"Kapten!" teriak seorang prajurit, menghampiri seorang pria berbaju loreng yang sedang memeriksa peta di tenda komando. "Ada pesan dari markas besar, Kapten!"
Pria berbaju loreng itu menoleh, lalu mengambil amplop cokelat yang disodorkan oleh prajurit itu. Dia membuka amplop itu dengan hati-hati, lalu membaca isinya dengan cepat. Wajahnya berubah pucat.
"Apa isi pesannya, Kapten?" tanya prajurit itu penasaran.
Pria berbaju loreng itu menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara serius, "Kita harus mundur, Nak. Perang ini sudah selesai."
"Mundur? Perang ini sudah selesai? Bagaimana mungkin, Kapten? Kita belum menang!"
"Itu perintah dari atas, Nak. Kita harus menghormatinya. Kita sudah berjuang cukup lama di sini. Sekarang saatnya kita pulang."
"Pulang ke mana, Kapten? Ke negeri yang sudah hancur? Ke rumah yang sudah rata dengan tanah? Ke keluarga yang sudah tiada?"
Pria berbaju loreng itu terdiam. Dia tahu betapa kerasnya nasib para prajurit yang ikut berperang di sini. Mereka meninggalkan segalanya demi membela tanah air mereka dari serangan musuh. Mereka rela mati demi kemerdekaan mereka. Tapi sekarang, mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa perjuangan mereka sia-sia.
"Kita masih punya harapan, Nak. Kita masih punya teman-teman yang menunggu kita di sana. Kita masih punya cita-cita yang belum tercapai. Kita masih punya hidup yang harus kita lanjutkan."
"Harapan apa, Kapten? Teman-teman apa? Cita-cita apa? Hidup apa? Semua sudah hilang, Kapten! Semua sudah hilang!"
Prajurit itu menangis tersedu-sedu. Pria berbaju loreng itu merasa iba. Dia memeluk prajurit itu dengan erat, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Tenang, Nak. Tenang. Aku tahu ini sulit. Aku tahu ini menyakitkan. Tapi kita harus kuat. Kita harus tegar. Kita harus bersyukur bahwa kita masih hidup."
"Bersyukur? Untuk apa kita bersyukur, Kapten? Untuk apa kita hidup?"
"Untuk melihat hari esok, Nak. Untuk melihat hari esok."
Pria berbaju loreng itu melepaskan pelukannya, lalu menatap prajurit itu dengan lembut.
"Ayo, Nak. Kita harus segera bersiap-siap. Kita akan meninggalkan tempat ini dalam satu jam lagi."
"Baiklah, Kapten," jawab prajurit itu dengan pasrah.
Mereka berdua keluar dari tenda komando, menuju ke arah barak-barak tempat para prajurit lainnya berkumpul. Di sana, mereka melihat pemandangan yang menyedihkan. Para prajurit tampak lesu dan murung. Mereka membongkar tenda-tenda mereka, memasukkan barang-barang mereka ke dalam tas-tas besar, dan mempersiapkan senjata-senjata mereka untuk dibawa pulang.
Di langit, terlihat helikopter-helikopter yang siap mengangkut mereka ke bandara terdekat. Di sana, mereka akan naik pesawat yang akan membawa mereka kembali ke tanah air mereka.
Pria berbaju loreng itu menghela napas panjang. Dia merasa seperti bermimpi buruk yang tak kunjung berakhir.
Dia ingat betapa semangatnya dia ketika pertama kali mendaftar menjadi tentara. Dia ingat betapa bangganya dia ketika dilantik menjadi kapten. Dia ingat betapa beraninya dia ketika memimpin pasukannya ke medan perang.
Tapi sekarang, dia merasa seperti tak punya apa-apa. Dia merasa seperti tak punya tujuan. Dia merasa seperti tak punya arti.
Dia menatap ke arah bendera merah putih yang berkibar di tiang bendera. Bendera yang menjadi lambang dari negara yang dia cintai. Bendera yang menjadi saksi dari perjuangan yang dia lakukan.
Dia tersenyum getir. Dia berbisik dalam hati, "Selamat tinggal, perang. Selamat tinggal, kawan-kawan. Selamat tinggal, tanah airku."
Dia mengangkat tangannya, lalu memberi hormat kepada bendera itu.
Dia berharap, suatu hari nanti, dia bisa kembali ke sini.
Bukan sebagai tentara, tapi sebagai manusia.