Raka adalah seorang pemimpin yang tidak disukai oleh rakyatnya. Ia memerintah kerajaan yang kaya dan makmur, tetapi juga korup dan tidak adil. Ia sering menaikkan pajak, menindas rakyat miskin, dan mengabaikan masalah lingkungan. Ia hanya peduli dengan kekuasaan dan kemewahan dirinya sendiri.
Suatu hari, ia mendapat kabar bahwa ada sekelompok pemberontak yang berencana untuk menggulingkannya. Ia marah dan takut, lalu memerintahkan pasukannya untuk mencari dan menangkap para pemberontak. Ia juga memerintahkan para penasihatnya untuk menyusun strategi untuk menghadapi ancaman tersebut.
Namun, ia tidak menyadari bahwa salah satu penasihatnya, yaitu Lila, adalah salah satu anggota pemberontak. Lila telah menyamar sebagai penasihat selama beberapa tahun, dan menunggu kesempatan yang tepat untuk melancarkan aksi. Ia adalah seorang wanita yang cerdas dan berani, yang memiliki cita-cita untuk membawa perubahan positif bagi kerajaan.
Lila berhasil menyusup ke istana Raka, dan membawa sebuah pisau tersembunyi di bajunya. Ia berencana untuk menusuk Raka di saat yang tepat, ketika ia sedang rapat dengan penasihat lainnya. Ia berharap bahwa dengan membunuh Raka, ia akan memicu revolusi yang akan mengakhiri tirani.
Namun, rencana Lila tidak berjalan mulus. Ketika ia masuk ke ruang rapat, ia melihat bahwa Raka tidak sendirian. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun, yang ternyata adalah putra Raka. Anak itu tampak ketakutan dan cemas, dan memegang tangan Raka erat-erat.
Lila terkejut dan bingung. Ia tidak tahu bahwa Raka memiliki anak, apalagi seorang anak yang tampak begitu polos dan tak berdosa. Ia merasa bersalah jika harus membunuh Raka di depan anaknya, tetapi ia juga tidak bisa mundur dari misinya.
Ia mencoba untuk mengabaikan anak itu, dan mendekati Raka dengan pura-pura ingin memberikan laporan. Ia mengeluarkan pisau dari bajunya, dan bersiap untuk menusuk Raka di dada.
Namun, sebelum ia berhasil melakukannya, anak itu melihat pisau itu dan berteriak.
"Ayah! Hati-hati!"
Raka menoleh ke arah Lila, dan melihat pisau itu. Ia terkejut dan bereaksi cepat. Ia mendorong anaknya ke belakang, lalu mengambil pedang dari pinggangnya. Ia menyerang Lila dengan pedangnya, dan melukai lengannya.
Lila merintih kesakitan, dan menjatuhkan pisau itu. Ia mundur beberapa langkah, lalu melihat darah mengucur dari lukanya.
Raka tidak memberi kesempatan kepada Lila untuk melarikan diri. Ia terus menyerang Lila dengan pedangnya, sambil berteriak-teriak.
"Kau pengkhianat! Kau ingin membunuhku? Kau akan mati!"
Lila mencoba untuk bertahan dari serangan Raka, tetapi ia sadar bahwa ia tidak seimbang. Ia terluka parah, dan kehilangan banyak darah. Ia juga tidak punya senjata untuk melawan.
Ia tahu bahwa ia akan mati di tangan Raka.
Ia menyesali kegagalannya.
Ia menyesali nasib rakyatnya.
Ia menyesali nasib anak itu.
Ia menutup matanya, dan menunggu akhir yang menyedihkan.