ganas. Arin terdesak dan terpaksa mundur beberapa langkah.
Namun, Arin tidak menyerah begitu saja. Ia mengumpulkan seluruh kekuatannya dan menyerang balik dengan penuh semangat. Bima terkejut dan terpaksa bertahan.
Pertarungan itu berlangsung lama. Kedua ksatria sama-sama tangguh dan tidak mau kalah. Namun, akhirnya Bima membuat kesalahan fatal. Ia terlalu bernafsu menyerang dan lengah sejenak.
Arin melihat kesempatan ini dan menyerang dengan cepat. Pedangnya menembus perisai Bima dan menusuk ke dadanya.
Bima tersungkur di tanah, mati seketika.
Arin menarik pedangnya dan menatap mayat Bima dengan sedih. Ia merasa menang, namun juga merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Ia berlutut di samping mayat Bima dan berdoa untuk jiwanya. Kemudian ia bangkit dan pergi meninggalkan medan pertempuran dengan langkah gontai.