Aku adalah seorang prajurit dari Kerajaan Astra, salah satu dari tiga kerajaan yang berperang untuk menguasai tanah yang subur dan kaya sumber daya. Kerajaan lainnya adalah Kerajaan Zora dan Kerajaan Lira. Kami telah berperang selama bertahun-tahun, tanpa ada tanda-tanda perdamaian.
Aku berada di garis depan pertempuran, bersama dengan ratusan prajurit lainnya. Kami mengenakan baju besi yang berkilau, membawa pedang, tombak, dan perisai. Di atas kepala kami, terbang naga-naga yang mengeluarkan api dan asap. Naga-naga itu adalah sekutu kami, yang telah kami pelihara sejak kecil.
Di seberang kami, terlihat pasukan musuh dari Kerajaan Zora dan Kerajaan Lira. Mereka juga bersenjata lengkap, dan memiliki naga-naga sendiri. Aku bisa merasakan ketegangan di udara, sebelum pertempuran dimulai.
Tiba-tiba, terdengar suara terompet yang menandakan serangan. Aku bersiap-siap untuk maju, bersama dengan teman-temanku. Kami berteriak dengan lantang, menunjukkan semangat juang kami.
Pertempuran pun dimulai. Aku berlari menuju musuh, mengayunkan pedangku dengan kuat. Aku berhasil menewaskan beberapa prajurit musuh, tapi aku juga mendapat luka-luka di tubuhku. Darah mengalir dari lukaku, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin mempertahankan kerajaanku.
Di langit, naga-naga kami bertarung dengan naga-naga musuh. Aku bisa melihat api dan asap membumbung tinggi, menimbulkan suara dentuman yang menggelegar. Beberapa naga jatuh ke tanah, membawa prajurit yang menungganginya.
Pertempuran semakin sengit dan brutal. Aku tidak tahu berapa lama kami bertarung, tapi aku merasa lelah dan haus. Aku melihat ke sekelilingku, dan melihat banyak teman-temanku yang sudah gugur. Aku juga melihat banyak musuh yang masih bertahan.
Aku mulai meragukan apakah kami bisa menang. Apakah semua pengorbanan ini layak? Apakah ada akhir dari peperangan ini?
Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang menusuk dadaku. Aku menoleh, dan melihat seorang prajurit musuh yang berhasil menusuk pedangnya ke dadaku. Aku merasakan sakit yang luar biasa, dan darah memenuhi mulutku.
Aku jatuh ke tanah, dengan mata terbuka lebar. Aku melihat wajah prajurit musuh itu, yang tampak puas dengan kemenangannya. Dia mencabut pedangnya dari dadaku, dan meninggalkanku.
Aku merasakan nyawaku perlahan-lahan menghilang. Aku tidak bisa bergerak atau berbicara. Aku hanya bisa melihat langit yang biru, dan mendengar suara pertempuran yang masih berlangsung.
Aku tidak tahu apakah kerajaanku akan menang atau kalah. Aku tidak tahu apakah ada harapan untuk perdamaian. Aku hanya tahu bahwa aku telah berjuang dengan sebaik-baiknya.
Aku menutup mataku, dan menghembuskan napas terakhirku.