Seorang pria bernama Rian sedang berjalan-jalan di hutan dengan anjing peliharaannya, Milo. Dia menikmati udara segar dan pemandangan alam yang indah. Dia tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang mengintai di balik semak-semak, mengawasi setiap gerakannya.
Saat dia melewati sebuah sungai, dia mendengar suara gemuruh yang keras. Dia menoleh dan melihat seekor harimau besar melompat keluar dari semak-semak, mengaum dengan ganas. Dia terkejut dan berlari secepat mungkin, menarik tali Milo yang ikut ketakutan.
Harimau itu mengejar mereka dengan cepat, tidak memberi mereka kesempatan untuk lolos. Rian mencari tempat berlindung, tetapi tidak ada yang tersedia. Dia merasa putus asa dan berdoa agar selamat.
Tiba-tiba, dia melihat sebuah gua di depannya. Dia bergegas masuk ke dalamnya, berharap harimau itu tidak akan mengikutinya. Dia menutup mulutnya dan Milo dengan tangannya, mencoba untuk diam.
Dia mendengar langkah harimau itu semakin dekat. Dia merinding dan memeluk Milo erat-erat. Dia menutup matanya dan menunggu akhir yang mengerikan.
Namun, setelah beberapa detik, dia tidak merasakan apa-apa. Dia membuka matanya dan melihat harimau itu berdiri di depan pintu gua, menatapnya dengan tatapan aneh. Harimau itu tidak menyerang, tetapi malah bersuara seperti manusia:
"Halo, Rian. Apa kabar?"
Rian tercengang. Dia tidak percaya apa yang dia dengar. Harimau itu bisa berbicara?
"Siapa Anda? Bagaimana Anda tahu nama saya?" tanya Rian dengan suara gemetar.
Harimau itu tersenyum dan menjawab:
"Aku adalah ayahmu, Rian."
Rian terkejut. Ayahnya? Bagaimana mungkin?
"Ayahku sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil," kata Rian.
Harimau itu menggelengkan kepala dan berkata:
"Itu yang kamu pikirkan, Rian. Tapi sebenarnya, aku selamat dari kecelakaan itu. Aku hanya terluka parah dan dibawa ke sebuah laboratorium rahasia oleh orang-orang jahat. Mereka melakukan eksperimen pada tubuhku dan mengubahku menjadi harimau ini."
Rian tidak bisa memproses informasi itu. Dia merasa pusing dan mau pingsan.
"Kenapa kamu mengejarku? Kenapa kamu tidak bilang siapa kamu?" tanya Rian.
Harimau itu menghela nafas dan berkata:
"Aku minta maaf, Rian. Aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya ingin melihatmu lagi setelah sekian lama. Aku mencari-cari kamu selama bertahun-tahun, tetapi kamu sudah pindah dari kota asalmu. Aku baru menemukan jejakmu di sini, di hutan ini."
"Jadi kamu mengikuti aku dari rumah?" tanya Rian.
"Ya, Rian. Aku mengikuti kamu dari rumah. Aku ingin berbicara denganmu, tetapi aku takut kamu akan ketakutan jika aku mendekatimu dalam wujud ini. Jadi aku memutuskan untuk membuat kamu masuk ke gua ini, tempat kita bisa berbicara dengan tenang."
Rian masih tidak bisa percaya apa yang dia dengar. Dia merasa seperti sedang bermimpi buruk.
"Bagaimana dengan Milo? Apakah dia juga hasil eksperimen?" tanya Rian sambil memandang anjingnya.
Harimau itu tertawa dan berkata:
"Tidak, Rian. Milo adalah anjing biasa. Aku memberikannya padamu saat kamu ulang tahun yang ke-10 sebagai hadiah terakhir dariku sebelum aku hilang."
Rian menatap Milo dengan kasih sayang. Anjing itu menjilat pipinya dengan lembut.
"Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Rian.
Harimau itu mengangkat bahu dan berkata:
"Aku tidak tahu, Rian. Aku hanya ingin bersamamu. Aku rindu kamu, anakku."
Rian merasa terharu. Dia menyadari bahwa harimau itu adalah ayahnya yang sudah lama hilang. Dia memutuskan untuk memberinya kesempatan.
"Dia mengulurkan tangannya dan mengelus kepala harimau itu dengan lembut.
"Aku juga rindu kamu, ayah," kata Rian.
Mereka berpelukan dengan erat, sambil menangis bahagia. Milo menggonggong dengan gembira, ikut bergabung dalam pelukan mereka.
Mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengintip mereka dari luar gua, sambil merekam semua adegan itu dengan kamera.
Orang itu tersenyum licik dan berkata:
"Bagus sekali. Ini akan menjadi berita sensasional. Siap-siap menjadi terkenal, Rian dan ayah harimaumu."
Dia menekan tombol kirim dan mengirim video itu ke media sosial.
Akhir.