Rian menatap lawannya dengan tajam. Dia adalah seorang ksatria dari kerajaan Arvadia, yang telah menyerang desanya tanpa ampun. Dia mengenakan baju zirah perak yang berkilau di bawah sinar matahari, dan membawa pedang panjang yang tajam di tangannya. Dia tampak percaya diri dan angkuh, seolah-olah dia sudah memenangkan pertarungan ini.
Rian sendiri hanya mengenakan baju kulit sederhana yang sudah robek-robek akibat pertempuran sebelumnya. Dia hanya memiliki senjata rahasia yang dia sembunyikan di balik jubahnya: sebuah pisau kecil yang diberkati oleh dewi bulan. Dia tahu bahwa pisau itu adalah satu-satunya harapan dia untuk mengalahkan ksatria itu.
Mereka berdua berdiri di atas jembatan kayu yang menghubungkan desa Rian dengan hutan tempat dia dan teman-temannya bersembunyi. Jembatan itu adalah satu-satunya jalan keluar bagi mereka, karena di belakang Rian ada pasukan Arvadia yang siap mengejar mereka. Rian harus menghentikan ksatria itu sebelum dia bisa menyeberangi jembatan dan membunuh teman-temannya.
"Serahkan dirimu, anak haram!" teriak ksatria itu dengan suara keras. "Kamu tidak punya kesempatan melawan aku. Aku adalah ksatria terbaik di kerajaanku. Aku telah membunuh ratusan musuh seperti kamu. Kamu hanya seekor tikus yang bersembunyi di balik pohon-pohon."
Rian tidak menjawab. Dia hanya menatap ksatria itu dengan dingin, tanpa menunjukkan rasa takut atau marah. Dia tahu bahwa ksatria itu mencoba memprovokasinya agar dia kehilangan konsentrasi dan melakukan kesalahan fatal. Rian tidak akan memberinya kesempatan itu.
Dia menunggu sampai ksatria itu melangkah maju dan mengayunkan pedangnya ke arah lehernya. Rian segera menghindar ke samping, lalu menusuk perut ksatria itu dengan pisau kecilnya. Dia merasakan darah hangat membasahi tangannya, dan mendengar jeritan kesakitan dari lawannya.
"Tidak mungkin!" teriak ksatria itu dengan tak percaya. "Apa yang kamu lakukan? Apa senjata itu?"
Rian tersenyum sinis. "Ini adalah hadiah dari dewi bulan," katanya sambil menarik pisau kecilnya dari perut ksatria itu. "Dia adalah pelindung kami, orang-orang yang kamu anggap sebagai binatang buas. Dia memberi kami kekuatan untuk melawan penindasanmu."
Ksatria itu terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. "Dewi bulan? Kamu bercanda kan? Itu hanya dongeng yang kamu buat untuk menghibur dirimu sendiri. Tidak ada dewa atau dewi di dunia ini. Hanya ada manusia dan makhluk-makhluk rendah seperti kamu."
Rian merasa marah mendengar kata-kata ksatria itu. Dia tidak tahan lagi mendengar penghinaannya terhadap keyakinannya. Dia melompat ke depan, lalu menusuk jantung ksatria itu dengan pisau kecilnya.
Ksatria itu terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Rian masih punya tenaga untuk menyerangnya. Dia merasakan nyeri yang menusuk di dadanya, lalu melihat darah mengucur dari lukanya. Dia jatuh ke tanah, lalu mengeluarkan napas terakhirnya.
Rian berdiri di atas tubuh ksatria itu, lalu mengangkat pisau kecilnya ke udara. Dia berteriak dengan suara lantang, "Untuk dewi bulan! Untuk desaku! Untuk teman-temanku!"
Dia mendengar tepuk tangan dan sorak-sorai dari teman-temannya yang menunggunya di seberang jembatan. Mereka bersorak karena Rian telah berhasil mengalahkan ksatria itu dan menyelamatkan mereka dari bahaya. Mereka berlari ke arahnya, lalu memeluknya dengan erat.
Rian merasa lega dan bahagia. Dia telah melakukan tugasnya dengan baik. Dia telah membuktikan bahwa dia adalah seorang pahlawan bagi desanya. Dia telah menghormati dewi bulan yang selalu melindunginya.
Dia menatap langit biru, lalu berdoa dalam hatinya. "Terima kasih, dewi bulan. Terima kasih telah memberiku keberanian dan kekuatan untuk melawan musuh-musuhku. Terima kasih telah menjagaku dan teman-temanku. Aku berjanji akan selalu setia padamu."
Dia merasakan sinar matahari menyentuh wajahnya, lalu melihat bulan purnama yang masih terlihat di langit. Dia merasa seolah-olah dewi bulan tersenyum padanya, lalu memberinya berkah dan perlindungan.
Dia tersenyum balik, lalu bergabung dengan teman-temannya yang sudah menunggunya di hutan. Mereka bersama-sama meninggalkan jembatan kayu yang menjadi saksi bisu dari duel yang menentukan nasib mereka.