Alden menggenggam tongkat sihirnya dengan erat saat ia berjalan menuju gua naga. Ini adalah ujian akhirnya untuk menjadi penyihir penuh di Akademi Sihir Arcana. Ia harus mengambil sebuah batu ajaib dari gua naga tanpa terluka atau terbakar.
Batu ajaib itu adalah sumber kekuatan sihir di dunia ini. Hanya penyihir penuh yang bisa menggunakannya untuk melakukan sihir besar. Batu itu juga sangat langka dan mahal. Banyak orang yang rela membunuh untuk mendapatkannya.
Namun, batu itu tidak mudah didapatkan. Gua naga adalah tempat paling berbahaya di dunia ini. Di dalamnya hidup naga-naga buas yang sangat kuat dan cerdas. Mereka sangat protektif terhadap batu ajaib mereka dan tidak segan-segan membunuh siapa pun yang mencoba mencurinya.
Alden tahu risikonya. Ia telah belajar banyak tentang naga-naga dari buku-buku di perpustakaan akademi. Ia juga telah berlatih keras untuk menguasai sihir-sihir dasar seperti api, angin, air, tanah, cahaya, dan gelap.
Ia yakin ia bisa melakukannya. Ia bermimpi menjadi penyihir penuh sejak kecil. Ia ingin menjelajahi dunia, menemukan rahasia-rahasia sihir, dan membantu orang-orang yang membutuhkan.
Ia tiba di mulut gua. Ia merasakan udara yang panas dan bau belerang yang menyengat. Ia mendengar suara mendengung dan mengaum dari dalam gua. Ia menarik napas dalam-dalam dan memasuki gua.
Ia berjalan dengan hati-hati di dalam gua yang gelap dan lembap. Ia menggunakan tongkat sihirnya sebagai sumber cahaya. Ia menghindari tulang-tulang dan telur-telur naga yang berserakan di lantai gua. Ia berharap tidak menemui naga-naga yang sedang tidur atau makan.
Ia mencari-cari batu ajaib yang ia cari. Ia tahu batu itu berwarna biru muda dan berkilau seperti bintang. Ia juga tahu batu itu biasanya ditemukan di tempat-tempat tinggi atau tersembunyi.
Ia melihat sebuah lubang di dinding gua. Ia mendekatinya dan melihat ke dalam. Ia melihat sebuah cahaya biru muda yang bersinar di ujung lubang. Ia yakin itu adalah batu ajaib yang ia cari.
Ia tersenyum dan masuk ke dalam lubang. Ia merayap dengan susah payah di dalam lubang yang sempit dan berliku-liku. Ia merasa semakin dekat dengan batu ajaibnya.
Tiba-tiba, ia merasakan getaran di tanah. Ia mendengar suara menggelegar dan menggeram dari belakangnya. Ia menoleh dan melihat seekor naga merah yang besar dan menakutkan mengikuti jejaknya.
Naga itu memiliki sisik yang keras seperti baja, mata yang menyala seperti api, gigi yang tajam seperti pedang, dan cakar yang panjang seperti pisau. Naga itu mengeluarkan asap dan api dari hidung dan mulutnya.
Alden kaget dan ketakutan. Ia berpikir cepat dan menggunakan sihir angin untuk mendorong dirinya keluar dari lubang. Ia berhasil keluar dari lubang, tetapi naga itu juga keluar dari lubang dengan mudah.
Alden berlari secepat mungkin menuju pintu keluar gua. Ia menggunakan sihir tanah untuk melemparkan batu-batu ke arah naga itu. Ia menggunakan sihir air untuk memadamkan api yang dikeluarkan naga itu. Ia menggunakan sihir cahaya untuk menyilaukan mata naga itu.
Namun, semua usahanya sia-sia. Naga itu terlalu kuat dan cepat untuk dikalahkan. Naga itu terus mengejar Alden dengan marah dan lapar.
Alden hampir mencapai pintu keluar gua. Ia melihat cahaya matahari yang menyinari jalan keluarnya. Ia merasa lega dan berharap ia bisa selamat.
Namun, sebelum ia bisa keluar dari gua, naga itu berhasil mengejarnya dan menangkapnya dengan cakarnya. Naga itu mengangkat Alden ke udara dan membawanya kembali ke dalam gua.
Alden berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang mendengarnya. Ia merasakan cakar naga itu menusuk tubuhnya. Ia merasakan napas naga itu membakar wajahnya.
Ia menyesali keputusannya untuk mengambil ujian akhir ini. Ia menyesali keinginannya untuk menjadi penyihir penuh. Ia menyesali hidupnya yang singkat dan sia-sia.
Ia menutup matanya dan menunggu akhirnya.