Senja terus menggelap, di hampiri oleh malam yang sangat kelam, pikiran ku terus berkecamuk dengan suatu kisah yang sangat senang menghampiri pikiranku yang kosong ini.
Hembusan angin di sebuah cafe membuat ku terlarut dalam bayangan akan kejadian yang sangat membekas di lubuk hatiku. nama mu terkenang di dalam hati yang terus ku simpan dan kembali muncul di pikiran ku se akan memori kembali membawa ku ke kejadian 2 tahun silam.
Aku kembali lagi ke tempat ini seakan membuka kaset lama yang sudah berdebu. Dimana wajah mu tersenyum seperti matahari di kala pagi hari. Sebuah coffe menghampiri ku dengan bertuliskan 'have a good day, arunika', sayangnya kata kata tersebut tak mampu menghilangkan lamunan ku. Dengan perasaan tak menentu
aku terus mengingat kisah kita yang harus berhenti.
Kembali lagi aku ke kota ini. Paris, kota yang menjadi saksi bisu perpisahan kita.
"maaf aku harus memutuskan hubungan ini arunika", kata kata itu terus berkecamuk menghantam pikiranku. Seolah aku tak di berikan kesempatan untuk sekedar bertanya apa alasan dari semua ini.
Hari hari berlalu ku jalani setelah kamu memutuskan untuk membiarkan hubungan ini terbakar menjadi abu yang berterbangan entah arah kemana.
Paris, November 2018.
Aku mengingat di mana tempat pertemuan pertama kita, 'Museum Louvre' Dimana kita tidak sengaja bertatapan satu sama lain. Kau mengajakku untuk berkenalan, hangat tangan mu masih membekas di ingatanku, "namaku aiden, senang bertemu dengan mu arunika". Hari hari berikutnya kita jalani bersama, senyum merekah di wajah kita, dan menikmati waktu seolah kota ini hanyalah milik kita berdua. Tanpa di sadari 5 bulan berlalu, pada saat kita sedang menikmati indahnya menara eiffel dan di temani oleh langit yang di padukan dengan warna jingga se akan mata kita tidak bisa mengalihkan indah nya langit tersebut. Dan di saat itulah aiden mengutarakan isi hatinya kepadaku, jantung ku berdebar tak karuan, senyum tak bisa luntur dari wajah ku, akhirnya kisah cinta kami resmi di mulai di bawah menara eiffel ini.
Hari semakin indah rasanya di tambah dengan munculnya cinta yang menemani kehidupan kita. Malam yang sunyi kau buat seolah berbunyi dan sunyi sepi berubah menari nari. Kau untarkan semua kata kata manis dari hatimu, dan membuat ku semakin hari semakin jatuh hati kepadamu. Kau menghangatkan musim dingin ini dengan sikapmu yang sangat hangat. Aku terus berdoa agar kisah kita terus berlayar.
Tetapi ternyata harapan itu musnah, dan hancur berkeping keping saat setelah 3 tahun menjalani kisah ini, aiden tiba tiba memutuskan hubungan dan hilang entah kemana. Wajah indah nya tak pernah lagi terlihat di hadapanku. Aku tenggelam dengan beribu pertanyaan "mengapa dia tiba tiba seperti itu ?", "aku salah apa ?". Semua kata kata menghujani ku tanpa henti.
Ku tersadar lagi di antara sepi, hanya pikiran yang ramai, semuanya berpergian berlalu lalang tak karuan, ku mengutuki diriku sendiri bahwa ku tak bisa lagi kembali untuk mengubah alur kisah. Pelan dalam menghapus nama, pelan dalam melupakan. Aku bergegas meninggalkan tempat ini, dan sampailah aku di sebuah tempat terakhir yang akan ku kunjingi sebelum aku kembali ke negara asalku.
'museum louvre', ya tempat pertemuan pertama kami, aku menghabiskan waktu ku untuk mengenang kisah yang sudah sirna untuk terakhir kalinya. Aku terduduk di tempat dimana pertama kali kita saling memandang. Ku dengar suara mu jauh, wajah yang ku sayang ku raba sebentar, masih tak ku temu mata mu yang dulu menatapku sayang. Dan akhirnya ku sadarkan kembali diriku ku sampaikan semua curahan hatiku berharap angin membawa kepada dirinya.
Ku tinggalkan museum itu dan pada saat kaki ku sedang berjalan menuju hotel yang ku singgahi, aku bertemu dengan seseorang. Dean, ia sahabat aiden. Kami pun bertegur sapa seolah kawan lama yang baru berjumpa, sampai pada saat dean memberikan ku secarik kertas yang bertuliskan 'Dear Arunika', aku tidak tau siapa penulis surat itu. Dean berkata bahwa ini adalah surat yang di titipkan oleh aiden untuk ku. Aku pun sangat terkejut dan rasanya mataku di tutupi oleh air yang bergelinang. Dean mengatakan bahwa surat ini sebenarnya sudah lama ingin ia berikan kepadaku, tetapi aku sudah kembali ke tanah airku. Ia mengucapkan beribu ribu maaf karena tidak dapat memberikan ku secarik kertas ini. Aku pun akhirnya berpisah tujuan dengan dean, dan bergegas ke hotel untuk membaca tulisan orang yang sangat ku rindukan.
Dear Arunika
Ku tuliskan surat ini agar kau bisa mengenang kisah kita, andai kau tau betapa aku merindu mu. Maaf kan diriku yang tiba tiba memutuskan hubungan kita tanpa memberikan mu kalimat sedikit pun. Mungkin waktu yang salah dalam mempertemukan kita, tetapi aku tidak akan menyesali kisah ini, seluruh hatiku untuk dirimu arunika. Aku harap dirimu tetap dapat berjalan sesuai dengan keinginan mu. I love you but i'm letting go. Cinta ku akan tetap tumbuh di ragamu, aku harap kau dapat merasakan itu. Namamu terkenang selalu di dalam hatiku dan tak akan ada yang dapat memggantikannya. Aku harap waktu akan memberikan kita kesempatan untuk bertemu di lain waktu dengan kisah yang lebih baik lagi. Ku titipkan rinduku kepada senja yang selalu kau pandang dengan perasaan kagum, ku harap senja tersebut bisa mengobati rasa rindu akan kisah kita. See you when i see you arunika.
I love you always.
Pada akhirnya kisah ini akan tetap menjadi kenangan yang akan selalu membekas di kedua hati. Bagaikan kapal yang tak berlayar dan terombang ambing di tengah lautan yang tak tau kunjung akan kemana arus akan membawanya pergi. Waktu terus berjalan harap akan ada yang bermakna. Ku tetap menunggu dengan hati yang lapang, bertahan dalam macamnya alur hidup yang ku hadapi sampai bisa bertemu cahaya.