Aku menatap ke arah bukit merah yang menjulang di depan mataku. Aku tahu di balik bukit itu, musuh sudah menunggu dengan pasukan yang lebih banyak dan lebih kuat. Aku tahu ini adalah pertempuran yang tidak adil, tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus bertempur demi tanah airku, demi rakyatku, demi kehormatanku.
Aku menggenggam pedangku erat-erat, merasakan denyut nadiku yang semakin cepat. Aku melihat ke sekelilingku, melihat wajah-wajah teman-temanku yang juga siap untuk berjuang. Mereka adalah prajurit-prajurit terbaik yang aku miliki, mereka adalah saudara-saudaraku di medan perang. Aku tidak mau kehilangan mereka, tapi aku tahu resikonya. Aku tahu kami mungkin tidak akan kembali lagi.
Aku mendengar terompet perang berbunyi, memberi tanda bahwa saatnya untuk maju. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanianku. Aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi, berseru dengan lantang.
"Maju! Maju! Maju!"
Aku memimpin pasukanku menuju bukit merah, tanpa ragu, tanpa takut. Aku mendengar teriakan-teriakan semangat dari belakangku, mengikuti langkah-langkahku. Aku melihat bendera-bendera tanah airku berkibar di udara, memberi harapan dan motivasi.
Kami berlari secepat mungkin, menaiki bukit merah yang curam dan berbatu. Kami tidak peduli dengan panasnya matahari, dengan debu-debu yang mengepul, dengan luka-luka yang menganga. Kami hanya peduli dengan satu hal: menang.
Kami sampai di puncak bukit merah, dan kami melihat musuh sudah siap menyambut kami dengan senjata-senjata mereka. Mereka adalah pasukan imperium yang ingin menjajah tanah air kami. Mereka adalah musuh bebuyutan kami yang harus kami lawan sampai titik darah penghabisan.
Kami tidak menunggu lagi, kami langsung menyerbu ke arah mereka dengan pedang-pedang kami yang tajam. Kami bertempur dengan gagah berani, dengan jiwa patriotik, dengan tekad baja. Kami tidak gentar dengan jumlah mereka yang lebih banyak, kami tidak gentar dengan senjata mereka yang lebih canggih. Kami hanya gentar dengan satu hal: kalah.
Pertempuran pun berlangsung sengit dan brutal. Darah mengalir di tanah bukit merah, membuatnya semakin merah. Jeritan-jeritan kesakitan dan kemarahan terdengar di udara, membuatnya semakin panas. Tubuh-tubuh jatuh bergelimpangan di sana-sini, membuatnya semakin sesak.
Aku bertempur dengan segenap tenagaku, memotong-motong musuh-musuhku yang menghalangi jalanku. Aku melihat teman-temanku juga bertempur dengan gigih, membantu-membantu satu sama lain. Aku melihat musuh-musuhku juga bertempur dengan lihai, memberi perlawanan yang sengit.
Aku tidak tahu berapa lama pertempuran itu berlangsung. Aku tidak tahu berapa banyak korban yang jatuh di kedua belah pihak. Aku hanya tahu bahwa aku masih hidup, dan aku masih bertempur.
Aku melihat seorang komandan musuh yang sedang mengayunkan pedangnya ke arah seorang temanku. Aku segera melompat ke depannya, menyelamatkan temanku dari bahaya. Aku berhasil menangkis serangan komandan musuh itu, tapi aku juga terkena sabetan pedangnya di dadaku.
Aku merasakan sakit yang menusuk-nusuk di dadaku, membuat napasku tersengal-sengal. Aku melihat darah mengucur dari lukaku, membasahi baju dan pedangku. Aku tahu aku terluka parah, tapi aku tidak mau menyerah. Aku masih punya satu kesempatan untuk mengakhiri pertempuran ini.
Aku mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku, dan mengayunkan pedangku ke arah leher komandan musuh itu dengan sekuat tenaga. Aku berhasil memenggal kepalanya, membuatnya terjatuh tanpa nyawa. Aku melihat wajahnya yang pucat dan terkejut, membuatku merasa puas.
Aku berteriak dengan bangga, menunjukkan kepala komandan musuh itu ke arah pasukanku.
"Kami menang! Kami menang! Kami menang!"
Aku mendengar teriakan-teriakan gembira dari pasukanku, yang juga menunjukkan kepala-kepala musuh-musuh mereka. Aku melihat musuh-musuh kami yang masih hidup lari tunggang langgang, meninggalkan medan perang. Aku melihat bendera-bendera tanah air kami berkibar lebih tinggi, memberi kemenangan dan kebanggaan.
Aku tersenyum lebar, merasa bahagia. Aku telah memenangkan pertempuran ini, aku telah membela tanah airku, aku telah membuktikan kehormatanku.
Aku kemudian merasakan tubuhku melemah, membuatku jatuh ke tanah. Aku merasakan darahku mengalir semakin deras, membuatku pingsan. Aku tidak tahu apakah aku akan bangun lagi, tapi aku tidak peduli. Aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan.
Aku mati sebagai pahlawan.