Cuaca hari itu terpantau panas, Kiki dan Amel berniat untuk membeli suatu minuman yang segar. Mereka berdua berjalan menjelajahi taman kota untuk menemukan minuman favorit mereka berdua. Mata Kiki kemudian tertuju pada penjual es buah yang masih muda dan tampan.
"Hai Amel lihatlah disana ada penjual es buah, kelihatanya enak dan segar. Ayo kita dekati." ucap Kiki mengarahkan telunjuknya kepada penjual es buah tersebut.
" Iya, sepertinya segar dan enak..Ayo." sahut Amel, kemudian mereka berdua berjalan menuju penjual es buah tersebut.
Varo, adalah nama penjual es buah tersebut. Wajah dia yang tampan dan ramah kepada pembeli, membuat para pembeli yang kebanyakan anak muda seumuran dengannya, selalu datang silih berganti. Varo melihat kedatangan Amel dan Kiki dari kejauhan, setelah mereka berdua sampai, Varo menyambut mereka dengan senyuman ramah.
"Silahkan nona-nona mau beli es buah berapa banyak?" Varo menawarkan dagangannya.
"Dua bungkus mas, di makan disini ya." ucap Amel memilih tempat duduk bersama dengan Kiki.
Selang beberapa menit kemudian.
"Silahkan dinikmati.." ucap Varo memberikan pesanannya.
"Ki, tadi aku dengar, Pak Totok bertengkar lagi sama istrinya. Mereka berdua saling membanting barang-barang yang ada di dalam rumah. Aku sampai tidak berani mendekat. Dan mereka berdua menjadi tontonan para warga." ucap Amel bercerita.
"Kenapa mereka berdua harus seperti itu terus ya? Apa sudah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah mereka, misalnya dengan musyawarah kek atau apa gitu?" sahut Kiki sambil memakan es buah.
"Ya, aku juga tidak tahu pasti. Paling sebentar lagi mereka berpisah. Karena sudah tidak ada yang mau mengalah." ucap Amel menyikukan satu tangannya di dagu.
"Husst..jangan sembarang bicara, itu tidak baik Mel." sahut Kiki menutup mulut Amel dengan satu jari telunjuknya.
Varo sedikit melirik ke arah Kiki. Amel yang mengetahuinya, kemudian berbisik di telinga Kiki. Kiki yang mendengar penjelasan Amel, kemudian melirik Varo, tapi Varo pura-pura sibuk.
"Sudah mas, semuanya jadi berapa?" tanya Amel sembari membuka dompetnya.
"Semuanya jadi Rp20.000." sahut Varo sembari membuatkan pesanan orang lain.
"Ini ya mas, terimakasih." ucap Amel memberikan uangnya.
Mereka berdua lalu pergi meninggalkan Varo. Kiki berbalik mencoba untuk melihat apakah Varo masih melihatnya, tapi ternyata Varo sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kiki kemudian berbalik arah lagi. Disaat Kiki berbalik arah, Varo melihat kepergian Kiki dan Amel sembari tersenyum.
Setelah puas jalan-jalan, Amel dan Kiki sampai di depan rumah Kiki, Amel pun pamit pulang. Lalu Kiki menganguk dan melepas gandengan tangannya dan masuk ke dalam rumah. Kiki kemudian teringat akan Varo yang sempat memandangnya di tempat es buah tadi. Kiki kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Nak, mandi dulu gi, sudah sore begini kok tidak mandi, mau dapat pacar gimana kalau kamunya saja malas mandi!" teriak Ibu Nisa dari luar kamar Kiki.
Kiki kemudian menutup kedua telinganya dengan bantal untuk meredam suara teriakan dari ibunya itu.
"Anak perawanku yang satu ini, susah sekali di atur!" gerutu ibu Nisa berjalan menjauh dari kamar Kiki.
Kiki lalu menutup tubuhnya dengan selimut.
"Huh! Mama selalu saja mempermasalahkan hal itu. Terserah akulah, mau pacaran sama siapa saja dan kapan saja. Suka-suka aku." batin Kiki, kemudian Kiki tertidur pulas sampai Pagi.
"Kiki...! bangun! Kamu itu tidur apa pingsan?! Dari tadi Ibu teriaki tidak menjawab." ucap Ibu Nisa menggedor-gedor pintu kamar Kiki.
Kiki yang mendengar teriakkan ibunya, kemudian melihat jam di dinding.
"Masih jam 7 kok Ma.." sahut Kiki dari dalam kamar.
"Jam 7 pala loe peang! Ini sudah jam 8 pagi Kiki...!"teriak ibu Nisa dari balik pintu.
