Aku menatap lawanku dengan dingin. Dia adalah Raja Andra, penguasa kerajaan tetangga yang selalu mengancam kedamaian negeriku. Dia menantangku untuk bertarung satu lawan satu di lapangan hijau, tempat netral di antara kedua kerajaan. Aku menerima tantangannya tanpa ragu, karena aku tahu ini adalah kesempatan untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Aku mengenakan baju zirah besi yang berkilau di bawah sinar matahari. Di tanganku, aku memegang pedang panjang yang tajam dan kokoh. Di sekelilingku, aku melihat ribuan prajurit dari kedua belah pihak yang menyaksikan duel ini dengan tegang. Mereka semua berharap agar pihak mereka yang menang dan membawa pulang kemenangan.
Aku mendengar terompet tanda duel dimulai. Aku segera berlari menuju lawanku dengan cepat dan lincah. Aku mengayunkan pedangku ke arah lehernya, berharap bisa memutuskan urat nadinya dalam satu serangan. Namun, dia sigap menghindar dan membalas dengan serangan ke arah dadaku. Aku menangkisnya dengan gagang pedangku, lalu mencoba menyerang lagi dengan gerakan memutar.
Begitu seterusnya, kami saling bertukar pukulan dan tusukan, tanpa ada yang berhasil mengenai sasaran. Aku merasakan keringat mengalir di dahiku, dan napasku mulai memburu. Aku tahu dia juga merasakan hal yang sama, karena aku melihat ekspresinya yang tegang dan mulutnya yang terbuka lebar. Kami sama-sama tidak mau kalah, karena kami tahu duel ini akan menentukan nasib kedua kerajaan.
Aku mencoba mencari celah di pertahanannya, tapi dia terlalu tangguh dan lihai. Dia juga mencoba mencari kelemahanku, tapi aku terlalu waspada dan tangkas. Kami berduel dengan seimbang, tanpa ada yang unggul atau tertinggal. Aku mulai merasa frustasi dan marah, karena aku tidak bisa mengalahkannya dengan mudah seperti yang kubayangkan.
Tiba-tiba, aku melihat sesuatu yang membuatku terkejut. Di belakangnya, ada seorang prajurit dari kerajaanku yang mencoba menusuknya dari belakang dengan tombak. Itu adalah pelanggaran aturan duel, yang hanya boleh dilakukan oleh dua orang saja. Aku tidak tahu siapa prajurit itu, atau apa motifnya, tapi aku tahu itu adalah kesalahan besar yang bisa merusak kehormatan negeriku.
Tanpa berpikir panjang, aku berteriak kepada lawanku untuk memberi tahu bahaya yang mengancamnya.
“Hati-hati di belakangmu!”
Dia menoleh ke belakang dengan cepat, lalu mengelak dari serangan prajurit itu. Tombak itu meleset dan menancap di tanah. Prajurit itu terkejut dan ketakutan, lalu berusaha melarikan diri. Namun, dia tidak sempat jauh, karena segera ditangkap oleh prajurit lain yang menyadari kecurangannya.
Aku merasa lega bahwa lawanku selamat dari serangan licik itu. Tapi aku juga merasa malu bahwa ada orang dari negeriku yang melakukan hal itu. Aku menundukkan kepala dan meminta maaf kepada lawanku.
“Maafkan aku, Raja Andra. Aku tidak tahu siapa prajurit itu, atau mengapa dia melakukan hal itu. Aku tidak menyetujui tindakannya, dan aku akan menghukumnya dengan seberat-beratnya.”
Lawanku menatapku dengan heran. Dia tampak bingung dan terkejut. Dia tidak mengerti mengapa aku membantunya, padahal aku bisa saja membiarkannya mati dan memenangkan duel ini dengan mudah. Dia bertanya kepadaku dengan suara yang penuh rasa ingin tahu.
“Mengapa kau menolongku, Raja Rama? Bukankah kau ingin membunuhku dan mengakhiri perang ini?”
Aku mengangkat kepala dan menatap matanya dengan tegas. Aku menjawab pertanyaannya dengan jujur dan tegas.
“Karena aku menghormati dirimu sebagai lawan yang tangguh dan terhormat. Karena aku tidak ingin memenangkan duel ini dengan cara yang curang dan kotor. Karena aku percaya bahwa duel ini harus dilakukan dengan adil dan sportif, sesuai dengan aturan yang telah disepakati.”
Lawanku terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Dia mengangguk pelan, lalu berkata dengan suara yang penuh penghargaan.
“Kau adalah raja yang berani dan mulia, Raja Rama. Aku mengagumi sikapmu yang ksatria dan berprinsip. Aku minta maaf atas segala kesalahan dan kejahatan yang telah kulakukan terhadap negerimu selama ini.”
Aku juga tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara yang penuh harapan.
“Terima kasih atas pengakuanmu, Raja Andra. Aku berharap kita bisa berdamai dan hidup berdampingan dengan baik dari sekarang. Aku tidak ingin ada lagi pertumpahan darah dan penderitaan di antara kedua kerajaan kita.”
Lawanku mengulurkan tangannya kepadaku, sebagai tanda persahabatan. Aku menyambutnya dengan erat, sebagai tanda rekonsiliasi. Kami berjabat tangan di tengah lapangan hijau, di bawah sorakan ribuan prajurit dari kedua belah pihak. Mereka semua bersuka cita karena duel ini berakhir dengan damai dan tanpa korban jiwa.
Aku merasa bahagia dan lega, karena aku berhasil mengakhiri perang ini dengan cara yang terhormat. Aku berterima kasih kepada Tuhan, karena memberiku keberanian dan kebijaksanaan untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik. Aku berharap bahwa ini adalah awal dari hubungan yang baik antara kedua kerajaan, yang akan membawa kemakmuran dan kedamaian bagi semua orang.