Kicauan burung disaat fajar akan segera menyingsing menandakan aku harus bangun dari tidur nyenyakku, bergegas untuk sekolah.
Terbangun dengan mata yang masih terasa berat, terdengar suara ketukan dari pintu kamarku. "Nak, segera basuh dirimu dan Ibu akan siapkan sarapan"
Aku menganggukan kepala dan menanggapi singkat dengan mengiyakannya.
***
Ting ting
Suara bel rumahku berbunyi, adikku berlari ke arah pintu masuk untuk membukakan pintu.
"Halo, kak Anisa! Ayo masuk kak! Kami sedang sarapan, kak Anisa ayo ikut sarapan dengan kami," adikku menyambut dengan keceriaan.
"Halo, adik Garin! Aku sudah makan saat di rumah tadi. Aku ingin menjemput kakakmu, dia ada tidak ya?" tanya Anis pada adikku.
"Dia sedang makan kak," jawabnya sambil menunjuk ke arahku.
"Anisa, kamu duduk saja diruang tamu sambil menonton televisi sembari menunggu" ucapku sambil menyodorkan jajanan untuknya.
Selesai sarapan, aku mengambil tasku di kamar dan bersiap untuk sekolah. Beberapa kali aku menjahili adikku dengan mengambil jajan yang dia makan.
"Sudah kak, masih pagi loh. Adikmu kalau menangis itu tetangga yang lain akan terbangun" tegur ibuku
"Baiklah. Anisa ayo kita pergi, aku sudah siap" aku memanggil Anisa karena dia terlihat sangat fokus saat menonton televisi.
"Oh iya, ayoo!" balasnya sambil berlari kecil ke arahku dan memakai sepatu miliknya. setelah selesai tidak lupa kami berpamitan pada orangtua ku dan adik kecilku.
Kami menyusuri jalan menggunakan sepeda, rasanya sangat sejuk karena matahari belum sepenuhnya terbit. "Bagaimana, apakah kamu akan pindah ke rumah nenekmu?" di perjalanan aku bertanya kepada Anisa, dia sudah menceritakan sedikit mengapa dia akan pindah ke rumah neneknya. Ini karena ayah dan ibunya akan berpisah sebentar lagi tapi mereka sudah lama tidak peduli dengan Anisa. Dahulu, aku sudah menyarankan untuk tinggal bersama keluargaku tapi dia menolak.
"Iya, aku akan pindah ke rumah nenek. Mungkin malam ini aku akan pergi" aku tidak tahu bagaimana ekspresinya, yang jelas hanya suaranya yang pasrah. Aku tidak melanjutkan untuk berbicara karena aku baru tau dia akan pergi sore ini dan aku belum menyiapkan sesuatu untuk dia. Aku sedikit kecewa, dia tidak memberitahuku kemarin lusa.
Hening. Diantara kami tidak ada yang membuka suara, hingga salah satu teman sekelas kami menyapa kami. Ah artinya aku dan Anisa sudah sampai di halaman sekolah. Aku dan Anisa turun dari kursi sepeda lalu menuntun sepedaku ke arah lahan parkir.
Di sepanjang lorong sekolah, aku berpikir kalau aku dan Anisa akan berjauhan karena dia akan segera pindah dan aku cukup sedih mendengar hal itu. Bohong jika aku tidak merasa sedih, Anisa selalu pergi ke sekolah bersamaku. Jika dia tidak ada, maka aku akan pergi sendirian dan tidak memiliki teman sebaya di komplek ku.
Akibat terlalu larut dalam memikirkan hal tersebut, aku tidak sadar jika Anisa memanggilku sampai dia menepuk pundakku untuk menyadarkanku.
"Jangan melamun," ucapnya sambil menahanku yang hampir menabrak pintu kelas. Aku hanya menanggapinya dengan cengegesan dan aku berucap 'terimakasih' yang nyaris tidak terdengar.
Sekolah berjalan lancar, dentingan bel sekolah berbunyi menandakan bahwa pelajaran selesai dan waktunya pulang. Aku pun bergegas untuk membereskan peralatan belajar yang sudah aku gunakan.