Kiki kemudian tersadar dan mengucek-ucek kedua matanya. Dia terkejut karena ternyata dia sudah tidur selama itu.
"Waduh..aku harus segera mandi kalau begitu." batin Kiki yang masih panik.
Kiki kemudian pergi mandi dan keluar dari kamarnya untuk bertemu dengan teman kerjanya di toko bunga. Ibu Nisa yang melihat Kiki berlari seperti di kejar-kejar hantu, lalu memanggilnya.
"Kiki makan dulu, kamu belum sarapan.." ucap ibu Nisa, tapi Kiki hanya melambaikan tangannya dan pergi.
Kiki kemudian bertemu dengan Suci teman kerjanya, di seberang jalan. Mereka berdua kemudian pergi ke tempat kerja.
Ketika di tempat kerja, Kiki bertemu dengan Varo. Kiki kemudian menyambut Varo dengan ramah.
"Mbak, aku mau membeli bunga mawar rangkaian ada tidak?" tanya Varo sembari melihat-lihat bunga yang lain.
"Oh ada mas, mau yang besar atau sedang?" sahut Kiki memberi tawaran.
"Yang sedang saja, soalnya bunga itu mau dibuat untuk acara wisuda adikku." ucap Varo yang masih sibuk melihat-lihat.
Kiki kemudian mengambilkan pesanan Varo, setelah itu, Varo pergi dan Kiki melanjutkan pekerjaannya.
Suatu ketika, Varo sedang kewalahan menghadapi banyak pembeli, Kiki yang kebetulan lewat, kemudian membantu Varo dengan memberikan pesanan ke setiap pembeli. Varo yang dibantu oleh Kiki merasa senang dan bahagia. Sesekali Varo memperhatikan Kiki yang sedang mengantarkan pesanan. Kiki pun merasa sedikit malu, karena di lihatin Varo terus. Setelah semua selesai, mereka berdua duduk dan saling bertatapan muka.
"Terimakasih Kiki atas bantuannya." ucap Varo melihat wajah Kiki.
"Iya, sama-sama. Kalau begitu, aku pulang dulu ya." ucap Kiki beranjak pergi. Namun di cegah oleh Varo. Varo menahan tangan Kiki dan memberikan sisa es buahnya untuk Kiki. Kiki menerimanya dengan senang hati. Kemudian es buah tersebut dibawa pulang oleh Kiki.
Sesampainya di rumah, Ibu Nisa melihat Kiki membawa sesuatu, lalu menanyakannya, dan memintanya. Kiki yang ingin mempertahankan miliknya, menjadi mengalah, karena ibu Nisa memaksanya, dan di makan berdua dengan Ayah Kiki. Ayah Kiki sempat menawarkan ke Kiki, tapi ibu Nisa berkata, kalau Kiki bisa membelinya lain kali. Kiki yang tidak kebagian es buah, lalu keluar untuk mencari tempat penenang hati. Kebetulan disaat itu juga, Varo sedang berjalan sendirian. Varo yang melihat Kiki, lalu menghampirinya.
"Hay.."tegur Varo dari belakang Kiki.
"Varo, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Kiki yang sedang duduk di kursi taman.
"Tidak ada, aku hanya jalan-jalan biasa. Kamu sendiri, kenapa berada di sini sendirian, mana teman kamu yang kemarin itu?"tanya Varo menatap wajah Kiki.
"Aku sedang bosan di rumah, Ibuku selalu saja menindas ku, karena aku belum punya pacar." ucap Kiki bercerita pada Varo.
"Oh, bararti kamu masih jomblo.." sahut Varo tersenyum.
"Iya, memangnya kenapa? Apa itu salah?" tanya Kiki menatap tajam kearah Varo.
"Tidak, tidak salah, apa kamu mau bila kita pura-pura pacaran, biar ibu kamu tidak menindasmu lagi." sahut Varo melihat Kiki.
Kiki kemudian menelan ludahnya sendiri.
"Apa kamu bercanda? pura-pura ..?" tanya Kiki bingung.
"Iya." sahut Varo tersenyum.
Kiki berfikir sejenak, kemudian menyetujui permintaan Varo.
Ketika menjalani kepura-puraanya, mereka berdua menjadi semakin dekat dan saling melindungi satu sama lain. Benih-benih cinta pun tumbuh di antara mereka berdua. Sehingga mereka berdua menjadi pasangan yang serasi. Ibu Nisa juga merestui hubungan mereka berdua, dan menjadi baik kepada Kiki.