Rina menatap jam dinding di ruang tamu. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Suaminya, Rudi, belum pulang dari kantor. Rina merasa cemas dan marah. Ini bukan pertama kalinya Rudi pulang terlambat tanpa memberi tahu Rina. Rina sudah mencoba menghubungi Rudi beberapa kali, tetapi selalu tidak ada jawaban.
Rina menghela napas dan berjalan ke dapur. Dia melihat piring-piring kotor di wastafel. Dia ingat bahwa dia belum mencuci piring sejak pagi. Dia merasa malas dan lelah. Dia tidak punya semangat untuk melakukan apa-apa. Dia hanya ingin tidur dan melupakan semua masalahnya.
Rina kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa. Dia menyalakan televisi dan mencari saluran yang menayangkan acara favoritnya. Dia berharap acara itu bisa menghiburnya dan membuatnya lupa sejenak tentang suaminya yang tidak peduli.
Tiba-tiba, dia mendengar suara kunci berputar di pintu depan. Dia menoleh dan melihat Rudi masuk ke rumah dengan tas kerjanya. Rudi tampak lelah dan lesu. Rambutnya berantakan dan bajunya kusut.
Rina segera bangkit dari sofa dan mendekati Rudi dengan ekspresi marah.
"Kamu dari mana saja? Aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali, tapi kamu tidak pernah menjawab!" Rina menjerit.
"Maaf, sayang. Aku sibuk sekali hari ini. Ada rapat penting di kantor yang berlangsung sampai larut malam." Rudi menjawab dengan suara lemah.
"Rapat penting? Atau mungkin ada hal lain yang lebih penting daripada aku?" Rina menuduh.
"Apa maksudmu?" Rudi bingung.
"Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu kamu berselingkuh dengan wanita lain! Aku sudah melihat fotomu bersama dia di media sosial!" Rina mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Rudi yang sedang bersama seorang wanita cantik di sebuah restoran mewah.
"Itu bukan apa-apa, sayang. Dia hanya teman kerja biasa. Kami hanya makan siang bersama sekali saja." Rudi berusaha menjelaskan.
"Bohong! Aku tidak percaya padamu! Kamu sudah mengkhianati aku! Kamu sudah merusak rumah tangga kita!" Rina menangis.
"Sayang, tolong dengarkan aku. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku masih mencintaimu. Kamu adalah istriku yang tercinta." Rudi memohon.
"Jangan panggil aku sayang! Jangan sentuh aku! Kamu sudah tidak layak menjadi suamiku!" Rina menolak.
Rina dan Rudi terlibat dalam pertengkaran sengit yang berlangsung selama beberapa menit. Mereka saling menyalahkan dan menyakiti satu sama lain dengan kata-kata kasar. Mereka tidak peduli dengan tetangga yang mungkin mendengar suara mereka.
Akhirnya, Rina tidak tahan lagi. Dia mengambil koper dan memasukkan beberapa pakaian dan barang-barangnya ke dalamnya. Dia berniat untuk pergi dari rumah dan meninggalkan Rudi.
"Aku sudah muak denganmu! Aku tidak mau tinggal bersamamu lagi! Aku mau cerai!" Rina mengumumkan.
"Sayang, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon, kita bisa bicara dan menyelesaikan masalah kita." Rudi berusaha menghalangi.
"Tidak ada yang bisa diselesaikan! Kamu sudah membuatku kecewa dan sakit hati! Aku sudah tidak mencintaimu lagi!" Rina menolak.
Rina mendorong Rudi dan berlari ke pintu depan. Dia membuka pintu dan keluar dari rumah dengan koper di tangannya. Dia tidak menoleh lagi ke belakang.
Rudi tertegun di depan pintu. Dia merasa hancur dan putus asa. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya bisa menatap kosong ke arah jalan yang gelap, di mana Rina telah menghilang dari pandangannya.