"Baik anak anak, selamat sore. Tetap semangat dan terimakasih" akhir dari pembelajaran dan aku berpamitan dengan guruku.
"Ayo, aku antar kamu pulang," ajakku kepada Anisa, mungkin dia sadar aku sedang tidak bersemangat dan terlihat lelah jadi dia hanya mengekoriku.
Selama perjalanan tidak ada yang memulai untuk berbicara dan aku memilih untuk diam. Sebenarnya aku sedang bingung, bagaimana caranya aku bermain lagi dengan dia? Sedangkan dia akan pindah ke rumah neneknya yang jauh. Lebih tepatnya hari ini dia akan pindah. Aku tidak siap.
Sampainya dirumah aku dan Anisa pergi ke rumah masing masing. Aku melepaskan sepatu dan mengucapkan salam. Ibuku melihat aku yang terlihat lesu dan bertanya apa ada yang terjadi di sekolah namun aku menjawab tidak ada dan segera pergi ke kamar.
Malam ini, Anisa akan pergi. Setidaknya aku harus memberinya hadiah kenangan atau apapun itu, tapi ini terlalu mendadak. Aku hanya terpikirkan untuk menuliskan surat dan memberinya cemilan untuk di makan di perjalanan.
Aku raih alat tulisku dan mengambil kertas yang sekiranya bagus untuk menulis surat. Waktu berjalan cukup cepat rasanya, tak disangka aku menghabiskan beberapa waktu untuk menuliskan surat ini. Segera aku mengambil amplop dan memasukan suratnya. Aku sudah menghias surat tersebut dan menyatukannya dengan cemilan jadi dia bisa membaca surat ini sambil memakan cemilan yang aku berikan.
Melihat jarum jam dinding yang bergerak ke arah jam 9 malam. Aku melihat ke arah balkon rumah Anisa, rumahnya sudah gelap gulita.
Aku turun sambil berlari, Ibuku yang melihat aku tergesa-gesa pun memberitahuku untuk berhati-hati. Langsung aku bertanya pada Ibu, "Ibu apakah Anisa sudah pergi?? Rumahnya terlihat gelap" Ibu hanya menganggukan kepalanya.
"Tadi Anisa ke sini sebentar tapi Ibu pikir kamu sedang tidur karena kamu terlihat lelah tadi sore jadi Anisa hanya memberi ini dan berpamitan"
Aku melihat tangan Ibuku yang memegang gantungan kunci berbentuk kucing, lalu ada surat di bawah gantungan kunci itu. Ibu memberikannya padaku dan membiarkan aku membacanya.
Halo teman baikku
Mungkin jika kamu sudah membaca surat ini, itu tandanya aku sudah berada di perjalanan.
Maaf tidak memberitahukanmu sejak awal, aku hanya berpikir kita akan bersedih-sedih jadi aku hanya akan memberitahumu tadi pagi supaya kita lebih menikmati waktu bersama.
Lalu aku memberikanmu satu gantungan kunci berkarakter kucing karena aku juga memiliki satu gantungan kunci berkarakter kelinci. Tolong simpan dengan baik ya! Nanti aku akan mudah mengenalmu jika kamu menggunakan gantungan kunci tersebut.
Semoga kita bertemu lagi di masa depan ya! Jaga dirimu, Arin
Aku bahkan belum sempat memberikanmu suratku dan hadiah ini telah sampai padaku. Aku menangis dan berlari keluar untuk membakar surat yang aku tulis. Percuma saja, aku tidak bisa memberikannya apa apa di perpisahan kali ini. Berbicara dengan Anisa saja tidak sempat, apalagi memberikan surat ini.
Kini suratnya telah hangus terbakar, dan sisa nya hanyalah abu yang sedikit mengotori area rumahku. Kembali aku ke kamar dan menggaitkan gantungan kunci tersebut di tasku. Aku memang kecewa tapi tidak ada yang bisa aku lakukan selain ini bukan?
Aku hanya akan terus menggunakan gantungan kunci tersebut hingga kamu menyapaku kembali.
Semoga kita benar-benar akan bertemu, Anisa.
...Selesai...